Istri Kontrak Tuan Muda

Istri Kontrak Tuan Muda
Episode #53


__ADS_3

"Sudah lah, aku tidak ingin mendengar alasan mu! Aku ingin kau melakukan nya lagi! Ingat kali ini kau harus berhasil jika tidak siap-siap saja kau akan di hukum oleh Samuel, kau mengerti! " (Ucap Luna mengakhiri telpon secara sepihak.)


Call off.


"Astaga, keluarga buana dalam bahaya. " (Ucap Diva mengigit bibir bawah nya.)


Karena takut Luna tau jika ia mendengar semuanya, Diva pun bergegas keluar dari toilet tersebut.


"Siapa Samuel? Dan mengapa Luna ingin membunuh papa? " (Batin Diva sambil berjalan memegang erat ponsel nya.)


Brak ... (Seseorang dari arah belakang dengan sengaja menabrak Diva.)


"Ah." (Leguh Diva terjatuh sehingga kaki nya terkilir, sementara ponsel nya terhempas ke lantai rumah sakit.)


"Kau! Kau pikir aku tidak tau, kau menguping ku di toilet bukan? " (Ucap Luna Berjongkok mendekati Diva.)


Ternyata Luna mengetahui saat Diva berjalan keluar dari dalam toilet.


"Apa yang akan kau lakukan? Sebenarnya siapa kau? " (Ucap Diva membentak Luna.)


"Kau tidak perlu tau! Dengar jangan Coba-coba menghalangi aku! Atau kau akan masuk kedalam daftar mangsa ku! " (Ucap Luna lebih ponsel Diva.)


"Tidak akan! Selagi kau ingin menyakiti keluarga buana aku tidak akan tingal diam karena aku juga bagian dari keluarga buana! " (Bentak Diva sambil memegang kaki nya yang kesakitan.)


"Hahah, lucu sekali, jangan bermimpi untuk memberi tahu Aziel, dengar! Aziel tidak akan mempercayai mu jika kau tidak ada bukti! " (Ucap Luna membanting dan menginjak ponsel Diva.)


"Ah, kembalikan ponsel ku! " (Bentak Diva sambil berusaha berdiri.)


Sementara itu Aziel berjalan mencari Luna yang sangat lama saata ke toilet.


"Bukan kah itu Luna dan Diva? " (Ucap Aziel memberhentikan langkah nya.)


"Apa yang mereka lakukan? " (Ucap Aziel kembali berjalan untuk menghampiri Diva dan Luna.)


Dengan bodoh nya Aziel langsung memangil Luna.


"Luna! Apa yang kalian lakukan? " (Ucap Aziel menghampiri Luna.)


"Aziel! Wanita itu bukan wanita baik-baik! Dia ingin menghancurkan keluarga buana! Percayalah pada ku! " (Ucap Diva sambil berdiri dengan bantuan tembok.)

__ADS_1


"Apa yang kau katakan Diva? Kenapa kaki mu? " (Tanya Aziel.)


"Tidak, yang di kata kan Diva itu tidak benar Ziel, hiksss aku hanya mencoba membantu nya berdiri saat ia jatuh, tetapi ia malah bilang padaku untuk menjauh dari keluarga buanda karena aku hanya orang yang tidak punya apapun, dia juga bilang jika aku tidak pantas untuk mu. " (Ekting Luna sambil berpura-pura menangis.)


Diva mengeleg kepala nya tidak mengerti dengan apa yang di katakan Luna, ternyata wanita itu lebih pintar membolak balikan fakta.


"Diva, benar kah yang di katakan Luna? " (Ucap Aziel menatap tajam Diva.)


"Tidak! Aziel, aku mohon kali ini saja percaya pada ku, dia lah yang menyuruh orang untuk membunuh papa! " (Ucap Diva menangis.)


"Mana mungkin aku ingin membunuh papa, Aziel kau mengenal ku sejak dulu apakah aku pernah menyakiti papa? Hiksss aku rasa aku memang tidak pantas berada di sisi mu. " (Ucap Luna menangis dan ingin pergi dari sana.)


Aziel menahan tangan Luna.


"Tidak! Aku tidak akan mempercayai Diva, Diva aku tau kau tidak menyukai Luna, tetapi kau tidak seharusnya menuduh Luna dengan cara seperti ini." (Ucap Aziel membentak Diva.)


"Aziel! Aku mohon! Wanita sialan ini akan mencelakai papa! Dengar.. " (Ucap Diva terpotong.)


Plak... (Sebuah tamparan keras dari tangan Aziel berhasil mengenai pipi Diva.)


"Berhenti lah bicara omong kosong mu! Aku sangat muak! Aku tau kau tidak menyukai Luna! Dengar seperti nya sudah tidak ada lagi rahasia yang harus di simpan di antaranya kita! " (Ucap Aziel menatap tajam Diva.)


Diva memegang pipi nya yanyang terasa memanas akibat tamparan dari Aziel, perlahan bulir bening nan hangat itu keluar dari mata Diva.


Sementara Luna ia merasa menang karena Aziel sama sekali tidak mempercayai omongan Diva.


"Rahasia apa? " (Tanya Luna memasang wajah polos.)


"Sebenarnya dia adalah istri ku! Tetapi aku menikah dengan nya hanya karena papa yang memaksa ku. " (Ucap Aziel memegang tangan Luna di depan Diva.)


Deg... (Jantung Diva seakan ingin berhenti berdetak saat Aziel menekan kata terpaksa.)


"Apa? Jadi kalian suami istri? Kau! Aku tidak menyangka kau telah menghianati aku! " (Ucap Luna menagis palsu.)


"Luna aku mohon jangan pergi dari ku, dengar Diva! Secepatnya aku akan mengurus penceraian kita! " (Jelas Aziel menunjuk wajah Diva.)


"Baik lah! Jika itu yang kau inginkan, kau boleh tidak mempercayai aku! Tetapi aku punya satu permintaan sebelum aku pergi dari dalam hidup mu! Tolong bawa pulang papa dari rumah sakit ini! " (Ucap Diva sambil menyeka air mata nya yang kian mengalir deras memabsahi pipi mulus nya.)


"Baik lah, karena ini permintaan terakir mu! Aku akan meminta dokter agar papa di rawat di rumah, setelah itu kau pergi dan jangan pernah muncul di hadapan ku lagi! " (Ucap Aziel sambil merangkul Luna.)

__ADS_1


"Gawat! Jika lelaki tua itu di rawat di rumah, ini akan lebih sulit untuk menghabisi nya. " (Batin Luna.)


"Ayo sayang! " (Ucap Aziel menarik tangan Luna.)


Sementara Diva masih berdiri mematung, hati nya sakit, terasa seperti di tusuk oleh duri yang sangat tajam, Diva berjalan memungut ponsel nya yang telah hancur akibat di banting oleh Luna, kaki nya yang sakit membuat nya berjalan sambil merintih.


"Seperti nya, pernikahan ini akah segera berakhir. " (Batin Diva menyusuri lorong rumah sakit.)


Sementara itu, Dimas baru saja keluar dari ruang pasien nya dan melihat Diva yang berjalan sambil menangis.


"Diva! " (Pangil Dimas sambil berlari kecil ke arah Diva.)


Diva mencoba berjalan secepat mungkin agar Dimas tidak menghampiri nya, akanntetapi karena kaki nya yang terkilir itu sia-sia saja, Dimas dengan cepat memegang tangan nya.


"Diva apa yang terjadi pada mu? " (Ucap Dimas membalikkan badan Diva.)


"Lepas kan aku, aku tidak apa-apa. " (Ucap Diva mencoba melepaskan tangan Dimas dari tangan nya.)


"Tidak! Ada apa dengan mu? Katakan! " (Ucap Dimas memegang kedua bahu Diva.)


Karena tidak tahan dengan maslah yang dia hadapi Diva memeluk erat Dimas sambil menangis.


Sementara Dimas membiarkan kan Diva menangis di pelukan nya karena Dimas sangat mengerti jika saat ini Diva sedang tidak baik-baik saja.


"Menangis lah, itu akan mengurangi sakit yang sedang kau rasakan. " (Ucap Dimas mengelus rambut Diva.)


Sementara Diva tidak bisa berkata apapun ia hanya bisa menangis dan menangis di pundak Dimas.


Bersambung ....


Hay semua.


Jangan lupa


Like


Komen


Fote

__ADS_1


Follow


Favorit


__ADS_2