Istri Kontrak Tuan Muda

Istri Kontrak Tuan Muda
Episode #87


__ADS_3

"Iya sayang momy juga sayang sama Abel dan Alfa. " (Ucap Diva membalas pelukan anak-anak nya.)


"Momy maaf kan aku. " (Ucap Alfa.)


"Sudah sayang, jangan minta maaf, sekarang tidur lah, besok kita akan bangun lebih pagi. " (Ucap Diva tersenyum sambil mengekus rambut Alfa.)


"Iya Alfa, Abel, sekarang om minta kalian tidur karena besok kita akan naik pesawat." (Ucap Dimas.)


"Woahhh benar kah? " (Ucap Abel membulat kan mata nya.)


"Aku sudah lama menginginkan hal itu. " (Ucap Alfa dengan wajah datar nya.)


"Benar sekali, sekarang kalian harus tidur. " (Ucap Dimas merapikan selimut Alfa dan Abel.)


"Good night." (Ucap Dimas kemudian keluar dari kamar Alfa dan Abel.)


"Good night sayang. " (Ucap Diva mencium pipi Abel dan Alfa bergantian.)


Diva pun menyusul Dimas keluar dari kamar Alfa dan Abel.


"Dimas kau tidur lah di kamar tamu. " (Ucap Diva mendekati Dimas yang tengah menonton TV di ruang tamu.)


"Bagaimana jika aku ingin tidur dengan mu? " (Ucap Dimas mengedip kan mata nya.)


"Apa kau gila? " (Tanya Diva


"Tentu saja tidak. " (Ucap Dimas lalu menarik Diva ke pangkuan nya.)


Reflek Diva memelotiti Dimas yang membuat nya salah tingkah.


"Ap... apa yang kau lakukan! " (Ucap Diva memukul pelan lengan Dimas.)


"Tentu saja ingin memeluk mu. " (Ucap Dimas jahil.)


"Dimas kau! Jangan mava-macam. " (Ucap Diva ingin berdiri.)


"Mau kemana? " (Ucap Dimas menahan Diva.)


"Dimas lepas kan aku, aku mohon jangan seperti ini. " (Ucap Diva merasa tidak nyaman.)


Dimas yang takut akan Diva menjadi marah pun melepaskan Diva.


"Dasar aneh, ini selimut mu dan pergi lah tidur. " (Ucap Diva berlaku masuk ke kamar nya.)


Satu malam berlalu.


Pagi pukul, 07.20


"Alfa, Abel cepat lah! " (Ucap Diva berteriak memanggil Alfa dan Abel yang masih saja belum keluar dari kamar mereka.)


"Sabar lah, mungkin mereka sebentar lagi akan keluar. " (Ucap Dimas memuat koper ke dalam bagasi mobil.)


Beberapa saat kemudian Abel dah Alfa pun keluar dengan memakai baju sama, celana sama, pokoknya satu stelan mereka harus itu sama.

__ADS_1


"Sayang, kalian memakai nya sekarang? " (Ucap Diva menutup mulut nya menhan tawa.)


"Iya bagaimana momy apakah kami sangat keren? " (Tanya Alfa menaruh tangan di saku celana nya.)


"Benar-benar keren! " (Teriak Dimas dari arah dalam mobil.)


"Keren sekali sayang. " (Ucap Diva tersenyum bahagia.)


"Yasudah ayo sekarang kita brangkat kalau tidak kita akan di tingal oleh pesawat. " (Ucap Abel berjalan kearah mobil.)


Smentara Diva dan Alfa mengeleng kepala melihat tingkah lucu Abel.


Mereka pun memasuki mobil menuju bandara.


Tidak butuh waktu lama, mereka pun tiba di bandara.


"Ayo anak-anak, cepat lah, ingat jangan menjauh dari momy tetap lah dekat oke. " (Ucap Diva mewanti-wanti kedua anak nya.)


"Sip momy. " (Jawab Abel dan Alfa bersamaan.)


"Kalian tunggu di sini, biar aku yang membeli tiket. " (Ucap Dimas berjalan ke arah antrin tiket pesawat.)


"Baik lah. " (Ucap Diva tersenyum.)


Beberapa saat kemudian Dimas kembali membawa empat tiket pesawat, untuk mereka.


"Ayo duduk di kursi tunggu. " (Ucap Dimas sambil menarik koper Diva.)


Mereka pun duduk di kursi tunggu.


"Ayo, sudah saat nya. " (Ucap Dimas berdiri dari duduk nya.)


"Yey, naik pesawat. " (Ucap Abel kegirangan.)


"Biasa saja. " (Ucap Alfa menyilang tangan nya.)


Sementara Diva masih diam mematung entah apa yang ia pikir kan.


"Diva, kau kenapa? Apakah kau merasa belum siap? " (Ucap Dimas menatap Diva kasihan.)


"Bu.. bukan begitu aku.." (Ucap Diva terpotong karena Alfa dan Abel memegang tangan nya.)


"Momy, jika momy masih belum siap, kita pulang ke villa saja. " (Ucap Abel dengan wajah sedih nya.)


"Abel benar momy, kami tidak mau momy bersedih. " (Ucap Alfa.)


"Sayang, kalian ini ngomong apa? Ayo cepat sebelum kita ketingalan pesawat. " (Ucap Diva tersenyum dan memimpin tangan kedua malaikat kecil nya.)


Dimas yang tahu jika Diva sekarang hanya pura-pura kuat pun ikut sedih karena ia tau bagaimana sahabat nya tersenyum bahagia dan yang mana tersenyum palsu.


Pesawat mereka pun akhirnya lepas landas menuju kota kelahiran Diva, terlihat Alfa dan Abel yang begitu ceria, bahkan mereka terlihat seperti sebuah keluarga yang bahagia hanya saja itu salah.


Di sisi lain

__ADS_1


"Mama, aku lapar. " (Ucap anak-anak laki-laki kepada seorang wanita yang tengah berdiri di meja makan.)


"Iya sayang, sabar tunggu papa dulu ya. " (Ucap wanita itu menyiapkan beberapa makanan.)


"Sela, apa kau melihat dasi ku?. " (Ucap David berjalan menuju dapur mansion.)


"Papa." (Ucap Reza mengangkat kedua tangan nya meminta di gendong.)


"Morning sayang. " (Ucap David kemudian mengendong Reza.)


Ya, Reza adalah anak tunggal dari Sela dan David, lebih tepat nya adalah keponakan Aziel buana.


"Dasi? Bukan kah aku sudah menyiapkan nya di atas meja. " (Ucap Sela melirik David.)


"Kalau begitu tolong ambil kan. " (Ucap David dengan nada manja nya.)


"Aishh, kalian berdua tidak ada habisnya membuat ku kesal. " (Ucap Sela berjalan menuju kamar.)


Aziel sengaja meminta agar Sela tetap tingal di mansion karena ia tidak ingin tuan Baylor kesepian.


"Papa, di mana om Jiel? " (Ucap Reza di gendongan David.)


"Sayang, papa juga tidak melihat om Jiel mu pulang tadi malam. " (Ucap David mendudukan Reza di kursi meja makan.)


"Papa, apakah aku boleh bertanya?" (Ucap Reza menatap papa nya.)


"Silahkan sayang. " (Ucap David duduk berhadapan dengan Reza.)


"Mengapa om Jiel tidak punya istri? Seperti papa punya mama, jika dia punya istri pasti dia akan punya anak dan aku tidak kesepian. " (Ucap Reza seperti orang dewasa.)


David yang mendengar pertanyaan sang putra pun menjadi terdiam karena ia tidak tau mengapa anak nya yang terlihat polos itu bisa berkata dengan begitu pintar.


"Papa, jawab aku. " (Ucap Reza kembali bertanya.)


"Em, sayang.. emm. " (Ucap David kebingungan.)


Di saat itu lah Sela datang dengan membawa dasi David.


"Sayang ini dasi mu. " (Ucap Sela mendekati David.)


"Ah, Terima kasih sayang. " (Ucap David mengambil dasi nya dari tangan Sela.)


"Mau aku bantu? " (Ucap Sela.)


"Tentu saja. " (Ucap David singkat dengan menampilkan senyum manis nya.)


"Lihat lah, ketika papa ingin ke kantor mama pasti akan membantu papa untuk memasang dasi, tetapi aku melihat om Jiel selalu memasang dasi sendiri, ayo lah papa jawab aku. " (Ucap Reza begitu lincah bicara.)


Sela menatap David penuh tanda tanya.


"Apa yang dia katakan? " (gumam sela pelan.)


Sementara David hanya diam dan seperti orang kebingungan.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2