
"Sela om mu, om mu sudah sadar dari koma nya. " (Ucap Marisa terlihat bahagia.)
"Sukur lah kalau begitu mah. " (Ucap Sela datar.)
"Sela aku mohon bantuan mu. " (Ucap Aziel kepada Sela.)
"Bantuan apa? " (Ucap Sela dingin.)
"Bantu aku cari Diva, kau pasti tau bukan di mana dia berada papa terus memangil nya. " (Ucap Aziel seperti sudah kehabisan akal untuk berfikir.)
"Haha, baru sadar kau rupanya? Tapi sayang semua sudah terlambat. " (Ucap Sela menatap Aziel penuh kebencian.)
"Sela ada apa dengan mu nak? " (Ucap Marisa merasakan keanehan Sela.)
"Sela, apa yang kau katakan? Terlambat?Apa maksud mu, aku hanya ingin kau menghubungi Diva karena papa terus mencari nya. " (Ucap Aziel menatap Sela bingung.)
"Jika kau bisa menghubungi nya, mengapa harus aku? " (Ucap Sela dengan wajah datar nya.)
"Sela, mama mohon sekali ini saja jangan bertengkar. " (Ucap Marisa kepada Sela.)
"Tidak ada yang bertengkar di sini mah. " (Ucap Sela santai.)
"Maaf, seperti nya ini urusan keluarga, tuan muda, saya permisi dulu, ini resep obat yang harus tuan Baylor makan. " (Ucap dokter itu berlalu pergi.)
Aziel hanya menjawab dokter tersebut dengan angukan.
Sela, Marisa dan Aziel pun masuk ke kamar tuan Baylor.
"Papa." (Lirih Aziel pelan.)
"Aziel, di mana Diva? " (Ucap tuan Baylor pelan.)
__ADS_1
"Kakak ipar sudah pergi om. " (Jawab Sela mendekati ranjang tuan Baylor.)
"Pergi kemana? " (Ucap tuan Baylor memegang dada nya yang terasa sakit.)
Aziel pun menarik Sela keluar dari kamar tuan Baylor sementara Marisa mengeleng kepala melihat tingkah Sela yang sekarang sudah seperti pesicopat.
"Sela! Apa yang kau katakan! " (Ucap Aziel melepaskan tangan Sela.)
"Yang aku kata kan adalah benar, jika kakak ipar memang sudah pergi. " (Ucap Sela memalingkan wajah nya dari Aziel.)
"Iya aku tau dia memang sudah pergi dari mansion ini, tetapi bukan berarti kau harus mengatakan semua itu kepada papa. "(Ucap Aziel marah.)
" Lalu kenapa? Apa sekarang kau akan membohongi om? "(Ucap Sela tak kalah emosi nya.)
" Tidak, kau bisa menelpon Diva sekarang, bilang pada nya jika papa sudah sadar, aku yakin dia akan kembali. "(Ucap Aziel memaksa Sela.)
" Dengar Aziel, kau bukan suaminya lagi, kau telah menceraikan nya, lalu apa hak mu untuk menyuruh dia datang kemari lagi setelah kau begitu menyakiti perasaan nya. "(Ucap Sela yang tidak bisa membendung amarah nya.)
" Sela, aku mohon kali ini saja, ini demi papa. "(Ucap Aziel memohon.)
" Cukup! Jangan bawa-bawa Luna dalam masalah ini, dia tidak tahu apa-apa. "(Ucap Aziel masih saja membela Luna.)
" Terserah kau saja, yang jelas kakak ipar sekarang sudah tidak akan mungkin kembali lagi kerumah ini. "(Ucap Sela dengan wajah datar nya yang terlihat sangat membenci Aziel dan Luna.)
Bagai di sambar petir hati Aziel seketika sakit seperti di tusuk oleh begitu banyak benda tajam, bulir bening dari mata nya kini lolos menuruni pipi mulus nya, sekarang ia kembali ingat dengan perkataan tetangga Diva jika Diva pergi membawa koper dengan seorang lelaki.
"Tidak itu tidak mungkin! Diva sedang hamil bagaimana mungkin dia pergi jauh dari ku. " (Tegas Aziel menatap Sela.)
Aziel mulai meracau seperti orang gila.
" Hamil? Kakak ipar pergi dengan keadaan hamil? "(Ucap Sela menatap Aziel.)
__ADS_1
"Iya, apa kau ingat malam itu aku meminta mangga muda kepada mu? Sela aku benar-benar merasa ingin memakan nya, entah knp, lalu aku pergi ke taman hiburan, dan di sana aku bertemu Diva dan Dimas kau tau Dimas terlihat aneh, aku sempat menemui mereka tapi itu hanya sebentar dan sehabis pulang dari sana aku sempat mampir ke rumah seorang bibi dia memiliki pohon mangga yang begitu banyak buah dan tampa sengaja dia menyebutkan nama Diva, dia bilang jika Diva juga baru saja ke sana untuk mengambil mangga muda. Aku fikir Diva memang benar-benar hamil. " (Jelas Aziel kepada Sela.)
" Astaga! Kenapa masalah jadi serumit ini, dan kenpa kau tidak pergi kerumah nya? "(Ucap Sela menjambak rambut nya furtasi.)
"Sebenarnya karena penasaran aku ingin pergi, tetapi karena Luna tiba-tiba pingsan aku mengurung niat ku." (Ucap Aziel begitu menyesal dengan apa yang ia lakukan.)
"Kau bodoh, kau sangat bodoh, kak ziel kau ini seorang CEO atau seorang pembulung jalanan? Kapan kau akan sadar jika wanita itu menipu mu! " (Bentak Sela geram.)
"Cukup Sela, Luna adalah wanita polos dia sama sekali tidak tau apapun tentang Diva malah Diva yang selalu mencoba menuduh nya berbuat jahat. " (Ucap Aziel dengan begitu kekeh membela Luna.)
"Saat seperti ini kau masih saja membela nya, kak sadar lah kau itu harus tegas, di mana Aziel yang ku kenal CEO terkaya yang begitu pintar, lalu mengapa kau sekarang benar-benar bodoh! " (Ucap Sela tak habis fikir.)
Aziel juga bingung dengan diri nya mengapa ia sekarang begitu penurut kepada Luna apakah ini cinta atau ada yang lain?
"Mengapa kau diam? Jawab aku! " (Ucap Sela semakin memanas.)
"Aku tidak tau! Yang aku tau Luna adalah cinta pertama ku aku tidak bisa melupakan nya. " (Ucap Aziel.)
Dari sini lah Sela mulai merasa aneh dengan sikap Aziel, entah apa obat yang di berikan oleh wanita licik itu sehingga Aziel memiliki emosi turun naik seperti itu.
"Kau seperti seekor kerbau yang di cucuk hidung nya, apa kau tidak mencurigai nya? Dengar kan aku dia sengaja mengalagi mu agar kau tidak bisa bertemu dengan Diva percaya lah jika malam itu pasti dia sedang berpura-pura pingsan. " (Ucap Sela kepada Aziel.)
"Cukup Sela, aku mohon jangan melibatkan Luna dalam hal ini, yang paling penting bagaimana caranya aku bisa menemukan Diva. " (Ucap Aziel begitu bodoh nya.)
Namun hal lain terjadi, tampa mereka sadari Marisa telah berdiri di belakang mereka sedari tadi dan mendengar semua perkataan mereka.
"Benar kah yang kalian bicara kan? " (Ucap Marisa dari arah belakang Aziel dan Sela.)
"Mama." (Ucap Sela kaget.)
"Bibi, sejak kapan bibi berdiri di sana? " (Ucap Aziel takut bibi nya mendengar semua perkataan nya dan Sela.)
__ADS_1
Seketika wajah Sela dan Aziel menjadi redup karena Marisa mendengar semua obrolan mereka.
Bersambung ....