
Di sisi lain
Sela dan David berkeliling ke seluruh sudut kota untuk mencari keberadaan Diva, sehingga Sela melupakan makan siang nya.
"Sela sebaiknya kita kembali kerumah sakit, ini sudah 03 jam tetapi kita sama sekali belum menemukan nona muda. " (Ucap David merasa kasihan kepada Sela.)
"Tidak David, aku harus menemukan keberadaan kakak ipar. " (Ucap Sela.)
"Tetapi kau sama sekali belum makan. " (Tegas David memberhentikan mobil nya di pingir jalan.)
"Aku tidak peduli, sebelum kita menemukan kakak ipar aku tidak akan makan apapun! " (Ucap Sela membantah perkataan David.)
"Hey, dengar kan aku, kita tidak akan menemukan nya karena kita tidak tau nona muda ada di mana. " (Ucap David memegang tangan Luna.)
"Aku tau, saat ini dia pasti mencari tempat yang sangat nyaman dan tenang, tapi di mana? " (Ucap Sela bingung.)
"Huh, kau saja tidak tau apalagi aku? " (Ucap David mengusap kasar wajah nya.)
"Tunggu, aku rasa aku tau siapa yang bisa membantu kita. " (Ucap Sela menatap David.)
"Siapa? " (Tanya David penasaran.)
"Tania, dia pasti tau di mana Diva sekarang. " (Ucap Sela.)
"Yasudah, kalau gitu sekarang kita harus kembali kerumah sakit. " (Ucap David kembali menyala kan mesin mobil nya.)
"Tunggu, kenapa kerumah sakit? " (Tanya Sela bingung.)
"Huh, apa kau sudah lupa, jika sekarang Tania pasti sedang merawat ibunya di rumah sakit. " (Ucap David yang hampir di buat gila oleh tingkah Sela.)
"Ah, benar sekali ayo sekarang cepat putar balik. " (Ucap Sela tidak sabar.)
"Menyebalkan sekali. " (Gerutu David.)
"Apa katamu? " (Ucap Tania memasang wajah galak nya.)
"Ah, anu, tidak sekarang kita kerumah sakit iya kita kerumah sakit. " (Ucap David serba salah dan sedikit takut.)
Sela mengalihkan pandangan nya ke luar jendela mobil.
Tidak butuh waktu lama Sela dan David pun tiba di rumah sakit.
__ADS_1
Sela pun masuk kerumah sakit dan menuju berjalan cepat menuju ruang rawat ibunya Tania.
"Anak itu, segala hal selalu di lakukan dengan tergesa-gesa. " (Ucap David mengikuti Sela dari belakang.)
Tak lama kemudian Sela pun tiba di depan pintu ruangan tempat ibu Sela di rawat.
"Suster apakah Tania ada di dalam? " (Tanya Sela kepada suster yang baru saja keluar dari ruangan tersebut.)
"Ada, nona. " (Ucap suster itu sambil berlalu.)
Tampa berkata apapun lagi, Sela langsung masuk kedalam ruang rawat tersebut dan melihat Tania yang sedang menyuapi ibu nya.
"Sela." (Ucap Tania kaget.)
"Tania, kau harus membantu ku. " (Ucap Sela seperti orang kesurupan.)
"Sela tenang kan dirimu, dan katakan apa yang terjadi? " (Ucap Tania menghampiri Sela.)
"Apa yang kau lakukan? Lihat ibunya sedang sakit, sayang aku harap kau jangan seperti ini kau harus bersikap tenang. " (Ucap David yang baru saja tiba.)
"Ah, bibi aku minta maaf. " (Ucap Sela melihat ke arah ibu nya Sela yang terbaring kebingungan.)
"Tidak apa-apa nak
"Huh, Tania aku minta maaf jika aku mengangu waktu makan ibu mu tetapi ini tentang kakak ipar. " (Ucap Tania.)
"Diva? Ada apa dengan nya? " (Tanya Tania kaget.)
"Cerita nya panjang, kak Ziel dan kakak ipar ingin berpisah. " (Ucap Sela kepada Tania.)
"Apa? Memang nya apa yang terjadi dengan rumah tangga mereka? Diva tidak pernah menceritakan apapun padaku. " (Ucap Tania kaget dengan perkataan Sela.)
"Kak Ziel menemukan cinta pertama nya, dan mereka kembali menjalin hubungan, bukan kah kau tau pernikahan kakak ipar dan kak Ziel itu hanya karena surat perjanjian. " (Ucap Sela memegang kepala nya yang terasa pusing.)
"Keterlaluan sekali, iya aku tau Sela tetapi aku melihat sesuatu yang aneh kepada Diva dia terlihat benar-benar mencintai Aziel. " (Ucap Tania memegang tangan Sela.)
"Iya apa yang kau lihat aku juga melihat nya, kakak ipar terlihat sangat mencintai kak Ziel tetapi kak Ziel malah menyakiti nya, dan sekarang rumah tangga mereka sudah hancur karena perempuan itu. " (Ucap Sela mengepalkan tangan nya menahan emosi.)
"Lalu di mana Diva sekarang? " (Ucap Tania.)
"Kakak ipar pergi setelah bertengkar dengan kak Ziel, kakak ipar bilang jika Luna bukan wanita baik dan Luna ingin menghancurkan keluarga Buana, tetapi kak Ziel malah tidak percaya dan meminta mengakhiri hubungan mereka. " (Ucap Sela panjang lebar.)
__ADS_1
Sela menjelaskan semuanya kepada Tania, sementara David hanya diam tampa sepatah kata pun.
"Apa kau sudah mencoba mencari ny? " (Tanya Tania kepada Sela.)
"Sudah, tetapi aku tidak menemukan nya terakhir David melihat nya pergi bersama dokter Dimas." (Ucap Sela melirik David.)
Sementara David hanya mengangguk pelan.
"Dimas?" (Ucap Tania kaget.)
"Iya dokter Dimas, mereka sangat terlihat akrab. " (Jawab David.)
"Jika Dimas yang kau maksud itu adalah Dimas anggara mungkin sekarang mereka berada di pantai pasir putih. " (Ucap Tania dengan tepat menebak.)
"Dimas Anggara? Iya setau ku dokter yang merawat tuan Baylor memang bernama dimas anggara dia adalah anak dari pemilik rumah sakit ini. " (Jelas David kepada Tania.)
"Nah, tepat sekali Dimas adalah teman SMA ku dan juga Diva kami berteman sejak kelas dua SMA tetapi sejak lulus Dimas pergi meneruskan pendidikan nya untuk menjadi seorang dokter dan sekarang dia telah kembali. Sekarang aku saran kan kalian pergi ke pantai pasir putih karena itu tempat favorit Diva dia selalu kesana saat dirinya sedang terpuruk maupun bahagia. "(Ucap Tania menjelaskan semuanya kepada Sela.)
" Baik lah, Terima kasih aku dan David akan kesana sekarang. "(Ucap Sela bergegas menarik tangan David untuk segera pergi ke tempat yang telah di katakan oleh Tania.)
" Baik lah, Hati-hati."(Ucap Tania kembali masuk ke ruang rawat ibu nya sambil terus memikirkan Diva.)
Di sisi lain
"Baik lah, jika itu keputusan mu, aku akan selalu membantu mu. " (Jawab Dimas kembali memeluk Diva.)
"Terima kasih. " (Ucap Diva sekali lagi meneteskan air matanya di pundak Dimas.)
"Apa aku boleh melihat ponsel mu? " (Tanya Dimas melepaskan pelukan nya.)
Tampa berkata apapun Diva mengeluarkan ponsel nya yang sudah terlihat hancur dan tidak bisa menyala akibat Luna.
"Ini, kalau boleh tau mengapa kau ingin melihat nya? " (Tanya Diva bingung sambil mengulurkan ponsel mya kepada Dimas.)
"Aku punya teman yang jago dalam membenarkan benda-benda rusak, siapa tau di bisa membenarkan ponsel mu. " (Ucap Dimas.)
"Benar kah? Kalau begitu aku mohon agar kau meminta nya untuk membenarkan ponsel ku. " (Ucap Diva antusias.)
"Tentu saja, sekarang kita pulang, ini sudah hampir malam. " (Ucap Dimas kepada Diva.)
Diva hanya menganguk kan kepala nya sambil tersenyum.
__ADS_1
Bersambung ....