
Mereka pun menaiki mobil dan menuju kerumah sakit.
Semantara itu Luna sedang membangun kan Marisa.
"Bibi, bangun lah. " (Ucap Luna mengetuk pintu kamar Marisa.)
Marisa yang masih belum terlelap pun bangun karena suara ketukan Luna
"Ada apa? " (Ucap Marisa cuek.)
"Ada telpon dari rumah sakit, Aziel menunggu di bawah. " (Ucap Luna.)
Tampa berkata sepatah kata pun Marisa langsung turun ke bawah meningal kan Luna.
"Dasar wanita tua menyusahkan. " (Ucap Luna menyusul Marisa.)
Setibanya di ruang tengah Marisa sama sekali tidak melihat seorang pun.
"Di mana Aziel? Apa kau mencoba menipuku? " (Ucap Marisa menatap tajam Luna.)
Luna pun merasa kaget karena Aziel sama sekali tidak ada di ruang tengah.
Sementara itu Sela yang merasa Diva tidak ada di samping nya oun bangun dan turun kebawah untuk mencari keberadaan Diva.
"Tidak bibi, aku tidak berbohong. " (Ucap Luna takut.)
"Mama, apa yang terjadi? Dan apa mama melihat kakak ipar? " (Tanya Sela berjy menuruni anak tangga.)
"Jangan kan Diva Aziel saja aku tidak melihat nya. " (Ucap Marisa bingung.).
"Apa? Berarti Aziel dan Diva pergi kerumah sakit bersama? Apa yang terjadi dengan Aziel mengapa dia meninggal kan aku? " (Ucap Luna berbicara sendiri.)
"Bagus jika mereka pergi berdua. " (Ucap Sela.)
"Sela, mengapa kau berkata seperti itu? " (Tanya Luna.)
"Sudah lah, Sela sebaik nya kita tidur saja, biar kan Aziel dan Diva kerumah sakit aku yakin mereka akan mengabari kita. " (Ucap Marisa.)
"Baik lah . " (Ucap Sela mengikuti mama nya masuk ke kamar.)
"Ahhh, sial! Ini tidak boleh terjadi aku harus menyusul mereka. "(Ucap Luna berjalan keluar pintu menemui sopir bribadi di mansion.)
Sementara itu Aziel dan Diva baru saja tiba di sakit.
" Ayo Luna cepat."(Ucap Aziel menarik tangan Diva.)
Diva yang mendengar perkataan Aziel yang memangil nya dengan sebutan Luna pun hanya diam karena baginya sekarang yang penting hanya lah tuan Baylor.
__ADS_1
Mereka pun berjalan menuju ruang rawat tuan Baylor.
Setibanya di sana Aziel langsung masuk kedalam ruangan itu sementara Diva menunggu di luar karena ia tidak di izinkan masuk oleh suster karena di dalam dokter sedang menangani tuan Baylor.
"Suster, katakan padaku? Apa yang terjadi? Bukan kah kau suster yang menjaga papa semalam? " (Ucap Diva menatap tajam suster tersebut.)
"Maaf nona, tadi aku sedang tidur, dan ada seseorang yang masuk kedalam ruang rawat tuan Baylor, dia mencoba melepas alat bantu pernafasan tuan Baylor. " (Jelas suster itu sedikit takut menatap Diva.)
"Lalu? " (Tanya Diva kembali.)
"Lalu, dia tidak sengaja menabrak gelas yang berada di atas nakas dan aku terbangun, saat aku ingin menangkap nya dia mendorong ku lalu kabur, aku benar-benar minta maaf nona muda. " (Ucap suster itu menundukkan kepala nya.)
"Baik lah, ini bukan salah mu. " (Ucap Diva.)
"Mengapa ada orang yang ingin mencelakai papa? setau ku selama ini papa tidak pernah punya musuh. " (Batin Diva curiga.)
Tak lama kemudian Aziel pun keluar dari ruang rawat tuan Baylor bersama dengan dokter.
"Aziel, bagaimana keadaan papa? " (Tanya Diva memegang pergelangan tangan Aziel.)
"Diva? Mengapa kau ada di sini? Di mana Luna? " (Tanya Aziel menatap tajam Diva.)
"Diva? " (Ucap dokter dari arah belakang Aziel.)
"Dimas? " (Ucap Diva menatap lelaki yang di Panggil nya Dimas itu.)
"Diva, jawab aku di mana Luna? " (Ucap Aziel memegang erat tangan Diva.)
"Coba kau ingat lagi, kenapa aku yang berada di sini, dan lepas kan tangan ku. " (Ucap Diva melepaskan tangan nya dari Aziel.)
"Diva mengapa kau..? " (Ucap Aziel terpotong saat ia mengingat bahwa dirinya lah yang salah membawa Diva dan bukan Luna. )
"Diva, aku merindukan mu. " (Ucap Dimas memeluk Diva.)
"Hiksss kemana saja kau, kenapa kau melupakan aku? " (Ucap Diva membalas pelukan Dimas dan mengabaikan Aziel.)
Aziel menatap tajam tingkah Diva yang berpelukan dengan Dimas di depan mata nya, entah apa yang terjadi yang jelas Aziel merasa tidak nyaman.
"Apa-apaan ini? " (Ucap Aziel menarik Diva dari pelukan Dimas.)
"Ah." (Ucap Diva karena Aziel memegang erat tangan nya.)
"Maaf, Aziel kau mengenal Diva? "(Tanya Dimas bingung.)
" Tentu saja aku mengenal nya, dia is.."(Ucap Azis terpotong.)
"Aku temannya. " (Jawab Diva memotong perkataan Aziel.)
__ADS_1
Aziel menatap tajam Diva.
"Ah, aku kira Ziel suami mu. " (Ucap Dimas santai.)
"Jika benar dia istri ku, bagaimana? " (Ucap Aziel menatap tajam Dimas.)
"Sudah Ziel jangan bercanda lagi, hehe. " (Ucap Diva cengegesan agar Dimas melihat mereka hanya sedang bercanda.)
Sementara itu Luna tidak bisa menyusul kerumah sakit.
"Mengapa kalian tidak mau mengantar ku?! " (Ucap Luna memarahi sopir pribadi mansion.)
"Maaf nona, mobil ini milik nona nuda Diva, jadi saya tidak bisa mengantar anda." (Jelas sopir itu.)
"Yasudah, pakai mobil lain saja. " (Ucap Luna memaksa.)
"Mobil lain yang mana nona, mobil tuan muda di ada bersama tuan muda, dan mobil yang di sana itu milik nona Sela. " (Ucap sopir itu.)
"Arghhh, menyebalkan sekali! bagaimana mungkin di rumah ini mobil masing-masing. " (Batin Luna mengerutu.)
Jelas saja di mansion itu mobil masing-masing, namanya juga orang kaya. Dasar Luna saja yang miskin dan tidak tau cara hidup orang kaya.
Tampa sepatah kata pun Luna kembali masuk kedalam rumah nya dengan mengentak-hentak kan kaki nya ke lantai.
Rumah sakit-
"Aziel, aku sudah menjelaskan kondisi papa mu sekarang, jadi mulai sekarang berjaga lah lebih ketat, karena seperti nya ada yang ingin mencelakai papa mu. " (Jelas Dimas mengalihkan pembicaraan.)
Sebenarnya Aziel sudah lama mengenal Dimas karena ayah Dimas ya itu tuan Anggara adalah teman baik ayah nya, rumah sakit itu pun adalah rumah sakit langganan keluarga buana.
"Aku tau. " (Ucap Aziel singkat.)
Aziel ingin menarik tangan Diva untuk masuk ke dalam kamar rawat tuan Baylor tetapi Dimas lebih dulu menahan nya.
"Diva, bisa kah kita bicara sebentar? Apa kau tidak merindukan aku? " (Jawab Dimas dengan senyum manis nya.)
"Tidak, ini sudah malam, lain kali saja. " (Ucap Aziel memegang tangan Diva.)
"Tentu saja boleh, aku juga merindukan mu. " (Jawab Diva melepaskan pegangan tangan Aziel.)
"Apa maksud mu? " (Tanya Aziel.)
"Ayo! " (Ucap Diva menarik tangan Dimas.)
Aziel tidak bisa berkata apa-apa karena Diva melepaskan genggaman tangan nya dan pergi bersama Dimas.
Bersambung ....
__ADS_1