
" Kenapa senyum senyum sendiri hmm ? " Tanya Mitha saat melihat ekspresi Pras yang tadinya datar tiba tiba berubah ceria.
" Tadi perasaan masih tidur deh "
" Ah basa basi, tadi kan mas yang bawa bawa dosa segala " Mitha mengerucutkan bibirnya.
" Ya kan emang gitu sayang .. " Pras mendekat masih dengan handuk yang melilit pinggangnya.
" Keringin dulu deh mas rambutnya " Mitha mendorong tubuh Pras yang hendak mendekatinya.
" Ish .. " Pras bangkit lalu menuju meja rias mengambil hair dryer.
Mitha melihat raut wajah Pras yang berubah lagi menjadi bad mood, Mitha pun bangkit menyusul Pras. Membantu Pras mengeringkan rambutnya.
" Jangan marah mas, kamu emang kelihatan lebih seksi kalo basah gini cuman spreinya baru ganti masa mau di basahin hehee " Kekeh Mitha.
" Ya ganti aja, kalo perlu beli sepabrik juga gak masalah "
" Orang kaya marahnya gemesin banget sih " Mitha mengacak rambut Pras lalu mencium aromanya yang selalu terasa menyegarkan.
Perlahan tangan Mitha yang tadinya berada di kepala Pras kini beralih ke pundak Pras. Memijat nya lembut dan terasa hangat, Mitha memainkan jemarinya di sekitar leher Pras memberikan sensasi tersengat di seluruh tubuh Pras.
" Kamu menggodaku ? " Tanya Pras dengan suara berat.
" Engga ko, cuman mijit sedikit biar mas nyaman " Bisik Mitha di telinga Pras.
" Sshhhh .. Gimana kalo sekarang gantian kamu yang aku pijitin yang " Pras mengangkat tubuh Mitha ala bridal style lalu membawanya ke ranjang king size mereka.
Pras benar benar melakukannya , Pras memijat bagian bagian tubuh Mitha yang menjadi favoritnya. Ya lebih tepatnya meremas sebanarnya. Pras meremas kedua gundukan yang sekarang terasa semakin berisi. Mugkin faktor sedang menyusui.
Mitha meremas sprei di kelilingnya menjalarkan kenikmatannya, membuat sprei yang semula rapih itu menjadi super berantakan.
" Pijatan aku lebih enak kan sayang ? " Tanya Pras sambil mengecupi leher Mitha, memberi tanda kepemilikan di seluruh leher dan dada Mitha.
__ADS_1
" Maaasshhh .. " Tangan Mitha kini bergrilya nakal, menarik handuk Pras hingga tak sehelai benang pun menutupi tubuh kekar itu.
" Kamu mulai nakal yang hmm ? " Pras memberikan semgatan sengatan kecil membuat Mitha benar benar basah hingga memohon untuk segera di masuki.
" Ahhh maaassshhh " Mitha mengeratkan pegangan pada pinggang Pras hingga sedikit mencakar dan menekannya agar segera melakukannya.
" Sepertinya kamu udah gak tahan ya yang "
Akhirnya Pras mengarahkan miliknya ke syurga dunia itu, mendorongnya melakukan manuver maju mundur dengan hentakan yang keras.
Ac di kamar mereka sudah menyela dengan suhu palling dingin namun mereka masih berkeringat. Mungkin karena sudah terlalu lama hingga Pras tak cukup melakukannya sekali. Pras benar benar membuat Mitha tak berdaya. Lemas rasanya.
" Tahan sayang, sedikit lagi " Ucap Pras yang merasakaan sesuatu akann meledak dari dalam dirinya.
" Hmm " Pras meleenguh merasakan kenikmatan itu akhirnya bisa di dapatkan nya berkali kali malam ini.
" Makasih ya sayangg .. Kamu ngelayanin aku tanpa ngeluh " Pras mencium kening Mitha.
" Sama sama mas, aku suka ko ngelakuin ini. Cuman emang tadi aku cape banget. Maaf ya aku kesannya nolak kamu " Ucap Mitha masih dengan nafas tersengal.
" Gak papa mas, kita bobo yu keburu si bayi bangun nanti jadi pada kurang istirahat " Ajak Mitha yang langsung mennelusupkan kepakanya di dada bidang Pras.
" I love you .. " Ucap Pras sambil mencium kepala istrinya itu.
" I love you too mas. Selamat tidur " Mitha langsung memejamkan mata karena sudah tak tahan lagi mengantuk dan juga lelah.
Baru saja tidur sekitar 3 jam, terdengar suara dari baby monitor nya. Ya mecca mulai menangis meminta jatah menyusu malam nya. Mitha segera bangkit, membersihkan diri sejenak dengan air hangat lalu meneemui putrinya itu yang sudah berada dalam gendongan pengasuh. Mecca dan El memiliki pengasuh masing masing, sebenarnya meski Mitha tak bangun pun ada pengasuh yang akan menjaga anak anak mereka. Namun tentu Mitha tak seperti itu, pengasuh hanya di sewa untuk menemani anak anaknya namun ketika menyusui, memandikan, menidurkan dan menyuapi itu hanya di lakukan oleh Mitha. Mitha ingin menciptakan bonding yang kuat dengan anak anaknya meski nanti akann sibuk kembali kuliah.
" Its okay mba biar sama aku aja .. Lagian aku belum pumping udah gak enak banget " Ucap Mitha sambil mengambil alih Mecca dari pangkuan pengasuhnya.
" Baik bu .. "
" Aku bawa ke kamar aja ya mba, takutnya El bangun " Ya Mecca saat itu memang di tidurkan di kamar El karena disana punterdapat box bayi milik El dulu.
__ADS_1
" Iya Bu, kalo gitu saya kembali ke kamar saya ya bu "
" Iya mba makasih ya "
" Sama sama bu " Pengasuh pun keluar bersamaan dengan Mitha yang ikut berpindah ke kamar.
Mitha menyusui dengan tenang di sofa sampai terlihat Mecca yang sudah kenyang menyusu namun nampak gelisah. Mitha berpikir mungkin putrinya ingin di gendong karena Mecca memang seringkali tidur jika di timang saja.
" Sssuuhhh sayang .. Kenapa ? Masih mau main iya ? "
Pras mendengar suara Mitha yang berdialog dengan bayinya itu, perlahan Pras membuka matanya. Di tatap Mitha yang sedang menggendong Mecca.
" Hmm Mecca bangun ya yang ? "
" Iya mas, kayanya masih mau main deh tuh malah asik lihat langit langit. Mas tidur lagi aja, belum subuh ko " Titah Mitha.
" Bentaran yang " Pras bangkit mengambil handuk lalu segera membersihkan diri sekalian mandi wajib.
" Lah malah mandi ? " Tanya Mitha heran.
" Kamu udah mandi ya yang ? Bentar aku di baju dulu " Pras masuk menuju walk in closet lalu berpakaian. Tak lupa Pras menngambil sprei baru.
" Tunggu ya yang, mas rapihin dulu " Pras segera memasangkan sprei baru.
" Sini giliran mas yang nemenin Mecca. Kamu sekarang tidur nanti mas bangunin kalo Mecca nya nangis " Ucap Pras sambil mendekat hendak meraih Mecca.
" Ih jangan mas. Kamu kan besok kerja. Udah mas aja yang tidur "
" Ayang .. Nurut sama suami. Aku gini tuh buat kebaikan bersama sayang. Kalo kamu sakit terus kecapean kan nanti kasihan Mecca juga. Kalo aku udah biasa tidur awut awutan. Kamu tau sendiri " Intimidasi Pras panjang lebar.
" Hmm mass " Mitha berkaca kaca, hal kecil saja mampu membuatnya merasa terharu. Mungkin faktor hormon pasca melahirkan.
__ADS_1
" Lah malah nangis, udah sayang istirahat gih. Tuh Mecca nya juga anteng ko. Mas bisa, percayakan ? " Mitha mengangguk.
Dengan lega dan bahagia Mitha segera merebahkan tubuhnya di ranjang. Rasanya amat nyaman, selama ini Pras memang tak pernah mempersulit Mitha dalam merawat anak anak. Pras cenderung meringankan semua beban Mitha. Bagi Pras, istri itu adalah jantungnya rumah tangga. Saat istri bahagia maka anak anak dan dirinya sendiri pun akan bahagia, namun sebaliknya jika istrinya terluka maka semua akan merasakan luka yang sama.