Istri Kontrak Tuan Muda

Istri Kontrak Tuan Muda
Wanita Rendah


__ADS_3

Menjalani minggu pertamanya sebagai seorang Presdir Abraham Group, Pras tidak bisa berfokus hanya di Rumah Sakitnya. Hari hari terasa amat berat mungkin karena belum terbiasa juga. Tapi apa daya, Pras harus membiasakan diri.



" Masih pagi udah siap aja yang .. " Sapa Pras yang melihat istrinya sudah memakai baju formal.


" Hari ini mas kunjungan ke pabrik kan ? Jo juga kunjungan ke yayasan. Jadi biar aku yang masuk dari pagi ke rumah sakit. Kita berbagi tugas mas. "


" Terharu banget punya istri pengertian " Pras memeluk Mitha dari belakang.


" Aku udah bilang kan mau dukung dan bantu mas. Jadi mas bisa fokus satu satu kalo kita bagi bagi tugas gini "


" Makasih ya ayang .. Mas mau mandi dulu terus sarapan bareng ya ? Tunggu mas di bawah sama anak-anak. "


" Iya mas. Aku juga mau nyusui Mecca dulu. "


" Okay yang, El biar sama mas aja di suapinnya. "


Karena kamu bantu aku urus rumah urus anak anak. Aku juga pasti bisa bantu urusan kerjaan.


Meski memang saat ini mereka di sibukkan oleh banyak pekerjaan, namun waktu untuk anak anak juga tetap di prioritaskan. Mereka tidak mau masa emas anak anak berlalu begitu saja tanpa perhatian mereka.


" Abang .. " Tanya Mitha pada El yang sedang asik di suapi daddy nya.


" Iya mommy ? "


" Abang bentar lagi 4 tahun, udah siap masuk sekolah belum ? "


" Hmm "


" Kenapa ? Abang belum mau ? " Tanya Pras memperhatikan ekspresi putranya yang bingung.


" Kalo El sekolah, adik sama siapa ? Gak ada yanh nemenim main nanti. " Keluh El.


" Kan ada mba, ada mommy sama daddy juga "


" Mommy sama daddy kan kerja. Kasihan udah cape kerja terus cape juga nanti nemenin Mecca main "


" Aaahh anak mommy udah dewasa banget ya ? Huhu jadi terharu mommy. "


" Kata aunty Vidya, mommy sama daddy itu sibuk kerja bukan cuman buat kita, tapi buat banyak orang biar anak anaknya bisa bahagia kaya El sams Mecca. "

__ADS_1


" Tapi abang bahagia ? "


" Bahagia Mommy .. Tiap pagi ketemu sama mommy daddy, makan bareng main sebentar terus siangnya main sama Mecca sampe sore nanti malem nya mommy daddy pulang El sama Mecca di temenin tidur. "


Hati Mitha terenyuh meski memang tak bisa bertemu seharian namun Mitha maupun Pras memastikan mereka memberikan waktu berkualitas untuk anak anak. Setelah sarapan pun mereka berpamitan pada anak anak.


Mereka berangkat dengan mobil dan supir masing masing karena berbeda tujuan. Kebanyakan waktu di habiskan untuk bekerja dan bersama anak anak, waktu untuk berdua memang agak merenggang namun tidak memudarkan perasaan dan perhatian masing masing.


" Kalo ada kesulitan ayang bilang ke mas atai ke Jo ya ? "


" Tenang aja mas, aku sekarang udah Pro buat manage rumah sakit. Kamu fokus aja oke ? "


" Iya iya mas tau. Maaf ya mas jadi jarang banyak waktu buat berduaan lagi kaya dulu. Biasanya kita berangkat bareng, pulang bareng, kerja bareng, sekarang ketemu di rumah aja cuman pas mau tidur. Itu juga kalo gak ketiduran duluan "


" Gak papa nanti juga ada waktunya mas. "


Mitha meraih tangan lalu berpamitan.


Tokk .. Tokk


" Masuk .. " Baru saja 15 menit sampai di rumah sakit, sudah ada yang bertamu saja.


" Pagi Bu Mitha " Sapanya yang ternyata adalah Daffa.


" Udah sarapan ? "


" Udah ko. "


" Bagus deh kalo gitu, gue duduk ya ? "


Mitha hanya mengangguk, akhir akhir ini dirinya memang sering bertemu Daffa untuk mengetahui informasi mengenai Dinda dan Resa atau mungkin siapapun itu yang mencoba berbuat onar. Daffa beralih menjadi informan yang kompeten dan setia.


" Ini .. " Daffa menyerahkan ponselnya.


Sebuah rekaman di putar menunjukkan Dinda dan Resa yang sedang bergibah saat rapat tempo hari. Dengan lancangnya Resa meyakinkan Dinda untuk merebut posisi Mitha dan Dinda penuh percaya diri merasa hebat karena pernah memiliki hubungan gelap dengan suaminya.


" Ck .. Salut gue. Mental baja dia. " Ucap Mitha mengembalikan ponsel Daffa.


" Lo cukup bijak dengan gak pecat mereka karena study mereka tinggal beberapa bulan lagi. Tapi Mit mereka harus di kasih pelajaran dan efek jera biar gak keterlaluan. "


" Gue ada meeting dulu sama tim, gue juga sibuk banyak kerjaan. Tolong suruh Dinda ke ruangan gue jam setengah 7 malem nanti. Sialan, harusnya gue pulang jam 5. Ngabisin waktu gue aja tuh pela**** "

__ADS_1


Daffa hanya mengangguk lalu berpamitan karena jam praktek pagi nya akan segera di mulai. Daffa menerka seperti nya akan ada perang besar nanti malam. Semoga tindakannya ini bisa membuat Dinda sadar dan sedikit tau diri meski nyatanya manusia seperti Dinda dan Resa cukup bebal.


Waktu berlalu hingga malam pun tiba. Dinda datang memenuhi panggilan Mitha.


" Malam Bu .. " Sapa Dinda memasuki ruangan.


" Malam .. Oh ya sebentar " Mitha masih ada pekerjaan dan masih berkutat dengan pc nya.



" Okay selesai, sini Din .. " Dinda menurut lalu mendekati meja kerja Mitha.


Mitha bangkit dari kursi kebesarannya lalu Mitha memposisikan diri di belakang tubuh Dinda, dengan sedikit dorongan di pundak Dinda, Mitha membuat Dinda duduk di kursi nya.


" Gimana nyaman kan ? "


" A-apa maksud Ibu ? " Jawab Dinda kaget dan gugup dengan sikap Mitha.


" Saya tanya, nyaman kan ? Bukannya ini yang kamu mau Din ? Mengisi posisi saya, dan berada disini ? " Sarkas Mitha.


" Engga Bu .. "


" Ck .. Kamu gak harus nyangkal Din. Saya tau selama ini apa yang kamu pikirkan tentang saya. Dimata kamu mungkin saya terlihat rendah dan tidak layak untuk menempati posisi ini. Kalo gitu silahkan gantikan saya Din. " Mitha tersenyum smirk.


Daffa sialan, dasar pengadu ! Batin Dinda.


" Kalau kamu sepercaya diri itu untuk merebut posisi saya, saya membuka kesempatan selebar lebarnya. Bukan hanya kursi ini yang bisa kamu rebut, tapi perasaan suami saya, mertua saya dan anak anak saya. Silahkan coba jika kamu pikir kamu mampu. "


Dinda menunduk menahan malu.


" Menjadi seorang dokter tidak lantas menjadikan kamu wanita yang lebih terhormat daripada wanita lainnya. Kamu harus sadar Dinda dalam hirarki pekerjaan, posisi saya lebih tinggi dari kamu. Saya yang pekerjakan dan bayar tenaga kamu. Saya juga yang bisa mengakhiri karir kamu. "


" Anda terlalu sombong Bu Mitha .. " Jawab Dinda lirih, tak tahan merasa direndahkan.


" Oh apa saya tidak boleh sombong ? Semua kesombongan dunia ini hanya layak di miliki kamu ? Serakah sekali. "


" Anda hanya beruntung. "


" Ya saya beruntung, beruntung karena dihamili Pras. Begitu kan pikir mu Din ? "


" Memang kenyataannya seperti itu ! Harusnya jika wanita terhormat, kamu tidak akan merendahkan diri mu hingga di hamili. Bahkan lebih dari sekali. "

__ADS_1


" Haruskah saya membongkar aib mu ? Yang selama ini sempat mengajak Pras berlibur bersama dan sudah memesan hotel kelas suite untuk kalian berdua namun sayang Pras tidak bisa menyentuh wanita yang tidak dia cintai. Kalo begitu bukan kah kita sama sama rendah Dinda ? Bedanya saya di nikahi, saya di jadikan ratu bukan hanya oleh Pras tapi oleh kedua orangtuanya juga tanpa saya mengemis dari mereka. Sedang kamu, kamu mengemis cinta dari Pras sampai rela hanya di jadikan wanita gelap nya ! Bangun Dinda ! Jika sekalipun Pras mau memberikan perasaannya untuk mu apakah Bunda akan menerima ? Hubungan kalian tak lebih dari hubungan gelap yang tak akan pernah mendapatkan restu dan kebahagiaan karena KAMU ! KAMU PERNAH MERENGGUT HIDUP SAYA DAN HIDUP ANAK SAYA YANG BAHKAN BELUM SEMPAT LAHIR KE DUNIA. SAYA INGATKAN ITU JIKA KAMU LUPA AKAN MASA LALU SEBERAPA BURUK DAN BERENG-SEK NYA KAMU ! " Untuk pertama kalinya amarah itu meledak dan meluap.


__ADS_2