
Sementara itu di kamar, David sedang resah dan tidak bisa tidur entah apa yang dia lakukan.
"David, apa yang kau lakukan? Mengapa kau belum tidur. " (Ucap Sela masuk ke kamar.)
"Aku sedang gerah, dan tidak bisa memejamkan mata ku, seperti nya aku butuh pelukan. " (Ucap David mengoda Sela.)
"Aihhh, kau ini ada-ada saja, jangan macam-macam, tidur lah besok kita harus kerumah sakit. " (Ucap Sela naik ke ranjang dan menyelimuti diri nya.)
"Sayang ayo lah jangan seperti itu, kau tau umur Reza sudah empat tahun, aku rasa dia sudah seharusnya mempunyai seorang adik. " (Ucap David sambil memeluk Sela.)
"Adik? Tidak-tidak, aku rasa Reza masih belum boleh mempunyai adik. " (Ucap Sela mencoba mengelak.)
Namun apa boleh buat David adalah suaminya Sela mana mungkin ia bisa membantah keinginan David.
"Sbentar saja, ya sayang. " (Ucap David membalikkan badan Sela menghadap nya dan kemudian ..... )
Lanjut kan saja dengan imajinasi reader masing masing.
Di sisi lain
"Aduh, Dimas bagaimana jika kita kabur saja dari restoran ini? Pemilik restoran ini mungkin sudah gila, perut mana yang bisa menampung makanan sebanyak ini? Aku sudah sangat kenyang. " (Ucap Tania memegang perut nya.)
"Aku rasa yang kau katakan benar? Tetapi jika makanan ini tidak habis makan mereka akan marah. " (Ucap Dimas bingung.)
"Ya kalau begitu kita kabur saja sekarang. " (Ucap Tania menkode Dimas.)
"Bagaimana bisa kabur? Mereka pasti akan melihat kita. " (Ucap Dimas melirik seluruh sudut lestoran.)
"Tenang saja, serah kan semua nya kepada ku. " (Ucap Tania tersenyum jahil.)
"Baik lah." (ucap Dimas setuju.)
"Mbak, kesini deh. " (Ucap Tania melambaikan dua orang yang baru saja datang ke restoran tersebut.)
"Iya ada apa mbak? "(Tanya perempuan yang bersama laki-laki tesebut.)
" Bisa kah mbak dan mas duduk di sini sebentar, aku sedang ingin ke toilet bersama suami ku, aku takut jika kursi kami di isi orang, mau ya mbak sebentar saja kok. "(Ucap Tania.)
" Baik kah, kami akan duduk di sini. "(Ucap wanita tersebut.)
" Ah Terima kasih banyak, Dimas ayo! "(Ucap Tania buru-buru menarik tangan Dimas.)
__ADS_1
Bukan nya ke toilet mereka malah keluar dari pintu samping restoran tersebut dan bergegas masuk ke dalam mobil Dimas.
" Hahahaha, rasa mereka akan menunggu kita sampai jamuran. "(Ucap Tania tertawa renyah.)
" Haha, kau sangat licik, tetapi apakah kita tidak salah menipu orang yang tidak bersalah untuk duduk di kursi kita? "(Ucap Dimas tertawa sambil menyetir mobil nya.)
" Tidak, malah mereka akan beruntung, mendapatkan banyak makanan kita yang belum habis hahaha. "(Ucap Tania tidak habis-habisnya tertawa.)
" Kau ini benar-benar gila. "(Ucap Dimas mengeleng kepala nya.)
" Biar kan saja. "(Ucap Tania menatap Dimas sambil masih cengegesan.)
" Ternyata kau manis juga. "(Ucap Dimas pelan.)
" Apa?"(Tanya Tania.)
"Ah, anu tidak aku akan mengantarkan mu kerumah mu. " (Ucap Dimas sambil mengalihkan pandangan nya ke arah depan.)
"Baik lah, Terima kasih. " (Ucap Tania lagi.)
"Apa yang terjadi pada ku? Mengapa jantung ku berdetak sangat aneh saat aku berdekatan dengan Tania?. " (Batin Dimas sambil terus fokus menyetir.)
Tidak butuh waktu lama akhirnya mereka pun tiba diam rumah Tania.
"Sama-sama, masuk lah, tidak baik jika kau lama-lama di luar kau bisa masuk angin. " (Ucap Dimas perhatian.)
"Emm, iya apa kau tidak mau mampir dulu? " (Tanya Tania sedikit gugup.)
"Tidak usah, aku masih ada sedikit urusan di rumah sakit lain kali aku akan mampir. " (Ucap Dimas menolak dengan lembut.)
"Baik lah kalau begitu. " (Ucap Tania.)
"Oke, aku jalan dulu. " (Ucap Dimas menyala kan mesin mobil nya.)
"Baik lah, Hati-hati. " (Ucap Tania melambaikan tangan nya.)
Setelah mobil Dimas menjauh Tania pun berjalan masuk ke dalam rumah nya.
"Ibu aku pulang. " (Ucap Tania sambil tersenyum-senyum di depan ibu nya.)
"Tania? Ada apa sayang? Mengapa malam ini wajah mu terliat sangat ceria dan mengapa kau agak telat pulang? " (Tanya ibu Tania sambil memegang tangan Tania.)
__ADS_1
Tania pun membungkuk di depan ibu nya sambil memegang kedua tangan ibu nya.
"Maaf Bu, tadi sehabis dari kantor aku kerumah sakit untuk mengembalikan obat ibu, dan amdi sana aku bertemu dengan Dimas lalu dia mengajak ku untuk makan malam, karena kami sudah lama tidak bertemu makan aku menyetujui ajakan nya, maaf kan aku ya bu. " (Ucap Tania merasa bersalah meningalkan ibu nya sendiri di rumah karena pengasuh ibu nya sudah pulang saat pukul 08.)
"Ouh begitu, pantas saja wajah mu terliat bahagia, tetapi ingat lah nak ibu tak ingin kau bersedih kembali, terus lah bagaimana seperti ini. " (Ucap Ibu nya Tania mengelus pucuk rambut sang anak.)
"Baik bu, aku akan selalu bahagia. " (Ucap Tania memeluk ibu nya.)
"Baik lah, sekarang tidur dan istirahat lah." (Ucap Ibu Tania melepaskan pelukan nya.)
****
Pagi pukul 07.20
"Huh, berat sekali. " (Ucap Aziel membuka mata nya.)
Terliat Diva yang tidur dengan menindih tangan Aziel.
"Astaga, dia tidur duduk seperti ini? Apakah tidak capek? " (Ucap Aziel melihat Diva.)
Aziel oun berusaha bangun dan turun dari tepat tidur nya.
Ia berjalan pelan dan berusaha mengedong Diva ke sofa di sebelah ranjang, ia menahan sakit di punggung nya karena kasihan melihat Diva yang terlihat kelelahan menjaga nya 24 jam.
Akan tetapi saat ia mencoba menurunkan Diva ke sofa dirinya ikut jatuh di atas badan Diva dan itu membuat Diva terbangun dan kesakitan.
"Eohhh, apa yang kau lakukan? Mengapa turun dari ranjang mu? Kau itu sedang sakit. " (Ucap Diva memegang lengan Aziel.)
"Ahh, aku hanya tidak tega melihat mu tidur dengan posisi duduk kira itu akan membuat pinggang mu sakit. " (Ucap Aziel menahan sakit di punggung nya.)
"Astaga, kau ini, aku sudah biasa seperti itu, ayo sekarang bangun lah dan kembali ke ranjang. " (Ucap Diva ingin bangun dan membantu Aziel.)
"Bagaimana jika aku mau tidur di sini? " (Ucap Aziel menatap Diva.)
"Tidur di sini? Oke baik lah kalau begitu biar kan aku bangun terlebih dahulu." (Ucap Diva ingin bangun.)
Aziel menahan Diva dan menempelkan wajah nya ke dada Diva.
"Bagaimana jika aku ingin tidur di sini? " (Ucap Aziel pelan.)
"Aziel! Bangun lah bagaimana jikad Dimas masuk dan melihat kita seperti ini?" Ucap Diva merasa tidak nyaman dengan tingkah Aziel.)
__ADS_1
Namun Diva tidak tahu juga Dimas berdiri di depan pintu ruang rawat Aziel dan mendengarkan mereka berbicara.
Bersambung ....