
"Aku sudah siap. " (Ucap Diva menghampiri Dimas yang sedari tadi menunggu nya di depan rumah sambil bermain ponsel.)
Dimas mengalihkan pandangan nya dari layar ponsel menatap Diva.
"Hey, ayo cepat! " (Ucap Diva megibas-ngibas kan tangan nya ke wajah Dimas.)
"Eh, emm ayo! " (Ucap Dimas salting.)
Dimas pun menyala kan mesin mobil nya dan mengemudi mobil dengan sedikit lambat.
"Ada apa dengan mu? Jika kau mengemudi seperti ini lebih baik kita jalan kaki saja. " (Ucap Diva kesal.)
"Diva apa kau lupa? " (Ucap Dimas menatap perut Diva.)
Diva melihat arah pandangan Dimas.
"Kyaaa, kau sangat hati-hati, Terima kasih. " (Ucap Diva tersenyum manis.)
Sungguh Diva merasakan perhatian seorang suami saat ia bersama Dimas. Bagi Diva Dimas sekarang lebih dari seorang sahabat bagi nya Dimas bagaikan malaikat yang selalu ada untuk menolong nya.
Akan tetapi Diva tidak pernah mengetahui bagaimana perasaan Dimas kepada diri nya.
"Dimas." (Pangil Diva.)
"Iya, ada apa? " (Tanya Dimas sambil fokus menyetir.)
"Kau akan membawa ku kemana? " (Tanya Diva bingung.)
"Aku akan membawa mu... ya mencari mangga muda yang kau inginkan. " (Ucap Dimas.)
"Apa kau tau akan mencari di mana? " (Tanya Diva lagi.)
"Tentu saja di pasar. " (Ujar Dimas cengegesan.)
"Haduhhhh, kau ini kenapa sangat bodoh? Di pasar hanya menjual mangga matang, tidak ada mangga muda. " (Ucap Diva menepuk jidat nya.)
"Benar kah? Maaf aku mau tidak tau, lalu di mana kita mendapatkan nya? " (Tanya Dimas bingung.)
"Emmm, aku tau di mana akan mendapatkan mangga muda yang sangat lezat. " (Ucap Diva seperti orang kelaparan.)
"Huh, benar kah? Tunjukkan arah nya. " (Ucap Dimas bersemangat.)
"Okey! " (Jerit Diva begitu bersemangat.)
"Aish, wanita hamil memang memiliki berbagai mood. " (Batin Dimas.)
Tidak lama kemudian mereka pun tiba di sebuah rumah.
"Seperti nya aku mengingat rumah ini. " (Ucap Dimas melihat rumah pagar kayu.)
"Tentu saja kau mengingat nya, karena itu rumah Tania. " (Ucap Diva turun dari mobil.)
"Astaga, benar sekali ini adalah rumah Tania, apakah di sini ada mangga? " (Tanya Dimas ingin membuka pintu pagar Tania.)
__ADS_1
"Tidak! Astaga Dimas apa kau tidak lihat runah nya gelap, bukan kah aku sudah bilang jika sekarang Tania berada di rumah sakit. " (Ucap Diva hampir emosi.)
"Aduh, aku melupakan begitu saja apa yang kau katakan maaf kan aku. *(Ucap Dimas menepuk jidat nya.)
Dimas memag lah begitu, ia begitu pelupa entah karena apa.
" Sudah lah cepat ikut aku. "(Ucap Diva berjalan ke arah rumah di samping rumah Tania.)
" Diva, tunggu. "(Ucap Dimas menghentikan Diva.)
" Iya, ada apa lagi Dimas? "(Ucap Diva kesal.)
" Ini rumah siapa? "(Tanya Dimas menunjuk rumah yang akan di datangi oleh Diva.)
" Ini rumah bik Maryam. "(Ucap Diva.)
" Lalu kita mau apa ke sini? "(Tanya Dimas bingung.)
" Apa kau tidak lihat, di sana ada pohon mangga yang banyak buah nya, kita bisa membeli nya. "(Ucap Diva bersemangat menuju runah bik Maryam dan meningalkan Dimas.)
" Huh, benar-benar aneh. "(Ucap Dimas mengikuti Diva.)
Tok... tok... tok (Suara ketukan di luar pintu rumah bik Maryam.)
"Siapa malam-malam seperti ini datang bertamu? " (Gumam bi Maryam di dalam rumah nya.)
Diva kembali mengetuk pintu rumah bi Maryam.
"Diva sudah lah, seperti nya tidak ada orang. " (Ucap Dimas.)
"Baik lah-Baik lah. " (Ucap Dimas mengalah.)
Tak lama kemudian bi Maryam pun membuka pintu rumah nya.
"Non Diva? " (Ucap bik Maryam kaget.)
"Bi Maryam, maaf aku mengangu mu malam-malam seperti ini. " (Ucap Diva sopan.)
"Tidak sama sekali non ayo silakan masuk. " (Ucap bik Maryam.)
"Ah, tidak bik Terima kasih, aku kemari hanya untuk membeli mangga muda mu. " (Ucap Diva sedikit malu.)
"Mangga muda? Non Diva datang ke rumah bibi malam-malam hanya karena mangga muda? Apakah non Diva sedang hamil? " (Ucap bik Maryam.)
"Emmm, anu bik, apakah boleh? " (Ucap Diva mengalihkan pembicaraan.)
"Ah, tentu saja boleh non tapi siapa yang ingin memanjat nya? " (Ucap bi Maryam.)
Diva menoleh ke arah Dimas.
Seketika Dimas mengalihkan pandangan nya ke arah lain.
"Ouh ayo lah ku mohon. " (Ucap Diva menarik tangan Dimas.)
__ADS_1
"Tidak aku tidak mau, aku tidak bisa memanjat. " (Ucap Dimas takut.)
"Non Diva sunami Non Diva begitu tampan ya. " (Ucap bik Maryam.)
Seketika Dimas dan Diva menoleh ke arah bi Maryam.
"Ada apa? Apa bibi salah ngomong? " (Ucap bi Maryam menurut mulut nya.)
"Tidak bi, tidak salah, aku akan segera memanjat nya. " (Ucap Dimas tiba-tiba bersemangat.)
Sementara Diva menjadi salah tingkah.
"Non, suami non Diva sangat lucu. " (Ucap bik Maryam kembali mengoda Diva.)
"Bi dia bukan.." (Ucap Diva terpotong karena Dimas memenangil nya.)
"Diva! " (Pangil Dimas.)
"Iyaa?" (Ucap Diva menoleh kearah Dimas yang sudah tiba di bawah pohon magga.)
"Ayo bik kita ke sana. " (Ucap Diva memegang tangan bik Maryam.)
"Iya non. " (Ucap bik Maryam mengikuti Diva.)
"Apa lagi? Apa kau tidak bisa memanjat? " (Kekeh Diva melihat tingkah Dimas yang cukup mengemaskan.)
"Tidak, eh maksud ku siapa bilang aku tidak bisa memanjat. " (Ucap Dimas berusaha keras memanjat pohon mangga tersebut.)
Meskipun malam hari tetapi di situ sangat terang karena bi Maryam menaruh lampu di sana.
Beberapa saat kemudian Dimas pun berhasil memetik beberapa mangga muda untuk Diva meskipun dengan susah payah tetapi ia berhasil.
"Ahhh, punggung ku sakit sekali. " (Ucap Dimas turun dari pohon mangga yang tidak terlalu tinggi itu.)
"Apa kau baik-baik saja? " (Ucap Diva mencemaskan Dimas.)
"Hmm, iya ini untuk mu. " (Ucap Dimas memberikan mangga tersebut kepada Diva.)
"Woahhh, Terima kasih banyak. " (Ucap Diva begitu senang saat melihat mangga muda itu.)
Sementara itu bik Maryam hanya melihat tingkah Diva dan Dimas sambil tersenyum.
"Ya sudah, bik brapa aku harus membayar nya? " (Tanya Diva kepada bik Maryam.)
"Non, bawa saja brapa pun buah mangga yang Non ingin kan bibi sama sekali tidak membutuhkan uang. " (Ucap bik Maryam memegang tangan Diva.)
"Terima kasih bik. " (Ucap Diva memeluk bik Maryam.)
"Sama-sama non. " (Ucap bik Maryam membalas pelukan Diva.)
"Bik, setelah aku harap aku masih bisa bertemu dengan bik Maryam lagi. " (Ucap Diva meneteskan air mata nya di pelukan bik Maryam.)
"Non, apa yang Non katakan? Kita tentu akan bertemu lagi. " (Ucap bik Maryam merasa ada yang aneh dengan omongan Diva.)
__ADS_1
Diva terdiam, ia tidak sanggup untuk mengatakan jika ia akan pergi jauh meningalkan kota itu.
Bersambung ....