
Saat tangan Sela ingin membuka pintu mobil, dengan cepat David menahan nya.
"Sela kau mau kemana? " (Ucap David memegang erat pergelangan tangan Sela.)
"Aku ingin mencari kakak ipar, aku tidak akan setuju jika kak Ziel berpisah dengan nya dan menikah dengan Luna, David kau tau Luna itu wanita yang licik. " (Ucap Sela dengan nafas terengah-engah akibat berlari.)
"Aku tau, tetapi kita akan mencari nya kemana? " (Ucap David bingung.)
"Kemana pun, yang penting aku menemukan nya. " (Ucap Sela bersikeras.)
Di sisi lain.
"Eoh, pantai ini? " (Ucap Diva saat turun dari mobil Dimas dan melihat pantai dari jarah jauh.)
"Iya, apa kau masih ingat? " (Ucap Dimas berdiri di samping Diva.)
Pantai pasir putih, adalah tempat di mana Diva, Dimas dan tania sering berjalan sehabis pulang dari sekolah, pantai itu menjadi satu-satunya tempat yang paling berharga bagi mereka karena begitu banyak kenangan.
Perlahan air mata Diva mengalir membasahi pipi nya.
"Jangan menangis. " (Ucap Dimas menghapus pelan air mata Diva dengan jari nya.)
"Aku sangat mengingat nya, saat itu kau terjatuh karena Tania megerjai mu dengan seekor belut. " (Ucap Diva tertawa sambil menyeka air mata nya.)
"Ishh, jangan katakan itu lagi rasanya aku trauma sekali. " (Ucap Dimas bergidik ngeri.)
Dimas sangat fobia terhadap belut karena tekstur nya yang licin membuat Dimas begitu tidak geli.
"Aku ingin turun apakah boleh? " (Tanya Diva menatap Dimas.)
"Tentu saja, kita kesini untuk turun ke pantai. " (Ucap Dimas memegang tangan Diva.)
Mereka pun turut dan menyusuri pantai saat itu cuaca tidak terlalu panas.
"Dimas, apa kau sudah bertemu Tania? " (Ucap Diva mencairkan suasana yang hampir hening.)
__ADS_1
"Belum, aku terlalu sibuk mengurus tuan Baylor jadi aku belum sempat untuk menemui Tania. " (Jawab Dimas.)
"Ouh begitu, lain kali bisa kah kita pergi ke sini bersama dengan nya? " (Ucap Diva menatap Dimas yang berjalan di samping nya.)
Dimas memberhentikan langkah nya, ia tau jika Diva sejak dulu berusaha mendekatkan dirinya dengan Tania, tetapi Dimas sama sekali tidak menanggapi hal itu karena ia mencintai Diva bukan Tania.
"Kenapa kau diam? " (Tanya Diva bingung.)
"Boleh, tentu saja boleh. " (Jawab Dimas kembali melanjutkan langkah nya.)
"Dimas." (Pangil Diva yang berhenti laku menatap laut luas.)
"Hm? Katakan apa yang ingin kau katakan. " (Ucap Dimas berdiri di samping Diva.)
"Kau ingin tau soal tadi? " (Tanya Diva menoleh ke arah Dimas.)
"Aku tidak memaksa mu untuk menceritakan nya kepada ku. " (Ucap Dimas.)
"Apa kau ingat saat aku bilang bahwa aku sudah menikah? " (Tanya Diva.)
"Lelaki itu adalah Aziel. " (Ucap Diva menundukkan kepala nya.)
"Aziel? Apa kau tidak bercanda? " (Ucap Dimas memegang bahu Diva.)
"Apa aku kelihatan seperti bercanda? " (Ucap Diva menatap Dimas nanar.)
"Ah, maaf kan aku, aku hanya kaget. Dan jangan bilang jika wanita yang bersama nya itu adalah selingkuhan nya? " (Ucap Dimas penasaran.)
"Iya, namanya Luna, Dimas jika aku menceritakan sesuatu apa kau akan sama dengan Aziel yang tidak mempercayai aku? " (Tanya Diva menatap Dimas dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.)
"Jangan sama kan aku dengan lelaki bajingan seperti Aziel. " (Ucap Dimas.)
"Maaf kan aku. " (Ucap Diva.)
"Katakan apa yang ingin kau katakan, cerita kan semuanya kepada ku. " (Ucap Dimas menatap Diva penuh harapan.)
__ADS_1
"Ya, tadi aku mengikuti Luna masuk ke dalam toilet rumah sakit, dan aku mendengar semua percakapan nya tentang rencana nya untuk menghancurkan keluarga Buana, dan yang lebih mengejutkan sosok orang yang ingin membunuh papa itu adalah orang suruhan Luna." (Ucap Diva panjang lebar.)
"Lalu, kenapa kau tidak merekam nya sebagai bukti? " (Tanya Dimas menyela.)
"Dimas, aku merekam semuanya, tetapi aku tidak tahu jika saat aku keluar dari toilet Luna melihat ku dia mengikuti ku dari belakang dan mendorong ku hingga aku jatuh dan kaki ku terkilir, dia mengambil ponsel ku dan menghancurkan nya. " (Ucap Diva dengan air mata yang tidak bisa di bandung lagi.)
"Lalu, kenapa kau tidak mencoba mengatakan nya dengan Aziel meskipun tampa bukti. " (Ucap Dimas.)
"Saat aku terjatuh, Aziel datang dan aku mengatakan semuanya, tetapi Luna lebih pintar berakting dan Aziel sama sekali tidak mempercayai ku, dan dia meminta bercerai. " (Ucap Diva mengigit bibir bawah nya menahan sakit yang kian terasa di hati nya.)
Seketika Dimas menarik Diva kedalam pelukan nya.
"Mengapa penderitaan mu sampai saat ini belum berakhir. " (Batin Dimas.)
"Menangis lah, aku yakin itu akan membuat suasana hati mu lebih tenang, ingat aku ada di sisi mu tidak akan ada yang bisa menyakiti sekarang. " (Ucap Dimas mencium pucuk rambut Diva.)
"Hikss, terima kasih, kau sahabat ku yang paling baik. " (Ucap Diva memeluk erat Dimas.)
Meskipun sakit bagi Dimas saat Diva hanya mengangap nya sebagai sahabat tetapi ia menepis semua sakit hati nya dan terus menguat kan Diva.
"Tenang lah, aku akan membantu mu untuk bicara kepada Aziel agar dia mempercayai mu. " (Ucap Dimas.)
"Tidak, tidak ada yang perlu di bicara kan lagi, aku menikah dengan nya untuk saling menguntungkan pantas saja dia tidak bisa mencintai ku, papa Baylor mendesak nya menikah dan aku juga di jebak oleh ibu tiri ku sehingga aku tidur dengan Aziel, lalu kami membuat sebuah kesepakatan dengan selembar surat kontrak, dan isi kontrak itu adalah jika aku sudah mendapatkan 80% saham almarhum ibu ku dan jika Aziel sudah menemukan cinta nya makan kami akan berpisah sekarang semuanya sudah lengkap seharusnya memang sudah saat nya untuk berpisah. "(Ucap Diva panjang lebar sambil beberapa kali menghapus air matanya yang kian meluncur deras seperti air hujan.)
Dimas terdiam mendengar semua yang di cerita kan Diva sungguh Dimas tidak menyangka jika hidup Diva akan serumit ini, sahabat nya yang cantik dan terlihat ceria itu ternyata mempunyai kisah hidup yang begitu kelam.
"Sekarang aku mengerti, Kau menikah dengan nya hanya karena sebuah perjanjian yang saling menguntungkan. Tetapi aku melihat kau benar-benar mencintai nya. " (Ucap Dimas memegang kedua pipi Diva dan menatap mata Diva yang sembab.)
"Tidak! Aku tidak mencintai nya. " (Jelas Diva memejamkan mata nya.)
"Sudah lah, kau tidak bisa membohongi aku. " (Ucap Dimas merasa iba melihat Diva.)
"Tetapi percuma jika aku mencintai nya, karena dia sama sekali tidak mencintai ku, dan keputusan ku sudah bulat aku lebih baik menjauh dari hidup nya, setelah papa di pindah kan untuk dirawat di rumah aku akan mengurus penceraian dan akan keluar dari mansion buana. Untuk itu aku mohon agar kau bisa membantu ku."(Ucap Diva memegang kedua tangan Dimas.)
Dimas terdiam ia bingung harus berkata apa.
__ADS_1
Bersambung ....