
Selesai pemeriksaan Kinan memanggil Pras untuk berbicara 4 mata.
" Kehamilan istri Lo yang sekarang pasti lebih rentan dari pada dua kehamilan yang sebelumnya karena pasca op dan kecelakaan itu. Jadi waji bin kudu banget Lo jaga baik baik ya. Kalo bisa Mitha di trimester 1 ini bedrest dulu. " Ucap Kinan memberi wejangan.
" Ok gue ngerti. Buat riwayat kehamilannya Lo keep silent dulu ya gue takut dia kaget. "
" Tenang aman pokoknya. Yaudah congratulation buat kehamilan yang sekarang kita jaga sama sama "
Hati Pras bahagia tiada tara, beda halnya dengan Mitha yang malah merasa tidak enak hati semenjak mimpi nya tadi. Entah kenapa kepalanya pusing mengingat srtiap detail kejadian yang ada di mimpinya, semua terasa nyata.
" Kenapa ngelamun ? " Tanya Pras.
" Engga mas, kepala aku cuman pusing "
" Kata Kinan kamu harus bedrest dulu sayang .. Gimana kalo kamu ambil cuti kuliah 2 semester kedepan mulai sekarang ? "
" Boleh mas, nanti biar aku dianter Vidya ke kampus buat ajuin cuti " Mitha hanya menurut, Mitha tak ingin membantah suaminya. Semua pasti di lakukan karena bayi yang di kandung Mitha.
Mitha hanya berbaring lemah selama tiga hari di rumah sakit, keluarga sudah mendapatkan kabar baik itu dan turut berbahagia atas anugrah yang Tuhan berikan untuk keluarga mereka. Hanya saja Mitha yang sedikit berbeda, lebih seling melamun dan sensitif pada banyak hal. Kadang Mitha tak suka saat Pras mendekatinya, semua terjadi tanpa alasan.
" Kapan aku pulang mas ? " Tanya Mitha yang masih dalam perawatan.
" Nanti aku konsulin ke Kinan ya .. Kenapa ? "
" Aku gak suka disini " Mitha menatap ke arah jendela lalu air matanya tiba tiba mengalir begitu saja seperti dejavu, seperti dia pernah mengalami hal ini.
" Kamu sering ngelamun .. " Pras mengusap rambut Mitha.
" Hah ? Hmm engga, cuman aku kadang akhir akhir ini ngerasa pernah ngelakuin ini pernah ngelakuin itu aku gak inget kapan cuman kaya pernah aja "
Pras membawa kursi berpindah kehadapan Mitha, menarik nafas dalam berusaha setenang mungkin menghadapi kebingungan Mitha.
" Sayang .. Kamu kan amnesia, bisa jadi perasaan kamu, apa yang kamu rasain, apa yang terbersit dalam pikiran kamu itu kenangan dari masa lalu kamu yang berangsur pulih. Bagus dong, itu perkembangan namanya. Kenapa kamu malah bimbang gini ? " Tanya Pras bersikap seolah di masa lalu keadaan mereka baik baik saja.
__ADS_1
" Gak tau mas, kaya yang aku pengen menangisi diri aku sendiri. Padahal apa yang mau aku tangisin coba ? Aku punya suami sehebat dan setampan kamu, punya anak lucu dan pinter kaya El, punya mertua dan sahabat yang pengertian. Ya kan mas ? " Mitha tersenyum.
Mitha belum ingat saja bagaimana menderitanya dia dulu, sampai pernah berfikir untuk mengakhiri hidupnya. Mitha lupa bahwa pria yang ada di depannya selain menawan juga pernah menjadi alasan patah hati terdalamnya.
" Iya .. Makannya jangan galau karena masa lalu. Yang penting sekarang dan di masa depan, ada aku ada El yang pengen lihat kamu bahagia " Pras menggenggam tangan Mitha lalu bangkit dan memeluknya.
" Mas .. "
" Hmm ? "
" Aku sayang kamu, jangan jadi alasan aku buat sakit hati ya ? " Ucap Mitha begitu saja.
Pras terdiam sejenak.
Aku pernah menjadi sakit hati mu yang paling parah Mitha ..
" Iya aku janji. Bumil jangan banyak pikiran. Kasihan debaynya. Mau makan sesuatu ? "
" Aku pengen apa ya .. Masakan kamu aja gimana "
" Kenapa mas ? "
" Ini hamil kedua dan ngidam mu gak pernah beda. Mesti pengen di masakin aku. Oke deh nanti aku masakin aku bawa kesini. Aku juga mau ketemu El dulu " Ucap Pras.
Mitha hanya mengangguk, sekuat hati dirinya berusaha menerima Pras dan membalas segala cinta dan kebaikan yang Pras lakukan untuknya namun entah mengapa selalu saja ada yang mengganjal.
Dilain tempat, Dinda pun semakin intens bertemu dengan Radit pasca Radit membesuk dan merawatnya beberapa hari. Termasuk hari ini, Radit berniat menemani Dinda untuk kontrol lalu makan siang bersama.
" Mas tau gak Bu Mitha lagi di rawat disini ? " Tanya Dinda.
" Serius ? Kenapa ? "
" Gak papa mas, Bu Mitha hamil lagi jadi kondisi fisiknya agak lemah karena pasca kecelakaan juga kan " Jelas Dinda.
__ADS_1
" Hamil ? " Radit menarik nafasnya.
Dia hanya menjadikan mu mesin pencetak anak Mit atau bahkan mungkin hanya memuaskan hasrat nya. Apa yang dia lakuin ke kamu harusnya gak kamu balas dengan pengorbanan sebesar ini .. Batin Radit iba.
" Mas ko ngelamun ? "
" Gak papa, kamu udah ikhlas tentang hubungan kamu dan Pras ? "
" Ikhlas gak ikhlas ya di ikhlasin mas. Sakit sih sebenernya, mas Pras hubungan sama aku pas Bu Mitha lagi hamil. Kebayang gak sih mas aku sampe bingung aku ini selingkuhan apa aku di selingkuhin " Jawab Dinda yang sebelumnya sudah berterus terang tentang hubungannya di masa lalu dengan Pras.
" Rada bereng*sek emang si Pras. Sekarang aja aku lihatnya jadi terkesan memanfaatkan ke tidak tauan Mitha. "
" Biarin aja lah mas. Biar Allah yang nentuin takdir mereka "
" Terus takdir kita Allah bakal tentuin kaya gimana ya ? " Radit mengalihkan topik pembicaraannya.
" Kita ? "
" Iya .. Siapa tau Allah ngerancangin takdir kita yang sama sama harus ikhlas melepas mereka, untuk bersatu "
" Bersatu gimana maksudnya mas ? "
" Ya misal jadi pacar gitu kalo belum siap ke pelaminan " Goda Radit.
Dinda hanya tersenyum tersipu malu, dirinya tak tau apa yang di ucapkan Radit serius atau tidak. Hanya saja Dinda meyakini bahwa untuk sepenuhnya menghapus Mitha dari hati Radit itu berat.
" Mas kalo kamu mau jadi pelarian dari Bu Mitha aku ga papa, tapi kamu juga harus rela jadi pelarian aku dari mas Pras. Siapa tau takdir berpihak, perasaan kita berbalik tulus. "
" Aku mau, aku bersedia " Ucap Radit yakin.
" Deal .. Mulai sekarang kita punya hubungan spesial, tugas kita adalah membuat satu sama lain bahagia dan bisa melupakan mantan mantan kita. Setuju ? " Dinda mengarahkan tangannya ke hadapan Radit.
Radit pun menyambut uluran tangan Dinda sebagai tanda mereka sepakat untuk mulai melangkah kedepan, melepaskan masa lalu mereka yang menyakitkan. Setidaknya mereka akan saling mengerti satu sama lainnya karena mereka berasal dari luka yang sama. Luka yang sedang mereka upayakan untuk tuntas meski tetap akan meninggalkan bekas.
__ADS_1
Berbeda dengan Mitha yang masih terombang ambing dalam ke abu abuan lukanya. Terlihat bahagia namun hatinya hampa, di katakan menderita namun hal apa yang membuatnya menderita ? Sedang di masa ini semua kebahagiaannya harusnya sempurna. Mitha ingin mennuntaskan lukanya namun tak ada yang bisa di ingatnya, jika harus memaafkan siapa yang harus di maafkan agar beban nya berkurang ? Jika membalas siapa yang harus di balas agar lukanya tuntas ?
Pedih karena tak ada yang siap dan mau untuk berterus terang.