Istri Kontrak Tuan Muda

Istri Kontrak Tuan Muda
Nasihat untuk Dinda


__ADS_3

" Hmm gimana yang ? Suara nya keputus-putus .. " Jawab Pras dengan tergagap lalu munutup panggilannya.


Takk .. Takk ..


Suara langkah kaki mendekat.


" Mana mas pasien bedah nya ? Ko malah kamu ya yang pake infus nya. "


" Hehe nganuu yang hmm " Pras tak bernai lagi menyanggah, hanya menyeringai kuda dengan wajahnya yang masih pucat.


" Kamu coba coba bohongin aku mas, padahal kamu tau aku juga kerja disini. Mata telinga aku tuh dimana mana " Mitha duduk di samping ranjang Pras lalu mengelus tangan Pras lembut.


" Maaf yang .. Kamu gak marah kan ? "


" Marah .. Tapi ada yang lebib penting dari marah ya ini ngurusin kamu. "


" Padahal kamu lagi hamil muda, aku malah ngerepotin. " Sesal Pras dengan wajah menyedihkannya itu.


" Gak ngerepotin ko mas, masalah Dinda lagi ya ? " Tanya Mitha.


" Hmm .. "


" Dengerin aku mas, jangan terlalu di gubris. Pertama dia masih kaya ABG labil, semakin kamu respon semakin menjadi dia. Kedua kamu juga manusi yang gak bisa terus-terusan mikir. Udahlah mau dia jungkir balik ke mo gimana ke itu mah urusan dia " Jawab Mitha santai, jauh dari dugaan Pras yang mengira Mitha akan memarahinya, atau ya bersikap sensitif seperti biasanya apalagi saat hamil begini.


" Agak aneh sebenarnya denger kamu ngomong kaya gini. Tapi mas ngerti mungkin karena kita udah mau punya anak lagi jadi pemikiran kamu makin dewasa. "


" Salah satunya karena itu, utamanya karena lelah muak. Udah terlalu banyak drama dalam hidup kita mas. Aku udah pengen hidup santai aja, gak over reacting menghadapi hal-hal dalam hidup. " Jelas Mitha.

__ADS_1


Pras hanya tersenyum lalu mengacak rambut Mitha, mendadak sikap Mitha yang biasanya barbar berubah menjadi lemah lembut, dewasa, pengertian.


" Yang pulang aja, kasihan anak anak di rumah. Lagian cape juga kamunya gak baik buat dede bayi. mas disini banyak orang "


" Iyaa .. Nanti kalo kamu udah pindah ke ruangan aku bakal pulang. "


" Kenapa harus pindah ? Sejam duajam juga udah sehat lagi. "


" Gak boleh ya mas. Aku udah minta dokter yang ngerawat kamu buat lakuin pemeriksaan lanjutan dan menyeluruh. Aku gak mau kamu mati cepet terus aku jadi janda muda. Gak deh gak dulu " Mitha terkekeh.


Pras pun tertawa menanggapi lelucon yang di buat Mitha. Akhirnya Pras mengalah dan memilih menerima perawatan dulu untuk beberapa hari. Untungnya besok dirinya tidak memiliki jadwal bedah.


Setelah memastikan suaminya aman dan tidak akan kabur, Mitha pun berencana untuk pulang sebelum matahari pagi terbit. Teringat anak-anak di rumah yang pasti mencarinya karena Mitha berangkat tanpa berpamitan.


" Mas aku pulang dulu ya, nanti siang aku balik lagi. " Pamit Mitha pada Pras.


" Gak papa mas. I'm fine "


" Hmm .. " Pras pun memeluk Mitha lalu mengelus punggung nya lembut.


" Makasih ya, mas titip anak anak ya " bisik Pras.


" Mas gak usah khawatir. Fokus aja kesehatan mas. " Mitha melepaskan pelukan Pras lalu beralih merapihkan rambut Pras dan mencium kening Pras.


Pras mengangguk, lalu Mitha pun melangkahkan kaki nyabkeluar dari ruangan tempat Pras di rawat. Tujuan pertamanya bukan ke rumah sebenarnya, melainkan menuju ruang dokter piket. Mitha mendapat info bahwa Dinda ada disana.


Tokk .. Tokk ..

__ADS_1


Mitha mengetuk pintu terlebih dulu. Hingga seorang dokter residen membukakan nya namun bukan Dinda.


" Sorry ada dokter Dinda ? "


" Bu Mitha .. Hmm ada bu " Jawab dokter itu agak tergagap panik.


Mitha masuk lalu di lihatnya disana hanya ada dua orang diantaranya Dinda, Mitha meminta privasi untuk bicara dengan Dinda saja, yang lainnya pun keluar. Dinda hanya nampak menelungkup wajah nya di atas meja. Mitha pun mendekat dengan menyerahkan sebuah testpack.


" Saya sedang hamil lagi Din, anak kami yang ke empat seharusnya .. " Ucap Mitha.


Dinda mengangkat kepalanya lalu memperhatikan testpack bertanda positif itu.


" Setelah sebelumnya anak kedua kami tidak selamat, kali ini saya mohon dengan sangat Dinda. Jangan ganggu lagi keluarga kami. Biarkan saya menjalani kehamilan ini dengan tenang. Saya yakin masih banyak lelaki yang jauh lebih baik dari suami saya di luar sana. " Ucap Mitha dengan tenang.


" Siapa yang akan bersedia hidup dengan saya setelah kalian mencoreng nama baik saya dan keluarga saya ? "


" Menurut mu apa saya pernah bermimpikan memiliki seorang suami dokter sekaligus presiden direktur ? Saya hanya wanita biasa, bahkan dunia kami jauh berbeda. Tapi takdir mempertemukan saya dengan Pras. Kami berpisah lantas bersama kembali pun atas kehendak takdir. Tak ada yang tak mungkin asal kamu mau berubah Din. Memantaskan diri untuk menerima takdir terbaik mu " Jelas Mitha.


Dinda tak bergeming, hanya saja terheran karena wanita yang di hadapannya kini harusnya menjambak rambutnya atau minimal menamparnya karena terus berulah, tapi malah memberikan nasihat kehidupan.


" Kita sesama wanita Din, kelak saat kamu memiliki keluarga apalagi memiliki anak anak yang kamu besarkan, maka kamu akan mengerti bagaimana pentingnya sebuah ketenangan dalam rumah tangga. Saya butuh lingkungan yang sehat untuk merawat anak anak, begitu pula anak anak butuh lingkungan yang sehat untuk mereka tumbuh. Sehat bukan dalam artian fisiknya saja. Saya yakin kamu mengerti. " Mitha mengambil kembali testpack yang dia simpan di meja lalu memasukkan nya ke tas.


" Saya pamit dulu Din. Anak anak menunggu di rumah, jaga dirimu baik baik. Jangan mencoba menyakiti dirimu lagi Din, bahagia mu harus di ciptakan tidak di dapat dari orang lain. " Mitha melangkah pergi membuka pintu perlahan lalu menutupnya.


Diluar beberapa pasang mata dokter yang tadi berada di ruang piket pun menatap Mitha yang keluar masih dalam keadaan rapih, artinya tidak ada keributan yang terjadi. Syukur lah ..


Mitha memanggil supir untuk bersiap menuju lobi, merekapun meninggalkan area rumah sakit dan kembali ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2