Istri Kontrak Tuan Muda

Istri Kontrak Tuan Muda
Episode#46


__ADS_3

Di sisi lain


Terlihat Tania dan Diva sedang panik menunggu Sela.


"Diva, kenpa sampai sekarang mereka belum datang? " (Untuk Tania panik.)


"Sabar lah, mungkin sebentar lagi. " (Ucap Diva mencoba menenangkan Tania.)


"Tetapi waktu kita tingal satu jam. " (Ucap Tania sambil menangis.)


"Nah itu mereka. " (Ucap Diva menunjuk ke arah Sela dan David yang baru saja tiba.)


"Sela bagaimana? Apa kau menemukan pendonor untuk ibu ku? " (Ucap Tania tidak sabar.)


"Iya, aku sudah menemukan nya. " (Ucap Sela.)


"Di mana dia? " (Tanya Diva.)


"Di sini. " (Ucap Sela singkat.)


"Maksud mu David? " (Tanya Tania.)


"Iya." (Ucap Sela singkat.)


Tak lama kemudian dokter oun kembali menghampiri mereka.


"Bagaimana apakah sudah menemukan pendonor? " (Tanya dokter kepada Tania.)


"Sudah dok. " (Ucap Sela.)


"Kalau begitu ikut saya sekarang. " (Ucap dokter berlalu masuk kedalam ruang tempat ivu Tania di rawat.)


"Ayo David. " (Ucap Tania menarik tangan David.)


Sela yang menyaksikan itu hanya menatap kesal Tania.


"Huh, ini nih yang buat aku kesel. " (Batin Tania berjalan ke arah kursi depan ruangan.)


Diva yang menyadari kekesalan Sela pun ikut duduk di sebelah Sela.


"Kau harus percaya jika David hanya mencintai mu, aku tau kau yang meminta nya melakukan ini, kau wanita yang baik. " (Ucap Diva merangkul Sela.)


"Semua ini aku lakukan demi kau kakak ipar. " (Ucap Sela pelan.)


"Demi aku? " (Tanya Diva bingung.)


"Iya, karena aku tidak ingin kau dibebani begitu banyak masalah. " (Ucap Sela melepaskan pelukan Diva.)


"Terima kasih banyak, aku tidak menyangka jika aku mendapatkan seorang adik ipar yang sangat baik. " (Ucap Diva menatap Sela.)


"Dan aku juga tidak menyangka, mendapat kakak ipar sesempurna diri mu." (Ucap Sela kembali memeluk Diva.)

__ADS_1


Mereka sudah seperti adik dan kakak saja, saling berbagi keluh kesah nya masing-masing.


Sementara itu Luna dan Aziel baru saja tiba di rumah sakit.


"Ayo! " (Ucap Aziel memegang tangan Luna menuju ruang rawat tuan Baylor.)


Beberapa menit kemudian mereka pun tiba di ruang rawat tuan Baylor.


"Bibi." (Ucap Aziel masuk kedalam ruangan bersama Luna.)


"Apakah kalian sudah puas jalan-jalan? Aku kira kau tidak akan ingat dengan papa mu lagi. " (Ucap Marisa menatap sinis Aziel.)


"Bibi, kenapa bibi jadi berubah seperti ini? " (Ucap Aziel tidak terima dengan perkataan Marisa.)


"Sudah lah, aku tidak ingin bahas apapun. " (Tegas Marisa duduk sambil mengawasi keadaan tuan Baylor.)


"Terserah bibi saja, ouh iya di mana Sela dan Diva bukan kah aku menyuruh mereka untuk ke sini setelah pulang kantor? " (Ucap Aziel seperti tidak tahu malu.)


"Aku tidak tau. " (Ucap Marisa berbohong.)


"Bibi, mungkin bibi sangat lelah, sekarang lebih baik bibi pulang, biar kan aku dan Aziel yang menjaga papa. " (Ucap Luna memegang pundak marisa.)


"Iya bibi, Luna benar. " (Ucap Aziel.)


Dengan cepat Marisa menepis tangan Luna dari bahu nya.


"Apa yang kau katakan? Menjaga papa? Memang nya kau siapa? Beraninya kau memangil kakak ku dengan sebutan papa! "( Bentak Marisa menatap tajam Luna.)


" Hah, ternyata sekarang kau sudah berani menaikan nada suara mu ketika bicara dengan bibi mu? Bagus sekali. Dengar baik-baik, aku tidak akan membiarkan kalian menikah apalagi saat kakak ku Baylor sedang koma. "(Tegas Marisa mengambil tas nya dan keluar dari ruangan itu.)


" Hih, kalau bgitu, lebih baik dia mati saja. "(Batin Luna.)


" Luna, maaf kan perkataan bibi, aku yakin bibi hanya sedikit kelelahan makanya dia berkata seperti itu. "(Bujuk Aziel kepada Luna.)


" Tidak masalah aku mengerti. "(Ucap Luna berpura-pura baik.)


Sementara itu..


Tania dan David baru saja keluar dari ruang donor darah untuk ibu Tania.


" Bagaimana? Apakah berhasil? "(Tanya Diva berdiri memegang kedua pundak Tania.)


Tampa berkata sepatah kata pun Tania langsung memeluk Diva.


" Hikss, terima kaasih. "(Ucap Tania menangis di bahu Diva.)


" Sudah lah, jangan berterima kasih kepada ku, kau seharusnya berterima kasih kepada Sela dan David.)


"Terima kasih kau sudah banyak membantu. " (Ucap Tania kepada Sela.)


"Iya sama-sama. " (Ucap Sela cuek.)

__ADS_1


"Sela, nona muda, apakah kalian tidak menjenguk tuan Baylor? " (Ucap David.)


"Ah, astaga papa, ucap Diva menepuk jidat nya.)


" Tenang lah kakak ipar, aku sudah menceritakan semua ini kepada mama. "(Ucap Sela menenangkan Diva.)


" Diva, Sela aku mengucapkan terimakasih banyak, maaf aku sudah merepotkan kalian. "(Ucap Tania merasa bersalah.)


" Tania jangan berkata seperti itu, ibu mu sudah ku anggap seperti ibu ku. "(Ucap Diva memegang tangan Tania.)


" Hm, kakak ipar bagaimana jika sekarang kita ke ruang rawat papa. "(Ucap Sela memegang bahu Diva.)


" Baik lah, Tania jaga ibumu dengan baik, aku akan menjenguk nya nanti, dan soal kerjaan kau bisa libur selama ibu mu sakit. "(Ucap Diva kembali memeluk tania.)


" Baik lah kau sudah seharian menemani ku, jangan lupa istirahat. "(Ucap Tania mengelus punggung Diva.)


Diva dan Sela pun berlalu meningal kan Tania menuju ruang rawat tuan Baylor. Sementara David, ia meminta ijin pulang duluan karena ada beberapa urusan yang masih belum ia selesai kan.


" Dari mana saja kalian? "(Ucap Aziel menatap tajam Diva dan Sela.)


" Apakah itu penting untuk mu? "(Jawab Diva singkat.)


" Tentu saja karna kau is.. "(Ucap Aziel terpotong.)


" Is? Is apa? "(Tanya Luna bingung.)


"Ah, tidak, maksudku tentu saja penting karena aku menyuruh kalian untuk menjaga papa. " (Ucap Aziel mengalihkan pembicaraan.)


"Lupakan, aku sudah meminta izin kepada mama jadi kau tidak perlu memarahi kami. " (Ucap Sela.)


Sementara itu Diva berlalu melewati Aziel dan masuk kedalam ruang rawat tuan Baylor.


"Mengapa sekarang Sela sudah brani berkata kasar kepadaku. " (Batin Aziel.)


Sela pun berlalu menyusul Diva yang beberapa menit laku sudah masuk ke ruang rawat tuan Baylor.


"Papa, kapan papa akan membuka mata? Aku merindukan papa. " (Ucap Diva menangis di tepi ranjang tuan Baylor.)


"Kakak ipar. " (Sela berjalan mendekati Diva sambung mengusap lembut bahu Diva.)


"Sela, kapan papa akan sadar, kenapa papa lama sekali memejamkan mata nya. " (Ucap Diva menangis.)


"Kakak ipar, tenang kah, sekarang papa butuh kesabaran dan doa dari kita untuk terus yakin bahwa papa akan segera pulih. " (Ucap Sela menenangkan Diva.)


"Sela, jika nanti aku pergi, tolong jaga papa baik-baik ya, jangan biar kan siapapun menyakiti nya. " (Ucap Diva menatap kosong tuan Baylor yang terbaring lemah dengan bantuan alat pernapasan.)


"Kakak ipar, apa yang kau katakan? " (Ucap Sela mengerut kan alis nya.)


Bersambung ....


Hay Terima kasih, jangan lupa, like komen, fote, biar aku makin semangat up

__ADS_1


__ADS_2