
Hari ini adalah jadwal piket Pras. Dirinya cukup kelelahan karena harus menjalankan operasi darurat dan terjadwal secara berturut turut yang membuatnya terjebak di rumah sakit selama dua hari ini. Bahkan menemui Mitha pun sulit.
Ada jeda sekitar satu jam setelah selesai hampir 14 jam operasi transplantasi yang panjang karena berbagai masalah yang di hadapi, Pras memilih istirahat di ruang transit bedah sebelum harus operasi darurat dengan durasi kurang lebih 4 jam.
Waktu menunjukkan sudah jam 5 subuh, sebelum masuk ke ruang bedah, Pras sudah menyempatkan sholat terlebih dulu. Jika operadi ini tepat waktu, maka Pras bisa melanjutkan praktek pagi pukul 9 nanti.
" Dokter kayanya kecapean ya ? " Tanya Dinda yang menjadi asisten Pras.
" Hmm .. Gak ada dokter yang gak cape seminggu ini karena sebagian dokter di kirim seminar dan sebagian lagi harus bedah di rumah sakit cabang. " Pras menepuk tengkuknya yang agak pegal.
" Mau saya bantu pijet dulu dok ? "
" Gak usah Dinda. Saya punya istri di rumah sakit ini yang siap setiap saat kalo memang saya butuh pijet. "
" Hehe iya sih dok. Tapi saya jarang lihat dokter bareng sama Bu Mitha ? Beliau lagi sibuk ? "
" Ya sibuklah. Dia bukan hanya ibu rumah tangga tapi salah satu direktur kalo aja kamu lupa. "
Panas rasanya telinga mendengar nama Mitha sering di sanjung sanjung dan di bangga banggakan ..
Dinda tak lagi banyak bertanya, hanya akan menambah sakit hati pikirnya. Mereka pun fokus pada tugas pembedahan masing masing.
Sedang sekitar pukul 8 pagi, Mitha sudah sampai di Rumah Sakit. Hari ini dirinya tidak WFH karena teringat akan Pras yang sudah dua hari tidak pulang, spesial Mitha sudah membuatkan sarapan. Namun memang kebetulan ada OP darurat jadi Mitha memilih untuk menunggu terlebih dulu.

Mitha menata rambut dan merias wajahnya terlebih dulu. Memastikan dirinya sudah cukup cantik karena Mitha berniat turun ke bawah untuk mencari Pras yang setau Mitha ternyata sedang OP bersama Dinda.
Mitha menunggu di depan meja informasi departemen bedah yang tak jauh dari ruang operasi.
" Pagi Bu Mitha. "
" Pagi .. Presdir belum keluar ? " Tanya Mitha.
" Belum Bu, kurang lebih 15 menitan lagi kalau tidak ada kendala. "
" Okay, saya ikut tunggu disini ya ? "
__ADS_1
" Silahkan Bu .. "
Benar saja, hanya berselang 10 menit pintu ruang bedah terbuka lalu Pras dan di ikuti dengan Dinda keluar dari ruangan tersebut.
Melihat wajah istrinya yang sudah bercahaya sepagi itu dan di sambut senyum manisnya, membuat Pras seakan mendapatkan tambahan energi di tengah kelelahan yang terasa luar biasa melandanya. Pras membalas senyum Mitha, lalu mendekat.
" Masih pagi, kenapa ke rumah sakit ? Gak ada meeting dan kontroling, kenapa ke Rumah Sakit ? " Tanya Pras lembut.
" Mas udah hari ketiga ini kejebak di rumah sakit. Aku mau mastiin mas baik baik aja sama aku juga udah buatin sarapan. Kita makan dulu sebelum mas praktek rawat jalan. "
" Padahal kamu di rumah sakit juga pasti kerepotan yang, malah susah susah bawain mas sarapan "
" Gak papa, aku seneng bisa sarapan sama mas disini. "
Ke romantisan mereka hanya membuat yang melihat menjadi saling melirik salting. Resa yang sedari tadi tidak bertegur sapa dengan Mitha padahal sama sama ada di meja informasi, hanya menatap jengah. Mitha sesekali melirik ke arah Resa dan Dinda.
" Ayo mas kita sarapan dulu, kasihan mereka jadi gak nyaman ngelihatin kita. " Ajak Mitha.
" Emang kenapa ? " Pras menjawab cuek.
" Gak tau nih anak anak GS kenapa ya ? Dari tadi aja pada nyuekin aku. Cuman perawat yang nyapa sama ngajak bicara. " Sarkas Mitha sengaja melirik ke arah Resa dan Dinda.
" Oh giru .. Good job silahkan di lanjutkan " Mitha tersenyum smirk lalu menarik tangan Pras untuk mengikuti nya menuju ruangan.
Akhirnya setelah 2 malam berlalu tanpa bertemu, Pras dan Mitha pun bisa duduk bersama sambil menikmati sarapannya. Mitha juga sempat memijat pundak dan kepala Pras hingga Pras tertidur selama 30 menit karena nyamannya.
" Sayang bangun .. " Ucap Mitha seraya mencium kepala Pras yang bersandar di paha Mitha.
" Hmm jam berapa ? "
" 08.47 mas "
" Malam ini aku harus pulang deh kayanya. Cape banget .. Dokter yang pada seminar juga penutupan jam 10 nanti langsung pada pulang jadi mas gak usah piket lagi. " Pras bangkit, mencuci muka dan menggosok giginya lalu berpamitan sambil mengambil jas putihnya.
Mitha hanya menganggum tersenyum, kasihan pikir Mitha. Suaminya itu sudah sangat bekerja keras, setelah bekerja di rumah sakit juga Mitha jadi lebih mengerri bagaimana kesibukkan seorang dokter. Mitha tak pernah lagi mengeluh seperti dulu.
Menunggu Pras selesai parktek sampai sore, Mitha memilih untuk berkeliling untuk melihat bagaimana operasional rumah sakit berjalan baik atau tidaknya. Sejauh ini di bawah kepemimpinan Mitha, bukan hanya operasional Rumah Sakit pusat yang berjalan baik namun cabang pun terperhatikan yang biasanya hanya di pandang sebelah mata.
Mitha berjalan menuju area departemen bedah, sengaja ingin mencari celah celah untuk menjatuhkan kedua wanita ular itu.
__ADS_1
" Belum jam istirahat tapi tidak ada dokter jaga disini. Semua sedang parktek ataukah sedang kemana ? " Tanya Mitha pada perawat yang berada di meja informasi. Seharusnya memang ada yang bergantian disana di takutkan sesuatu terjadi di ruang rawat inap departemen bedah maka akan cepat tertangani.
" Dokter Dinda, Dokter Resa, Dokter Daffa dan Dokter Hakim Bu. Tapi untuk Dokter Daffa dan Dokter Hakim beliau sedang praktek hingga siang ini. Nanti siang mereka berjaga ketika Dokter Resa dan Dokter Dinda istirahat Bu " Jelas si Perawat.
" Lalu kemana mereka ? Dokter Dinda dan Dokter Resa .. "
" Hmm tadi pamitan beli kopi dulu Bu ke kafetaria sebentar. "
" Dua dua nya ? "
" Iya Bu .. "
" Tolong panggil ke duanya kesini ya. Terimakasih "
" Baik Bu .. " Jawab Perawat yang segera menghubungi Dinda dan Resa.
Mereka berdua berlarian karena mendapat info Mitha sedang turun dan mengkomplain mengapa mereka pergi bersamaan dan membiarkan bagian jaga di departemen bedah hanya di isi perawat.
" Ibu memanggil kami ? " Tanya Dinda dengan nada tersengal setelah berlari.
" Dengarkan baik baik ya, saya tidak akan mengulang karena kalau sampai terulang, sudah di pastikan kalian tidak ada lagi di rumah sakit ini .. " Ucap Mitha.
Deegg .. Seluruh tim bedah mulai merasa jantungan.
" Saya tidak masalah jika salah satu dari kalian ada yang ingin mengambil untuk kopi break. Silahkan, saya paham tugas kalian melelahkan. Tapi apa tidak bisa hanya satu orang saja ? Dan seorang lagi berjaga ? Bukan nya malah membiarkan bagian jaga kosong. " Tanya Mitha.
" Mohon maaf Bu tapi kan ada perawat dan juga kami hanya sekitar 10 menit " Resa membantah.
" 10 menit kamu pesen kopi, 5 menit kamu lari kesini. Total 15 menit, 15 menit itu waktu krusial untuk menyelamatkan pasien yang hilang hanya untuk kamu membeli kopi ! Kalian di tugaskan untuk jaga bersama itu mengantisipasi ke kosongan agar bisa bergantian jika ada keperluan mendesak seperti ke toilet atau sekedar membeli kopi. Paham ? " Jawaban Resa tadi sukses membuat Mitha naik pitam dan emosi hingga mencerca mereka habis habisan.
" Paham Bu mohon maaf kami lalai " Ucap Dinda.
" Kali ini saya maafkan dan biasakan jika salah akui kesalahan. Bukan malah saling tuduh dan membantah ! Kalian dokter kalian punya tanggung jawab pada nyawa manusia. Kalau kalian tidak menghargai nyawa pasien, harusnya dari awal jangan memilih profesi ini. "
" Baik Bu .. "
" Saya naikkan surat peringatan ke bagian personalia untuk kalian berdua. Ini berlaku untuk yang lainnya juga ya ? Saya tidak ada ampun untuk tindakan lalai dalam bentuk apapun meski hanya 1 menit saja. " Mitha memperingatkan seluruh orang di departemen bedah yang memang terkenal banyak pembangkang karena merasa departemen paling besar dan berpengaruh.
Pak Jo versi cewek. Dan jelas lebih bawel .. Batin mereka berbicara.
__ADS_1