
" Pagi sampe sore kamu praktek, sore sampe malem selalu Op lah piket lah. Emang dokter disini cuma kamu mas ? " Mitha bicara sambil sesenggukan meluapkan semua beban yang menekan batinnya.
" Kamu pikir aku apa ? Aku mesin pencetak anak yang gak punya perasaan hah ? Buat apa aku punya suami kalo aku selalu ngerasa sendirian ! " Lanjut Mitha.
" Ssttt .. Sayang jangan ngomong gitu. Mas minta maaf, mas janji kedepannya mas bakal ngurangin kerjaan di Rs. Mas bakal rekrut dokter bedah lagi biar mas lebih punya waktu sama kalian. Ya ? " Bujuk Pras.
Mitha enggan mennjawab hanya perasaan nya kini sudah jauh lebih tenang. Perlahan tangisnya pun mereda. Pras pun membawa Mitha duduk di bangku panjang yang terletak di halaman IGD.
" Udah tenang ? Udah baikan ? " Tanya Pras.
Mitha mengangguk pelan.
" Kamu udah makan yang ? "
Mitha menggeleng, masih enggan bicara. Rasanya sudah kehabisan kata setelah meluapkan semua kata kata yang bisa dia ucapkan tadi.
" Aku temenin ke kantin ya mau ? Mecca biar sama perawat dulu, ada Jo juga. " Ajak Pras.
Pras menarik tangan Mitha untuk bangkit perlahan di pegangnya erat pinggang Mitha yang bisa di pastikan saat itu tubuhnya pun sudah lemas karena seharian belum makan dan semua energi yang tersisa pun sudah di keluarkan tadi untuk memarahi Pras.
Mitha berjalan terhuyung, Pras sigap menggenggam erat, menopang tubuh istrinya.
" Aku cape banget " Keluh Mitha yang terdiam sejenak menarik nafas. Matanya mulai berkunang kunang, sebagai seseorang yang memiliki GERD dan anemia apalagi ketika stress meningkat di tambah belum makan dan kurang istirahat, Mitha paham betul dirinya akan ambruk sebentar lagi.
Bruukk ..
Mith pingsan, syukurnya Pras langsung menahan tubuhnya agar tidak membentur lantai.
Sedikit panik Pras mengangkat tubuh istrinya, tanpa meminta banntuan untuk di ambilkan bedatau kursi roda, Pras mengangkat tubuh Mitha kembali ke IGD padahal jarak nya cukup jauh karena mereka sudah hampir sampai di kantin.
" Siapkan infus .. Sepertinya dehidrasi dan kelelahan " Intruksi Pras begitu memasuki IGD.
__ADS_1
Pras membaringkan tubuh Mitha, di cek saturasi oksigennya menurun. Pras segera mengambil tindakan untuk memasang oksigen.
" Gak papa dok biar saya aja. Istri saya pasien saya juga, dulu saya pernah menangani Op nya. " Jelas Pras saat dokter jaga hendak membantu.
Pras memeriksa keadaan Mitha dengan telaten. Sesuai dugaannya Mitha dehidrasi dan kelelahan membuat GERD nya kambuh hingga sesak nafas. Mitha di baringkan bersebelahan dengan ranjang Mecca. Pras memperhatikan keduanya, hatinya sakit merasa gagal menjadi kepala rumah tangga.
Dirinya sibuk mengurus dan mengobati pasien, namun keluarganya sendiri tak terurus hingga sakit sakitan. Pras menunduk menyandarkan kepalanya di ranjang Mitha lalu sayup terdengar Pras terisak. Meski tak kencang namun dari gerakan punggungnya terlihat Pras sedang menangis.
" Lo butuh sesuatu Pras ? " Jo menepuk punggung Pras pelan.
Pras mengangkat kepala lalu mengusap wajahnya kasar, menghapus air mata yang menggenang di wajahnya.
" Atur meeting sama semua kepala divisi, termasuk administrasi dan keuangan. Kita udah harus open recruitment dokter bedah baru. Rumah sakit makin gede pasien makin banyak, gue udah kewalahan Jo "
" Okay Pras, ini emang yang terbaik. Rumah sakit kita lagi kekurangan dokter Pras apalagi bedah. Lo pasti babak belur banget beberapa bulan ini "
" Iya Jo, kenaikan pasien signifikan gak secepet kita nambah SDM baru. Gue gak bisa terus korbanin keluarga kaya gini " Pras memijat keningnya, lalu bangkit membuka jas nya karena badannya kini terasa gerah.
" Iya dok. Di sebelah ada bed kosong. " Tiba tiba saja Dinda datang dari arah belakang.
" Maaf dok bukan maksud saya menguping. Pasien yang tadi di bedah sudah di pindah ke ICU, kebetulan tadi saya nyari dokter kesini buat ngabarin tapi gak ada jadi saya bisa tau kalo disebelah ada yang kosong. " Jelas Dinda.
" Ok Din, tolong awasi. Saya mau istirahat dulu. " Titah Pras.
" Baik Dok .. "
Pras pun merebahkan tubuhnya di sebelah, waktu sudah menunjukkan pukul 3 malam. Besok dirinya pun ada praktek pagi, ya lebih baik dirinya beristirahat. Anak dan istrinya sedang sakit, maka dirinyalah yang harus tetap sehat.
Mitha perlahan membuka mata, kepalanya masih setengah pusing. Melihat ke arah jendela sudah terang menandakan hari mungkin sudah pagi, atau siang ? Entahlah, Mitha pun tak tau. Mitha mengedarkan penglihatan nya ke sekeliling yang ternyata tempat nya tidur bertepatan di pinggir bed Mecca.
Ternyata Mecca tengah tidur dalam pangkuan Pras, subuh tadi Mecca terbangun dan menangis. Mungkin saking lelah nya sampai Mitha pun tak sadar namun untunglah ada Pras yang sigap menenangkan Mecca sampai akhirnya tidur di pangkuan Pras.
__ADS_1
" Jam berapa sekarang sus ? " Tanya Mitha pada perawat yang lewat.
" Bu Mitha udah sadar. Jam 7 bu, ibu mau sarapan sekarang ? Saya suruh bagian gizi untuk antarkan kesini ya Bu "
" Ok makaasih ya "
Mendengar suara Mitha Pras pun membuka matanya, Pras terlelap sejenak setelah lelah menggendong Mecca yang menangis selama satu jam.
" Yang udah bangun ? " Tanya Pras dengan suara serak.
" Hmm .. "
" Tadi Mecca nya ngamuk, aku kasih ASIP untungnya Jo bawain dari rumah akhirnya mau tidur lagi " Curhat Pras lalu menurunkan Mecca ke ranjang.
Pras mengmbil ponsel, di lihatnya pukul 07.10 Pras hanya punya waktu 50 menit untuk mandi dan sarapan sebelum prakteknya di mulai.
" Yang gak papa ya mas tinggal praktek dulu. Mas gak bisa off karena udah banyak yang reservasi jauh jauh dari luar kota. Tapi mulai besok udah di batasin ko cuman sampe jam 11 aja. " Jelas Pras takut istrinya marah.
" Yaudah .. "
" Yang masih marah ya ? Jangan gini .. Gak bisa akutuh di cuekin sama kamu "
" Suka suka aku dong mau marah mau apa ke. Kaya yang peduli aja "
" Ya peduli lah. Kamu kan istri mas. Kalo gak peduliin kamu, siapa lagi yang mau mas peduliin "
" KARIR, KERJAAN, JABATAN ! Itu yang mas peduliin " Jujur saja Mitha masih dongkol pada suaminya.
" Dua hari lagi ada meeting, tadinya mas mau ngebahas buat rekrut dokter dokter baru karena 3 bulan ini bukan tanpa alasan mas sibuk, memang pasien membludak tapi ketersediaan SDM nya kurang. Di tambah mas memang handle pasien VVIP sendiri. Tapi lihat kamu kaya gini, yaudah materi meeting nya mau mas ganti jadi rencana pengunduran diri dari dokter kelas VVIP sama direktur rumah sakit. Prosesnya gak akan cepet karena harus persetujuan dewan direksi juga, but its okay yang penting mas bisa usahain yang terbaik buat keluarga kita. " Pras tersenyum, hanya saja senyum nya tak begitu lepas.
Mitha terdiam, satu sisi memang ini yang di inginkan Mitha yaitu Pras punya banyak waktu untuk keluarga dan cukup menjadi dokter saja tanpa embel embel jabatan yang membuatnya semakin tidak memiliki waktu.
__ADS_1
Namun di sisi lain, siapa lagi yang akan bertanggung jawab pada rumah sakit kalau bukan Pras ? Sedangkan rumah sakit ini adalah hasil kerja keras ayah mertuanya.