Istri Kontrak Tuan Muda

Istri Kontrak Tuan Muda
Cukup Kamu


__ADS_3

Meeting dan Kelas yang harusnya di isi Pras pun semua di batalkan. Di balik kelahiran putrinya yang di percepat ada hikmah yang di dapatkan yaitu Pras bisa beristirahat sejenak meninggalkan kesibukkan pekerjaannya.


" Mas tidur dulu aja, udah ada Ibu Bapak sama Bunda yang jagain anak anak. " Titah Mitha yang melihat suaminya nampak kelelahan.


" Masa kamu abis lahiran aku malah tidur ? "


" Ya kan kamu juga manusia mas. Kamu abis op 15 jam, terus nemenin aku sesar sampe pindah ke ruangan juga. Ini udah mau malem juga, ga papa mas. "


" Iya Pras, apalagi katanya kamu udah 2 hari belum pulang ke rumah karena harus piket sama banyak operasi. Istirahat, anak anak butuh kamu sehat " Ucap Bapak.


" Iya pak, makasih ya semuanya. Saya tidur disini ko kalo ada apa apa bangunin aja " Ucap Pras seraya berjalan menuju ruang sebelah yang menyediakan bed untuk penunggu pasien.


Kamar VVIP itu menyediakan ruang makan, santai, sampai ruang tidur terpisah. Hanya ada 3 ruangan VVIP di rumah sakit ini yang selalu penuh dan jadi incaran para pejabat dan selebritis. Bisa di katakan soal uang keluarga Pras tidak akan kesulitan hanya dengan memiliki 1 rumah sakit saja.


" Alhamdulillah nak, Ibu turut berbahagia. Ibu lihat Pras begitu menjaga dan menyayangi kalian. "


" Iya bu, mas Pras memang suami yang sangat bertanggung jawab. Alhamdulillah "


Yang di ucap Mitha memang benar adanya, meski siang tadi hatinya merasa remuk seremuk remuknya melihat Dinda yang langsung membuat dirinya shock. Tentu orangtua nya tidak menngetahui masalah itu, dan Mitha pun menyembunyikannya demi menjaga nama baik Pras.


Waktu berlalu, sampai di tengah malam mungkin bayi mungil mereka masih belum terbiasa dengan keadaan sekitar hingga rewel menangis dan berhasil membangunkan Pras.


Pras membersihkan dirinya terlebih dahulu, lalu mengambil alih untuk menggendong dan menenangkan bayinya.


" Gak papa Bu, Ibu istirahat aja biar gantian saya yang jaganya. " Ucap Pras tulus.


" Makasih ya Pras padahal kamu bari tidur sebentar. "


" Saya udah biasa tidur sebentar Bu, gak masalah. Sekarang Ibu sama Bapak istirahat saja ya ? "

__ADS_1


Orangtua Mitha pun bergantian beristirahat, hati mereka menghangat melihat bagaimana Pras begitu merawat keluarganya dengan baik.


" Mommy juga istirahat, biar adek sama daddy ya ? " Ucap Pras mennirukan suara anak kecil.


" Aku udah tidur tadi mas. Mas .. " Ucap Mitha terpotong.


" Hmm ? " Pras menoleh ke arah Mitha masih sambil berdiri menggendong bayinya.


" Maaf soal tadi siang. Gak seharusnya aku bikin kehebohan kaya gitu " Sesal Mitha.


Pras terdiam menatap Mitha yang menundukkan kepalanya, Mitha sadar tak seharusnya dirinya mempermalukan Dinda juga membuat seisi rumah sakit menggosipkan suaminya dengan wanita itu. Tapi sungguh itu semua terjadi karena refleks Mitha.


" Sayang .. " Pras mendekat lalu mengusap puncak kepala Mitha.


" Kamu gak salah, aku yang salah. Aku yang harusnya peka sama kondisi psikis kamu yang belum stabil " Pras menatap Mitha meyakinkan nya bahwa semua baik baik saja.


" Makasih ya mas udah ngertiin aku. Udah mau rawat anak anak juga di saat kaya gini kamu siaga buat keluarga sepenuhnya. "


Dengan keadaan kesehatan Mitha yang tidak begitu baik, membuat Pras seringkali harus menghandle kedua anaknya. Apalagi El yang sedang aktif aktifnya. Mitha hanya selalu menatap dengan tawa ketika Pras habis habisan di kerjai El. Mitha percaya, masa lalu yang menyakitkan itu tidak pernah merubah perasaan Pras padanya.


Dinda mungkin bagian kecil yang sempat mengisi kekosongan Mitha, namun sampai kapanpun tak ada wanita yang mampu menggantikan posisi Mitha dalam hati Pras. Baik itu Reina, ataupun Dinda. Semua hanya masa lalu, begitulah yang Mitha yakini.


Setelah seminggu dalam perawatan, Mitha pun di ijinkan pulang. Namun sebelum pulang Mitha meminta untuk di pertemukan dengan Dinda, dan ingin bicara 4 mata. Awalnya Pras bersikerad menolak, takut Mitha kembali terguncang. Namun karena istrinya terus memohon, Pras pun mengijinkan dengan syarat Pras akan menemani di ruang sebelah.


" Masuk Din .. " Ucap Pras mempersilahkan Dinda masuk ke ruang perawatan Mitha.


" Saya di ruang santai di sebelah ya ? Silahkan kalian ngobrol santai aja. "


" Iya mas " Jawab Dinda persis di hadapan Mitha membuat Mitha memutar bola matanya jengah. Tapu yasudahlah mungkin memang sudah kebiasaan begitu pikir Mitha.

__ADS_1


" Bu Mitha, ada yang bisa saya bantu ? " Tanya Dinda sopan.


" Saya cuman mau bicara Din, soal tempo hari saya minta maaf karena memperlakukan mu dengan tidak menyenangkan. Saya juga harusnya tidak menyalahkan kamu dalam kecelakaan saya. " Jelas Mitha.


" Saya yang minta maaf Bu, seharusnya dari awal saya tidak memaksa mas Pras menerima perasaan saya. Meski saya tau selamaa bersama saya pun mas Pras hanya memikirkan ibu "


" Kita sama sama ikhlas ya Din ? Tolong kamu juga ikhlaskan suami saya, dan saya pun sudah mengikhlaskan apa yang terjadi pada saya. Pada anak yang saya kandung saat itu. Dendam dan amarah ini hanya menyakiti saya " Mitha berkaca kaca.


" Ibu boleh membenci saya Bu, tapi saya harap jangan pada mas Pras. Beliau benar benar mencintai ibu lebih dari pada dirinya sendiri. "


" Saya tau Din .. Initinya jaga diri kamu baik baik semoga kamu mendapat pengganti yang lebih baik "


" Sebenarnya sudah ada bu, meski saya belum bisa setulus pada mas Pras "


" Oh ya ? Siapakaah ? "


" Ibu juga kenal " Dinda tersenyum.


Mitha hanya mengerutkan dahinya bingung. Siapa pula pria itu ? Dan mengapa Mitha mengenalnya ?


" Yasudah siapapun dia semoga kalian bahagia ya ? Saya sudah bicara sama Pras. InshaAllah gak akan ada yang ngehujat kamu. Saya sudah menjelaskan ini cuman kesalah pahaman. Jadi kamu bisa tetap tenang bekerja. Saya tau kamu dokter yang baik. "


" Terimakasih Bu, semoga lekas sehat. Dan selamat untuk kelahiran putri kalian. Semoga ade bayi bisa menjadi penghibur dari banyaknya duka yang telah kalian rasakan. "


Dinda pun berpamitan, seiring kepergian Dinda Pras juga menghampiri Istrinya. Memeluk bangga dan bahagia, Pras sedari tadi tentu saja mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Pras sebahagia itu merasakan bahwa istrinya kini tlah jauh dewasa dan bijak. Mungkin karena sekarang sudah menjadi Ibu 2 anak ? Terlihat lebih mengayomi.


" Ah makin bangga sama kamu .. " Peluk Pras.


" Berkat mas juga, yang sabar bimbing aku "

__ADS_1


" Kapan aku bimbing kamu ? Yang ada aku selalu bikin kamu nangis " Pras mencubit pipi Mitha gemas lalu menciumi nya.


" Makasih ya sayang makaasih banyak. Kamu memang wanita paling baik yang pernah aku temui. Rasanya aku gak akan bisa lihat dan dapat yang lebih dari kamu. Sekalipun ada, buat aku cukup kamu Mit. Selamanya "


__ADS_2