Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 10 - Kabar Yang Tak Dapat Dimengerti


__ADS_3

...༻❀༺...


Ruby berlari sebelum ketahuan. Dia bergegas bersembunyi ke sebuah ruangan. Entah tempat apa itu. Dia tak tahu. Hal terpenting bagi Ruby, Ryan dan Sarah tidak berhasil memergokinya.


"Apa-apaan? Berani-beraninya kau masuk ke kamarku?!" suara seorang perempuan berhasil mengagetkan Ruby. Ketika dia menoleh ke sumber suara, ternyata sosok yang menegurnya adalah Megan.


Megan terlihat memegang segelas wine. Dia mengenakan handuk kimono berwarna merah. Rambutnya agak basah, karena baru selesai mandi.


"Ma-maaf, aku sedang mencari toilet." Ruby menjawab dengan asal.


"Kau yakin? Bukankah di kamarmu ada toilet?" timpal Megan dengan dahi yang berkerut.


"Ah, benar..." Ruby mengusap tengkuknya tanpa alasan. Bola matanya meliar kemana-mana. Dia kebingungan untuk mencari alasan yang tepat.


Kening Megan semakin mengernyit dalam. Dia mengamati Ruby yang tampak masih gelagapan. Seakan tertangkap basah dan dikejar-kejar oleh sesuatu.


Megan melangkahkan kaki menghampiri Ruby. Melakukan tatapan menyelidik sambil melipat tangan di depan dada. "Ada apa, Ruby? Apa kau sudah melakukan kesalahan?" pungkasnya.


"Tentu saja tidak, aku--"


Tok!


Tok!


Tok!


Suara ketukan pintu membuat ucapan Ruby terpotong. Megan lantas menyuruhnya untuk menyingkir. Kemudian bergegas membukakan pintu. Nampaklah Ryan yang terlihat sudah mengenakan pakaiannya.


Menyaksikan kehadiran Ryan, Ruby sontak berpikir untuk keluar dari kamar. Dia sempat melangkah lewat, namun tangan Ryan dengan sigap memegangi lengannya.


"Kau kenapa sangat tergesak-gesak?" timpal Ryan.


Ruby terpaksa mengurungkan kepergiannya. Dia memberanikan diri menatap Ryan. "Aku hanya merasa sangat lapar," tuturnya. Memilih untuk berkata jujur. Ryan yang mendengar tersenyum dan mengajak Ruby ikut sarapan dengannya.

__ADS_1


"Tidak. Aku sarapan sendiri saja. Aku baik-baik saja, sungguh!" Ruby menolak tawaran Ryan.


"Oke, jika itu maumu." Ryan mengalah, dan perlahan melepaskan lengan Ruby. Dia membiarkan Ruby beranjak pergi. Sekarang hanya tinggal Ryan dan Megan yang masih berdiri saling berhadapan.


"Ryan, bisakah kau memberitahuku, alasan kau bersikeras ingin menjadikan Ruby bagian dari The Shadow Holo?" tanya Megan. Raut wajahnya terlihat serius.


"Bukan apa-apa, Megan. Aku hanya merasa menyayanginya, seperti aku menyayangimu. Itu saja," jelas Ryan. Terdengar ambigu ditelinga Megan.


"Benarkah? Terdengar tidak meyakinkan. Alasan yang sangat bodoh, Ryan!" sarkas Megan. Kemudian, membiarkan Ryan melangkah untuk meninggalkannya.



Ruby masuk ke dalam kamar. Dia langsung bersandar ke pintu. Mendenguskan nafas lega melalui mulutnya. Terbayang dalam kepalanya tentang apa yang sudah dilihatnya barusan. Entah kenapa kemesraan Ryan dan Sarah terasa sangat mengganggunya.


Sebenarnya Ruby mengakui, Ryan adalah lelaki yang sangat pandai merebut hati perempuan. Bukan karena lelaki itu tampan atau tukang rayu. Akan tetapi karena kepedulian dan kelembutannya. Ryan sangat hebat memperlakukan seorang wanita bak seorang tuan putri. Menyebabkan siapa saja gadis yang didekatinya tidak akan sanggup menolak cintanya. Hal serupa mungkin terjadi kepada Ruby. Dia mendadak mengingat sikap hangat Ryan yang selalu berhasil membuat hatinya berbunga-bunga.


"Ugh! Apa yang aku pikirkan! Sadarlah Ruby! Ryan punya dua wanita lain selain dirimu! Lupakan dia!" Gumam Ruby. Mencoba mengingatkan dirinya sendiri. Mulai saat itu, Ruby terus berupaya untuk tidak peduli.


Hari demi hari terlewati. Ruby sudah terbiasa tinggal di markas rahasia milik Ryan. Tetapi dia merasa agak bosan terus-terusan tidak memiliki kegiatan apapun. Hingga akhirnya Ruby pun iseng mengunjung ruang latihan bela diri.


"Halo, Ruby? Sepertinya kau tertarik untuk belajar berkelahi." Sarah membawa Ruby masuk ke dalam rangkulannya.


"Iya, apa kau punya waktu untuk mengajariku?" tanya Ruby. Menatap Sarah dengan ujung matanya.


"Tentu saja. Ikut aku!" Sarah mengajak Ruby mendekati sebuah samsak yang menggantung. Dia menyuruh Ruby memukuli samsak itu.


"Hanya ini?" tanya Ruby. Mencoba memastikan. Dia merasa ragu dengan apa yang disuruh Sarah terhadapnya.


"Kau pemula bukan? Apa kau berniat langsung berhadapan dengan lelaki itu?" Sarah menunjuk lelaki berbadan kekar yang sedang bertanding di atas ring tinju.


Ruby lekas-lekas menggeleng. "Tentu tidak!" tegasnya dengan mata yang sedikit membuncah. Dia sudah ketakutan lebih dahulu, ketika mendengar dirinya akan melawan seorang pria berbadan kekar.


"Kalau begitu, selamat berlatih!" Sarah mengelus pelan pundak Ruby. Membiarkan Ruby bergelut dengan samsak yang ada di hadapannya. Gadis itu melakukan tinju dengan gemulai. Sangat terlihat kalau dirinya hanya seorang amatir.

__ADS_1


Melihat bagaimana cara Ruby meninju samsak, banyak bawahan Ryan yang mentertawakannya. Bahkan Sarah pun tidak bisa membendung tawanya.


"Apa benar bos menjadikan dia salah satu anggota kita? Aku benar-benar tidak paham."


"Iya, kau benar. Megan ahli melakukan penipuan, dan Sarah hebat dalam bela diri. Aku penasaran dengan kemampuan gadis itu,"


"Mungkin dia hanya hebat saat berada di atas ranjang. Hahaha!"


"Shut up! Dia nanti dengar. Omonganmu bisa diadukannya kepada Bos."


Percakapan di antara para bawahan Ryan, dapat terdengar jelas ditelinga Ruby. Dia hanya bisa melakukan teguran dengan pelototannya. Namun bukannya merasa terancam, orang-orang yang dipelototinya malah tertawa. Mereka bahkan terus saja mengejek Ruby.


"Lihat! Dia sepertinya marah."


"Oh tidak. Aku takut! Tatapannya terlalu kuat seperti pukulan tinjunya, hahaha!"


Ruby berusaha mengabaikan bawahan Ryan yang tidak berhenti mengejeknya. Saat itulah seorang wanita berambut pirang datang. Dia memberikan kabar penting kepada Sarah dan yang lain. Informasi yang seketika merubah suasana santai berubah menjadi tegang.


"Mereka lebih dahulu meyakinkan orang-orang di Drugs Genius. Kita kehilangan satu pemasok utama lagi. Dan sekarang, perwakilan The Black Cindicate sedang berusaha bernegoisasi dengan pemerintah Meksiko. Aku takut mereka--"


"Itu tidak akan terjadi! Kapan mereka akan melakukan pertemuan?" Tanya Sarah. Sengaja memotong perkataan lawan bicaranya.


"Malam ini!" sahut wanita berambut pirang, yang sering dipanggil Celine tersebut. Sarah sontak langsung keluar dari ruangan. Akan tetapi kemunculan Ryan membuat langkah kakinya otomatis terhenti.


"Ryan, aku akan mengurus segalanya. Biarkan aku bertanggung jawab atas kegagalan rencana yang telah kubuat sendiri!" ungkap Sarah dengan tatapan penuh tekad.


Sementara Ruby, hanya bisa mengerutkan dahinya. Dia satu-satunya orang yang tidak mengerti. Gadis itu celingak-celingukan seperti orang bodoh.


Beberapa saat kemudian, Sarah pergi di ikuti oleh yang lain. Hingga hanya menyisakan Ryan dan Ruby dalam ruangan latihan. Ruby yang menyadari hal tersebut, lekas-lekas ingin kembali ke kamar. Tetapi sayang, Ryan lebih dahulu menutup pintu. Dia berhasil menghalangi jalan keluar Ruby.


"Ruby, ayo kita bicara baik-baik. Aku tidak ingin terus bersitegang denganmu," ungkap Ryan.


"Bicara saja. Aku mendengarkan!" Ruby menyilangkan tangan didada. Lalu menatap Ryan dengan ekspresi serius.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita bicara sambil meminum wine saja? Aku punya wine berkualitas yang dibeli langsung dari Perancis," tawar Ryan.


"Terserahmu saja," respon Ruby sembari menghela nafas panjang. Ryan lantas menghubungi pelayannya untuk mengantarkan wine ke ruang latihan.


__ADS_2