
...༻❀༺...
Sebelum berlari, Ryan menautkan tangannya dengan jari-jemari Ruby. Keduanya segera berlari bersama secepat mungkin. Gemuruh yang terdengar semakin kuat. Asap bangunan yang menyengat mulai mengganggu penglihatan, serta jalur pernafasan.
"Ryan, kita harus kemana?!" tanya Ethan dengan nada suara nyaring. Larinya terhenti karena jalan sudah buntu.
Ryan otomatis memindai pandangannya dengan cepat. Hingga atensinya tertuju ke sebuah pintu bundar yang terbuat dari besi. Tanpa pikir panjang, dia segera berlari menghampiri pintu tersebut. Hal yang sama juga dilakukan Ethan dan Ruby.
"Sial! kita tidak punya kuncinya!" keluh Ethan saat mengamati keadaan pintu di hadapannya.
Ryan mendadak memberikan briefcase-nya kepada Ruby. Lalu menyempatkan diri untuk kembali. Tepat ke arah reruntuhan bangunan yang terus berjatuhan.
"Ryan!!!" pekik Ruby tak terima. Matanya terbelalak. Tetapi dirinya merasa lega saat melihat Ryan kembali lagi. Lelaki itu hanya mengambil sebuah kunci.
Setelah kembali, Ryan langsung membuka gembok dengan kuncinya. Namun sayang, meskipun kunci berguna, pintunya sangatlah sulit untuk dibuka. Kemungkinan karena pintu tersebut sangat jarang dipakai.
"Cepat! Kita harus lakukan dengan cepat!" desak Ruby ketika menyadari reruntuhan di belakangnya semakin mendekat. Dia ikut membantu Ryan dan Ethan menarik pintu besi. Mereka mengerahkan semua tenaganya. Urat-urat yang ada disekitaran wajah dan tangan mereka terlihat mengeras dan nampak. Pertanda kalau kekuatan yang mereka gunakan sudah mencapai kapasitas maksimal.
"Aaarghhhh..." Ryan, Ruby dan Ethan tanpa sengaja menggeram bersamaan. Menyatukan tenaga demi membuka pintu. Usaha memang tidak pernah mengkhianati hasil. Kini pintu besi sedikit terbuka. Waktunya bertepatan dengan runtuhnya atap.
Ryan dengan cekatan mendorong pintu agar dapat terbuka lebar. Ruby dan Ethan bergegas berlari masuk melewat pintu besi. Hal serupa juga dilakukan Ryan. Gerakan mereka tepat pada waktunya.
Ryan, Ruby dan Ethan bisa bernafas lega. Karena telah berhasil selamat dari reruntuhan bangunan. Yang tersisa hanya keringat dan sensasi deg-degan di jantung. Bau limbah kotoran yang tercium bahkan mereka abaikan. Ketiganya sama-sama terduduk. Dalam keadaan mengistirahatkan diri. Kegelapan menyambut penglihatan mereka. Semua orang segera menyalakan penerang dari ponsel masing-masing. Kebetulan semenjak bangunan runtuh, sinyal yang ada di ponsel hilang. Tidak ada satu orang pun yang bisa menelepon.
"Ayo, kita temukan jalan keluar!" ujar Ryan sembari mencoba berdiri. Namun kepalanya harus terhantam besi. Sebab tempat dirinya berada sekarang, hanya lorong berbentuk lingkaran. Tidak bisa membuat seseorang yang berada didalamnya berdiri tegak. Mereka harus berjalan dalam keadaan membungkukkan badan.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Ruby. Memandangi wajah Ryan yang sedang meringis kesakitan. Sedangkan satu tangannya memegangi kepala yang sempat kepentok tanpa rencana.
"Ayolah, Ruby. Dia hanya terkena hantaman kecil. Paling-paling cuma dapat benjolan." Ethan menyahut lebih dahulu sebelum Ryan sempat menjawab. Dia perlahan bangkit dan berdiri. Mengikuti Ruby yang tadinya sudah melakukannya lebih dahulu.
__ADS_1
Ryan hanya menatap malas Ethan. Kemudian melangkah lebih dahulu untuk memimpin jalan.
Sementara Ruby, mengeratkan mantel ke badannya. Hawa dingin kian menusuk. Beruntung Ryan sempat memberikannya mantel tadi. Dia terus melangkahkan kakinya maju. Berjalan dalam keadaan membungkuk seperti yang lain. Lama-kelamaan rasa penat mulai terasa.
"Ryan, apa masih jauh?" tanya Ruby.
"Aku tidak tahu. Ini pertama kalinya aku ke sini," jawab Ryan pelan.
"Yang benar saja. Bukankah kau yang membangun tempat ini? Setidaknya kau mengetahui rancangan bangunannya!" Ethan membalas. Dia orang yang berjalan paling belakang. Tepat di belakang Ruby.
"Kau pikir aku yang membangun selokan ini?! Tentu saja tidak. Markasku hanya kebetulan terhubung dengan tempat ini!" geram Ryan sembari menengok selintas ke arah Ethan. Dahinya mengerut dalam. Jelas cara bicaranya sangat berbeda ketika berbicara dengan Ruby tadi.
"Pantas saja tempat ini tidak ikut hancur. Bangunanmu ternyata tidak lebih baik dari pada milik pemerintah." Ethan kembali bersuara.
Kali ini Ryan tidak kuasa menahan diri. Dia berbalik badan dan menghampiri. Kemudian mencengkeram erat kerah baju Ethan dengan satu tangan.
"Bisakah kau menutup mulut sialanmu itu?!" timpal Ryan dengan tatapan nyalangnya.
"Aku patut berlagak sekarang, karena di sini bisa terlihat jelas, bahwa kaulah orang yang kesulitan. Kau tahu? Apa yang terjadi kepada markasmu juga terjadi pada markas milik The Drugs!" Ethan berbicara dengan nada penuh penekanan. Satu tangannya menunjuk ke arah bangunan markas Ryan yang telah hancur.
"Siapapun itu, aku yakin pengkhianatnya pasti bekerjasama dengan Jordan!" ucap Ethan. Mimik wajahnya terlihat meyakinkan.
Ryan memang tidak bisa membantah perkataan Ethan. Karena musuh yang paling membencinya hanyalah Jordan, ketua mafia The Black Cindicate. Atau lebih tepatnya ayah kandung dari Ruby.
"Ngomong-ngomong, apa kau sudah menemukan pengkhianatnya?" tanya Ethan yang kini merubah nadanya menjadi lebih pelan.
"Kata Max orangnya adalah Ken. Dia orang yang meledakkan bom untuk yang pertama kali," jelas Ryan. Dia melingus melewati Ethan. Berniat melanjutkan perjalanannya lagi.
"Bukankah Max mencurigakan?" ungkap Ruby. Ikut masuk ke dalam pembicaraan.
__ADS_1
"Kau pikir aku tidak mencurigainya? Aku tidak akan tinggal diam saat melihat wajahnya nanti." Ryan terdiam untuk sesaat. Kemudian menghentikan langkahnya. Tiba-tiba terlintas dalam benaknya akan sesuatu hal. Dia memalingkan wajah ke belakang dan menatap Ethan kembali.
"Ethan, sebenarnya kau masuk ke daftar orang yang aku curigai. Begitu pun Henry," ujar Ryan. Dia enggan memandang ke arah Ruby.
"Apa?! Beraninya kau mencurigai Henry! Jika dia tidak ada, aku tidak akan bisa selamat sampai sekarang!" Ruby segera melakukan pembelaan terhadap Henry.
Ryan hanya terdiam seribu bahasa, sambil terus melangkah.
"Ryan! Apa kau mendengarkan?!" Ruby yang merasa diabaikan, memegang kuat pundak Ryan.
"Baiklah, aku mengerti!" sahut Ryan. Tanpa menoleh.
"Hei, bagaimana denganku?! Kau bilang mencurigaiku juga?! Andai aku pengkhianatnya, maka aku tidak akan terjebak di sini bersamamu, bodoh!" pungkas Ethan seraya mengeratkan rahang kesal.
Ryan akhirnya menutup mulut sepenuhnya. Dia tidak mau membuang waktu untuk berdebat lagi. Yang terpenting sekarang dirinya dan Ruby bisa keluar dari tempat berbau pesing ini.
Langkah, Ryan, Ruby dan Ethan terhenti saat melihat ada dua jalan di depan. Jujur tidak ada satu pun dari mereka tahu jalan yang benar.
Ruby menggelengkan kepala, lalu melangkah lebih dahulu. Ryan dan Ethan yang melihat tentu merasa heran. Keduanya sontak mengikuti Ruby.
"Bagaimana kau tahu kalau ini jalan yang tepat?" tukas Ryan. Mengarahkan cahaya dari ponselnya ke arah Ruby.
"Sepertinya istrimu ini lebih tahu darimu," komentar Ethan. Terus saja mengatakan sesuatu hal yang membuat Ryan kesal.
"Sederhana. Ini adalah selokan. Jadi, kemanapun jalan yang dipilih pasti menuju ke arah luar. Aku yakin itu." Ruby menjelaskan.
Ryan tersenyum tipis, kala mendengar keterangan Ruby. Dia merasa kagum kepada istrinya tersebut. Dirinya tahu, sejak awal Ruby merupakan gadis yang cerdik. Gadis itu hanya perlu dilatih dan dibimbing dengan baik.
Dari kejauhan terlihat sepercik cahaya yang kian membesar. Terutama ketika Ruby melangkah semakin maju.
__ADS_1
"Itu jalan keluar!" ujar Ruby, penuh harapan. Dia melajukan langkahnya untuk mendekati cahaya. Namun ketika sudah tiba, langkah kakinya harus terhenti. Sebab tidak ada pijakan lagi untuk kakinya. Gadis itu tidak bisa menyeimbangkan diri dan pada akhirnya tergelincir. Alhasil Ruby terjatuh ke bawah.
Ryan yang menyaksikan dengan sigap mengejar. Untung saja dia berhasil menangkap lengan Ruby. Sekarang istrinya itu bergelantungan dalam cengkeramannya. Degub jantungnya kembali berpacu cepat. Ruby perlahan melihat ke arah bawah. Dia semakin gemetar ketika melihat keberadaannya lumayan jauh dari tanah.