
...༻❀༺...
Terakhir Ryan hanya diam dengan segala kekesalan Ruby. Wajahnya memerah, kemudian beranjak dari hadapan Ruby. Dia tidak kembali ke pavilion, melainkan memasuki kamar. Saat itulah Sarah dan Megan melangkah beriringan mendekati Ruby.
"Apa kau tahu, kalau Ryan tidak hanya kehilangan markasnya di Las Vegas?" tanya Sarah.
Ruby menatap tajam Sarah. Rasa kesalnya masihlah belum pudar. Meskipun begitu, dirinya juga penasaran dengan apa yang terjadi.
"Beberapa markas Ryan yang lain juga telah dihancurkan. Apa yang terjadi kepadanya persis seperti apa yang terjadi kepada The Drugs. Jika kau marah kepadaku dan Megan, itu salah besar! Ryan, bahkan sama sekali tidak berbicara kepada kami tadi," ungkap Sarah panjang lebar.
"Itu benar. Ketika melihatmu datang, dia langsung berdiri dan bicara." Megan ikut bersuara. Walau dirinya masih malas menatap ke arah Ruby.
"Kau mungkin satu-satunya orang yang bisa menjinakkan Ryan saat marah," ujar Sarah.
Ruby masih membisu. Dia berjalan melingus pergi begitu saja. Dari pada menemui Ryan, dirinya malah melangkah keluar dari rumah. Lalu duduk di pelataran sambil menghembuskan nafas dari mulut.
"Mike memberitahuku kalau anggota The Shadow Holo tinggal sedikit. Aku pikir Ryan sangat marah dan juga frustasi sekarang. Dia sedang berusaha untuk tenang, tapi tidak bisa." Henry menghampiri Ruby, kemudian duduk di sampingnya. "Jika kau marah karena hubungan pribadi, aku rasa itu akan memperburuk keadaan. Kau harus bicara dengan Ryan," lanjutnya yang terdengar seolah seperti memberi nasehat.
"Atau benar-benar pergi darinya lagi. Kau punya dua pilihan, pergi atau tetap tinggal." Henry kembali berucap.
__ADS_1
"Entahlah..." lirih Ruby sembari berdiri. Dia meninggalkan Henry dengan raut wajah masam. Masuk ke sebuah kamar yang dahulu sempat di tempatinya. Ruby mencoba memikirkan segalanya di sana. Dia masih malas menghadapi Ryan.
Satu malam berlalu. Beberapa anggota The Shadow Holo yang masih selamat disuruh mendatangi markas. Ryan ingin mengumpulkan semuanya di pulau pribadinya. Sementara Ryan, masih memilih menyendiri. Dia tidak akan segan-segan memarahi orang yang mencoba mengganggunya. Termasuk Megan dan Sarah.
Kala Ruby kebetulan keluar dari kamar, dia sukses menyaksikan keributan yang terjadi di depan kamar Ryan.
"Ryan, kau seharusnya tidak bersikap begini. Tenangkanlah dirimu, dan--" Megan langsung bungkam saat tangan Ryan mencengkeram lehernya. Memojokkannya ke dinding sebagai ancaman.
"Pergilah! Bila kau tidak suka aku bersikap begini. Selama ini aku mungkin bersikap terlalu baik kepadamu!" pungkas Ryan. Semakin mengeratkan cengkeramannya. Menyebabkan Megan semakin merasa tercekik.
"Ryan!" teguran Ruby berhasil membuat Ryan melepaskan cengkeramannya dari leher Megan. Lelaki tersebut tentu segera menoleh ke arah Ruby. Ryan melangkah lebih dekat ke hadapan Ruby.
"Jika kau sudah muak kepadaku, pergilah, Ruby. Aku merasa hidupku tidak akan panjang. Cepat atau lambat, Jordan pasti akan membunuhku. Bila ingin selamat, kau lebih baik pergi saja. Kali ini aku akan merelakanmu," ujar Ryan. Dia berusaha terdengar tegas saat mengucapkan kalimat itu. Semuanya dapat terlihat jelas dari raut wajahnya. Padahal hatinya merasa sangat berat.
"Sekarang apa kau masih marah dengan keberadaanku di sini?! Lihatlah cara Ryan memperlakukanku tadi? Kau pikir dia menganggapku sebagai wanita?!" Megan datang, dan langsung menimpali Ruby. Selanjutnya dia pergi entah kemana.
Kenyataan yang dilihat Ruby barusan, benar-benar menohoknya. Sekarang dia benar-benar merasa seperti anak kecil. Hanya dirinya yang mementingkan perasaan pribadi dibandingkan orang lain. Atensi Ruby teralih ke arah pintu kamar Ryan. Dia menggerakkan kakinya untuk berderap. Lalu melihat apa yang sedang dilakukan Ryan di dalam.
Ruby mendengus kasar, tatkala menyaksikan Ryan terduduk di lantai. Menyandarkan punggung ke kasur, dan memegang sebotol bir. Tatapan lelaki itu tertuju ke arah jendela yang menampakkan pemandangan lautan. Ruby lantas masuk dan duduk di sebelah Ryan.
__ADS_1
"Pergilah dariku, Ruby. Aku serius! Aku tidak ingin kau memiliki nasib yang sama seperti ibumu. Lagi pula aku sudah berjanji kepadanya untuk melindungimu." Ryan angkat bicara lebih dahulu. Sorot matanya masih menatap ke arah jendela. Dia tidak membalas tatapan Ruby yang tengah memandangnya dengan pancaran sendu.
"Aku mungkin tidak pantas hidup bahagia dengan orang yang kucintai. Itu selalu terjadi kepadaku sejak kecil." Ryan bercerita sambil menggenggam erat botol bir. Kemudian meminumnya beberapa teguk.
"Ryan, hentikan!" Ruby berupaya merebut botol bir dari Ryan. Namun usahanya tidak berhasil. Sebab Ryan dengan cepat menjauhkannya dari jangkauan Ruby. Hingga pada akhirnya, Ryan menatap Ruby.
"Berhentilah bersikap begini, Ryan. Bukankah The Shadow Holo membutuhkanmu?! Apa kau akan terus berdiam diri di sini sampai serangan selanjutnya terjadi?" Ruby memegangi lengan Ryan. Akan tetapi lelaki yang dipeganginya hanya terdiam, dan justru menatapnya lekat.
Bukannya menjawab, Ryan justru memegang tengkuk Ruby dengan erat. Gadis tersebut sempat takut, Ryan akan mencekiknya seperti yang telah dilakukannya terhadap Megan. Pada kenyataannya tidak, Ryan malah mencium bibirnya. Lagi-lagi lelaki itu tidak memulainya dengan lembut, tetapi langsung secara intens.
Ruby yang tidak kuasa menolak, sontak ikut bermain. Rasa bir yang tadi sempat diminum Ryan ikut beredar dalam mulutnya. Ruby mulai tidak mampu mengatur nafas. Begitu pula Ryan. Keduanya sedang sibuk bergulat dengan indera pengecapnya. Suara lenguhan mulai digumamkan Ruby. Terutama saat tangan Ryan menjelajahi setiap jengkal bagian tubuhnya.
Setelah puas berciuman di bibir, Ryan segera memainkan mulutnya ke leher Ruby. Darah disekujur badan Ruby sontak berdesir hebat. Dia juga sudah beberapa kali merasakan kupu-kupu beterbangan dalam perutnya.
Ryan menghentikan cumbuannya. Kemudian menarik Ruby untuk berdiri. Melepas pakaian Ruby terlebih dahulu, dilanjutkan dengan miliknya sendiri. Ruby terlihat hanya mengenakan bra-nya dan celana jeans.
"Ruby, jika aku masih hidup setelah melakukan perlawanan pada Jordan. Aku akan menikahimu dengan cara yang benar..." ungkap Ryan disela-sela pengaturan nafas yang masih belum terkontrol. Bibirnya tampak agak membengkak akibat ciuman yang dilakukannya tadi. Sedangkan tangannya perlahan melepas celana jeans yang tengah dikenakan Ruby.
"Jangan berkata begitu. Tidak akan ada yang mati, Ryan. Apalagi dirimu..." lirih Ruby, lalu menciumi wajah Ryan beberapa kali. Hingga membuat mata Ryan memicing saat merasakan sentuhannya.
__ADS_1
Ruby yang kini hanya mengenakan bra dan celana dala*m, menyebabkan bagian tubuh Ryan yang ada di bawah perut mulai menegang. Dia segera mendorong Ruby ke kasur. Menanggalkan semua pakaian yang tersisa dibadan Ruby. Tidak lupa juga untuk melepas pakaian yang ada pada dirinya sendiri. Ryan dan Ruby menyatu dalam tubuh. Ryan mengawalinya dengan lambat, disertai dengan permainan kecupannya di area dada istrinya. Menyebabkan Ruby merasa kian terangsang.
Lama-kelamaan Ryan semakin bergerak lebih cepat. Dia dan Ruby saling mengerang bersahut-sahutan. Jari-jemari Ruby yang ramping dan lentik, mencengkeram punggung Ryan dengan kuat. Matanya memejam rapat sambil mengerutkan dahi. Mulutnya terus menganga, akibat tidak bisa menghentikan lenguhan yang dikeluarkan oleh pita suaranya. Sesekali Ryan akan memberikan ciuman dibibir, agar mulut Ruby dapat menutup sejenak. Meskipun apa yang dilakukannya itu tidak akan mampu membuat dirinya dan Ruby berhenti mendes*ah. Mereka melakukannya sampai mendapatkan kepuasan di antara satu sama lain.