
...༻❀༺...
Ruby segera merubah posisi menjadi duduk. Menjaga jarak dari Ryan yang masih asyik telentang di sampingnya. Gadis itu merasa lumayan syok.
"Ryan! Apa yang kau lakukan?... Apa yang sudah kita lakukan?... A-ada apa?" Ruby memberikan pertanyaan bertubi-tubi. Sebab memorinya tentang tadi malam sama sekali tidak tergambar dalam otaknya.
"Bukankah sudah jelas? Kita melakukannya, Ruby. Bahkan dua ronde," sahut Ryan yang perlahan juga ikut duduk.
"A-apa?! Jangan bercanda! Aku bahkan tidak..." nada bicara Ruby memelan, karena dia baru ingat kalau dirinya mabuk berat tadi malam. Gadis tersebut sekarang hanya bisa mengumpat dirinya sendiri. Dia mengacak-acak rambut sebal.
Ryan tersenyum tipis kala melihat gelagat Ruby. Dia bangkit dari kasur dan melangkah menuju kamar mandi. Lelaki itu berjalan tanpa sehelai benang pun menutupi badannya. Sedangkan Ruby hanya bisa membuang muka sambil meringiskan wajah.
"Dasar, padahal tadi malam kau orang pertama yang mengajakku untuk melakukannya." Ryan menegur sambil berdecak tak percaya. "Tunggulah, ayo kita lanjutkan pembicaraan saat sarapan. Dan kali ini tidak ada alkohol di meja kita," tambahnya. Lalu menghilang ditelan pintu kamar mandi.
Ruby menghembuskan nafas kasar. Kemudian lekas-lekas mengenakan pakaiannya. Setelahnya, dia membuka tirai jendela. Ruby penasaran dengan apa yang ada di luar jendela. Benar saja, pemandangan kota Las Vegas langsung menyambut penglihatannya. Dia kemungkinan berada di kamar hotel. Tidak di ruang bawah tanah lagi. Entah kapan Ryan membawanya pergi ke sana.
"Aku sebaiknya kembali ke kamar!" gumam Ruby. Dia lekas-lekas membuka pintu. Namun pintunya dikunci. Meskipun Ruby menarik paksa gagang, pintunya tetap bergeming.
Ruby memindai penglihatannya ke segala penjuru. Akan tetapi kuncinya tidak terlihat sama sekali. Nampaknya Ryan sudah menduga niat kepergian Ruby, jadi lelaki tersebut sengaja menyimpan kunci pintu.
Sekian menit berlalu, Ryan akhirnya keluar dari kamar mandi. Dia mempersilahkan Ruby untuk mandi.
Ruby yang tadinya duduk di kasur, lantas berdiri. "Bisakah aku kembali ke kamarku?" tanya-nya. Menatap penuh harap.
"Tidak. Mandilah dulu. Urusan kita belum selesai!" balas Ryan.
"Yang benar saja, kau ingin bicara apa? Bicara saja sekarang!" Ruby menghentakkan sebelah kakinya ke lantai. Dia hendak bergegas pergi karena merasakan malu bukan kepalang.
__ADS_1
"Aku tidak mau bicara dengan orang yang belum mandi." Ryan mengibaskan tangan ke depan hidungnya. Seolah tengah terganggu dengan sesuatu yang bau.
Ruby menggeleng tak percaya. Sambil berdecak kesal, dia akhirnya melangkah masuk ke kamar mandi.
Saat Ruby keluar dari kamar mandi, berbagai hidangan sudah menyambut di atas meja. Sedangkan Ryan terlihat duduk menyilangkan kaki. Tangannya sibuk memainkan ponsel. Lelaki tersebut mengenakan handuk kimono berwarna putih. Pakaian serupa dengan yang dikenakan Ruby. Keduanya benar-benar tampak seperti pasangan suami istri.
"Duduklah dan makan!" titah Ryan. Tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
Ruby perlahan ikut duduk. Dalam posisi berhadapan dengan Ryan. Dia segera menikmati hidangan yang ada di meja. Makanan pilihan pertamanya adalah sandwich isi daging dan salad.
"Minumlah teh jahe itu dulu, supaya pengarmu berkurang," tegur Ryan. Dia ternyata sedari tadi memperhatikan Ruby melahap sandwich.
"Aku lapar!" sahut Ruby. Tak peduli. Dia langsung menggigit kembali makanannya.
"Aku bersedia tidak akan menyentuh Megan dan Sarah, asal kau benar-benar bersedia untuk menjadi istri ketigaku," tutur Ryan. Menyebabkan Ruby sontak melebarkan kelopak mata.
Terlintas dalam kepala Ruby memori tentang apa yang diucapkannya tadi malam. Dia terdiam seribu bahasa. Serius memikirkan perkataannya sendiri dengan baik.
"Ruby, jika kamu bersedia menjadi istriku. Aku akan memberikan apapun yang kau mau. Uang, perawatan, apapun! Kau hanya tinggal saja bilang kepadaku." Ryan terus berusaha merubah pemikiran Ruby. Dia sepertinya sangat serius ingin memiliki gadis tersebut.
Pupil mata Ruby membesar. Tawaran Ryan sangat menggoda. Dia memejamkan mata sejenak, lalu mengeluarkan nafas dari mulut. Dirinya mencoba memutuskan pilihan terbaik.
'Jika aku menolak tawarannya. Kemungkinan Ryan akan marah dan mengusirku. Dan andai aku memilih pergi, pasti orang-orang jahat itu akan kembali mengejar. Mungkin pilihan terbaik adalah menerimanya. Lagi pula Ryan tidak ada sedikit pun mencoba melukaiku. Setidaknya aku aman bersamanya,' batin Ruby dalam hati.
Ruby menyesap teh jahe sebentar. Kemudian berucap, "Itu sangat menggoda, Ryan. Kalau begitu aku... akan mencobanya," ungkapnya.
__ADS_1
"Benarkah?" Ryan mengukir senyuman lebar. "Pilihan yang bagus!" komentarnya. Kemudian bangkit dari tempat duduk. Ryan terlihat mengganti handuk kimononya dengan setelan rapi.
"Kau mau kemana?" tanya Ruby.
"Bekerja. Kau pikir aku pengangguran?" balas Ryan sembari menarik laci lemari. Dia mengambil sebuah pistol dari sana. Lalu menyematkannya ke balik mantel yang dikenakannya.
"Sial! Kau selalu membawa benda itu kemana-mana?" tukas Ruby, saat menyaksikan senjata yang tadi sempat dipegang oleh Ryan.
"Tentu saja. Aku seorang ketua penjahat. Mana mungkin aku bepergian tanpa membawa satu pun senjata," jawab Ryan. Dia sekarang memasang topi fedora dipuncak kepala. Dengan tampilan itu, Ryan benar-benar tampak seperti seorang ketua mafia. "Ah benar, karena kau sudah bersedia menjadi istriku, maka aku akan berikan pengawal pribadi untukmu," tambahnya yang tanpa sengaja mengubah topik pembicaraan.
"Pengawal?" Tidak, Ryan. Aku--"
"Kau tidak boleh menolak! Ini demi keselamatanmu. Apalagi dirimu sama sekali tidak memiliki keahlian bela diri." Ryan memaksa. Dia menyuruh Ruby untuk memakai baju, dan menemuinya di ruang kerja.
"Aku sedang belajar tinju akhir-akhir ini." Ruby berusaha keras untuk menolak.
"Masih belajar, itu artinya belum memiliki kemampuan!" Ryan bersikeras. Pernyataannya membuat Ruby tertohok. Gadis itu lagi-lagi tidak punya pilihan selain menerima. Dia bergegas mengganti pakaian, dan pergi menemui Ryan di ruang kerja.
Ketika masuk ke ruang kerja Ryan, mata Ruby langsung bergerak liar. Karena ruang pribadi Ryan terlihat sangat klasik. Dipenuhi dengan benda-benda antik. Kini Ruby mengetahui, bahwa salah satu hobi Ryan adalah mengumpulkan barang-barang kuno dan bersejarah. Semuanya sebenarnya sudah terbukti dari segala furniture yang dimiliki Ryan di rumah dan markasnya.
"Ruby, ini Mike. Dia yang akan menjadi pengawal pribadimu." Ucapan Ryan merunyamkan atensi Ruby dari pengamatan dadakannya. Gadis tersebut lantas berjalan mendekat. Kemudian menyapa lelaki berkulit hitam yang disebut bernama Mike.
Ruby mengerjapkan mata saat melihat Mike. Sebab lelaki berkulit hitam itu badannya sangat kekar. Mengingatkan Ruby dengan aktor hollywood Dwayne Johnson. Dia sebenarnya agak ciut untuk sekedar berbicara kepada Mike. Ruby memang tidak ahli mengenal orang-orang baru. Dirinya memang sejak kecil cukup pendiam.
"Halo, Miss. Aku Mike, mulai hari ini aku akan bekerja denganmu." Mike memperkenalkan dirinya dengan baik.
"Eh... ya... ya... senang berkenalan denganmu." Ruby menjawab dengan nada canggung.
__ADS_1
"Oke, aku harap kau bisa melakukan pekerjaanmu dengan baik, Mike. Dan jika kau ketahuan mencumbu istriku, aku akan langsung menembak kepalamu dengan pistol!" ujar Ryan. Mengharuskan Mike bergegas menganggukkan kepala.