
...༻❀༺...
Lily meminta izin kepada Ryan dan Ruby untuk berbicara sebentar dengan Andrew. Dua kakak beradik itu hendak membicarakan tentang sesuatu.
"Kau kenapa ke sini? Aku pikir kau bekerja di klinik?" timpal Andrew sembari memasang pose berkacak pinggang.
"Tentu saja untuk menambah pundi-pundi uangku! Kau pikir aku tidak kewalahan mengurus dua anak sendirian? Lagi pula sejak kapan kau peduli kepadaku? Kau bahkan tidak datang ke rumahku saat aku mengundangmu untuk makan malam tempo hari," balas Lily dengan dahi yang berkerut. Kedua tangannya terlipat di depan dada.
"Aku sudah bilang kepadamu, kalau aku sibuk mengurus kasus mendesak saat itu." Andrew berhenti berkacak pinggang. Dia justru mendadak merasa bersalah. Dirinya memang selalu memilih pekerjaan dibanding apapun.
"Lupakan! Aku tidak ingin membicarakannya lagi. Pulanglah!" hardik Lily. Kemudian segera kembali bergabung bersama Ryan dan Ruby. Namun Andrew dengan sigap memegangi lengan Lily.
"Berhati-hatilah dengan mereka. Aku baru saja mendapatkan banyak keluhan dari tetangga di sekitar sini, kalau ada banyak kelompok orang-orang aneh yang datang. Banyak yang yakin kalau mereka adalah komplotan penjahat. Aku sedang berusaha menyelidikinya sekarang!" jelas Andrew disertai dengan mimik wajah yang serius.
"Mereka terlihat normal bagiku," sahut Liliy sambil melepaskan genggaman tangan Andrew dengan paksa. Dia lantas berlalu meninggalkan Andrew di halaman belakang.
Andrew menghembuskan nafas berat dari mulut. Kemudian segera menyusul sang adik untuk masuk ke dalam.
Setibanya di ruang tengah, Andrew langsung mendapatkan teguran dari Lily. Adiknya tersebut menginginkannya untuk segera pulang.
"Andrew katanya harus pulang. Dia baru saja mendapatkan telepon mendesak dari atasannya. Bukankah begitu?" Lily berakhir dengan menatap Andrew.
"Benarkah? Ah, kalau begitu sebaiknya kau cepat-cepat pergi. Terima kasih atas kunjungannya, Drew!" ucap Ryan seraya merangkul Andrew. Dia sangat bersemangat saat mendengar Andrew akan pergi.
"Sama-sama, Ryan. Senang bertemu denganmu," jawab Andrew dengan nada melemah. Alhasil dia benar-benar pergi dari rumah Ryan. Padahal sebenarnya, Andrew memilih berdiam diri di mobilnya yang terparkir di seberang jalan. Dia hendak memastikan keadaan Lily baik-baik saja.
Ruby segera mendapatkan pemeriksaan dari Lily. Dia tidak hanya melakukan konsultasi, tetapi juga saran-saran baik agar janin yang ada di dalam kandungannya tetap sehat. Konsultasi dilakukan cukup lama, karena Ruby menceritakan banyak keluhan tentang rasa mualnya. Lily hanya bisa memberitahukan Ruby untuk bertahan sampai ke tahap trimester kedua masa kehamilan. Sebab rasa mual adalah hal alami yang harus dilalui oleh kebanyakan ibu hamil.
"Terima kasih, Lily. Kau sangat membantu," ungkap Ruby. Tersenyum simpul sebagai penggambaran rasa terima kasihnya.
__ADS_1
Lily membalas senyuman Ruby. Lalu menikmati suguhan minuman dan makanan dari Ruby. Hari kebetulan sudah malam. Jarum jam tampak menunjuk ke angka tujuh. Lily harus berpamitan untuk pulang.
"Ruby, kau lebih baik membersihkan dirimu dengan air hangat. Aku sudah menyiapkannya untukmu tadi." Ryan baru saja datang.
"Benarkah?" Ruby mengangkat kedua alis. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya. Ruby berdiri dan melayangkan sebuah kecupan singkat ke bibir Ryan. "Thanks, Babe!" katanya.
Apa yang dilakukan Ruby membuat Lily dan Frans merasa canggung. Mereka harus mengalihkan pandangan ke arah lain secara bersamaan.
"Sama-sama, Babe. Biar aku yang mengurus kepulangan Lily, kau mandi saja," saran Ryan.
Ruby setuju saja, dan segera pergi ke kamar mandi. Dia mencoba melepas rasa penat yang terasa dengan berendam di bath up.
"Kau suami yang sangat perhatian," komentar Lily seraya tersenyum tipis.
Ryan hanya membisu. Sebelum bicara dia melihat ke arah tangga lebih dahulu. Memastikan Ruby benar-benar telah pergi. Lalu duduk ke sofa dengan tenang.
"Lily, aku ingin kau membantuku untuk menggugurkan kandungan Ruby," ujar Ryan. Menyebabkan mata Lily sontak membulat sempurna.
"Ya, mungkin saja. Aku memang agak gila. Terutama untuk orang normal sepertimu. Pokoknya lakukan saja perintahku, maka aku akan membayar dua kali lipat." Ryan menawarkan banyak uang kepada Lily. Akan tetapi Lily sama sekali tidak terbuai, dia masih merasa miris dengan keinginan Ryan terhadapnya.
"Listen! Aku adalah seorang dokter kandungan. Tugasku adalah menyelamatkan janin yang ada di dalam perut, bukan membunuhnya!" tegas Lily. Ia langsung memasang tasnya, lalu mencoba beranjak pergi. Namun usahanya tidak berhasil, karena Frans sudah menghadangnya dengan todongan pistol.
"Kau sudah terlanjur terlibat Lily. Katakan kepadaku, apa yang harus aku lakukan dengan kedua anakmu di rumah, jika kau menolak keinginan Bosku?" Frans berucap dengan percaya diri. Tangannya masih sibuk menodongkan pistol ke arah Lily.
"Dia juga punya kakak, Frans. Dan kakaknya terlihat benar-benar bodoh bagiku. Dia bahkan ditipu oleh orang seperti Ethan. Pasti gampang sekali menghabisinya," remeh Ryan. Kemudian tergelak kecil bersamaan dengan Frans.
"Kau sangat keterlaluan! Andrew ternyata benar. Kalian ternyata adalah kumpulan orang-orang jahat!" geram Lily tak percaya. Dia tiba-tiba menyesal, karena tidak medengarkan perkataan kakaknya sendiri.
"Jadi, tidak usah basa-basi. Kau setuju atau tidak?" tanya Ryan. Ia masih duduk santai di sofa. Mengelus dagunya dengan pelan.
__ADS_1
Lily gemetaran. Tanpa terasa, air matanya berjatuhan dipipi. Rasa takut dan penyesalan menyelimutinya. Lily terdiam cukup lama, karena dirinya sedang berpikir untuk memutuskan.
Ryan yang tadinya tersenyum dan tertawa jahat, mendadak menyadari suatu hal. Raut wajahnya berubah menjadi datar, ketika melihat Lily mengeluarkan air mata.
"Ba-baiklah... kumohon jangan sentuh Andrew dan anak-anakku..." Lily mengungkapkan keputusan akhir, dan kebetulan harus mengakhiri juga katerpakuan Ryan.
"O-oke, kau bisa beraksi lagi lusa nanti. Frans akan mengikutimu untuk sementara," kata Ryan sambil menunjuk ke arah Frans. Dia berbicara tergagap akibat mulai meragu dengan tindakannya.
"Apa? Kenapa dia harus ikut denganku?" tanya Lily yang tambah cemas.
"Aku harus memastikan kau tidak melarikan diri atau melaporkanku kepada polisi," jelas Ryan. Dia bangkit dari sofa. Kemudian memberi sinyal kepada Frans, untuk membawa Lily pergi.
Lily cemberut sembari melemparkan tatapan tajam kepada Ryan. Ia terpaksa mengikuti Frans yang menyeretnya pergi.
Ryan mendengus kasar. Satu tangannya mengacak-acak rambutnya yang hitam. Atensinya tertuju keluar jendela.
'Tunggu, apa aku sudah sangat keterlaluan?' batin Ryan. Ada perasaan berat dihatinya. Dia tersadar saat melihat tangisan yang terpancar diwajah Lily tadi.
"Ryan! Kemarilah, Babe!" lamunan Ryan terhenti, ketika Ruby berteriak memanggil namanya. Dia langsung bergerak untuk mendatangi Ruby.
Aroma harum sabun menyeruak jelas, saat Ryan melangkah masuk ke kamar mandi. Ruby terlihat tersenyum lebar seraya mengangkat salah satu kakinya ke atas. Gadis itu sengaja menggoda suaminya dengan pangkal pahanya yang mulus dan putih.
"Bergabunglah bersamaku," ujar Ruby dengan lirikan mautnya. Satu tangannya menopang kepalanya sendiri.
Ryan segera melepas semua pakaiannya. Sampai hanya menyisakan celana pendek. Dia lalu bergabung bersama Ruby untuk berendam di dalam bath up.
Ryan sedang tidak bersemangat kala itu, dia semakin merasa bersalah ketika menyaksikan tawa bahagia dari Ruby. Rasa kemanusiaannya perlahan muncul. Bertempur dengan trauma yang dia alami saat kecil.
Ruby menghampiri Ryan. Dia duduk di atas pangkuan Ryan. Mulutnya mulai memberikan sentuhan lembut ke bibir suaminya.
__ADS_1
"Kau membuatku terharu hari ini, Babe. And i love you so much!" ungkap Ruby sambil membawa Ryan ke dalam pelukannya.