Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 81 - Membutuhkan Teman [Season 2]


__ADS_3

...༻❀༺...


Suara mesin mobil berdecit. Ryan berhasil menghentikan mobilnya tepat waktu. Sementara truk yang ada di hadapannya dapat melaju ke jalur sebelah kiri.


"Sudah kubilang, jangan menelepon saat sedang mengemudi!" geram John sembari mengatur nafas akibat dirundung perasaan panik.


"Bisakah kau ambilkan ponselku? Lalu beritahu Ruby kalau aku akan pulang secepat mungkin!" sahut Ryan. Tidak peduli dengan geraman John yang cenderung seperti memarahinya.


John mendengus kasar. Kemudian segera meraih ponsel Ryan yang terjatuh ke bawah kakinya. Dia langsung meletakkan ponsel ke salah satu kupingnya.


"Ryan! Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja kan?!" timpal Ruby dari seberang telepon. Sedari tadi dia ternyata masih belum mematikan panggilan telepon. Kemungkinan besar Ruby mendengar keributan yang terjadi.


"Ya, Ryan baik-baik saja. Dia bilang akan segera pulang secepat mungkin," ujar John. Sebelum Ruby sempat menjawab, ponsel Ryan mendadak kehabisan baterai. Membuat alat komunikasi tersebut seketika mati dalam sekejap. Saat itulah perhatian John dicuri oleh beberapa mobil polisi yang mengejar dari belakang.


"Mereka mengetahui pelarian kita!" ucap John seraya menoleh ke arah belakang.


"Tenang saja. Mereka tidak akan bisa menangkap kita. Aku pastikan itu!" ungkap Ryan percaya diri. Dia fokus mengemudi. Melajukan mobil dalam kecepatan tinggi. Hingga dirinya keluar dari jalur padatnya transportasi.


Ryan sengaja membawa mobil ke area sepi. Tempat dimana pinggiran jalan kanan dan kiri hanya di isi oleh pepohonan yang rindang. Sesekali polisi akan menembakkan peluru ke arah mobilnya. Namun hal itu sama sekali tidak melunturkan rencana brilian Ryan.


"Katakan kepadaku, mengenai rencanamu sekarang?!" tanya John. Jujur saja, sejak tadi jantungnya berdebar tidak karuan. Dia tentu khawatir sesuatu hal buruk akan menimpanya dan Ryan.


"Kau bisa berenang bukan?" bukannya menjawab, Ryan malah balas bertanya.


"Apa kau bilang?!" John sontak tak mengerti. Otaknya segera memikirkan segala kemungkinan yang berkaitan dengan berenang. Kesimpulannya tentu saja adalah perairan.


"Shi*t! Apa kau akan melakukan rencana gila?! Aku tahu beberapa meter lagi akan ada tebing yang mengarah ke lautan! Katakan kepadaku kalau dugaanku salah!" kata John dengan nada penuh penekanan. Dia menatap tajam Ryan.


"Kita tidak punya pilihan lain, John. Bukankah kau sendiri yang memilihku terlibat dengan masalahmu?!" balas Ryan. Dia menginjak pedal gas lebih kuat. Terutama ketika dirinya sudah dapat menyaksikan hamparan laut dari kejauhan.


Dor!

__ADS_1


Dor!


"Aku peringatkan kalian untuk segera menghentikan mobil!!!"


Dari belakang polisi terus berupaya menghentikan mobil yang dikendarai oleh Ryan. Tembakan terakhir mereka sukses memecahkan salah satu ban belakang mobil Ryan.


Mobil Ryan sempat oleh dalam sesaat. Akan tetapi Ryan berusaha keras mempertahankannya untuk tetap berada dalam jalur.


"Come on, Ryan!" pekik John. Dia mengambil pistol milik Ryan yang disimpan dalam dashboard mobil. Lalu segera melakukan serangan balasan. Tembakan John sukses mengenai jendela kaca depan mobil polisi. Salah satu mobil polisi sontak berhenti, dan kini yang tersisia tinggal satu mobil lagi.


Tanpa diduga ada dua mobil polisi lagi yang bergabung dari kejauhan. John hanya bisa mengumpatkan kata makian dari mulutnya. Apalagi ketika dirinya telah kehabisan peluru.


Ryan yang merasa sudah tiba di tempat yang tepat, langsung mengarahkan mobilnya menuju tebing. Hingga mobil yang dinaikinya dan John melayang di udara. Mengikuti gravitasi, kemudian terjatuh ke dalam lautan.


Polisi yang mengutamakan kerjasama dan keselamatan, otomatis berhenti sebelum ikut terjatuh ke dalam tebing. Mereka tidak mampu membawa Ryan maupun John untuk dimasukkan ke penjara.



Di sisi lain, Ruby masih mencoba menghubungi Ryan. Namun nomor yang diteleponnya tentu dalam keadaan tidak aktif. Sebab ponsel Ryan memang sudah kehabisan baterai.


Ruby kembali meraih ponselnya. Dia menjelajah internet. Melihat-lihat makanan yang dapat menarik perhatiannya. Namun hidangan yang tetap menjadi pemenangnya hanyalah spageti. Sayangnya, tidak ada restoran di kota Virginia, yang mengadakan pelayanan jasa antar hidangan spageti.


Setelah lelah melihat-lihat internet. Ruby bergumul dengan kontak nomor telepon. Dia lantas menghubungi Gaby. Berharap gadis itu memiliki waktu untuk menemaninya.


"Ruby, bagaimana kabarmu?" sapa Gaby dari seberang telepon.


"Tidak baik. Aku benar-benar berantakan sekarang," jawab Ruby dengan helaan nafas berat.


"Apa?! Jangan bercanda. Bukankah kau dan Ryan masih dalam masa-masa bulan madu? Kenapa bisa menjadi berantakan? Apa kau sedang datang bulan? Makanya suasana hatimu buruk sekarang..." tebak Gaby dengan gelak kecilnya.


"Lebih buruk dari itu, aku pikir..." balas Ruby.

__ADS_1


"Hahaha! Ayolah, apa yang bisa lebih buruk selain datang bulan?" Gaby menimpali.


"Hamil..." Ruby menjawab singkat. Satu kata tersebut tentu sukses membuat Gaby begitu kaget.


"Apa?! Secepat itu? Sial! Apa kemarahan Ryan yang membuatmu merasa berantakan?!" tanya Gaby yang merasa cemas.


"Ryan belum tahu. Aku mencoba memberitahunya, tapi nomornya tidak aktif. Aku sangat bosan sekarang, Gabe. Bisakah kau kemari, dan temani aku?" mohon Ruby.


"Ya, tentu saja. Tapi aku dan Mike sedang ada di Kanada. Kemungkinan besar kami akan tiba besok ke tempatmu. Aku dan Mike akan datang secepat mungkin, oke? Apa kau benar-benar sangat membutuhkan teman sekarang?" Gaby menjelaskan panjang lebar. Diakhiri dengan pertanyaan lugas.


"Sangat, orang-orang di lingkunganku semuanya menyebalkan. Dan aku--"


Suara bel pintu tiba-tiba terdengar. Ucapan Ruby sontak terpotong. Meskipun begitu, dia belum mengakhiri panggilannya.


"Apa? Siapa itu?" tanya Gaby. Ia nampaknya juga dapat mendengar bel pintu yang berbunyi.


"Entahlah. Sepertinya ada seseorang yang bertamu," ujar Ruby menduga. Matanya tertuju ke arah jendela depan yang tertutup dengan gorden putih. "Aku harus membuka pintu. Menurutku itu adalah salah satu orang sebelah rumah," lanjutnya.


"Baiklah, berhati-hatilah... dan satu hal lagi. Jika kau butuh teman, aku akan menelepon salah satu bawahan Ryan yang keberadaannya paling dekat dengan tempatmu," usul Gaby. Sebelum benar-benar mematikan panggilan.


"Baiklah, suruh dia datang kemari." Ruby menyetujui usulan Gaby. Pembicaraan mereka berakhir disitu. Selanjutnya Ruby bergegas membuka pintu depan. Pupil matanya membesar, saat melihat sosok yang datang ternyata adalah Andrew.


"Biar kutebak. Kau belum makan bukan?" timpal Andrew. Di salah satu tangannya terdapat tas karton yang entah apa isinya.


"A-aku..." Ruby tidak tahu harus berkata apa. Ingin menolak susah, apalagi mengusir.


"Aku membelikanmu spageti. Aku tahu alasan kau tumbang di mini market karena makanan itu. Sebenarnya aku mau membelikannya saat di rumah sakit. Tapi, setelah mengetahui kenyataan kau sudah mencopet dompetku... aku mengurungkan niat." Andrew menyerahkan tas kartonnya kepada Ruby.


"Bagaimana kau tahu, kalau aku sangat menginginkan spageti?" Ruby bertanya. Masih dalam keadaan kelopak mata yang melebar. Tangannya menerima tas pemberian Andrew.


Andrew terkekeh. Membayangkan sesuatu hal lucu dalam benaknya. "Ketika dalam perjalanan ke rumah sakit, kau terus mengigau dan menyebut kata spageti," imbuhnya memberikan keterangan.

__ADS_1


"Ah, begitu. Kau sebenarnya tidak perlu repot-repot," respon Ruby sambil mengusap tengkuk tanpa alasan. Suasana terasa begitu canggung.


"Kumohon jangan salah paham. Aku hanya mencoba membantumu. Mrs. Laura bilang, kau orang baru di sini. Suamimu sedang pergi, dan aku yakin kau masih belum punya teman," tutur Andrew. Menambahkan senyuman tipis berlesung pipit.


__ADS_2