Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 70 - Death Of Ambition


__ADS_3

...༻❀༺...


Ambisi yang besar, itulah yang menjadi prinsip hidup Sarah. Bukan tanpa alasan dirinya menjadi orang yang dikejar-kejar oleh penjahat serta polisi. Tidak ada yang tahu cerita masa lalunya. Kecuali rekan-rekan Sarah di kepolisian. Sepertinya Sarah memang dilahirkan untuk menjadi pengkhianat sejati.


Sarah dahulu adalah salah satu aparat kepolisian, tetapi dia memilih berhenti dan bergabung bersama komplotan penjahat. Dia pergi kesana kemari, hingga akhirnya bertemu dengan Ryan. Kejeniusan yang dimiliki Sarah, membuat Ryan tertarik untuk mengajaknya bergabung ke organisasi mafianya, bahkan sampai menikahinya.


Naluri pengkhianat dalam diri Sarah sempat hilang sesaat, karena perlakuan Ryan terhadapnya. Sebab Ryan berbeda dari rekan-rekannya terdahulu. Ryan menghargai, adil, tegas dan tidak munafik. Tidak heran, Sarah selalu berusaha membangun hubungan baik kepada Megan dan juga Ruby. Sebab Sarah selalu merasa dirinya yang paling ahli terhadap apapun. Jadi Ryan pasti akan mengutamakannya dibanding Megan dan Ruby. Namun pada kenyataannya tidak. Ruby adalah yang utama bagi Ryan.


Sarah semakin marah, ketika Ryan mengakhiri hubungan dengannya di waktu yang tak disangka. Sarah lantas menganggap dirinya hanya sebagai anggota biasa. Bukan lagi salah satu orang penting di The Shadow Holo. Padahal Sarah selalu mengharapkan kekuasaannya akan bertambah banyak. Tetapi akibat kehadiran Ruby, posisinya malah semakin turun dimata para anggota The Shadow Holo. Termasuk Ryan sendiri.


Sekarang apapun yang terjadi, Sarah tidak ingin kalah. Apalagi dari Megan dan Ruby. Dua gadis yang selalu dianggapnya bukan apa-apa. Ruby yang baru terjatuh ke lantai, bergegas bangkit kembali. Dia mencoba membantu Megan yang masih kesulitan merebut pisau.


Ruby melakukan serangan balasan. Dia meninju area perut Sarah sekuat tenaga. Saat itulah pisau berhasil diambil oleh Ruby. Akan tetapi, Megan segera merampasnya dari Ruby. Kemudian menghujamkan pisau ke dada Sarah.


Tusukan pertama, membuat Sarah terjatuh ke lantai. Namun Megan belum berhenti di sana. Dia kembali memberikan tusukan beberapa kali.


Seolah seperti orang kesetanan, Megan menghujamkan pisau beberapa kali ke badan Sarah. Bulir-bulir darah bercipratan kemana-mana termasuk ke wajah Megan sendiri.


Ruby kini tidak akan menyelamatkan Sarah lagi seperti sebelumnya. Dia mematung memperhatikan keberingasan Megan.


Perlahan Sarah kehilangan banyak darah. Hujaman yang deberikan Megan membuat beberapa organ dalamnya hancur. Dia mulai kehabisan nafas, sampai pada akhirnya, Sarah pun kehilangan nyawa.


Setelah dirasa cukup menyakiti Sarah, Megan akhirnya berhenti menggila. Rasa sakit akibat tusukan yang tadi sempat tidak terasa, harus kembali dideritanya. Megan menjatuhkan diri, dan telentang di samping jasad Sarah. Memegangi bagian perutnya yang terus merembeskan darah segar.


Ruby lekas-lekas membantu Megan. Dia mencoba membawanya bangkit untuk berjalan. Tetapi Megan menolak, dia merasa sudah tidak sanggup lagi berdiri.

__ADS_1


"Pergilah Ruby... biarkan saja aku mati... kau menginginkannya bukan?..." ucap Megan sembari menahan rasa sakitnya.


Sementara Ruby bersikeras memaksanya untuk bangkit. Namun Megan tetap pada pendiriannya. Dia melayangkan sebuah tamparan ke pipi, agar Ruby berhenti memaksanya.


"Pergilah, bit*ch! Kau harus tahu... aku melakukan semua ini bukan karena dirimu, tetapi karena Ryan... dan juga The Shadow Holo... Aku membencimu, Ruby! Persis seperti Sarah." Megan menuturkan dengan memancarkan binar getir, yang perlahan memendarkan cairan bening. Air matanya berhasil berjatuhan dipipinya.


Megan memang terkesan selalu menunjukkan ketidaksukaannya secara blak-blakan. Dia sudah beberapa kali berusaha menyingkirkan Ruby. Dari cara biasa hingga cara yang ekstrem sekali pun. Tetapi alasannya sangat berbeda dari Sarah. Alasan utama Megan melakukannya hanya karena cemburu. Hanya karena perasaan cintanya terhadap Ryan. Megan ingin juga menjadi gadis yang dicintai oleh Ryan. Baginya Ryan seperti satu-satunya harapannya untuk hidup. Jujur saja, andai Ryan tidak menyelamatkannya ketika insiden bloody wedding, mungkin Megan akan memilih bunuh diri. Gadis berambut pirang tersebut merasa tidak mempunyai siapapun lagi selain Ryan.


"Jika sekarang kau mencoba membantuku dan bisa membuatku selamat... aku berjanji akan merebut Ryan darimu..." ungkap Megan lagi. Dia mengarahkan bola matanya ke arah Ruby. Tergelak kecil disela-sela tangis dan penderitaannya.


Ruby hanya bisa menangis, sembari berupaya menutupi luka tusuk diperut Megan dengan jaketnya. Apa yang dikatakan Megan hanya terdengar samar ditelinga Ruby. Menurutnya Megan hanya berupaya menyuruhnya pergi.


Megan melemah, hingga tidak meneruskan perkataannya lagi. Matanya perlahan terpejam. Ruby lantas memanfaatkan momen itu untuk menyelamatkan Megan. Namun belum sempat dirinya membopong Megan, seseorang dari belakang tiba-tiba menodongkan pistol ke kepalanya.


"Hello, cantik. Kau harus ikut denganku, oke?" suara seorang perempuan terdengar. Dia menambahkan tawa di akhir pengucapannya. Ternyata perempuan tersebut adalah Liana. Salah satu prajurit andalannya Jordan.


Tidak lama kemudian, Ryan masuk ke dalam gedung. Dia berharap bisa menemukan Ruby. Kebetulan Ethan ikut bersamanya. Keduanya baru saja bekerjasama menyelinap masuk ke markas. Untung saja kebanyakan anggota The Black Cindicate meninggalkan beberapa titik lokasi penting.


Ryan berlari menghampiri Megan. Dia memeriksa keadaan gadis berambut pirang itu. Ryan dapat merasakan denyut nadi Megan. Pertanda kalau Megan masihlah hidup.


"Ethan, bawalah salah satu mobil Jordan ke sini. Aku pikir Megan masih bisa diselamatkan!" ujar Ryan.


"Baiklah!" sahut Ethan. Lalu lekas-lekas menuruti suruhan dari Ryan.


"Ryan..." Megan mencoba membuka matanya. Suara Ryan membuatnya kembali memaksakan diri untuk berbicara.

__ADS_1


"Bertahanlah, aku akan menyelamatkanmu!" kata Ryan. Dia berniat menggendong dengan kedua tangannya, namun Megan menghentikan pergerakan tangannya.


"Kau akan menyesal jika membiarkanku hidup, Ryan..." imbuh Megan. Dia kini mampu menatap Ryan. Wajahnya mulai memucat. Keringatnya terus mengalir bersamaan dengan darah yang keluar dari luka diperutnya.


Ryan bersikeras untuk membawa Megan. Menggendongnya dengan ala bridal style.


"Kau harus menyelamatkan Ruby... aku tadi mendengar seseorang membawanya... aku sudah tidak berdaya untuk menyelamatkan..."


"Shut up, Megan!" perintah Ryan. Dia lelah mendengar celotehan Megan yang sedang sekarat.


Mata Megan yang melemah dan berkunang-kunang, berusaha memandangi wajah Ryan. Lelaki tersebut masih sibuk menggendongnya sambil berlari. Perlahan Megan mengembangkan senyuman. Selanjutnya dia mengalihkan tatapannya ke langit. Kebetulan waktu telah memasuki pagi buta. Matahari tampak mengintip dari ufuk timur.


Ryan berlari sambil sesekali bersembunyi. Dia menunggu kedatangan Ethan yang tak kunjung datang. Ryan semakin khawatir, saat tubuh Megan mendingin dan tambah berat dari pada beberapa menit lalu. Pertanda kalau keadaan gadis pirang itu tambah darurat.


Dari kejauhan terlihat mobil yang melaju. Pengemudinya adalah Ethan. Menjalankan mobil dengan ugal-ugalan, serta sengaja beberapa kali menabrak anggota The Black Cindicate yang mencoba menghalangi.


Syuuut!


Ethan menghentikan mobilnya tepat di hadapan Ryan. Tanpa pikir panjang, Ryan langsung membawa Megan masuk ke dalam mobil. Sedangkan dirinya, memilih tidak ikut.


"Kau mau kemana?!" timpal Ethan.


"Pergilah! Aku akan mencari Ruby!" sahut Ryan.


"Tetapi setidaknya tunggulah Henry dan yang lain. Terlalu berbahaya jika kau melakukannya sendirian!" ujar Ethan memberi tahu.

__ADS_1


"Apa kau sekarang mencemaskanku?!" bukannya menjawab Ryan justru melontarkan kalimat sarkas.


Ethan hanya menghela nafasnya. Kemudian segera menjalankan mobil menerobos keluar dari markas The Black Cindicate.


__ADS_2