
...༻❀༺...
Hari demi hari berlalu. Musim dingin telah tiba. Salju sudah memenuhi seluruh kota. Di setiap toko dan bangunan mulai memperlihatkan pohon-pohon natal yang penuh akan lampu kerlap-kerlip. Semua orang mulai disibukkan dengan liburan, dan fokus kepada keluarga masing-masing. Tetapi tidak untuk para penjahat, momen tersebut adalah kesempatan emas untuk beraksi. Bank beserta tempat-tempat umum tidak dipenuhi lagi dengan pekerja.
Ryan sedang menpersiapkan misi musim dinginnya. Tidak seperti para penjahat lainnya yang cenderung berminat mendatangi bank, Ryan lebih tertarik dengan museum. Banyak barang antik dan berharga yang dia incar.
Berbeda dengan Ryan yang disibukkan dengan rencana untuk misinya, Ruby tengah gencar berlatih bela diri. Kemampuannya semakin membaik. Dia yang sempat tidak mampu push up sebanyak seratus kali, kini dapat melakukannya lebih dari jumlah itu. Dua hari yang lalu Ruby sempat bertanding dengan Mike. Hebatnya dalam pertandingan pertamanya tersebut, Ruby langsung memperoleh kemenangan.
Kemenangan semakin membuat Ruby bersemangat untuk terus berlatih. Dia bahkan menghabiskan waktu satu jam lebih di ruang latihan. Hari ini kebetulan Max yang menjadi lawan Ruby di atas ring. Pertandingan dilakukan secara tertutup.
"Kenapa pertandingan ini harus dirahasiakan?" tanya Max sembari membuka baju atasan. Kemudian memakai sarung tinju dikedua tangannya.
"Memangnya kenapa? Aku masih belum siap bertanding di depan banyak pasang mata," balas Ruby. Dia sekarang hanya mengenakan tanktop dan celana pendek selutut. Rambut panjangnya di ikat dengan gaya ekor kuda. Gadis tersebut baru selesai berlatih meninju samsak. Keringat yang mengkilap berhasil membuat kulit putihnya menjadi segar dan menggoda.
"Oke, lebih baik kalian berdua naik saja ke atas ring. Sebelum ada banyak orang yang berdatangan ke ruangan ini." Mike memberikan saran. Dirinya akan menjadi wasit untuk pertandingan Ruby dan Max.
Setelah mengenakan sarung tinju, Ruby segera naik ke atas ring. Berhadapan Max yang telah siap dengan segala pemanasannya. Ruby dan Max saling beraksi, ketika Mike memberikan aba-aba.
"Kau harus tahu, aku tidak akan berbelas kasih. Meski kau adalah seorang perempuan," ujar Max. Dia dan Ruby sedang berjalan mengitar membentuk lingkaran. Sedang sama-sama memancarkan tatapan penuh tekad.
"Siapa yang butuh belas kasihmu!" sahut Ruby. Dia melakukan serangan lebih dahulu. Melayangkan tinjunya tepat ke wajah Max. Akan tetapi, Max dengan lihainya menghindar. Sehingga tinju yang diberikan Ruby tidak mengenai sasaran.
Max tergelak untuk menertawakan serangan Ruby yang meleset. Dia segera membalas dan mumukulkan tinjunya secara tiba-tiba. Menyebabkan Ruby tidak sempat lagi untuk menghindar. Bagian dagu dan perutnya sontak terkena tinju Max. Kaki Ruby otomatis melangkah mundur. Walaupun begitu, gadis tersebut tidak mau menyerah. Dia menggertakkan gigi, lalu melancarkan serangan bertubi-tubi.
__ADS_1
Benar saja, tinjuan berantai Ruby berhasil membuat Max kewalahan. Akibat merasa termotivasi, Ruby menambahkan satu tendangan ke kaki Max. Alhasil Max terhuyung dan terjatuh di lantai. Melihat adegan tersebut, Mike langsung bersuara dan menjeda pertandingan.
"Apa-apaan itu, Ruby? Apa Mike yang mengajarkannya?" timpal Max seraya mencoba bangkit untuk berdiri.
"Tidak! Aku tidak pernah mengajarinya untuk berbuat curang!" Mike melakukan pembelaan terhadap dirinya sendiri.
"Maaf, aku merasa terlalu bersemangat. Mike benar, dia memang tidak pernah mengajariku begitu." Ruby tersenyum kecut sambil mengusap tengkuknya tanpa alasan.
Ceklek...
Pintu terbuka pelan. Muncullah sosok Sarah. Matanya langsung tertuju ke arah Ruby. Tanpa bicara sepatah kata pun, gadis berambut pendek itu berjalan menaiki ring. Dia menanggalkan kaos bajunya. Hingga hanya menyisakan tanktop dan celana yang dikenakannya.
"Sarah, apa yang kau lakukan?" tanya Ruby. Entah kenapa kakinya melangkah mundur. Seakan mencoba menghindari Sarah. Dia berharap apa yang dilakukan Sarah tidak seperti dugaannya.
Ruby memutar bola mata jengah. Dia sama sekali tidak terancam terhadap tatapan tajam Sarah. Namun tidak untuk Mike dan Max, mereka tentu mengkhawatirkan Ruby.
"Ruby aku sarankan jangan. Kau baru berlatih beberapa minggu, tidak sebanding dengan Sarah yang sudah berlatih bertahun-tahun." Max berbisik ke telinga Ruby. Dia tidak mau melihat Ruby dipukuli sampai babak belur oleh Sarah.
Bukannya terpengaruh, Ruby malah marah dengan ucapan Max. Dahinya mengerut kesal. "Kenapa kau malah membandingkan itu? Kau pikir aku tidak akan menang?!" tukasnya, yang seketika berhasil membuat Max bungkam.
"Pikirkanlah baik-baik dahulu. Kau tidak akan bisa ikut misi musim dingin jika jatuh sakit." Mike memegangi lengan Ruby. Raut wajahnya tampak cemas.
"Aku tidak peduli!" hardik Ruby. Dia menghempaskan tangan Mike dari lengannya. Ruby lantas berjalan ke hadapan Sarah. Pertukaran tatapan tajam pun terjadi di antara keduanya. Mike akhirnya tidak punya pilihan lain selain memulai pertandingan.
__ADS_1
Baru saja Mike bersuara, Sarah sudah melancarkan tinjunya. Gerakannya begitu gesit dan tampak kuat. Untungnya Ruby mampu menghindar.
Sarah bertekad akan membuat Ruby kewalahan. Apalagi tenaganya sekarang sedang berada di level tinggi. Dia tidak memberi Ruby kesempatan untuk membalas. Tinjunya terus dilayangkan secara beruntun. Menyebabkan Ruby otomatis terpojok ke tali yang mengelilingi ring.
Mike mencoba menghentikan pertandingan. Namun Sarah sama sekali tidak menghiraukannya.
"Sarah! Hentikan! Kau curang!" protes Ruby. Wajahnya terlihat meringis, akibat rasa sakit yang dia terima dari tinjuan Sarah.
"Bukankah kau tadi bertindak curang saat melawan Max? Jadi, terimalah balasannya!" sahut Sarah. Masih belum berhenti memukuli.
"Miss, kumohon berhenti. Anda sudah berlebihan." Mike memberanikan diri untuk menghentikan pergerakan Sarah. Akan tetapi, dirinya malah mendapat satu pukulan tinju dihidungnya.
"Jangan menggangguku!" geram Sarah. Dia lengah sejenak karena harus mengatasi kelakuan Mike. Saat itulah Ruby memanfaatkan peluang untuk membalas.
Ruby menyerang Sarah dari belakang. Hingga menyebabkan keduanya jatuh bersamaan ke lantai. Sarah dalam keadaan telentang. Sedangkan Ruby berada di atas badan Sarah. Ruby segera memukuli Sarah sekuat tenaga. Tindakannya tentu membuat Sarah bertambah kesal.
Sarah mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menangkis serangan Ruby. Dia berupaya mengambil alih posisi. Tetapi Ruby tidak akan membiarkannya semudah itu. Entah apa yang dipikirkannya, sehingga dirinya nekat menggigit kepala Sarah.
Ruby sangat kesal itulah yang dia rasakan. Dia tidak mau dikalahkan dengan mudahnya. Ruby hanya membuktikan kalau dirinya tidak pantas untuk diremehkan.
"Aa-aa-aaaakhh!!!" Sarah sontak mengerang kesakitan, karena gigitan yang dilakukan Ruby lumayan kuat. Keributan yang terjadi membuat beberapa orang berdatangan ke ruang latihan.
Menyaksikan ada banyak orang yang menonton, Ruby bergegas berdiri. Kemudian keluar dari ring. Mimik wajahnya tampak cemberut.
__ADS_1
Sementara Sarah baru merubah posisi menjadi duduk. Dia menyalangkan mata ke arah Ruby. Sebenarnya dirinya punya alasan kuat untuk marah, karena Ryan baru memberitahukannya kalau Ruby-lah yang akan memimpin misi musim dingin.