Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 118 - Kabar Tentang Ryan [Season 2]


__ADS_3

...༻❀༺...


Ryan dimasukkan ke dalam penjara, bersamaan dengan Ethan dan John. Ketiganya bahkan sudah mengenakan seragam penjara.


"Ryan, kau harus lakukan sesuatu! Aku tidak mau berlama-lama di sini," pungkas John sembari duduk dengan ekspresi muram.


"Kau pikir aku mau berlama-lama di sini?" balas Ryan. Dia mengacak-acak rambutnya frustasi. Sedangkan Ethan sudah terlihat rebahan dan memejamkan mata. Sebab ini bukan pertama kali dirinya berada di penjara.


Disertai dengusan kasarnya, Ryan mencoba duduk tenang. Memikirkan cara untuk keluar dari jeruji besi yang sekarang menjebaknya. Tidak lama kemudian, terdengar suara derap kaki yang kian mendekat.


"Sedang memikirkan cara untuk melarikan diri?" seru Sebastian. Ia dengan santainya memasukkan kedua tangan ke kantong celana.


Ryan berdecak kesal dan menyahut, "Bukankah kau kepolisian dari Virginia? Aku pikir kau tersesat."


Sebastian menggelengkan kepala pelan. "Terserah apa katamu. Tapi aku hanya ingin menyampaikan satu hal kepadamu, kalau kau tidak akan pernah keluar dari sini!" ujarnya. Kemudian langsung beranjak pergi.


Ryan berseringai sebal. Dia perlahan menyandarkan punggung ke dinding. Lalu menutup matanya. Dirinya berusaha berpikir positif. Setidaknya keadaan Ruby dan darah dagingnya sudah terjamin aman.


Di sisi lain, Gaby baru mendapat kabar dari Frans mengenai Ryan. Ia tentu sangat terkejut. Bukan hanya itu, keadaan markas juga semakin terancam. Frans dan beberapa orang lainnya akan pergi bersembunyi ke tempat aman. Menjalankan misi penghapusan data dengan bantuan hacker handal.


"Bagaimana dengan Bos? Apa kalian tidak akan melakukan misi untuk membebaskannya?" timpal Gaby yang merasa khawatir.


"Sebenarnya Bos ada memberitahuku. Kalau dia dan yang lain tertangkap, aku tidak diperbolehkan untuk melakukan apapun!" sahut Frans.


"Kenapa begitu?" kening Gaby mengernyit.


"Entahlah. Bos tidak memberitahukan alasannya. Sepertinya dia punya rencana. Selain itu, dia mungkin tidak ingin melihat banyak orang yang tertangkap." Frans menyimpulkan sendiri. Pembicaraannya dan Gaby berakhir di situ.


Gaby menghembuskan nafas dari mulut. Perlahan dia menoleh ke arah Ruby yang tengah duduk santai di balkon. Gadis tersebut sibuk menikmati cokelat panas. Disertai sepotong kue tiramisu dengan krim rasa vanila.


Ruby mulai memainkan ponsel. Menjelajahi internet untuk mencari tahu kabar mengenai Ryan. Akan tetapi dirinya sama sekali tidak menemukan apapun berita tentang Ryan. Sepertinya para hacker telah melakukan tugasnya dengan baik. Sayangnya, Ruby masih belum tahu kalau Ryan sedang di penjara.

__ADS_1


Di belakang Ruby, ada Gaby dan Mike yang saling bicara. Keduanya berdiskusi mengenai pilihan yang tepat.


"Apakah kita harus memberitahu Ruby tentang ini?" ujar Gaby dengan nada berbisik. Salah satu tangannya menggaruk area belakang kepala. Dia menjadi gelisah, karena merasa situasi bertambah runyam.


"Entahlah. Aku pikir dia pantas mengetahui keadaan suaminya, bukankah begitu?" tanggap Mike. Manik hitamnya bergerak menatap Ruby.


"Kau benar..." Ruby memasang raut wajah sendu. "Tapi, aku takut dia akan melakukan hal yang beresiko," tambahnya.


"Tidak apa-apa, Gabe. Lagi pula jika kita tidak memberitahu, bukankah akan terjadi kesalahpahaman lagi di antara Bos dan Ruby." Mike menepuk pelan lengan adiknya. Kemudian melanjutkan, "Bila kau tidak sanggup bicara dengannya, biar aku saja yang melakukannya."


Mike segera beranjak menghampiri Ruby. Duduk tepat di kursi yang ada di sebelah Ruby. Pandangannya tertuju ke arah hamparan rerumputan, yang dihiasi dengan pegunungan berlapiskan salju.


"Apa ada kabar mengenai Ryan?" seolah mendapatkan firasat yang kuat, Ruby langsung bertanya perihal Ryan.


Mike mengangguk lemah. Ia lantas menjelaskan bagaimana keadaan Ryan sekarang. Memberitahukan kalau Ryan dan yang lain telah terperangkap di penjara.


Ruby membulatkan mata. Dia reflek bangkit dari tempat duduk. Perasaan panik mulai menyelimutinya.


"Ryan memerintahkan kita untuk tidak terlibat." Mike menjelaskan dengan tenang.


"Apa?! Begitukah sikap kalian saat Ryan dalam bahaya? Padahal dia sudah melakukan segalanya untuk membantu kalian. Harusnya kalian melakukan sesuatu!" Ruby kini mengepalkan tinju di kedua tangannya.


"Maaf, Ruby..." Mike merasa menyesal.


Ruby menggertakkan gigi. Kemudian mulai menggerakkan kaki untuk melangkah. Namun jalannya harus terjeda kala Mike memanggil kembali. Alhasil Ruby diam di tempat dan membuka telinganya lebar-lebar.


"Kau tahu, Ruby? Alasan Ryan mampu menjadi seorang Bos mafia? Karena dia pintar, cerdik dan kuat. Aku dan yang lain tidak akan pernah menjadi seorang ketua sepertinya, karena kami tidak sehebat Ryan. Kami tidak bisa menjamin keberhasilan misi jika Ryan tidak ada." Mike menerangkan panjang lebar.


Mata Ruby mulai berpendar akan cairan bening. Perlahan dia memutar tubuhnya menghadap Mike. "Mau sampai kapan kita akan membiarkan Ryan? Aku tahu dia tidak sendiri. Ada Ethan dan John bersamanya. Tapi bagaimana kalau dia sangat kesulitan sekarang?" timpalnya dengan kedua tangan yang terulur ke depan.


"Kita tunggu saja. Aku yakin mereka pasti bisa kabur dari penjara. Ryan bukanlah orang yang mudah menyerah!" ungkap Mike.

__ADS_1


Ruby memilih bungkam. Dia tidak berminat melanjutkan pembicaraan. Ruby segera masuk ke dalam kamar dan merebahkan diri ke kasur. Mencoba berpikir, kalau-kalau dia punya cara untuk menyelamatkan Ryan.



Waktu berlalu. Semuanya terasa begitu lama, karena orang-orang tidak berkumpul di satu tempat. Hari yang tadinya terhitung 24 jam saja, akhirnya berubah menjadi tiga hari.


Ryan dan John berjalan beriringan memasuki ruang makan khusus tahanan. Tempat tersebut dipenuhi dengan banyak pria-pria berwajah sangar. Namun tidak ada satu pun yang berhasil membuat Ryan ciut.


Berbeda dari Ryan dan John yang tidak terpisahkan, Ethan sudah lebih dahulu mengambil makanan. Dia terlihat duduk tenang di samping seorang pria kurus berkacamata. Ethan memakan hidangannya dengan lahap.


"Sejak awal dia bertingkah seperti telah pulang ke rumah," komentar John, ketika menyaksikan sikap Ethan. Dia hanya geleng-geleng kepala.


"Ethan memang selalu begitu. Dia tidak pernah serius!" respon Ryan sembari menerima makanan dari lapas yang bertugas.


Bubur gandum yang ditaburi dengan saos kacang sudah menggunduk di piring Ryan. Tampilannya sama sekali tidak menggoda. Tetapi justru membuat jijik.


"Sh*it!" maki Ryan sambil meringis jijik. Manik hazelnya tertunduk menatap hidangan yang ada di hadapannya.


"Ya, makanannya memang tampak seperti shi*t (kotoran)." Sama dengan Ryan, John juga merasa tidak berminat menyantap makanan yang diberikan untuknya.


"Woy! Kenapa kalian diam saja?! Perutku sudah mengamuk sejak tadi! Sekarang biarkan aku saja yang mengamuk!"


"Apa kalian mengambil semua makanannya?!"


"Cepat keparat! Atau aku patahkan lehermu!"


Pria-pria yang mengantri di belakang Ryan dan John, terdengar bersahutan untuk mendesak. Berbagai kata rutukan yang tak pantas terdengar berkoar menodai telinga. Para penjahat mana ada yang tahu sopan santun. Dengan hukum resmi saja mereka tidak menurut, apalagi pada aturan yang sederhana.


Ryan dan John segera duduk di tempat yang kosong. Keduanya duduk saling berhadapan. Mengobrak-abrik bubur gandum yang lunak untuk dimakan.


Perlahan Ryan menyuap satu sendok bubur ke mulut. Dia terpaksa memakan, karena rasa lapar yang sudah tidak tertahan. Sebab selama dua hari dirinya memang sengaja tidak makan. Selain tidak bernaf*su, tetapi juga karena makanan yang tersedia tidak menggiurkan baginya. Ryan ingin cepat-cepat keluar dari penjara dan bertemu Ruby.

__ADS_1


__ADS_2