
...༻❀༺...
Megan berhenti di depan Ryan. Tanpa mengucapkan apapun, dia langsung menyambar bibir Ryan. Tas yang tadinya ada dalam genggamannya, seketika terlepas.
Mata Ryan sontak terbelalak. Dia tentu terkejut dengan serangan tak terduga Megan. Ryan berupaya menolak. Tautan bibirnya sempat terlepas dari mulut Megan.
Megan tetap bersikeras. Kedua tangannya menggenggam erat mantel yang dikenakan Ryan. Dia berkata, "Terimalah Ryan, jika Sarah punya permintaan terakhir. Maka aku juga, dan inilah keinginanku. Lagi pula ini hanya sebuah ciuman, aku tidak akan meminta lebih." Megan kembali menarik Ryan. Melanjutkan ciuman yang dirasa belumlah selesai.
Megan menggigit bibir Ryan, agar lelaki itu bisa mengangakan mulut. Usahanya tersebut berhasil, sehingga Megan mampu menjelajahi mulut Ryan dengan indera pengecapnya. Sentuhan Megan membuat Ryan merasakan gelitikan tajam diperutnya. Dia sempat terlena, namun ketika mengingat Ruby akan datang, tangannya dengan keras mendorong Megan menjauh.
Megan terhuyung. Untung saja ada James yang selalu siaga menjaganya. James memegangi dengan sigap. Sehingga Megan tidak sampai terjatuh ke lantai. Matanya langsung melotot tajam ke arah Ryan. Megan tidak percaya Ryan tega memperlakukannya dengan kasar.
"Aku pikir sudah cukup, lebih baik--"
Buk!
Sebuah tinju tiba-tiba menghantam wajah Ryan. Berhasil membuat ucapan lelaki itu terhenti dan oleng dalam sesaat. Ryan menyalangkan mata kepada sosok yang sudah berani meninjunya. Siapa lagi kalau bukan Henry. Pria berwajah pucat tersebut terlihat tersengal-sengal. Ada kemarahan yang terukir diparasnya.
Mengetahui pimpinannya diserang, semua bawahan Ryan berdatangan dan mengitari Henry.
Di sisi lain, tepatnya pada lokasi yang tidak begitu jauh. Ruby sibuk memarahi Ethan.
"Kau kenapa bersikap sangat aneh?!" pungkas Ruby dengan dahi yang mengerut sebal. Ethan sudah beberapa kali mencegahnya untuk menoleh ke arah Ryan.
"Tidak! begini, sebenarnya... dengarkan aku!" Ethan berbicara tidak karuan sambil mengamati pergerakan Ryan. Namun saat menyaksikan Henry dalam bahaya, barulah dia membiarkan Ruby menoleh ke belakang.
"Ryan!" pekikan Ruby sukses menghentikan keributan yang terjadi. Atensi gadis itu tertuju kepada Megan. Ekspresinya langsung berubah menjadi masam. 'Kenapa gadis sialan itu belum pergi?' batinnya. Kemudian mengalihkan pandangan ke arah Ryan. Seakan menunjukkan aksi protes dengan bahasa tubuh.
Megan mendengus kasar. Setelah melihat kehadiran Ruby, dia tahu kalau dirinya harus segera pergi. Megan mengambil tasnya, lalu beranjak bersama James. Megan berinisiatif pergi sebelum Ryan memaksanya untuk pergi.
__ADS_1
Ruby bergegas menghampiri Ryan. Dia memberitahu bahwa Henry datang bersamanya. Ryan langsung menyuruh semua bawahannya untuk bubar. Melihat gadis yang dicintainya telah datang, suasana hatinya seketika berubah menjadi baik. Ryan mengajak Ruby, Henry serta Ethan, berbicara di sebuah ruangan.
Suasana menghening cukup lama. Tidak ada satu pun yang bicara. Bahkan pembual seperti Ethan memilih diam. Sebab suasananya terasa begitu canggung.
Ryan tampak sibuk dengan lebam di sudut bibirnya. Tangannya terus saja memegangi ke area wajah. Ternodai sudah wajah yang selalu dibangga-banggakannya itu.
Henry satu-satunya orang yang masih terlihat marah. Dia tidak berhenti menyalangkan mata kepada Ryan. Gelagatnya tentu membuat Ruby penasaran.
"Henry, apa ada sesuatu yang mengganggumu? Sebenarnya apa penyebab keributan yang terjadi kepada kalian tadi?" tanya Ruby menatap Ryan dan Henry secara bergantian.
"Awkward..." gumam Ethan. Mengomentari suasana yang tengah terjadi.
"Aku hanya ingin memukulnya. Karena dia sudah berani menyakiti hatimu," kata Henry asal. Dia memilih menutupi semuanya dari Ruby.
"Kalian harus beristirahat. Aku yakin kalian pasti lelah, karena telah menempuh perjalanan selama beberapa jam." Ryan tidak tahu harus berkata apa. Dia memilih memberikan saran. Lelaki tersebut sebenarnya berniat berbicara empat mata dengan Ruby. Sedari tadi, matanya terus saja menatap ke arah gadis itu.
"Baiklah, tetapi aku ingin bicara berdua denganmu!" imbuh Henry sembari bangkit dari tempat duduk. Dia segera memberikan isyarat tertentu, agar Ruby dan Ethan keluar dari ruangan.
"Kau tidak akan memukul Ryan lagi kan?" timpal Ruby. Memasang raut wajah khawatir. Perkataannya otomatis membuat Ryan menatapnya kagum.
"Ayolah, Ruby. Itu tidak akan terjadi lagi." Ethan menyeret Ruby untuk ikut bersamanya. Keduanya perlahan beranjak keluar dari pintu.
Setelah menastikan tidak ada yang melihat, Henry langsung mencengkeram kerah baju Ryan. Memancarkan binar ancaman disorot matanya. "Jelaskan kepadaku, kenapa kau mencium gadis pirang tadi?! Bukankah kau mengatakan pada Ruby, bahwa kau sudah mengakhiri hubungan dengan dua istrimu!" geramnya. Semakin mengeratkan cengkeraman.
"Itu hanya kesalahan. Aku berjanji akan mengatakannya kepada Ruby. Kau bisa mempercayaiku!" sahut Ryan sembari memasang mimik wajah datar. Dia sama sekali tidak ciut terhadap ancaman yang diberikan Henry. Walaupun begitu, Ryan benar-benar serius dengan ucapannya.
"Dia satu-satunya untukku sekarang. Dia aman bersamaku, aku pastikan itu!" ujar Ryan. Dia nampak bersungguh-sungguh. Membuat Henry perlahan melepaskan cengkeramannya.
__ADS_1
"Buktikan!" tegas Henry.
"Aku akan menyiapkan kamar untukmu." Ryan segera menelepon pekerjanya.
Henry membuka pintu, penglihatannya langsung disambut dengan kehadiran Ruby yang asyik menyandar ke tembok. Gadis itu segera menegakkan badan kala menyadari Henry muncul. Ethan yang berada tidak jauh, juga ikut mendekat. Namun tangan Ryan dengan sigap menarik kerah baju lelaki tersebut.
"Ryan! Hentikan!" Ruby berusaha menghentikan tindakan Ryan. Dia tidak akan membiarkan Ryan menyakiti Ethan lagi.
"Ayolah, Ryan. Jika kita terus berkelahi, bagaimana kita bisa mengalahkan Jordan?" ungkap Ethan seraya melemahkan badannya. Dia tidak berminat bersiteru dengan Ryan.
"Ethan sudah menolongku, Ryan. Jika dia tidak ada, mungkin aku sekarang ditawan oleh Jordan!" Ruby menegaskan. Keningnya mengernyit dalam.
Sambil menghela nafas panjang, Ryan akhirnya melepaskan Ethan. "Max!" panggilnya. Beberapa saat kemudian Max langsung menghadap Ryan.
"Jika kau mengurungku di tempat yang busuk lagi, maka jangan harap hidupmu bisa tenang!" Ethan akhirnya meluapkan amarah yang telah lama dipendamnya.
"Bawa dia ke salah satu kamar yang nyaman!" titah Ryan kepada Max. Perlahan bola matanya teralih ke arah Ethan. "Kau puas?" pungkasnya seraya tersenyum miring.
Ethan balas tersenyum. Dia segera mengikuti Max untuk beristirahat di sebuah kamar. Kini hanya tinggal Ryan dan Ruby. Tatapan Ryan seketika berubah saat memandang gadis itu. Kakinya digerakkan untuk mendekat.
Ruby hanya mengedipkan mata beberapa kali. Dia mematung, meski Ryan berjalan menghampiri. Kedua tangan lelaki itu memgangi wajah Ruby. Menatapnya lebih lekat. Hingga apa yang dirasakannya terucap dari mulut.
"I miss you..." ungkap Ryan pelan.
Jantung Ruby tentu merasakan getaran yang berbeda. Lebih cepat dari biasanya. Dia tak kuasa mengalihkan perhatiannya dari Ryan. Namun lebam yang ada disudut bibir Ryan sukses merunyamkan debaran Ruby sejenak.
"Kau harus mengobati lebammu itu." Ruby memegangi bagian wajah Ryan yang membiru. Dia juga tiba-tiba teringat dengan luka yang dialami Ethan. "Ah benar, kau harus mengirimkan seseorang untuk mengobati Ethan. Dia terlihat memprihatinkan," katanya, memberitahu.
Bukannya mengiyakan, Ryan malah tambah mendekatkan wajahnya. Hingga hidungnya dan hidung Ruby menjadi saling bersentuhan. Tatapan lelaki tersebut sangat tajam dan serius. "Sekarang hanya dirimu yang ada disisiku. Aku tidak mau satu-satunya wanitaku berlagak mengkhawatirkan lelaki lain selain diriku. Terutama saat di hadapanku, mengerti?" tegasnya. Menyebabkan Ruby seakan terhipnotis. Jantungnya kembali berdegub kencang.
__ADS_1