
...༻❀༺...
Ryan tertidur lima jam lebih. Dia berada di kamar VIP yang ada di rumah sakit. Mata Ryan terbuka pelan. Dia langsung memegangi area jidatnya yang terluka. Untung saja lukanya sudah diobati dan dibalut perban oleh dokter.
"Ryan!" Megan lekas-lekas menghampiri Ryan.
"Megan?..." balas Ryan lirih. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Mencoba mencari tahu dimana tempat dirinya berada. Perlahan Ryan merubah posisi menjadi duduk. Tangannya mengacak-acak rambut beberapa kali.
"Aku di sini, Babe." Megan memeluk Ryan dari samping. Dia tahu suaminya tengah merasa frustasi.
"Sebaiknya kau tidak perlu lagi mencari-cari Ruby. Bukankah itu hanya membuang-buang tenaga? Lihatlah dirimu sekarang," ucap Megan, memberikan saran.
"Apa Sarah juga ada di sini?" bukannya merespon ucapan Megan, Ryan malah berbicara ke lain arah. Membuat Megan otomatis melepas pelukannya.
"Dia sedang dalam perjalanan," jawab Megan sembari mendengus kecewa. Kepeduliannya terus diabaikan. Alhasil Megan berdiri dan mencoba beranjak.
"Megan, aku belum selesai." Panggilan Ryan berhasil menghentikan pergerakan kaki Megan. Gadis berambut pirang itu sontak kembali duduk di sebelah Ryan.
"Oke, apa kau ingin membicarakan sesuatu?" tanya Megan. Kedua alisnya terangkat penuh semangat. Sebab dia mengira Ryan pasti setuju dengan saran yang diusulkannya tadi. Dirinya yakin, setelah insiden kecelakaan yang terjadi, Ryan pasti tidak akan peduli lagi terhadap Ruby.
Berbeda dengan Megan, Ryan malah memasang raut wajah yang serius. Dia kemudian berkata, "Megan, sepertinya hubungan kita harus berakhir di sini."
Mata Megan membulat sempurna. Dia yang tadinya duduk tenang di samping Ryan, langsung berdiri dengan kening yang mengernyit marah. Gadis pirang tersebut tentu menolak keinginan Ryan.
"Bagaimana bisa kau berkata begitu kepada orang yang sudah menyelamatkanmu?! Kau keterlaluan sekali, Ryan! Apa yang sudah gadis sialan itu lakukan padamu, hingga kau terlihat begini! Jujur, kau tampak seperti seorang pecundang sekarang!" balas Megan. Rahangnya mengerat kesal.
"Megan, jangan membuatku marah... Aku hanya meminta hubungan kita berakhir sampai di sini. Aku tidak akan menendangmu dari Shadow Holo." Ryan menatap lurus ke arah Megan. Dia berupaya untuk tidak meledakkan amarah. Suasana hatinya terasa sangat buruk semenjak ditinggal Ruby. "Bukankah kau ingin menjadi seorang model yang terkenal di Hollywood? Jika benar, lakukan sekarang! Seorang model terkenal tidak boleh berlama-lama terlibat dalam dunia kejahatan." Ryan kembali berujar.
"Persetan dengan itu! Kau tidak tahu dunia biasa terasa lebih buruk dibanding dunia kejahatan. Dimana seorang pengkhianat tidak akan langsung mati tertembak. Aku tidak mau berada di dunia seperti itu terus-menerus. Orang-orang di dunia hiburan, lebih munafik dari yang kau duga." Megan menegaskan.
__ADS_1
Ryan mendengus kasar. Dia lelah terus berdebat. Dirinya kini berdiri, lalu mencabut infus yang terhubung di urat nadinya. Ryan kemudian menarik paksa Megan untuk mendekat. Melayangkan pelototan tajam yang mengancam. Apa yang dilakukannya berhasil membuat Megan langsung getir.
"Kali ini, aku tidak akan berbicara baik-baik kepadamu. Hubungan kita sudah berakhir!" kata Ryan dengan nada penuh penekanan. Menyebabkan mata Megan secara alami berkaca-kaca.
Menyaksikan Megan menciut, Ryan segera melepaskan cengkeramannya. Dia mengambil ponsel yang terletak di atas meja. Ryan menghubungi salah satu bawahannya untuk membawakan pakaian.
"Apa kau juga akan mengakhiri hubungan denganku?" suara Sarah berhasil membuat Ryan dan Megan menoleh secara bersamaan. Ternyata gadis itu sedari tadi menguping dari luar. Dia telah membuka pintu, lalu melangkah ke hadapan Ryan.
"Aku akan menerimanya dengan senang hati, Ryan." Sarah mengukir senyuman tipis. Dia mengulurkan tangan kepada Ryan. Mengajak lelaki tersebut untuk bersalaman.
"Baguslah kalau begitu." Ryan menyambut tangan Sarah. Keduanya kini saling bersalaman.
"Terima kasih atas pelayananmu. Aku belum pernah menemukan lelaki yang melakukannya sehebat dirimu," ujar Sarah. Masih dengan senyuman yang belum memudar.
Ryan bingung dengan ucapan Sarah. Dia sama sekali tidak mengerti. Sehingga semburat wajahnya manampakkan ekspresi keheranan.
"Aku berbicara tentang caramu melakukan se*x." Sarah yang paham terhadap gelagat bingung Ryan, menjelaskan maksud perkataannya.
"Kau tahu, Ryan. Aku akan pergi darimu, tetapi tidak akan keluar dari Shadow Holo. Selain itu, aku juga punya satu keinginan sebelum hubungan kita sepenuhnya berakhir," ungkap Sarah panjang lebar.
Ryan menatap datar Sarah. Seakan menunjukkan kalau dirinya akan mendengarkan keinginan Sarah baik-baik. "Sebutkan saja apa maumu," ucapnya.
"Aku ingin kau memberitahuku tentang markas-markas rahasiamu. Aku ingin memilih salah satunya sebagai tempat untuk menetap," terang Sarah.
Ryan terdiam sejenak. Dia mencoba memutuskan hal terbaik. Karena selama ini, markas-markas rahasia miliknya, hanya dirinya seorang yang tahu. Semua bawahannya pun tidak mendapat kewenangan untuk mengetahuinya.
"Jika kau menolak. Maka aku akan tetap berada di sampingmu. Berupaya terus mengganggu hubunganmu dan Ruby," Sarah melipat kedua tangan di depan dada.
Ryan memutar bola mata. Dia menganggukkan kepala malas. Dirinya memutuskan untuk memberitahu Sarah. Toh gadis tersebut telah bersamanya selama bertahun-tahun. Setidaknya Sarah dapat dipercaya.
__ADS_1
"Oke, aku akan menunggu," imbuh Sarah. Pandangannya perlahan dialihkan ke arah Megan.
"Megan, kau juga harus meminta sesuatu kepadanya. Berhubungan intim untuk yang terakhir kalinya mungkin..." goda Sarah.
Ryan yang mendengar hampir saja melayangkan sebuah pukulan kepada Sarah. Namun dia mengurungkannya karena gadis itu sudah berlalu pergi.
Ruby memilih bersembunyi di Handerson. Kota yang tidak begitu jauh dari Las Vegas. Seperti biasa, dia memilih menginap di motel. Karena biayanya yang tidak begitu mahal. Setelah beristirahat sekitar dua malam di sana, Ruby memilih pergi.
Bulir-bulir salju berjatuhan. Menyebabkan cuaca bertambah semakin dingin. Ruby berada di sebuah toko. Dia membeli sepasang sarung tangan rajut. Kemudian langsung mengenakannya.
Ruby melangkah di jalanan trotoar, berbaur dengan orang-orang yang berlalu lalang. Atensi gadis itu mendadak tertuju ke arah seorang pria dan anak kecil yang saling bicara. Mereka terlihat sangat dekat. Ruby menduga, keduanya memiliki hubungan ayah dan anak.
Entah kenapa Ruby menghentikan langkahnya. Terpaku pada apa yang dilihatnya. Ada sedikit rasa iri yang dirasakannya. Andai dirinya punya keluarga, pasti kehidupan Ruby tidak akan terombang-ambing dari sulitnya kehidupan.
Rasa iri Ruby semakin terasa, saat menyaksikan seorang wanita ikut bergabung dengan lelaki dan anak tadi.
'Dia pasti ibunya...' batin Ruby. Dia memperhatikan dari kejauhan. Keluarga kecil yang diamatinya terlihat saling tertawa bersama. Terutama ketika sang wanita mengeluarkan sebuah hadiah dari tasnya.
Ruby akhirnya beranjak, dia tidak mau tenggelam dalam kesedihan. Gadis terdebut kembali berjalan. Salju semakin lebat. Membuat Ruby dan semua orang lainnya berlarian untuk mencari tempat berteduh.
Dibanding berteduh bersama banyaknya orang, Ruby memilih tempat sepi. Dimana dirinya bisa menikmati kesendirian dengan leluasa.
Ruby memutuskan berteduh di depan toko sepatu. Toko tersebut terlihat sangat sepi. Penjualnya bahkan hanya seorang wanita tua renta. Sepatu-sepatu yang ada di rak tampak berdebu. Ruby yakin semua sepatunya adalah keluaran lama. Pantas saja, tokonya sepi akan pengunjung.
Helaan nafas dikeluarkan Ruby dari mulut. Dia menatap salju yang mengembang memenuhi udara. Terasa indah, tetap juga dingin. Menyebabkan Ruby otomatis melingkarkan kedua tangan ke badannya sendiri.
Ruby mengubah posisi menjadi berjongkok. Dia berniat menunggu salju sedikit mereda. Dirinya berharap tidak akan menunggu lama. Kini pandangan Ruby terfokus ke tanah. Salju sudah terlihat semakin menebal.
__ADS_1
Sepasang kaki mendadak muncul dari samping. Lalu berdiri tepat di hadapan Ruby. Membuat dahi Ruby lantas mengerut heran. Dari sepatunya, dia yakin sosok di depannya adalah seorang lelaki. Perlahan Ruby mendongak, dan mencoba memastikannya dengan matanya sendiri.
Mata Ruby membelalak, kala menyaksikan siapa lelaki yang tengah berdiri di depannya. Bagaimana tidak? Dia adalah orang yang tidak ditemuinya selama bertahun-tahun lamanya.