Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 11 - Wine & Touch


__ADS_3

...༻❀༺...


Ruby duduk saling berhadapan dengan Ryan. Wine terlihat sudah dituang ke dalam gelas. Namun keduanya sama sekali tidak menyentuh gelas itu.


"Sekarang bicaralah!" titah Ruby dengan tatapan malasnya ke arah Ryan.


"Katakan, apa hal yang paling membuatmu marah kepadaku?" tanya Ryan pelan. Lalu meraih gelas berisi wine. Dia menyeruput sedikit cairan berwarna merah keunguan tersebut.


"Bukankah sudah jelas? Untuk apa kau bertanya lagi?" balas Ruby sinis. Dia ikut meminum wine yang sedari tadi menganggur di depannya. Berbeda dengan Ryan, Ruby langsung menghabiskan wine yang ada digelasnya.


"Karena aku punya wanita lain selain dirimu, itu bukan?" terka Ryan seraya tersenyum tipis.


"Bingo!" respon Ruby sambil mengangkat kedua tangannya ke udara. Kemudian meminum wine yang baru saja dituangkan oleh Ryan. "Aku tidak mengerti dengan lelaki sepertimu. Kenapa kau menikahi banyak perempuan, jika satu saja sudah cukup!" lanjutnya yang sudah terlihat agak sempoyongan. Nampaknya wine yang diberikan oleh Ryan, memiliki kandungan alkohol yang tinggi.


"Aku punya alasan Ruby..." Ryan segera menceritakan tentang suku Elmika kepada Ruby. Dia ingin gadis tersebut mengerti. Namun lagi-lagi, Ruby tertawa geli mendengar cerita Ryan. Seperti orang pada umumnya, dia juga menganggap Ryan punya pemikiran aneh.


Ryan yang melihat tawa Ruby, mencoba menahan diri. Dia sebenarnya sangat marah. Dirinya hanya bisa menjadikan wine sebagai obat rasa marahnya. Meskipun sudah meminum dua gelas, Ryan belum juga mabuk. Dia masih sepenuhnya sadar.


Ruby yang tadi sempat tergelak, perlahan merubah mimik wajahnya menjadi serius. "Kau memilih Megan dan Sarah karena mereka punya keahlian tertentu. Lalu aku? Kenapa kau memilihku, Ryan?" tanya-nya.


Ryan meletakkan kedua tangan ke atas meja. Kemudian mencondongkan wajahnya ke arah Ruby. "Kau adalah obat bagiku, Ruby..." jawabnya, ambigu. Membuat Ruby seketika mengerutkan dahi.


"A-apa kau bilang? Jangan mengada-ngada!" geram Ruby. Dia menghempaskan gelas ke atas meja. Hingga bunyi hempasannya menggema di ruangan.

__ADS_1


"Itu benar! Kamu harus tahu, Megan dan Sarah menikahiku karena uang dan penghargaan. Tetapi aku tidak tahu denganmu, Ruby." Ryan memberitahu.


"Uang?" mata Ruby langsung segar mendengar kata tersebut. Jujur saja, dia penasaran seberapa banyak Megan dan Sarah mendapatkan uang dari Ryan. Namun dia lekas-lekas menyadarkan diri dengan menggelengkan kepala. Ruby mencoba mencari logika, agar dirinya dapat memenangkan pembicaraan.


"Jika semuanya karena uang, kenapa mereka harus menikah denganmu? Kenapa kau tidak menyewa mereka sebagai bawahan?" timpal Ruby yang dilanjutkan dengan pose menopang dagu.


"Itu berbeda. Sudah kubilang kan, kalau aku menghargai Megan dan Sarah. Istri seorang pemimpin, otomatis juga memiliki wewenang yang tinggi. Aku yakin, sebuah ikatan bisa menambah rasa kepercayaan dan kesetiaan." Ryan mengakhiri penjelasannya dengan senyuman tipis.


"Cih! Berlagak sekali!" ejek Ruby. Dia kini meneguk wine langsung dari botolnya. Ryan yang menyaksikan, sontak berusaha menghentikan. Akan tetapi Ruby dengan sigap mendorongnya, hingga terduduk ke sofa.


Ruby mulai mabuk. Dia sudah sempoyongan. Meskipun begitu, mulutnya tetap aktif dan meracau tidak karuan. Parahnya gadis itu bangkit dari sofa. Lalu mendudukkan dirinya ke pangkuan Ryan. Mencengkeram erat kerah baju lelaki yang sepenuhnya masih menjadi suaminya tersebut.


"Aku melihatmu... bertarung dengan Sarah..." Ruby berbicara dengan keadaan mata yang agak menutup. Rambut panjangnya berjatuhan ke wajah Ryan.


"Dari mana kau tahu aku dan Sarah bertarung? Padahal saat itu kami hanya berdua di ruang latihan," jawab Ryan. Tersenyum, sampai menampakkan jejeran gigi bagian atasnya yang rapi.


"Aku?" Ruby mengarahkan jari telunjuknya sendiri ke dadanya. Lalu mengarahkan bola mata ke ujung kanan atas. Dia tengah mencerna pertanyaan yang diberikan Ryan.


"Hmmm... aku hanya kebetulan tahu." Ruby menjawab asal. "Tetapi kau harus tahu, Ryan!!!" lanjutnya, memekik lantang. Hingga berhasil membuat mata Ryan terbelalak akibat merasa kaget.


"Ruby, ayo berdirilah. Aku akan membawamu ke kamar. Kau sudah sangat mabuk," ujar Ryan sambil mencoba memaksa Ruby untuk berdiri. Namun gadis itu menolak dan malah meledakkan amarah.


"Diamlah! Dengarkan aku dahulu!" titah Ruby sembari menangkup wajah Ryan. Kepala Ryan sontak mendongak ke arahnya.

__ADS_1


"Aku akan kembali kepadamu... Jika kau berjanji tidak akan menyentuh Megan dan Sarah. Jika kau hanya menganggap mereka menyukaimu karena uang, maka aku yakin kau bisa melakukan hal itu untukku," ungkap Ruby. Dia menempelkan jidatnya ke dahi Ryan. Omongannya terdengar serius, meskipun sedang mabuk.


"Aku mau melakukannya. Tetapi... sekarang kau sangat mabuk. Aku biasanya tidak mempercayai perkataan orang yang mabuk. Meragukan!" sahut Ryan. Dia perlahan menjauhkan tangan Ruby dari wajahnya. Tetapi sekali lagi usahanya tidak berhasil, karena Ruby bersikeras memegangi wajahnya.


Ryan semakin terdiam ketika Ruby tiba-tiba mengecup bibirnya. Gadis itu memainkan mulutnya dengan lihai, dan menyebabkan Ryan tak kuasa menolak. Rasa wine yang manis, serta kandungan alkohol yang candu, memberikan sensasi tersendiri terhadap ciuman Ruby. Kini lidah mereka yang saling bergulat. Tangan Ryan otomatis memegangi tengkuk Ruby. Membuat tautan bibirnya dan Ruby semakin merekat. Bunyi kecup-mengecup memecah keheningan di dalam ruangan.


Rambut Ruby berjatuhan menutupi wajah Ryan. Kedua kakinya semakin mengapit erat paha Ryan yang tengah didudukinya. Dia tidak mampu mengendalikan nafas yang menderu-deru. Rasa mabuknya sekarang dikalahkan oleh gairah yang kian memuncak.


Sambil terus berciuman, Ryan menggerakkan tangannya untuk melepas baju atasan Ruby. Gadis itu lantas melepaskan ciumannya sejenak, agar dirinya dapat membuka baju. Kini Ruby hanya mengenakan bra. Menampakkan kulit putih bersihnya yang mulus. Dadanya memang tidak sebesar Megan, namun tetap mampu membuat Ryan bersemangat.


Ryan segera melepas kancing dari kemejanya. Tatapan matanya tidak teralihkan dari Ruby.


Tanpa pikir panjang, Ruby melepaskan ikatan bra-nya. Mengharuskan Ryan menenggak salivanya sendiri. Ruby dan Ryan sekarang sama-sama bertelanjang dada.


Ryan menenggelamkan wajahnya ke dada Ruby. Menyebabkan Ruby otomatis memeluknya erat. Mata gadis tersebut terpejam sambil sedikit mengangakan mulut.


Ruby mulai melenguh, ketika Ryan semakin meliarkan gerakannya. Jari-jemari Ruby tanpa sadar mengacak-acak rambut Ryan. Keduanya kini tenggelam dalam gelora. Selanjutnya mereka pun menyatu dalam tubuh. Menyalurkan hasrat seksual satu sama lain sampai merasa puas.



Ruby perlahan membuka mata. Dia melihat jendela terang akan keadaan di luar. Dahinya langsung mengernyit, karena Ruby berpikir kalau dirinya berada di ruang bawah tanah. Dia lantas mengedarkan pandangan ke sekeliling.


Betapa terkejutnya Ruby, saat menyaksikan Ryan sedang tertidur pulas di sampingnya. Dia baru sadar kalau dirinya dan Ryan sama-sama tidak mengenakan sehelai pakaian pun dari balik selimut.

__ADS_1


"Sial! Aaarrkhhh!!" Ruby berteriak histeris. Menyebabkan mata Ryan sontak terbuka lebar. Pekikan Ruby lebih nyaring dari pada bunyi jam weker di kamarnya.


__ADS_2