
...༻❀༺...
Keheningan menyelimuti suasana. Ruby sedang memikirkan tempat yang tepat untuk singgah. Sementara perhatian Ethan mendadak tertuju ke arah tas hitam yang dipegang Ruby.
"Aku sarankan kau periksa baik-baik tas milikmu itu. Mungkin saja ada alat pelacaknya," celetuk Ethan.
Ruby menggerakkan bola matanya ke arah Ethan. Dia menatap sinis dan membalas, "Mana mungkin bisa ada alat pelacak!"
"Kita tidak pernah tahu. Apa salahnya memeriksa. Kau harus tahu, penjahat kelas kakap sering melakukan hal tak terduga. Seperti menaruh alat pelacak dibarang pribadi milik istrinya misalnya," saran Ethan. Dia tidak memaksa.
Nafas dihela cukup panjang oleh Ruby. Dia berpikir untuk sesaat. Mengingat perihal para penjahat yang pernah mengejarnya saat melakukan pelarian. Ruby ingat saat itu dia selalu membawa tas pemberian Ryan kemana-mana. Ditambah keberadaannya selalu berhasil ditemukan tanpa alasan. Rasa curiga otomatis muncul dalam benak Ruby. Walau ratusan kali dirinya menepis Ryan tidak berbohong, namun tetap saja ada sesuatu yang janggal.
'Ryan tidak mungkin repot-repot membayar orang hanya untuk membuatku kembali padanya kan?' batin Ruby berusaha menepis. Dia tidak akan percaya sebelum menemukan bukti.
Akibat penasaran, Ruby akhirnya memeriksa tas miliknya. Dia berusaha mencari bukti dengan teliti. Bahkan pada setiap kantong kecil yang ada di dalam tas. Akan tetapi dirinya tidak menemukan apapun.
"Sudah kubilang, tidak ada." Ruby memberitahu Ethan.
"Kau belum memeriksa seluruhnya." Ethan segera menepikan mobil ke pinggir jalan. Lalu merebut tas dari tangan Ruby. Dia memeriksa desain kulit yang ada pada tas.
Saat melihat ada sedikit sayatan yang tersembunyi, Ethan mengembangkan senyuman. Tanpa basa-basi, dia memeriksa bagian dalam kulit tas. Lelaki tersebut dapat menemukan bukti untuk Ruby. Sebuah alat pelacak memang sudah sejak lama tersembunyi di sana.
Mata Ruby membulat sempurna. Dia langsung merampas alat pelacak beserta tas yang ada ditangan Ethan. Ruby kini keluar dari mobil.
"Aaaaaaarkkhhhh!!!" Ruby berteriak lantang. Pertanda kalau dia begitu marah. Sebab gadis itu telah bisa menyimpulkan, bahwa selama ini Ryan berbohong kepadanya.
"Sial!" Ethan reflek menutupi kedua telinga ketika pekikan Ruby begitu memekak.
__ADS_1
Ruby berjalan ke tanah yang sudah tertutupi salju. Dia menghempaskan tas dan alat pelacak ke sana. Kemudian menginjak-injaknya dengan penuh amarah. Wajah gadis tersebut memerah padam. Entah sudah berapa kali dia berteriak. Rasa kesalnya berada di level tertinggi.
Akibat membuat keributan tak terduga, Ruby menjadi pusat perhatian beberapa orang yang kebetulan lewat. Semua pasang mata tentu terheran melihat kelakuannya.
Ruby masih menginjak alat pelacak sekuat tenaga. Sampai benda tersebut tenggelam ke dalam salju. Ruby juga tidak lupa mematahkan kartu kredit serta debit pemberian Ryan. Rambutnya yang tadinya terurai rapi sekarang berubah menjadi berantakan.
Setelah puas menghancurkan alat pelacak. Ruby beralih kepada tas pemberian Ryan. Dia merobek tas tersebut menjadi beberapa bagian. Jika tidak bisa dirobek dengan tangan, maka giginya akan bertindak.
Ruby melampiaskan amarahnya sebisa mungkin. Dia bertindak seperti seorang penyanyi rocker yang menggila.
Sementara Ethan hanya menonton sambil menyandarkan punggung ke mobil. Dia tertawa geli kala menyaksikan kegilaan Ruby. Lelaki tersebut sama sekali tidak berniat menghentikan kegiatan Ruby. Sebab Ethan tahu, jika dirinya nekat mengganggu, maka gadis itu pasti akan bertambah marah. Apalagi hubungannya dengan Ruby masihlah belum membaik.
Lama-kelamaan Ruby akhirnya berhenti mengamuk. Dia menghembuskan nafasnya beberapa kali dari mulut. Karena cuaca dingin, karbon dioksida yang dikeluarkan dari mulutnya dapat terlihat jelas di udara. Ruby mendongakkan kepala. Dia mencoba meredakan amarah. Tangannya sekarang mengacak-acak rambutnya.
Ruby benar-benar merasa seperti orang bodoh. Dia merasakan kekecewaan yang mendalam. Dirinya semakin yakin dengan niat kepergiannya dari markas.
"Kau baik-baik saja?" tanya Ethan yang akhirnya bersuara.
"Sabar... sabar, dear. Jangan melampiaskannya kepadaku. Bukankah tas dan alat pelacak itu sudah cukup?" pungkas Ethan.
"Ya, selamat tinggal, Ethan." Ruby beranjak pergi begitu saja meninggalkan Ethan. Dia berjalan tak tentu arah. Dirinya hanya ingin sendiri.
"Ruby! Ada satu hal lagi yang harus kau tahu. Ini mengenai ayahmu!" ucapan Ethan berhasil menghentikan pergerakan kaki Ruby. Gadis itu otomatis menoleh dan menatap penuh tanya.
Ethan segera menghampiri dan berkata, "Kau ingat bukan, kalau aku pernah mengatakan wajahmu mirip seseorang?"
"Benar. Tapi aku sudah tahu semuanya. Wajahku mirip ibuku bukan?" respon Ruby tak acuh. Tatapan tajamnya seolah mendesak Ethan untuk berhenti bicara.
__ADS_1
"Ya, apa Ryan yang memberitahumu?" Ethan agak terkejut mendengar Ruby sudah mengetahui segalanya. Ruby hanya menjawab dengan anggukan malas.
"Berarti kau sudah tahu kalau ayahmu adalah musuh bebuyutan Ryan. Ngomong-ngomong, dia sekarang juga menjadi musuh utamaku. Ayahmu adalah orang yang kejam. Pantas saja kau lebih memilih tinggal bersama Ryan dibanding dengan ayahmu," ujar Ethan menyimpulkan.
Ruby yang mendengar mengerutkan dahi. Dia tentu terkejut ketika mendengar bahwa ayahnya merupakan musuh bebuyutan Ryan. "Apa maksudmu?" Ruby bertanya untuk memastikan.
"Kau tidak tahu? aku pikir..." Ethan bingung harus berkata apa.
Ruby membisu dalam sekian detik. Dia sama sekali tidak peduli. Toh dirinya tidak pernah mengenal sosok yang disebut sebagai ayahnya. Ruby bahkan tidak sudi menyebut lelaki tersebut dengan panggilan ayah.
"Terserah apa katamu, aku tidak peduli dengan ayahku. Siapapun itu," ungkap Ruby. "Bahkan jika dia adalah seorang presiden sekali pun, atau keturunan raja Inggris," sambungnya, yang kembali melanjutkan langkahnya. Dia berbicara membelakangi Ethan, seraya terus berjalan maju.
Ruby masuk ke area stasiun bawah tanah. Karena tidak memiliki uang, dia terpaksa beraksi seperti dulu. Yaitu mencopet dompet di keramaian. Tangannya yang bergerak cepat bak seorang pesulap, mampu mengambil dompet tanpa ketahuan. Belum sempat satu menit, Ruby sudah memiliki uang ditangannya. Dia hanya perlu pergi dari kota Las Vegas untuk sementara. Yang jelas pergi jauh dari markas utama milik Ryan.
Di sisi lain, Megan dan Sarah kebetulan berada di mobil. Menunggu aba-aba dari Ryan sebelum beraksi. Mereka telah menunggu satu jam lamanya, tetapi Ryan tidak kunjung memberikan kabar.
"Aku tidak menyangka, kali ini Ruby menyerah begitu cepat dari yang kita duga," imbuh Megan yang disertai senyuman puasnya.
"Benar, tapi bukankah tindakannya sedikit mencurigakan? Aku yakin dia sedang merencanakan sesuatu. Gadis itu selalu bersikap tidak biasa ketika melancarkan rencananya." Sarah menuturkan pendapatnya.
"Persetan dengannya. Setidaknya, kita tidak perlu repot-repot memberikannya kue dan teh yang berisi obat tidur," ucap Megan santai.
Sarah memaksakan senyuman untuk merespon ucapan Megan. Suara Ryan berhasil menghentikan obrolannya dengan Megan. Wajahnya yang tadinya tersenyum langsung berubah menjadi cemberut. Alasannya karena dia mendengar kalau misi musim dingin dibatalkan. Sarah semakin kesal ketika mengetahui keterlibatan Ruby dibaliknya.
"Dugaanku benar, Ruby kali ini berhasil membuat misi musim dingin dibatalkan!" ujar Sarah sembari mengepalkan tinju dikedua tangan.
__ADS_1
"Benarkah? Memangnya apa yang sudah dia lakukan?" tanya Megan yang mendadak digerogoti perasaan gelisah.
"Dia melarikan diri dari markas..." Sarah berucap sambil menggertakkan gigi.