Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 20 - Misi Kapal Pesiar [2]


__ADS_3

...༻❀༺...


Ruby mengambil koper Megan dalam keadaan tergesak-gesak. Dia agak kesulitan untuk kembali melewati jembatan menuju kapal. Gadis itu berusaha keras menerobos gerombolan orang yang menghalangi jalannya.


"Maaf, permisi..." Ruby beberapa kali mengucapkan kalimat tersebut. Ketika dirinya telah tiba di depan dua penjaga, barulah Ruby dapat bernafas lega. Dia langsung melayangkan tatapan sebal ke arah Megan.


"Ini, undangan milik kami berdua." Megan menyerahkan kartu undangan kepada salah salu lelaki yang berjaga. Tidak peduli dengan pelototan yang sedang dilakukan Ruby terhadapnya. Saat itulah Ruby melempar koper Megan. Gadis tersebut bahkan menambahkan tendangan. Hingga koper milik Megan tumbang ke lantai.


"Apa-apaan, Ruby!" Megan menggertakkan gigi kesal. Dia tentu tidak terima saat melihat kopernya ditendang.


"Aku sudah membawakannya untukmu. Kau bahkan tidak mengucapkan terima kasih!" sahut Ruby dengan dahi yang mengerut dalam.


"Aku tahu. Tetapi kau masih membutuhkan bantuanku, Ruby." Megan mengeluarkan dua kunci kamar dari tas bahunya.


"Berikan padaku!" Ruby mencoba merebut kunci yang dipegang Megan. Akan tetapi Megan dengan sigap berbalik dan beranjak meninggalkan Ruby. Lagi-lagi dia sengaja menyuruh Ruby untuk membawakan kopernya.


"Sial!" Ruby sekarang hanya bisa mengusap kasar wajahnya. Kemudian terpaksa menyeret koper kepunyaan Megan sekaligus miliknya sendiri.


Setelah tiba di depan kamar yang tepat, Megan menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke belakang, dan menyaksikan Ruby masih mengukir ekspresi cemberut. Megan hanya tersenyum miring, kala melihat Ruby kesulitan membawa dua koper di masing-masing tangannya.


"Ini kuncimu. Aku akan mengetuk pintu kamarmu, saat hendak pergi ke pesta nanti. Bersiaplah sebelum jam tujuh malam," ujar Megan. Bergegas masuk ke dalam kamar. Sebelum pintunya menutup, Ruby lekas-lekas melakukan pencegahan. Gadis itu menghentikan pergerakan pintu dengan kakinya.


"Kenapa? Apa otakmu itu belum paham dengan rencananya?" timpal Megan. Dia tidak jadi menutup pintu akibat ulah Ruby.


"Aku ingin menanyakan keterlibatan Ryan. Apa dia tidak ikut--" Ruby meghentikan perkataannya, ketika tangan Megan mendadak membekap mulutnya.


"Jangan sebut nama suami kita di sini. Semua orang yang ada di kapal ini adalah musuhnya. Itulah alasan dia tidak bisa ikut. Terlalu beresiko. Lagi pula, dia sedang ada urusan penting. Jangan coba-coba mengganggunya!" tegas Megan. Kemudian mendorong Ruby menjauh dari pintu. Dia mengambil kesempatan itu untuk menutup pintu kamarnya.


Lidah Ruby berdecak kesal. Terutama saat melihat perlakuan Megan. Dia lantas ikut masuk ke kamar. Letak kamarnya sendiri berada tepat di seberang kamar Megan.

__ADS_1


Kapal sudah mulai berlayar ke perairan. Ruby yang sempat beristirahat, kini tengah berada di luar. Dia berdiri di pinggiran kapal. Menikmati angin laut yang sesekali menyibak rambut panjangnya. Gadis tersebut sedang sibuk memainkan ponsel.


Ilustrasi kapal pesiar yang dinaiki Ruby :



Ruby berusaha menelepon Ryan, namun suaminya tersebut tidak kunjung mengangkat panggilan. Sehingga dia terpaksa mengirimkan pesan teks. Ruby mengadukan sikap Megan yang sudah memperlakukannya semena-mena.


...'Megan seperti nenek sihir! Aku ingin sekali keluar dari misi ini. Tetapi sudah terlanjur basah. Tolong nasehati istri pertamamu itu nanti, Ryan! Dia sangat menyebalkan!'...


Kira-kira begitulah bunyi pesan teks yang dikirim Ruby kepada Ryan. Selanjutnya gadis itu mengalihkan pandangan ke depan. Tepat ke arah cakrawala yang mulai menguning karena hamparan sore. Ruby terbawa suasana. Hingga matanya terus terpaku pada pemandangan tersebut.


"Indah bukan? I love it!" suara seorang pria berhasil menarik atensi Ruby. Dia langsung menoleh ke arah sumber suara.


Terlihatlah sosok lelaki berbadan tinggi semampai. Memiliki hidung mancung, serta berkulit putih bersih. Dari bentuk tubuhnya itu, dia bisa terbilang tampan. Lelaki itu memejamkan mata. Seolah menikmati suasana alam yang menyelimutinya.


Sementara itu, Megan baru saja keluar dari kamar. Dirinya memastikan Ruby tidak memergoki aksinya. Megan berniat pergi menemui Sarah. Dia melangkahkan kaki menuju lantai bawah. Tempat dimana Sarah sedang menunggunya.


"Bagaimana dengan Ruby? Dia tidak tahu kau datang ke sini kan?" tanya Sarah sembari mengamati ke arah pintu. Megan baru saja datang, dan langsung duduk di hadapannya.


"Tenang saja. Gadis itu lebih bodoh dari yang aku duga. Aku bahkan berhasil membuatnya menjadi tukang bawa koperku," jawab Megan sambil memperhatikan kuku-kukunya yang diberi kotek berwarna hitam.


"Apa?! Menyuruhnya membawakan koper?" Sarah melebarkan kedua kelopak matanya. Dia merasa apa yang dilakukan Megan sedikit berlebihan.


"Iya, kenapa kau seperti berpihak pada Ruby. Bukankah kau membencinya juga?" balas Megan sambil melipat tangan didada.


"Aku hanya membencinya ikut dalam misi ini. Bukan berarti aku akan memperlakukannya seperti babu!" ucap Sarah.


"Terserah, apa katamu, Sarah. Kau bukan bosku. Aku hanya akan melakukan apa yang kusuka. Jadi, lebih baik langsung saja kita bicara ke intinya!" sahut Megan, bersikeras.

__ADS_1


Sarah menghembuskan nafas dari mulut. Lalu segera memberitahukan informasi baru yang didapatnya.


Sarah mengatakan, kalau Max dapat kabar bahwa ketua komplotan The Drugs masih belum jelas. Dan hal itu sangat berbahaya untuk misi yang akan dijalankan olehnya.


"Kita tidak bisa mengalihkan perhatian ketua The Drugs, jika kita masih belum tahu siapa dia!" kata Sarah. Kemudian langsung memegangi kepala dengan kedua tangan.


"Bukankah ketua komplotan The Drugs adalah Mr. June?" tukas Megan. Dia tidak mau percaya begitu saja.


"Tidak. Katanya dia hanya orang bawahan yang ditugaskan menyamar sebagai ketua!" bantah Sarah.


"Kenapa kau langsung mempercayai kabar ini? Lagi pula dari mana Max mendapatkan informasinya?" Megan kembali bertanya. Dia bersikukuh tidak mau percaya. Wanita tersebut benci mempercayai sesuatu yang akan membuat dirinya tumbang.


"Max tidak sengaja mendengar pembicaraan orang-orang The Drugs! Apa itu masih membuatmu ragu?!" Sarah menatap tajam Megan. Kemungkinan dia kelalahan terus-terusan melakukan penjelasan.


"Aku tidak peduli. Bukankah yang terpenting adalah mencuri barang-barang milik The Drugs. Aku yakin kita bisa melakukannya. Siapapun ketua The Drugs, aku harap dia seseorang yang bodoh seperti Ruby!" imbuh Megan panjang lebar. Dia lalu bangkit dari tempat duduknya. "Aku harus bersiap-siap pergi ke pesta. Aku akan mencoba merayu Mr. June, agar dia mengatakan siapa ketua asli The Drugs," tambahnya. Sebelum menutup pintu, Megan memutar tubuhnya dan kembali melanjutkan, "dan aku juga tidak akan lupa untuk membuat Ruby mabuk berat." Setelahnya dia menghilang ditelan pintu.


Di sisi lain, Ruby telah berada di kamarnya. Dia baru selesai mengenakan gaun pesta. Sekarang dirinya hanya perlu memakai make up serta mengatur rambut.


Ruby bukan tipe gadis yang memakan banyak waktu untuk berdandan. Dikarenakan dia memang lebih suka tampil sederhana. Make upnya pun tipis. Hanya berbekal bedak dan lipstik. Gadis itu menggelung rambut panjangnya. Dia tersenyum ketika menyaksikan pantulannya di cermin.


"Lumayan. Setidaknya kau tidak terlihat kampungan saat berada di samping Megan," komentar Ruby kepada dirinya sendiri.


Tok!


Tok!


"Ruby? Kau sudah siap kan? Ayo kita pergi sekarang!" pekik Megan dari depan pintu.


Ruby segera membuka pintu. Dia langsung terkesiap kala melihat penampilan Megan. Istri pertama Ryan itu sangat cantik. Membuat Ruby yang tadinya percaya diri, kini merasa ciut.

__ADS_1


__ADS_2