Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 47 - Lebih Baik Pergi


__ADS_3

...༻❀༺...


Perlahan Ruby mendongakkan kepala. Saat itulah dia tidak sengaja memergoki Megan dan Sarah saling tersenyum. Firasat Ruby tentu semakin kuat. Dirinya yakin, Megan dan Sarah merencanakan sesuatu. Rencananya mungkin bukanlah menuang racun ke dalam makanan, melainkan sesuatu hal yang tentu tidak diketahui Ruby.


Ruby merasa getir. Bagaimana tidak? Meskipun Ryan berpihak kepadanya, dia selalu menghadapi segalanya sendirian. Terutama saat berhadapan dengan Megan dan Sarah.


Walaupun Ruby mempunyai teman seperti Mike, Gaby dan Max. Ruby tahu dirinya tidak bisa menaruh kepercayaan begitu saja kepada mereka. Apalagi setelah mengingat gelagat Mike. Ruby yakin Mike membohonginya. Kenapa Mike mau saja menuruti suruhan Megan dan Sarah. Mike bahkan memilih berbohong dari pada harus menjadi setia kawan. Ruby benar-benar kecewa.


"Kenapa kalian tersenyum? Apa aku terlihat bodoh dimata kalian?!" timpal Ruby. Menatap Megan dan Sarah secara bergantian.


"Ayolah, Ruby... kenapa kau sangat sensitif!" komentar Megan seraya mengulurkan kedua tangan ke depan.


Pintu mendadak terbuka. Ryan baru saja datang dan segera ikut bergabung. Kedatangannya otomatis menghentikan interaksi yang terjadi di antara ketiga istri.


Ryan duduk di sofa. Kemudian menjelaskan mengenai misi musim dingin yang akan dilaksanakan lusa nanti. Dia memberi wewenang kepada Ruby untuk menjadi orang yang menyusun strategi.


Ruby hanya terdiam. Mengembangkan senyuman pun enggan. Suasana hatinya benar-benar buruk. Dia menantikan kepergian Megan dan Sarah dari ruangan.


"Sepertinya Ruby tidak akan bicara, jika kami terus berada di sini. Ayo Sarah, kita pergi!" ujar Megan sambil merubah posisi menjadi berdiri. Atensinya tertuju kepada kue yang ada di meja. "Ah, benar. Ruby, bolehkah kami meminta kuemu sedikit?" Megan mengalihkan bola matanya ke arah Ruby.


"Ambil saja. Aku tidak peduli!" sahut Ruby yang pada akhirnya bicara.


Megan memanyunkan mulutnya. Sebelum pergi dia menyempatkan diri untuk membawa kue red velvet yang ada di atas meja. Kini di ruangan hanya ada Ryan dan Ruby.


"Kau kenapa? Apa mereka mengganggumu?" tanya Ryan.


"Tentu saja mereka menggangguku! Bisakah kau memutuskan hubunganmu dengan mereka sekarang saja?! Aku sudah tidak tahan lagi, Ryan! Misi musim dingin tidak akan berjalan lancar, jika mereka terus ada di depan mataku!" ungkap Ruby dengan nada penuh penekanan.

__ADS_1


"Ruby, misinya juga tidak akan berjalan lancar tanpa mereka." Ryan mencoba menghadapi Ruby dalam keadan tenang.


"Dari mana kau tahu?! Bagaimana jika semuanya akan berjalan lancar tanpa mereka?... Aku tidak mau ikut melakukan misi musim dinginmu, bila Megan dan Sarah masih ada!" balas Ruby. Dia bangkit dari sofa dan berdiri menghadap Ryan. Nafasnya naik turun dalam tempo cepat, akibat rasa kesal yang mulai memuncak.


"Tenanglah, Ruby. Aku sudah menjadikanmu anggota penting dalam misi. Kali ini kau akan mendampingiku, kau tidak perlu takut dengan Megan dan Sarah." Ryan masih bisa mengendalikan amarahnya dengan baik.


"Persetan dengan itu, Ryan! Aku tidak bisa selamanya terus-terusan bergantung denganmu. Lakukanlah misi musim dinginmu itu tanpaku!" tegas Ruby. Kemudian bergegas pergi meninggalkan Ryan.


Sebelum melewati pintu, Ruby menghentikan pergerakan kakinya. Sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul dalam pikirannya. Dia lantas memutar tubuh, dan kembali menatap suaminya. Ryan terlihat masih duduk di sofa.


"Ryan, aku mau bertanya sekali lagi. Apa kau masih ragu untuk memutuskan hubungan dengan Megan dan Sarah? Kumohon, katakan yang sejujurnya." Ruby kali ini berbicara pelan.


Ryan merasa tertohok. Sebab apa yang dikatakan Ruby memang benar adanya. Dia masih ragu untuk mengambil keputusan besar seperti memutuskan hubungannya dari dua istri yang lain.


"Maafkan aku..." Ryan memancarkan binar teduh dari sorot matanya. Namun itu sama sekali tidak mempengaruhi Ruby. Alhasil gadis tersebut berlalu pergi keluar dari ruangan.


Belum sempat dua puluh detik menangis, Ruby segera menyadarkan diri. Dia tidak mau meratap terlalu lama. Lebih baik dirinya mempersiapkan segalanya untuk pergi.


Ruby berniat meninggalkan markas. Dia akan pergi saat orang-orang disibukkan dengan misi musim dingin. Jujur, Ruby merasa nasibnya sama saja seperti berada di luar sana. Bahkan berada di luar sana mungkin lebih baik. Terus-terusan tinggal bersama orang-orang beracun, lama-kelamaan pasti akan membunuh.


Mata Ruby terpaku ke arah alat vinyl. Terlintas dalam benaknya mengenai momen romantisnya bersama Ryan. Kepalanya lekas menggeleng tegas. Mencoba menyadarkan diri, bahwasanya Ryan hanyalah seorang suami yang egois.


Tok!


Tok!


Tok!

__ADS_1


Ketukan pintu terdengar. Ruby bergegas membukanya. Ternyata orang yang mengetuk adalah Gaby. Gadis berkulit hitam itu meminta maaf atas nama Mike kepada Ruby. Dia memberitahukan segalanya. Termasuk mengenai rencana Megan dan Sarah.


"Mereka memang berniat memberikan sesuatu pada makanan dan minumanmu. Tetapi tidak sekarang, melainkan saat misi musim dingin akan dilakukan nanti," ungkap Gaby. Berupaya meyakinkan. Dia memegangi tangan Ruby.


"Mike terpaksa berbohong kepadamu, karena Megan dan Sarah mengancam kalau aku akan di usir dari markas!" Gaby berterus terang.


"Aku mengerti, Gabe. Kau tidak perlu mencemaskanku. Sebaiknya kau jaga dirimu baik-baik," kata Ruby seraya menepuk pelan pundak Gaby. Raut wajahnya tampak sendu. Selanjutnya Ruby segera menutup pintu kamar, meski Gaby masih belum beranjak pergi.



Dua hari kemudian. Tibalah hari dimana misi musim dingin akan dilaksanakan. Tidak seperti banyak orang yang sedang sibuk bersiap, Ruby memilih mengurung dirinya di kamar. Dia bahkan tidak keluar, walau Ryan yang datang sendiri untuk merubah pikirannya.


"Ruby, ayolah! Jangan bersikap seperti seorang anak kecil!" Ryan marah ketika sudah lima kali lebih melakukan kalimat bujukan. Lelaki itu bahkan menendang pintu kamar Ruby sekitar dua kali.


"Jangan membuatku marah, Ruby!!!" pekik Ryan. Dia terdiam untuk sesaat. Hingga akhirnya menyerah dan pergi. Ryan memutuskan akan melakukan misi musim dingin tanpa Ruby.


"Sekarang kau sadar kan, betapa menyebalkannya seorang Ruby." Megan berlari mendekat. Dia menyamakan langkahnya dengan Ryan. Keduanya berjalan berdampingan menuju parkiran basement. tempat dimana semua bawahan Ryan menunggu.


Ryan tidak merespon sama sekali ucapan Megan. Dia memilih membungkam mulut, agar amarahnya tidak meledak. Karena jika dirinya tidak dapat mengendalikan amarah, mungkin misi musim dingin bisa menjadi berantakan.


Sementara itu di kamar, Ruby asyik mendengarkan musik. Dia memasang earphone dikedua telinganya. Dirinya memang sengaja tidak mau mendengarkan orang-orang yang membujuknya di depan pintu.


Setelah memastikan waktu. Ruby melepas earphone dari telinga. Dia perlahan membuka pintu. Memeriksa keberadaan semua orang. Suasana terasa lebih sepi dari biasanya.


Tanpa pikir panjang, Ruby bergegas mengenakan pakaian tebal. Sweater, mantel, serta tidak lupa syal yang berguna membuat badannya lebih hangat. Ruby tidak peduli seberapa dingin cuaca yang ada di luar sana. Dia bahkan tak acuh pada bahaya yang akan menimpanya. Termasuk dari para penjahat yang pernah mencoba mengejarnya. Yang jelas, dia ingin menghilangkan rasa sesaknya terhadap siksaan Megan dan Sarah.


"Kau mau kemana?" suara seorang lelaki berhasil mengejutkan Ruby.

__ADS_1


__ADS_2