Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 26 - Membuatnya Mabuk


__ADS_3

...༻❀༺...


Rekahan senyum terpatri diwajah Ethan. Sebab dipermainan kedua dia berhasil mengalahkan Ruby. Sementara Ruby sendiri memasang wajah masam. Gadis itu hanya bisa gigit jari.


"Sekarang giliranmu!" Ethan menyerahkan satu botol bir kepada Ruby.


"Aku sedang tidak ingin mabuk, Ethan..." Ruby memasang ekspresi memelas. Dia berharap lelaki di hadapannya mau berbelas kasih.


"Kau benar-benar keterlaluan. Bukankah ini artinya ketidakadilan bagiku?" balas Ethan. Meskipun begitu, dia tersenyum senang menyaksikan mimik wajah Ruby.


"Maukah kau melakukannya untukku?" mohon Ruby. Memberikan botol bir yang seharusnya diminumnya.


"Maaf, Helen. Aku sedang membatasi diriku. Aku tidak bisa--" ucapan Ethan terhenti, ketika Ruby tiba-tiba melayangkan sebuah ciuman dipipinya. Gadis itu masih berusaha memohon.


Ethan terpaku menatap Ruby. Sebenarnya semenjak awal bertemu, Ethan sangat ingin sentuhan dari Ruby. Dia tak tahu kenapa, yang jelas gadis tersebut sangat menarik perhatiannya. Kemungkinan sifat jutek Ruby telah membuatnya tertarik sekaligus tertantang. Gara-gara kemunculan tidak sengaja Ruby ke kamar, membuat Ethan kehilangan gairah dengan sang wanita pesanan tadi malam.


Ethan berpikir untuk sesaat. Terlintas dalam pikirannya sebuah ide.


"Baiklah. Aku mau minum bir di botol ini untukmu. Tetapi dengan satu syarat!" Ethan meraih botol yang disodorkan Ruby. "Cium aku dulu!" tambahnya. Menjalankan ide cemerlang yang baru terpikir di otaknya.


Dahi Ruby berkerut. Dia segera menjawab, "Bukankah aku tadi sudah menciummu?"


"Kau hanya menciumku dipipi. Tetapi aku ingin di sini..." Jari telunjuk Ethan memegangi area bibirnya sendiri. Dia tidak bisa menahan tatapan sensual yang secara alami dilakukannya kepada Ruby.


'Sial! Aku tidak percaya, aku akan mencium orang yang sudah dua kali melecehkanku.' Ruby mengeluh dari dalam hatinya. Dia tidak punya pilihan lain selain setuju. Dirinya berjanji, jika Ethan ingin meminta lebih, maka Ruby akan menyumpali mulut lelaki itu dengan bir.

__ADS_1


Ruby menganggukkan kepala seraya mengucapkan kata oke. Menyebabkan Ethan tersenyum senang. Tatapannya tidak teralihkan dari gadis yang sekarang duduk di depannya.


Tanpa pikir panjang, Ruby bangkit dari tempat duduk. Kemudian menarik kerah baju Ethan. Bibir merah muda alaminya langsung bersentuhan dengan mulut Ethan. Kebetulan keduanya tengah duduk berhadapan. Dibatasi oleh meja kecil. Mereka duduk dikursi kayu biasa. Posisi tersebut tepat berada di dekat jendela kamar Ethan.


Ethan yang merasa bersemangat dengan sentuhan Ruby, sontak ikut berdiri. Mendominasi pergulatan mulut yang terjadi. Pergerakan Ethan membuat posisi meja yang berada di tengah bergeser. Menyebabkan dua botol bir terhantam gravitasi. Salah satu bir berhasil jatuh ke lantai, dan langsung berubah menjadi serpihan kaca.


Ruby kaget, dia reflek melepas tautan bibirnya dari mulut Ethan. Tangannya berupaya menyelamatkan botol bir terakhir. Satu-satunya harapan Ruby. Untung saja, dia berhasil melakukannya. Sekarang botol bir tersebut tergenggam erat ditangannya.


"Fokuslah denganku, Helen!" Tegur Ethan. Tangannya menggeser wajah Ruby untuk menghadap ke arahnya. Dia kembali menyosor bibir Ruby dengan mulutnya. Kedua tangannya bahkan sudah berani mencengkeram bokong gadis yang tengah diciumnya.


Mata Ruby membelalak. Dia berusaha keras mempertahankan botol berisi bir dalam genggamannya. Apalagi Ethan terus saja mendesaknya untuk melangkah mundur ke arah kasur.


Ruby terpaksa ikut bermain dalam candu Ethan. Lelaki itu kini mendorongnya ke atas kasur. Lalu memposisikan dirinya di atas badan Ruby. Sebelum itu, Ethan membuka kancing kemeja kotak-kotak yang dikenakan Ruby. Melepaskan semuanya, hingga bra yang dikenakan Ruby saat itu terekspos nyata.


Entah kenapa Ruby merasa jantungnya berdetak cepat. Secara alami, dirinya menikmati sentuhan Ethan. Gadis tersebut sudah menenggak salivanya sekali. Apalagi kala melihat Ethan telah melepaskan pakaian atasannya.


Tangan Ruby tidak sengaja melepas botol bir yang sedari tadi dipertahankan. Tangannya sekarang melingkar ke punggung Ethan. Tubuh Ruby tidak bisa membantah respon alami terhadap sentuhan liar Ethan. Ruby bahkan merasakan ada yang menggelitik tajam perutnya. Rasa yang seringkali muncul ketika dirinya dan Ryan melakukan hubungan intim. Gadis itu tidak sengaja membayangkan wajah suaminya.


Akibat mengingat nama Ryan dikepala, Ruby kini mampu menyadarkan diri. Satu tangannya kembali meraih botol bir. Gadis itu mendorong Ethan sekuat tenaga. Usahanya berhasil merubah posisi Ethan menjadi telentang. Kini Ruby yang mengambil alih posisi Ethan sebelumnya. Dia duduk tepat dibagian atas perut Ethan yang berotot.


Sementara Ethan, sedang sibuk mengatur deru nafas. Mulutnya tampak sedikit menganga. Dalam keadaan terus menatap Ruby. Ethan sudah tidak sabar menunggu cumbuan selanjutnya.


"Ethan, aku terbiasa melakukan ini. Jadi sebaiknya, kau diam saja di tempat!" ujar Ruby, berbohong. Dia terlihat membuka tutup botol bir dengan giginya. Memposisikan wajahnya berhadapan dengan paras Ethan. Sedikit menungging, dan menopang tubuhnya dengan satu tangan. Rambutnya yang tergerai menyentuh kulit Ethan, hingga menyebabkan darah disekujur badan lelaki tersebut berdesir hebat.


"Kau sudah berjanji akan meminumnya untukku. Jadi, lakukanlah sekarang. Oke?" Ruby memegang erat dagu Ethan. Memaksa mulut pria itu untuk menganga.

__ADS_1


Seolah terhipnotis, Ethan menuruti perintah Ruby. Dia sebenarnya merasa senang dengan sikap liar Ruby yang tak terduga. Padahal semuanya akal-akalan gadis itu. Jujur saja, jika dia melakukannya dengan Ryan, Ruby tidak akan terpikir untuk berbuat begitu. Yang ada dalam pikirannya hanyalah sentuhan Ryan. Gadis tersebut tidak bisa membantah, permainan suaminya memang lebih hebat dibanding Ethan.


Ruby tersenyum senang, saat dirinya berhasil menuang bir ke mulut Ethan. Entah kenapa dia menikmati momen tersebut. Ruby bahkan tertawa geli ketika menyaksikan Ethan mau-mau saja mengikuti suruhannya. Tentu rasanya menyenangkan, menjadikan seseorang seperti budak.


"Bagus, Ethan. Aku ingin kau menghabiskannya. Baru kau bisa menyentuhku dengan sesuka hati," ujar Ruby. Masih terus memaksa Ethan untuk menenggak minuman beralkohol.


Lama-kelamaan cairan didalam botol tinggal setengah. Pikiran Ethan mulai melayang. Dia telah didominasi rasa mabuk.


"Ayolah, Ruby... aku sekarang sudah merasa mabuk..." ucap Ethan dengan nada suara rendah akibat mabuk.


"Sedikit lagi," sahut Ruby. Dia kini menuangkan bir ke wajah Ethan. Menyebabkan separuh kepala lelaki itu menjadi basah kuyup. Bau alkohol menjadi kian menyengat.


Ethan terbatuk beberapa kali akibat cairan bir yang menghantam wajahnya. Kepalanya mulai merasa pusing. Hendak merubah posisi menjadi duduk saja, Ethan seakan tak berdaya. Saat itulah Ruby mengambil kesempatan untuk melakukan pencarian. Dia berusaha menemukan kunci gembok bunker yang mengurung Megan dan Sarah.


'Aku harap kuncinya memang ada pada Ethan. Jika tidak, mampuslah aku!' batin Ruby sembari memasang kembali kancing baju yang sedari tadi terbuka. Kemudian segera menyibukkan diri untuk membuka laci-laci yang ada di lemari.


Ruby sesekali menoleh ke arah Ethan. Memastikan lelaki tersebut masih terbaring lemah di kasur.


"Huuaaaaahh... Helen..." Suara Ethan yang mengigau membuat Ruby terperanjat kaget. Gadis itu sontak menoleh ke arah Ethan.


Jantung yang berdetak kencang, membuktikan kalau Ruby mulai didera rasa panik. Apalagi saat dirinya melihat ke arah jendela. Hari sudah mulai gelap. Pertanda malam telah tiba.


"Come on!" gumam Ruby. Menyemangati dirinya sendiri. Harapannya masih belum pupus.


...___________...

__ADS_1


...༻Bonus Visual Karakter Baru༺...



__ADS_2