Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 111 - Singa Jantan & Betina [Season 2]


__ADS_3

...༻❀༺...


Ryan memasuki kamar Ruby. Dia menyaksikan istrinya tertidur lelap. Sudut bibirnya terangkat sambil perlahan melepas jaket. Ryan duduk di ujung kasur, lalu menatap Ruby lamat-lamat.


Belaian lembut segera diberikan Ryan untuk kepala Ruby. Ia sangat merindukan Ruby dalam satu minggu terakhir.


"Apa yang sudah kau lakukan kepada semua orang?" gumam Ryan. Kekeh gelinya kembali berkoar. Apalagi jika dirinya mengingat ada puluhan orang yang telah menjadi korban Ruby.


Ryan menguap panjang lebar. Dia merasa lelah dan mengantuk. Sebelum tidur, Ryan tak lupa untuk mempersihkan diri. Kemudian segera tidur bersama Ruby.



Setelah beberapa jam, tepatnya tengah malam. Ruby membuka matanya. Dia melihat ada sebuah tangan yang sibuk melingkar di perutnya. Ruby bisa menduga kalau itu adalah tangan Ryan.


Tanpa basa-basi, Ruby langsung merubah posisi menjadi duduk. Mengguncang-guncang badan Ryan agar dapat lekas bangun dari tidur.


Tidak perlu waktu yang lama untuk menunggu Ryan membuka mata. Dengan guncangan Ruby yang sudah kuat akibat berlatih, membuat Ryan harus membuka mata.


"Ryan!" panggil Ruby. Semburat diwajahnya tampak datar.


"Babe, apa kau yang mengguncang badanku tadi?" tanggap Ryan, yang perlahan ikut duduk bersama Ruby. Namun Ruby malah mendorongnya kembali ke kasur.


Ruby duduk di atas perut Ryan. Lalu duduk dengan kepala tegak. Gadis itu terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Tatapannya tertuju ke arah Ryan.


"Kenapa kau seperti hewan meerkat begitu?" Ryan sekali lagi merasa geli. Ia mengikik sendirian. Hingga akhirnya Ruby mencengkeram rambutnya dengan dua tangan sekaligus.


Ruby menarik rambut suaminya, agar kepala Ryan bisa berada di posisi yang dia inginkan. Ryan reflek mengangakan mulut, karena merasa sedikit sakit terhadap perlakuan Ruby. Belum sempat dia melakukan protes, istrinya sudah menyumpal mulutnya dengan bibir.


Sebuah ciuman yang penuh gairah pun terjadi. Ryan tak dapat menolak, kemudian mencoba mendorong Ruby. Dia ingin Ruby yang berada di bawah. Akan tetapi terjadi perlawanan yang tak pernah dia duga sebelumnya. Ruby bersikeras bertahan di tempatnya. Gadis itu menekan dada bidang Ryan dengan kuat dan terus mengulum ganas bibir suaminya.

__ADS_1


Mata Ryan terbelalak. Dia agak terkejut karena Ruby tidak pernah begitu agresif sebelumnya. Ruby memang pernah beberapa kali bersikap agresif, namun tidak separah ini.


Kecupan Ruby mulai berpindah ke bagian tubuh Ryan yang lain. Suasana semakin memanas. Ryan bukan tipe lelaki yang suka diam saat bermain di ranjang. Kini dia yang menarik helaian rambut panjang Ruby. Seperti melakukan balas dendam, dia membuat kepala istrinya mendongak sepertinya tadi.


Satu tangan Ryan segera melepas kancing piama Ruby dengan satu tarikan. Beberapa kancing itu otomatis berjatuhan. Sebagiannya ada yang jatuh ke lantai, dan menimbulkan suara dentingan kecil.


Ryan memanfaatkan kesempatannya untuk menyerang Ruby dengan sentuhan intim. Mencium ganas kulit Ruby yang putih, sampai menyisakan tanda berwarna kemerahan. Suara kecupan yang memecah kesunyian, serta sensasi yang dirasakan oleh kulit epidermis, membuat Ruby harus mengangakan mulut. Lalu keluarlah desa*han awal yang terdengar sayup.


Belum sempat melepaskan seluruh pakaian. Pintu mendadak terbuka. Nampaknya Ryan lupa mengunci pintu ketika hendak tidur tadi. Alhasil dia harus menerima resikonya. Yaitu diganggu saat sedang bersenggama.


Sosok lelaki dengan wajah yang dipenuhi keringat berdiri di depan pintu. Tubuhnya gemetar ketakutan. Dia mengenakan setelan koki. Dari matanya yang sipit serta kulit yang agak kekuningan. Sepertinya lelaki tersebut merupakan orang yang berasal dari Asia Timur.


"Sialan!" umpat Ryan. Dia bergegas bangkit dari kasur. Mimik wajahnya menampakkan kemarahan yang begitu jelas. Hingga membuat sang lelaki bermata sipit semakin ketakutan.


Ruby ikut berdiri. Dia tidak lupa untuk mengenakan piamanya yang sudah tidak ada kancingnya lagi. Branya yang berwarna merah muda mengintip dari piamanya yang terbuka.


Ruby merasakan hal yang sama seperti Ryan. Marah, kesal dan ingin cepat-cepat memberi pelajaran kepada orang yang telah berani mengganggunya.


Bagai makan buah simalakama, lelaki bermata sipit itu kebingungan harus berlari kemana. Sebab di kanan dan kirinya ada dua bawahan Ryan yang kian mendekat. Sedangkan di depannya ada dua singa jantan dan betina yang siap menerkamnya. Apalagi Ryan terlihat sudah memegangi alat pemukul bisbol ditangannya. Berbeda dengan Ruby yang justru mendekat dalam keadaan tangan kosong.


Mulut si lelaki bermata sipit gemetaran. Dia akhirnya memutuskan berlari saja, dari pada harus menghadapi dua pasangan singa yang tampak mengerikan layaknya malaikat maut. Lelaki bermata sipit tersebut memilih berlari ke kiri. Dimana Frans kebetulan sudah menghadangnya di sana.


Walau takut, sang lelaki bermata sipit berusaha sebisa mungkin untuk bertahan. Dia mengambil sebuah bak sampah dan menghantamkannya ke badan Frans. Serangannya yang tiba-tiba, membuat Frans langsung tersungkur ke lantai. Kini lelaki bermata sipit itu berlari secepat kilat. Ia bahkan tidak menoleh ke belakang.


Sementara di belakang, Ryan mencoba menyuruh Ruby untuk tinggal di kamar. Dia tidak mau istrinya itu ikut-ikutan mengurus pelarian tawanannya.


"Tidak! Aku mau memberinya pelajaran!" Ruby bersikeras. Dia mendorong Ryan sampai terhuyung ke belakang. Ryan terperangah, dan akhirnya tidak kuasa lagi menghentikan Ruby.


Lima bawahan Ryan yang kebetulan berjaga, sudah mengeroyok si lelaki bermata sipit di depan pintu keluar. Mereka berhasil menghentikan pelarian tawanan yang nampaknya berasal dari negeri Tiongkok tersebut.

__ADS_1


"Ku-kumohon lepaskan aku. Aku tidak ada salah apapun, kenapa kalian menculikku?" gagap lelaki bermata sipit itu sambil menyatukan kedua tangan. Dia memohon dalam keadaan bertekuk lutut di lantai.


"Kami hanya butuh makanan buatanmu, itu saja!" sahut Frans dengan nada lantang. Ia melakukan pose berkacak pinggang.


"Makanya jangan terlalu ahli memasak. Beginilah akibatnya," ujar Ethan yang baru saja datang bergabung. Dirinya sedari tadi menguping dari balik pintu.


"A-apa? Se-semuanya gara-gara keahlian memasakku?" Sang lelaki bermata sipit menunjuk dirinya sendiri. Sungguh, dia sangat keheranan. Baru kali ini dirinya mendapat kesialan akibat bakat yang dimilikinya sendiri.


"Ya, memasaklah sekitar satu bulan di sini, Korean boy. Baru kami akan melepaskanmu." Zac menepuk pelan pundak lelaki bermata sipit itu.


"Aku China." Sang lelaki bermata sipit mengoreksi kesalahan yang disebut oleh Zac. Dia tak terima kewarganegaraannya dirubah dengan mudahnya.


"Ah, terserah!" Zac mengibaskan satu tangannya tak peduli. Kemudian menoleh ke arah Mike dan Ethan yang kebetulan berdiri bersebelahan. "Bukankah sama saja?"


"Ya, aku pikir begitu," sahut Mike yakin.


"China dan Korea berbeda!" Ethan menggeleng tak percaya. Ternyata Mike dan Zac cuma memiliki otot besar. Sedangkan otak mereka kemungkinan sudah berpindah ke dengkul.


Si lelaki bermata sipit merasa mendapat peluang. Dia berpikir semua orang sedang lengah. Alhasil dia mencuri kesempatan untuk membuka pintu. Namun langkahnya harus terhenti saat Ruby mendadak menendang betisnya.


Bruk!


Lelaki bermata sipit sontak terhempas ke lantai. Pusat perhatian semua orang sekarang tertuju ke arah Ruby. Gadis tersebut tengah meregangkan tulang di jari-jemarinya. Dia bersiap memberi pelajaran kepada lelaki bermata sipit yang telah tengkurap di bawah kakinya.


Catatan kaki :


Bagai makan buah simalakama : Pepatah yang menggambarkan seseorang yang berada di antara dua pilihan sulit. 


Epidermis : Bagian kulit terluar manusia.

__ADS_1


Korean Boy : Anak Korea.


__ADS_2