
...༻❀༺...
Satu-satunya orang yang tidak suka melihat kehadiran Ruby, hanyalah Megan. Raut wajahnya seketika cemberut ketika menyaksikan kemunculan Ruby.
"Kau tidak perlu memaksakan dirimu. Pergilah! Lagi pula kau tidak akan mengerti topik pembicaraan yang sedang kami bahas," ucap Megan sembari melambaikan pose mengusir dengan satu tangan.
"Diamlah, Megan! Biarkan Ruby memilih." Ryan ikut bersuara. Dia perlahan mengalihkan pandangannya ke arah Ruby. Menuntut Ruby untuk segera menjawab.
"Aku ke sini, karena memilih untuk tetap bersama Ryan. Dan aku pastikan keputusanku sudah bulat!" kata Ruby. Memberi penjelasan.
Megan yang mendengar sontak memutar bola mata kesal. Meskipun begitu, dia hanya diam. Sebab Ryan terlihat menunjukkan rona kebahagiaan diwajahnya. Megan tidak ingin menghancurkan momen kebahagiaan suaminya. Apalagi Ryan baru-baru ini sedang ditimpa masalah yang cukup berat. Dari pengkhianatan bawahannya, hingga kalah bersaing dengan kelompok mafia The Black Cindicate.
Sementara Sarah mengukir senyuman tipis kala mendengar penuturan Ruby. Dia sama sekali tidak keberatan atas kehadiran gadis tersebut. Yang terpenting baginya, Ruby tidak mengganggu tugas pentingnya.
"Oke, kalau begitu. Duduklah, Ruby!" suruh Ryan.
Ruby lantas ikut bergabung duduk di sofa. Dia duduk di sebelah Sarah. Dengan jarak lumayan jauh. Hal itu menunjukkan kalau hubungan dirinya dan Sarah masih belum akrab. Sedangkan Megan berada di sofa seberang. Dia duduk menyilangkan kaki putihnya yang mulus. Sementara Ryan sebagai pemilik dari tiga perempuan tersebut, duduk di tengah.
"Sekarang apa, Ryan? Kehadiran gadis ini membuat suasana di ruangan menjadi mencekam!" protes Megan secara terang-terangan. Melirik selintas ke arah Ruby. Seakan-akan yang diucapkannya adalah hal biasa.
"Ruby akan ikut melakukan misi ke kapal pesiar!" imbuh Ryan. Menyebabkan mata Sarah dan Megan membulat secara bersamaan. Sarah yang awalnya menerima Ruby dengan lapang dada, kini melakukan aksi protes. Dia langsung berdiri dan menolak tegas keinginan Ryan. Sarah adalah orang yang perfeksionis, dia tidak mau ada gadis seperti Ruby ikut bergabung ke dalam timnya.
"What the fu*ck, Ryan! Aku tidak bisa menerima ini. Karena misi yang sudah aku susun sangatlah serius. Dan kau tahu, bahaya apa yang akan menimpa, jika ada satu orang ceroboh ikut menjadi bagian dalam tim!" tegas Sarah. Untuk yang pertama kalinya, dia menatap sinis Ruby.
"Hahaha! Oh my god, Sarah. Sekarang kau pasti paham apa yang aku rasakan selama ini." Megan tergelak menyaksikan kemarahan Sarah. Dia sangat senang, telah menemukan satu haters Ruby selain dirinya.
"CUKUP!" pekik Ryan. Dia berhasil membuat Sarah tutup mulut. Saat itulah Ruby bangkit dari sofa dan berkata, "Kau seharusnya tidak menilai lebih dahulu, sebelum melihat cara kerjaku, Sarah. Katakan saja apa tugasku, baru aku akan memutuskan untuk ikut atau tidak!"
__ADS_1
"Sial!" umpat Sarah dengan gigi yang menggertak sebal. Dirinya sempat mengira Ruby akan menolak, namun ternyata istri ketiga Ryan itu tidak sepolos yang selama ini dia kira.
Melihat Ruby bersemangat, Ryan tersenyum simpul. "Sarah, kau harus memasukkan Ruby ke dalam tim. Berikan dia tugas penting. Aku ingin melihat cara kerjanya!" titahnya.
"Tetapi--"
"Ini keputusan final. Jika kau menolak, maka lebih baik kau lakukan saja sendiri. Tanpa fasilitas dan bantuan beberapa anak buahku!" Ryan sengaja memotong kalimat Sarah. Dia memberikan ancaman, yang membuat Sarah langsung tidak mampu berkutik.
"Aku yakin misi ini akan berantakan. Aku bertaruh!" Megan mengangkat kedua tangannya. Dia berdiri lalu beranjak keluar dari ruangan.
Sarah yang juga kalah telak, bergegas mengikuti Megan. Sebelum keluar dari ruangan, dia menyempatkan diri melotot ke arah Ruby. Akan tetapi Ruby sama sekali tidak hirau. Bahkan gadis tersebut sengaja membuang muka dari Sarah. Ruby melakukannya, karena terlanjur tersinggung dengan anggapan Sarah terhadap dirinya.
Sarah sudah menghilang ditelan pintu. Sekarang hanya tinggal Ryan dan Ruby di ruangan. Keduanya menyepi dalam beberapa saat.
"Aku sepertinya juga harus pergi," ujar Ruby seraya membalikkan badan. Namun tangan Ryan dengan sigap mencegatnya.
"Ryan, lebih baik jangan sekarang. Aku rasa jika kita melakukannya, Megan dan Sarah pasti akan semakin marah kepadaku..." ujar Ruby dengan nada pelan. Wajahnya memerah padam. Sebenarnya gadis itu juga merasa nyaman berada dalam pelukan Ryan. Bukan karena perasaannya, melainkan karena hawa dingin yang tengah menyelimuti musim.
Ryan mengerutkan dahi. Sejak awal, dia hanya ingin sekedar memeluk Ruby. Tidak lebih. Tetapi nampaknya gadis yang dipeluknya, memiliki pemikiran berbeda. Dan Ryan tahu, apa yang dimaksud oleh Ruby. Hanya saja dia tidak menyangka, istrinya akan berpikiran ke lain arah.
"Ruby, apa maksudmu? Aku sekarang hanya ingin mendekapmu." Ryan melepaskan pelukannya, lalu memutar badan Ruby. Sehingga keduanya dalam posisi saling berhadapan.
"A-apa? Jangan berkilah. Aku tahu kau lelaki seperti apa!" balas Ruby, yang sempat ragu di awal. Akan tetapi dia percaya, kalau Ryan memang hendak mengajaknya berhubungan intim.
"Oke, oke. Terserahmu mau memikirkan apa." Ryan mengangkat kedua tangannya ke udara. Dia tertawa geli melihat sikap Ruby.
"Cih! Kenapa kamu malah tertawa. Dasar mesum!" hardik Ruby dengan tatapan kesalnya. Dia segera menggerakkan kakinya untuk melangkah pergi. Namun sekali lagi, Ryan berhasil menghentikan pergerakannya. Kali ini Ryan langsung membalikkan badan Ruby.
__ADS_1
"Kita lihat siapa yang mesum," ucap Ryan, kemudian segera memadukan mulutnya dengan bibir Ruby.
Jantung Ruby sontak berdebaran saat menerima sentuhan Ryan. Kedua tangannya segera melingkar ke tengkuk sang suami. Mereka melakukan ciuman yang semakin intens.
Ruby mulai kesulitan mengatur nafas, hasratnya yang sedari awal memang mengharapkannya, kian bergelora. Tetapi bunyi nada dering ponsel, mengharuskan ciuman Ryan dan Ruby berakhir. Sebab Ryan, langsung melepaskan Ruby ketika mendengar ponselnya berdering.
Ryan sekarang berbicara melalui telepon. Dia terdengar sangat serius. Semuanya terlihat jelas dari nada bicara dan raut wajahnya. Walaupun begitu, tidak ada satu pun pembicaraan Ryan yang dimengerti oleh Ruby.
Ruby mengusap kasar bibirnya. Dia masih belum beranjak dari tempatnya. Menatap Ryan dengan rasa penasaran dan harapan.
"Aku harus pergi. Beristirahatlah, Sayang. Minggu depan kau akan segera melakukan misi pertamamu!" kata Ryan sambil memasang mantel panjangnya.
"Kau benar-benar pergi? Sekarang?" tanya Ruby memastikan.
"Benar." Ryan terkekeh sejenak. "Maaf aku tidak bisa melanjutkannya. Tetapi aku akan berusaha kembali secepatnya!" tambahnya.
"Terserah..." Ruby mengalihkan pandangannya ke samping. Tepat ke arah jendela. Dia tidak mau melihat wajah Ryan, yang terkesan seperti mengejeknya. Rasa malu kembali menggerogoti Ruby.
"Kau terlalu banyak jual mahal, Ruby. Tetapi, itulah yang aku suka darimu," ungkap Ryan. Kemudian melangkah pergi meninggalkan Ruby.
Setelah kepergian Ryan, Ruby mengusap kasar wajahnya. Dia juga mengacak-acak rambutnya histeris.
'Kau mesum sekali, Ruby. Benar-benar memalukan!' keluh Ruby dalam hatinya. Dia berupaya melupakan momen memalukannya beberapa menit lalu.
Bruk!
Suara hempasan pintu membuat Ruby tersentak kaget. Dia lantas menoleh ke arah pintu. Tampaklah Megan yang berdiri sembari mengangkat dagu. Dia memang selalu bersikap angkuh.
__ADS_1
"Ikut aku!" perintah Megan. Dia memimpin jalan, untuk membawa Ruby ke suatu tempat.