
...༻❀༺...
Ruby duduk menunggu Ryan. Suaminya itu sedang memesankan minuman hangat untuknya. Terpikir dalam benak Ruby saat memperhatikan Ryan dari jauh. Lelaki tersebut terlihat sangat normal. Kenapa seorang Ryan memilih membangun organisasi mafia dibanding sebuah perusahaan? Ruby tidak habis pikir. Dengan ketampanan dan badan yang tinggi semampai tersebut, Ryan bahkan mampu menjadi seorang super model.
Mata Ruby mengerjap beberapa kali. Terus mengamati gerak-gerik suaminya sendiri. Ryan tampak sudah menyelesaikan pesanannya. Dia tengah melangkah kian mendekat. Lalu duduk tepat di hadapan Ruby. Tidak lupa segelas cokelat panas diberikannya khusus untuk sang istri. Sebuah senyuman terukir diwajahnya. Seolah perdebatan yang terjadi beberapa jam lalu, telah hilang dari ingatannya.
"Aku bersikap baik kepadamu, bukan berarti aku sudah memaafkanmu!" tegas Ruby dengan ekspresi cemberut. Dia segera menyesap cokelat panas pemberian Ryan.
"Jika kamu masih marah mengenai masalah pembunuhan yang aku lakukan, maka sekarang aku akan menjelaskannya kepadamu." Ryan melipat tangannya ke atas meja. Memasang raut wajah serius. Siap bercerita kepada Ruby.
"Pengkhianat dalam dunia kejahatan sangat berbahaya, Ruby. Mereka tidak dapat dipercaya. Seorang pengkhianat mampu mendapatkan informasi yang lebih banyak, dan jika tidak ketahuan maka dialah yang akan lebih dahulu membunuhmu," jelas Ryan panjang lebar. Akan tetapi Ruby hanya memasang wajah datar. Menantikan keterangan lebih lanjut.
"Perihal aku tidak memperdulikan bawahanku, aku tegaskan itu salah besar! Kau tanyakan langsung saja, seberapa banyak aku memberikan uang kepada mereka!" lanjut Ryan. Kemudian menghirup kopi hangatnya. Dia mengalihkan bola mata ke arah jendela. Dimana dirinya dapat menyaksikan jalur transportasi dipenuhi oleh pengendara.
"Penjelasanmu agak meyakinkan. Tetapi, aku masih tidak terbiasa melihat adegan pembunuhan di depanku." Ruby memegangi area kepala dengan satu tangan. Matanya memejam rapat. Berusaha membuang jauh kilas bayangan bagaimana terbunuhnya Evan. "Aku butuh waktu untuk memahami duniamu ini, Ryan..." lirihnya.
"Jadi, kau mau bergelut lebih dalam lagi? Kalau memang berniat, maka aku tahu kau harus memulai dari mana. Aku yakin, dirimu tidak akan mau disebut sebagai penjahat kelas teri secara terus-menerus. Benar bukan?" pungkas Ryan. Dia mengambil sebungkus rokok dari saku celana. Mengambil sebilah dan menyalakannya dengan pemantik.
Ruby terdiam seribu bahasa. Nafasnya mendengus kasar. Dia tidak bisa membantah ucapan Ryan.
"Biar aku beri kamu kesempatan terakhir untuk memilih, Ruby," ucap Ryan, lalu mengeluarkan kepulan asap dari mulutnya. "Pilihan pertama, jika kau memilih tetap tinggal dan menjadi istriku, maka aku akan terus berupaya membantumu. Tidak hanya dari segi keuangan, tetapi juga keahlian bela diri, serta memberitahu segala hal yang berkaitan dengan dunia kejahatan," terangnya. Ryan mencondongkan wajah ke arah Ruby, lalu berbisik, "aku tahu banyak rahasia..."
__ADS_1
Ruby reflek membulatan mata. Pupilnya membesar kala menatap paras tampan Ryan yang begitu dekat.
"Pilihan kedua." Ryan tersenyum sejenak. "Kau bisa pergi selamanya dariku. Aku tidak akan peduli dengan apa yang terjadi kepadamu, bahkan jika kau berusaha keras menghubungi atau menemuiku," ujarnya. Kemudian menyandarkan badan ke sandaran kursi. Kembali menghisap rokoknya.
Ruby tersenyum sambil menggelengkan kepala. Dia sangat paham, Ryan pasti sangat percaya diri dengan pilihan yang diberikannya. Ruby tahu betul, bahwa dirinya hanya sebatang kara, jika nekat memilih pergi dari Ryan. Belum lagi, gadis itu masih beranggapan kalau para penjahat tentu akan berusaha kembali mengejarnya.
"Kamu tahu, aku tidak punya pilihan..." jawab Ruby dengan mimik wajah sendu. Dia terpaksa memilih jalur ter-aman bagi dirinya sendiri.
"Pikirkanlah baik-baik. Karena suatu hari nanti, aku tidak ingin mendengar keluhanmu, kalau dirimu menyesal memilih kembali kepadaku," balas Ryan.
"Aku beri waktu sebelum Sarah pergi untuk misi The Drugs. Saat itu, berilah aku keputusan bulatmu!" Ryan berkata sembari bangkit dari tempat duduk. Dia menyaksikan mobil jemputan telah tiba.
"Apa maksudmu misi The Drugs?" tanya Ruby, penasaran. Dahinya sedikit berkerut.
"Oke! Aku akan memilih tinggal, Ryan! Katakan kepadaku!" Ruby terlalu penasaran. Sampai dirinya tidak peduli lagi terhadap keputusannya.
Ryan sontak berhenti dan membalikkan badan. "Apa kau yakin?" tanya-nya meragu.
"Ya! Bukankah dari awal, keinginanku adalah tetap tinggal bersamamu? Kenapa kau terus saja memberiku pilihan?" respon Ruby, berbalik tanya.
"Karena kau terus mengeluh!" Ryan berdecak kesal.
__ADS_1
"Maka dari itu, seharusnya kau mendengarkan pembicaraanku sebelum membunuh Evan!" sahut Ruby.
Ryan memutar bola mata sebal. Dia memegangi pundak Ruby dan berucap, "Tidak ada orang yang bisa menghentikan tindakanku saat aku marah. Kau harusnya tahu itu!" Ryan kembali menggerakkan kakinya. Langsung masuk ke dalam mobil. Pembicaraannya dan Ruby berhenti sampai disitu. Dia dan Ruby segera kembali ke markas.
Ketika sampai di markas, Ruby bergegas pergi ke ruang belakang. Dia berniat menemui beberapa bawahan Ryan yang dikenalnya. Dirinya hendak mengetahui bagaimana sosok Ryan dimata mereka.
'Kenapa aku tidak memikirkan ini dari awal? Andai aku melakukannya, aku pasti tahu mana keputusan terbaik untuk diriku sendiri,' batin Ruby sambil menderapkan langkahnya. Masuk ke dalam ruangan, dimana para bawahan Ryan berada. Termasuk Mike, pengawal pribadinya.
Anggota mafia The Shadow Holo banyak mengatakan kalau Ryan adalah ketua yang tegas, baik dan adil. Dia bahkan sering memberikan bonus serta mentraktir makanan enak untuk semua bawahannya.
"Bos juga memperbolehkan kami tidur di kamar hotel. Dan jika kebetulan baru berhasil menyelesaikan misi, maka kami diperbolehkan tidur di kamar VIP. Dia pemimpin yang baik. Makanya banyak orang dari anggota kelompok mafia lain pindah ke sini. Itulah alasan kenapa organisasi mafia The Shadow Holo adalah salah satu yang terbesar di dunia!" Max menjelaskan dengan gaya arogannya. Menyilangkan tangan di depan dada.
"Jujur saja, jika Ryan tidak ada. Mungkin aku dan Gaby sudah mati. Kami berhutang budi dan juga uang kepadanya." Mike memberitahu sembari menggedik-gedikkan satu kakinya ke lantai.
"Oke, cukup sudah aku mendengarkan pujian kalian yang sangat berlebihan. Thanks, guys!" ujar Ruby. Dia lekas-lekas keluar dari ruangan. Berniat pergi menemui Ryan. Akan tetapi ketika dirinya tiba di depan pintu ruang kerja Ryan, telinga Ruby menangkap pembicaraan yang menarik.
"Aku dan Megan akan bekerjasama. Hal terbaik adalah menipu mereka. Aku rasa Megan dapat melakukannya dengan baik. Kita perlu banyak waktu untuk mengalihkan perhatian orang-orang The Drugs." Suara Sarah terdengar meyakinkan.
Ruby yang tambah penasaran, kini perlahan menempelkan kuping di depan pintu. Tanpa diduga, pintu yang bersentuhan dengan telinganya, tidak tertutup rapat. Sehingga menyebabkan pintu otomatis terbuka. Mata Ruby sontak terbelalak. Tiga pasang mata langsung tertuju ke arahnya. Siapa lagi kalau bukan Ryan, Megan, dan Sarah.
__ADS_1
"Wow, akhirnya kau berniat bergabung juga," sapa Sarah yang seketika membuat tangan Ruby mengusap tengkuk tanpa alasan. Ruby merasa sangat malu karena sudah tertangkap basah menguping. Sedangkan Ryan perlahan mengembangkan senyuman tipis. Dia senang terhadap kedatangan istri ketiganya.