
...༻❀༺...
Ryan baru saja berpamitan kepada Ruby. Dia akan berangkat melakukan misi transaksi ke dermaga. Lokasinya sendiri tidak begitu jauh dari mansion.
"Kau sudah membawa barangnya bukan?" tanya Ryan. Dia sudah duduk santai di mobil.
"Iya, aku memasukkan semuanya ke dalam truk. Kami menyembunyikannya di balik produk mainan," sahut Zac sembari fokus mengemudi.
"Ah benar, mainan. Aku tidak menyangka produk mainan kita juga akan cukup sukses. Berusahalah untuk tidak terlalu menarik perhatian. Bisa bahaya jika kedok kita yang sebenarnya ketahuan lagi," ujar Ryan memperingatkan
"Bos tidak mau berpindah bisnis? Bukankah ini kesempatan emas untukmu?" seru Zac seraya menatap Ryan melalui kaca spion.
"Percayalah, jika aku melakukannya. Maka aku jamin, caranya akan lebih susah dibanding hal biasa yang sering kita lakukan." Ryan menjawab malas. Tidak lama kemudian, rombongannya pun tiba di tempat tujuan. Ryan segera turun dari mobil dan menemui orang yang ingin bertransaksi dengannya.
"Robert sudah menunggu di dekat bunker. Dia juga membawa banyak anak buah!" ujar Mike dengan nada berbisik. Ryan lantas mengangguk dan berderap ke hadapan Robert. Seorang lelaki bertato yang mungkin tidak dapat dipercaya. Ryan memang bekerjasama dengannya, tetapi hanya demi bisnis. Jika terkait hal lain, maka dianjurkan Robert dan kawan-kawan sebaiknya dihindari. Mereka adalah kubu transaksi ilegal paling berbahaya.
"Halo, Ryan. Kau tidak lupa membawa barang berhargamu bukan?" timpal Robert sambil melipat tangan di depan dada.
"Tentu saja. Mike!" balas Ryan. Sekaligus memanggil anak buahnya untuk mengambil barang dari bagasi.
Ponsel Ryan mendadak berdering. Ryan langsung mengangkat panggilan yang ternyata dari istrinya tersebut.
"Ryan, Sam menghilang! Aku dan yang lain sudah mencarinya kemana-mana!" ungkap Ruby dari seberang telepon. Menyebabkan manik hazel Ryan membulat. Dia tentu terkejut dengan kabar tidak terduga Ruby
"Kau yakin sudah mencari kemana-mana? Mungkin dia ada di toko mainan seperti kemarin!" balas Ryan. Mencoba tenang.
"Sudah! Kami bahkan mencari ke lingkungan sebelah. Tapi Sam tetap tidak ditemukan!" Ruby terdengar panik.
"Kau tenanglah dahulu. Aku akan--"
"Bos!" Mike tiba-tiba berlari menghampiri Ryan. Raut wajahnya terlihat gelisah. Tanpa sengaja dia memotong perkataan yang hendak diucapkan Ryan.
"Kenapa? Bisakah kau bicara nanti. Aku sedang membahas hal penting dengan Ruby!" hardik Ryan.
"Tidak! Ini penting, Bos!" Mike mendekatkan mulut ke telinga Ryan dan berbisik, "ada Sam di dalam bagasi."
__ADS_1
Sekali lagi mata Ryan terbelalak. Dia bergegas melihat sendiri apa yang baru saja diberitahukan Mike. Setelah memastikan sendiri, betapa kagetnya Ryan saat melihat Sam benar-benar ada di dalam bagasi. Dia bersembunyi di antara barang-barang ilegal milik Ryan. Entah bagaimana anak itu bisa masuk. Yang jelas keberadaannya tidak disadari oleh semua bawahan Ryan.
"Apa ada masalah?" timpal Robert. Dia terheran menyaksikan kegelisahan dari Ryan.
"Tidak ada. Kami hanya berusaha memastikan barang bawaan," kilah Ryan. Berupaya keras menutupi keberadaan Sam.
"Mike, jaga Sam agar tidak terlihat oleh Robert dan yang lain. Kita harus melakukan transaksi secepatnya!" titah Ryan. Kemudian memberitahukan Ruby tentang keadaan Sam sekarang. Selanjutnya, Ryan hanya ingin cepat-cepat menyelesaikan misinya.
Zac mengangkut barang satu per satu ke hadapan Robert. Sedangkan Mike sibuk mengawasi Sam yang tampak duduk tenang di sampingnya.
Di waktu yang tak disangka, Sam tiba-tiba berlari keluar dari mobil. Dia mengambil pistol dari saku celana. Lalu menembakkan peluru ke salah satu pria yang ada di dekat Robert.
Dor!
Satu tembakan sukses memicu perkelahian. Ryan dengan sigap meraih pistol dan menembaki Robert serta antek-anteknya. Dia harus melakukannya, sebelum Robert lebih dahulu menyerang.
Dor!
Dor!
"Sam!" panggil Ryan sembari merebut paksa pistol yang ada di tangan Sam.
"Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk tetap diam di mobil?!" timpal Ryan. Raut wajahnya tampak cemberut.
"Tidak bolehkah aku membantumu, Daddy?" sahut Sam dengan ekspresi polosnya.
"Kau dihukum! Sini!" Ryan mencengkeram tangan Sam. Mereka terlihat masuk ke dalam mobil.
Sesampainya di mansion. Ryan kembali menarik paksa Sam. Pergerakannya yang cepat, membuat Sam kewalahan mengikuti.
"Babe, apa yang terjadi?" Ruby muncul dan langsung bertanya. Akan tetapi Ryan tidak menanggapi sama sekali.
Ryan terus berjalan sambil menarik tangan Sam yang mungil. Lama-kelamaan kekangan Ryan menyebabkan Sam cemas. Pegangan tangan ayahnya terasa kuat dan menyakitkan.
"Daddy, i'm so sorry..." mohon Sam menyesal.
__ADS_1
Ryan tetap melangkah maju. Hingga berhenti di depan sebuah gudang. Dia membuka pintu gudang. Memperlihatkan betapa gelap dan menyeramkannya tempat tersebut.
"Kau mau maaf dariku? Masuklah ke dalam sana!" geram Ryan sambil mendorong Sam masuk ke dalam gudang.
"Ryan! Apa-apaan!" Ruby yang sedari tadi mengikuti, menatap Ryan dengan perasaan kesal.
"Dia berani-beraninya bersembunyi di antara barang-barang berhargaku! Akibat ulahnya, transaksiku gagal total. Sam harus diberi pelajaran!" jelas Ryan dengan dahi yang berkerut dalam.
"Tapi tidak mengurungnya di tempat gelap begini bukan?!" Ruby tidak ingin kalah.
"Mau sampai kapan kau mau memanjakannya?! Kau tahu? Semua bawahanku sekarang sudah menjadi baby sitter-nya!" ucap Ryan sembari menunjuk ke arah Sam.
"Maafkan aku... hiks... aku berjanji tidak akan melakukannya lagi..." Suara tangisan terdengar dari Sam. Dia menutupi area matanya dengan punggung tangan.
Perdebatan Ryan dan Ruby otomatis terhenti. Atensi mereka langsung teralih kepada Sam. Ruby segera menghampiri putranya itu.
"Berjanjilah untuk tidak melakukannya lagi, Sam. Apa yang kau lakukan itu berbahaya! Tentu saja ayahmu akan memarahimu." Ruby memberitahu Sam dengan cara baik-baik. Sam hanya bisa menangis dan menganggukkan kepala beberapa kali.
Ryan berdecak kesal. Dia beranjak pergi meninggalkan Ruby dan Sam. Melanjutkan aktifitas untuk beristirahat di kamar.
"Ayahmu sepertinya merajuk. Kau harus lakukan sesuatu untuk berbaikan dengannya. Jika tidak, dia akan bersikap dingin kepadamu selamanya. Kau tahu bukan?" imbuh Ruby.
Sam mengangguk seraya menghapus tetesan air mata di pipinya. Dia segera mengikuti arahan Ruby. Keduanya akan melakukan misi untuk membuat Ryan luluh kembali.
..._____...
Guys, kemungkinan bonus chapter bakalan berakhir di bab 130. Dan updatenya tidak menentu ya...
Oh iya, btw kemarin aku sempat hapus novel baru yang menceritakan Megan dan Ethan. Aku terpaksa menghapusnya, karena ada perbaikan dari segi cerita. Tapi sekarang udah aku up lagi dan bakalan terus lanjut sampai tamat. Silahkan cek ya! Maaf atas ketidaknyamanannya... 🙏
Buat yang masih belum memaafkan Megan, memang sebaiknya skip aja. Karena novel ini bakal lebih liar dibanding novel Ruby. Menceritakan lebih dalam dunia mafia serta dunia hiburan. Author nggak mau maksa juga. Apalagi buat yang di bawah umur. Hehehe...
Oh iya, Ryan dan Ruby juga pasti bakalan muncul di sana. Tapi cuma sebagai karakter bintang tamu, wkwk...
Ya udah gitu aja. Makasih atas perhatian dan kesetiaannya... love you 😘
__ADS_1