Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bonus Chapter - The Last


__ADS_3

...༻❀༺...


Ruby dan Ethan saling bicara. Keduanya duduk di teras yang ada di balkon. Sedangkan Ryan sibuk mengamati dari balik jendela.


"Kau terlihat lebih baik," komentar Ruby. Setelah puas memindai penampilan Ethan dari ujung kaki hingga kepala.


"Waktu berlalu dengan cepat. Segalanya sudah berubah. Bahkan perasaanku..." tanggap Ethan. Dia menambahkan senyuman simpul yang menawan.


Ruby terkekeh. Ia ingat betul semua jasa Ethan dalam hal membantunya. Terutama ketika Ruby sedang hamil.


"Aku harap kau menemukan gadis yang baik. Lebih baik dariku," harap Ruby sambil menatap matahari yang hampir tenggelam di ufuk barat. "Tapi jika dia Megan, aku harap dia tidak akan menghinamu dengan kalimat pedas. Itu adalah hal yang paling--"


"Dengar, Ruby. Aku tidak mungkin menyukai wanita seperti Megan. Dia memang gila. Bahkan lebih gila darimu," pungkas Ethan. Menyebabkan Ruby melayangkan tatapan tajam.


"Jika kau dan Megan terlalu sering bertemu, kemungkinan besar kau akan jatuh cinta dengannya. Aku sangat membenci Megan. Tetapi saat aku tahu dia mengorbankan hidupnya untukku dan Ryan, aku pikir Megan tidak cukup buruk." Ruby mengungkapkan panjang lebar.


"Sikap Megan tidak bisa ditebak, Ruby. Kau harus tetap berhati-hati," komentar Ethan sambil menghela nafas. Entah kenapa kalimat itu terucap begitu saja dari mulutnya.


Mendengar perkataan Ethan, Ruby langsung menatap penuh selidik. "Kau benar. Aku rasa, aku juga harus berhati-hati denganmu..." ujarnya.


Ethan mengembangkan senyuman ambigu. Dia dan Ruby lanjut berbicara cukup lama. Hingga akhirnya Ethan perlahan bangkit dari tempat duduk. Lalu segera berpamitan dengan Ruby.


"Kemarilah!" Ruby merentangkan tangan. Ia kali ini bersikap hangat. Ethan yang mengerti segera memeluknya.


"Aku akan kembali dan membawa kejutan." Ethan berkata dalam keadaan masih mendekap Ruby.


Ryan yang berdiri dari balik jendela, terus mengawasi. Raut wajahnya bahkan mulai terlihat serius. Meskipun begitu, Ryan tetap diam di tempat.


"Apa pelukan itu benar-benar diperlukan? Ethan, kau lebih baik segera pulang!" akibat tidak tahan lagi, Ryan akhirnya angkat suara.


Ethan dan Ruby berhenti berpelukan. Atensi keduanya segera tertuju ke arah Ryan. Ethan lantas melenggang ke hadapan Ryan. Kemudian memberikan pelukan dengan paksa.

__ADS_1


"Apa-apaan kau!" geram Ryan sembari membulatkan mata. "Apa kau gila?" rutuknya tak percaya. Entah kenapa wajah Ryan memerah malu. Dia tidak pernah mendapat pelukan dari seorang lelaki sebelumnya. Bahkan dari ayahnya sendiri.


Ethan justru menepuk pundak Ryan beberapa kali. "Ingat, Ryan. Aku akan kembali dengan membawa kejutan untukmu..." lirihnya.


"Bagus..." komentar Ryan seraya mendorong Ethan menjauh. "Kau juga mengatakan itu dalam suratmu! Tapi lihat dirimu, kau tetap saja seperti dulu. Selalu sendiri dan tidak punya apapun selain mulut besarmu itu," sambungnya.


Ethan memutar bola mata jengah. Ia memang tidak seharusnya datang menemui Ryan dan Ruby terlalu cepat.


Ponsel Ethan tiba-tiba berdering. Lelaki itu bergegas melangkah jauh dari Ryan. Kemudian mengangkat panggilan telepon. Saat itulah Ruby berjalan menghampiri Ryan.


"Ryan, tadi Ethan memberitahuku satu hal. Dia bilang, Sam butuh teman sebaya. Menurutku dia ada benarnya. Bukankah kita harus mencoba dahulu?" tutur Ruby. Kedua alisnya terangkat dalam waktu bersamaan.


Ryan menarik sudut bibirnya ke atas dan membalas, "Aku tidak masalah. Tetapi masalahnya, Sam..."


"Dia akan baik-baik saja. Mungkin sikap Sam akan berubah saat bersama teman sebayanya."


"Baiklah, kalau itu maumu. Tetapi, kau juga harus ikut dengan Sam. Jangan suruh Gaby atau siapapun untuk menjaganya." Ryan memberikan saran.


Ethan tampak sudah selesai berbicara melalui telepon. Lelaki itu segera berpamitan kepada semua orang. Dia pergi dengan menggunakan sebuah mobil sport.


"Apa menurutmu mobil Ethan adalah hasil curian?" Ruby bertanya tanpa menoleh kepada lawan bicara. Perhatiannya tertuju ke mobil Ethan yang berjalan menjauh.


"Seratus persen. Kalau dengan uang pun, aku sangat yakin uangnya adalah hasil curian" Ryan menatap Ruby dengan sudut matanya. Lalu membawa istrinya itu masuk ke dalam rangkulan.


...***...


Ruby, Ryan dan Sam berada dalam mobil yang sama. Hanya mereka bertiga. Tidak ada Gaby, Mike bahkan anak buah Ryan yang lain.


"Kenapa Gaby dan yang lain tidak ikut? Ini membosankan!" ungkap Sam dengan gamblang.


"Ini sama sekali tidak membosankan. Kami akan membawamu bertemu teman-teman baru, Sam..." ujar Ruby sembari menoleh ke kursi belakang. Dimana Sam tengah duduk dalam keadaan terikat sabuk pengaman.

__ADS_1


"Aku lebih suka di rumah," balas Sam. Dia menopang dagu dengan satu tangan. Menatap datar keluar jendela.


"Ruby, sebaiknya kita jalan-jalan saja bertiga. Kita tidak perlu membawa Sam pergi bergabung dengan teman sebayanya. Lihatlah Sam! Dia sama sekali tidak bersemangat," imbuh Ryan.


"Aku ingin mencoba setidaknya satu kali!" sahut Ruby bersikeras.


"Terserah." Ryan memilih mengalah. Dia paham betul sifat keras kepala Ruby.


Tidak lama kemudian, tibalah mereka di tempat tujuan. Ruby dan Ryan segera mengantar Sam ke sebuah taman khusus bermain anak-anak. Lokasinya sendiri berada di sebuah mall besar.


"Ayo bermainlah, Sam!" suruh Ruby.


Sam termangu sejenak. Matanya berbinar-binar saat melihat banyak sekali mainan. Dia otomatis berlari menghampiri salah satu mainan. Yaitu permainan tembak-tembakan.


"Kenapa dia selalu tertarik dengan pistol? Ini semua gara-gara kau!" Ruby menyenggol Ryan dengan siku.


"Karena dia adalah penerusku di masa depan," bisik Ryan sambil menyunggingkan senyuman.


"Cih! Berlagak sekali." Ruby memutar bola mata sebal. Dia dan Ryan duduk menunggu di sebuah cafe terdekat.


Setengah jam berlalu, tiba-tiba terdengar suara teriakan anak-anak. Mereka semua berlarian tak tentu arah. Seolah menghindari sesuatu.


Setelah mengamati baik-baik, Ruby dan Ryan dapat menyaksikan Sam dari kejauhan. Putra mereka itu terlihat memegang sebuah tongkat plastik berbentuk pedang. Dia juga mengenakan topeng mengerikan di wajah. Parahnya Sam memukuli semua anak yang ditemuinya tanpa ampun. Sudah ada sekitar sepuluh anak menangis akibat kegilaan Sam.


"Sudah kubilang, ini bukan ide yang bagus." Ryan berbisik. Kemudian segera turun tangan untuk menjemput Sam.


"Oh my godness..." Ruby memegangi jidat sambil geleng-geleng kepala. Sekarang dia harus mengurus satu anak nakal selain suaminya sendiri.


Catatan Author :


Ini bonus chapter terakhir ya guys. Terima kasih buat yang masih setia menunggu. Buat yang mau unfavorit, dipersilahkan... 🙏

__ADS_1


__ADS_2