Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 34 - Tentang Perasaan


__ADS_3

...༻❀༺...


Setelah Ryan merasakan puncak kenikmatan, barulah dia melepaskan diri dari Ruby. Lelaki itu langsung menarik selimut, dan telentang. Mengatur nafas yang masih ngos-ngosan. Sensasi kegiatan intim yang baru selesai, masih terasa. Ryan rebahan sambil memegangi area jidatnya.


Ruby terlihat terkulai lemah. Dia memang selalu kalah dari permainan Ryan saat di ranjang. Gadis tersebut hanya memposisikan selimut menutupi bagian dadanya. Matanya terpejam dalam keadaan mulut yang masih menganga. Ruby juga tengah mengatur deru nafasnya. Dia dan Ryan saling menghening untuk sekian menit.


"Ryan..." panggil Ruby dalam keadaan mata yang masih tertutup. Ryan yang mendengar otomatis menoleh.


"Kenapa? Kau mau lagi?" tebak Ryan. Bermaksud bercanda.


Ruby sontak membuka lebar matanya, lalu segera menjaga jarak dari Ryan. "Enak saja! Kau pikir aku vampir, yang sanggup melakukannya terus-menerus." Kedua tangan Ruby semakin menggenggam erat selimut. Dia mencoba menutupi badannya yang masih belum mengenakan pakaian.


Ryan tergelak ketika melihat respon Ruby. Menggoda seorang Ruby memang sangat menyenangkan baginya. Terkadang gadis itu polos, dan kadang juga bisa menjadi liar.


"Lalu, kenapa kau memanggil namaku?" Ryan mendekatkan dirinya kepada Ruby. Dalam posisi menghadap dan menjadikan satu tangan untuk menopang kepala. Matanya segera menatap lekat gadis yang telentang di sebelahnya.


"Aku hanya..." Ruby menatap Ryan dengan sudut matanya.


"Katakan saja," desak Ryan.


"Ini tentang Aku, Megan, dan Sarah. Siapa yang paling kau cintai?" tanya Ruby serius. Namun lelaki yang dia tanya malah terkekeh geli.


"Kenapa kau malah tertawa? Kau pikir bicara mengenai perasaan itu lucu?" Ruby mengerutkan dahi kesal.


Ryan segera menghentikan tawa. Dia menjawab, "Kalian bertiga punya pesona masing-masing. Dan semuanya penting bagiku."


"Ryan, aku tidak bertanya siapa yang paling penting! Tetapi siapa yang paling kau cintai!" Ruby melayangkan tatapan tajam kepada Ryan.


Ryan terdiam cukup lama. Bunyi nada dering ponsel, mengharuskan Ryan bangkit dan mengangkat panggilan. Ryan merasa terselamatkan karena panggilan telepon mendadak tersebut. Dia kini sedang berbicara dengan seseorang melalui ponsel.


Ruby merubah posisi menjadi duduk. Dia menampakkan mimik wajah cemberut. Kemudian bergegas mengenakan pakaian.


"Benarkah? The Drugs ditipu? Apa kau bercanda?" pembicaraan Ryan menarik perhatian Ruby. Mendengar kata The Drugs dirinya sontak mengingat sosok Ethan.

__ADS_1


"Itu bagus. Sudah kuduga mereka hanya kumpulan orang bodoh!" begitulah kalimat terakhir Ryan, sebelum benar-benar memutuskan panggilan. Dia segera mengenakan celana. Kemudian memutar tubuhnya ke belakang. Tepat ke arah dimana Ruby berada.


"Aku masih menunggu jawabanmu." Ruby menyilangkan tangan di depan dada. Ekspresinya tampak serius.


"Sudah larut malam, sebaiknya kita tidur saja." Ryan menghempaskan tubuhnya kembali ke kasur. Mengabaikan pertanyaan Ruby.


Ruby ingin sekali berdebat dengan Ryan. Akan tetapi, dia berusaha keras menahannya. Semuanya dia lakukan agar hubungannya dengan Ryan tetap harmonis. Dia melakukannya karena rencana pembalasannya belumlah selesai terhadap Megan dan Sarah. Ruby butuh Ryan untuk selalu beada disisinya.


'Dasar lelaki!' umpat Ruby dalam hati. Dia menatap sinis Ryan yang sudah tengkurap di atas kasur. Lelaki itu belum mengenakan kaos bajunya. Jadi keadaannya masih bertelanjang dada.


Ruby memutar bola mata jengah. Kemudian beranjak ke kamar mandi. Selanjutnya, dia segera bergabung untuk tidur bersama Ryan.



Malam berganti siang. Ruby terbangun saat waktu menunjukkan jam 08.35 am. Tangannya meraba-raba ke samping. Tempat dimana Ryan seharusnya berada. Namun dirinya hanya bisa merasakan kasur yang empuk. Pertanda Ryan sudah bangun lebih dulu darinya.


Mata Ruby yang sedari tadi terpejam, akhirnya terbuka lebar. Benar saja, Ryan memang sudah tidak rebahan lagi di sampingnya. Uang-uang yang sebelumnya berhamburan juga sudah tidak ada lagi.


Ruby beringsut ke ujung kasur. Dia berniat kembali ke kamar. Sebelum itu, dia masuk ke ruang ganti terlebih dahulu. Hendak memberitahukan Ryan kalau dirinya akan pergi.


"Ryan, aku akan kembali ke kamar," imbuh Ruby. Menyebabkan Ryan otomatis menoleh.


Ryan mengembangkan senyum. "Kenapa kau tiba-tiba begitu manis, Ruby," komentarnya sembari berjalan kian mendekat. Dia merasa tergugah kala menyaksikan Ruby berpamitan kepadanya. Lelaki itu berhenti tepat di hadapan Ruby. Sebuah kecupan singkat lantas diberikannya.


Ruby memaksakan dirinya tersenyum. Lalu beranjak pergi menuju pintu. Saat dia membuka pintu, dirinya langsung dikejutkan dengan sosok Megan.


"Pas sekali. Kau sudah selesai kan? Sekarang giliranku." Megan tersenyum. Kemudian mencoba masuk ke kamar Ryan. Tetapi Ruby berusaha keras menghalangi jalannya.


"Apa-apan, Ruby! Bisakah kau menyingkir?!" timpal Megan dengan kening yang mengernyit sebal.


"Megan, Ryan sekarang akan berangkat. Dia dalam keadaan tergesak-gesak. Lebih baik nanti saja kau temui dia," ujar Ruby, berupaya mengusir Megan.


"Menjauhlah!" Megan menarik paksa tangan Ruby. Usahanya berhasil membuat Ruby menjauh. Megan kini yang mengambil alih posisi Ruby sebelumnya. Tanpa sepatah kata pun, dia langsung menutup pintu kamar dengan hempasan keras.

__ADS_1


Bruk!


Rambut-rambut Ruby beterbangan ketika angin dari hempasan pintu menerpanya. Dia tercengang dengan sikap Megan. Tiba-tiba Ruby juga penasaran terhadap tujuan Megan pergi menemui Ryan.


"Ruby, kau baru saja keluar? Dari kejauhan aku kebetulan melihatmu," sapa Gaby yang sontak mengharuskan Ruby berbalik untuk menatapnya.


"Ya, aku baru keluar." Ruby menjawab dengan dengusan kasar. Matanya melirik ke arah pintu Ryan. Dirinya dirundung rasa penasaran.


"Kau mau burger? Aku baru membelinya tadi." Gaby memperlihatkan bungkusan makanan yang berisi burger.


"Tentu..." Ruby segera mengalihkan perhatiannya kembali kepada Gaby. "Ayo, kita ke kamarku saja. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan," sambungnya seraya membawa Gaby masuk ke dalam rangkulan. Keduanya melangkah bersama-sama menuju kamar Ruby.


Di sisi lain, Megan baru saja masuk ke ruang ganti. Di sana perhatiannya langsung tertuju ke arah Ryan.


"Kau belum pergi?" tanya Ryan tanpa menoleh ke belakang. Dia mengira sosok yang ada di belakangnya adalah Ruby.


"Ryan, ini aku..." ucap Megan. Suaranya yang berbeda jauh dari Ruby, tentu sangatlah dikenali Ryan.


"Megan?" Ryan memutar tubuhnya menghadap Megan. "Sedang apa kau di sini? Jika tujuan kedatanganmu untuk meminta kembali kartu kredit dan debitmu, maka aku pasti akan--"


"Kau membuat tato?" Megan tidak sengaja memotong ucapan Ryan. Dia terpaku kepada tato baru yang tergambar didada Ryan. Kebetulan lelaki itu belum sempat mengenakan kemeja.


"Bagus bukan?" respon Ryan. Meminta pendapat.


"Aku menyukainya!" Megan merekahkan senyuman simpul. Dia menatap dalam manik hazel milik Ryan. Terdapat binar penuh arti dari sorot mata gadis berambut pirang tersebut.


"Megan, apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?" tanya Ryan. Dia sedikit mencondongkan wajah ke arah Megan.


"Ya, itulah alasanku pergi menemuimu!" jawab Megan.


"Baiklah, aku akan mendengarkan." Ryan memasang kedua telinganya baik-baik.


"Aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku. Aku tahu, aku tidak pernah mengatakannya kepadamu selama ini. Kita bersenang-senang dan melakukan sek*s hanya untuk kepuasan satu sama lain. Tetapi kini, aku merasakan hal yang berbeda. Aku... mencintaimu. Aku tidak tahu kapan tepatnya diriku merasakannya, Ryan." Megan menjelaskan panjang lebar. Dia mendekat satu langkah ke hadapan Ryan.

__ADS_1


__ADS_2