
...༻❀༺...
Semua orang menyepi untuk sesaat. Max merupakan orang yang berniat pergi lebih dahulu. Kemudian di ikuti oleh Mike. Keduanya berjanji akan memberikan kabar saat tengah malam nanti kepada Ruby.
Tok!
Tok!
Tok!
Bunyi ketukan pintu terdengar. Berhasil membungkam mulut semua orang yang ada di kamar. Ruby lantas berjalan ke arah pintu, lalu membukanya. Tampaklah sosok Ryan yang mampu membuat Ruby dan lainnya terkejut. Bagaimana jika Ryan sedari tadi mendengarkan topik pembicaraan yang ada?
Ekspresi tegang terpasang diwajah Ruby. Hal serupa juga terjadi kepada Mike, Gaby dan Max. Mungkin perasaan takut yang dirasakan mereka lebih tinggi dibandingkan Ruby.
"Ry-ryan?" Ruby bahkan melakukan sapaan yang tergagap. Matanya sedikit membulat. Sulit baginya sekarang untuk sekedar merekahkan senyuman.
"Sedang apa kalian? Sepertinya sedang mendiskusikan hal serius." Ryan menatap Mike, Gaby dan Max secara bergantian. Dia tentu merasa curiga.
"Bu-bukan apa-apa bos, Ruby hanya ingin ditemani makan pizza." Mike menjawab dengan gugup.
"Benar, lihat! Pizza-nya sudah kami habiskan." Gaby mengambil sekotak pizza yang sudah kosong. Padahal kotak pizza itu adalah makanan yang kemarin disantapnya bersama Ruby. Sebuah keberuntungan, Ruby lupa membuang kotak tersebut ke bak sampah.
"Maaf, Ryan. Aku ingin mengajakmu, tetapi aku merasa kau sedang disibukkan dengan banyak hal," ungkap Ruby. Berupaya menguatkan alasan palsu yang dilontarkan oleh Mike dan Gaby.
"Oke, aku mengerti. Tetapi kalian sudah selesai bukan?" respon Ryan. Dia sekali lagi menatap ketiga bawahannya yang kebetulan berada di kamar Ruby. Memberikan sinyal kepada mereka untuk segera pergi.
"Ya, tentu. Kami baru saja mau pergi. Ayo!" Max yang paham betul dengan maksud pimpinannya, bergegas bersuara. Kemudian mengajak Mike dan Gaby untuk beranjak. Dalam sekejap ketiganya pergi dari pandangan Ruby dan Ryan.
__ADS_1
Kini Ruby menggerakkan bola matanya kepada Ryan. Penuh tanya serta rasa sebal yang menyatu. Ryan segera menyadari tatapan itu. Namun dia malah melingus masuk ke kamar Ruby.
"Kau mau apa?" timpal Ruby dengan dahi berkerut. Tangannya masih tidak kuasa untuk menutup pintu. Ruby ingin Ryan pergi dari kamarnya!
"Apa tidak boleh seorang suami mendatangi kamar istrinya?" balas Ryan tak acuh. Dia meletakkan mantelnya ke sofa. Lalu menghempaskan tubuh ke kasur Ruby.
Ruby mendengus kasar. Pintu akhirnya ditutup olehnya. Dia kebingungan mengusir Ryan dari kamarnya. Jika lelaki tersebut terus bersamanya, Ruby tidak akan bisa menjalankan rencananya malam ini. Kepalanya hanya bergerak ke kanan dan kiri tidak karuan. Terlihat sekali kegelisahan yang tengah dirasakan Ruby. Tanpa sengaja atensinya tertuju ke kemeja yang sedang dikenakan Ryan. Ada bercak darah di sana.
"Ryan, apa kau terluka? Ada darah di bajumu." Ruby memberitahu sembari mendekat.
Ryan langsung merubah posisi menjadi duduk. Dia memastikan bercak darah yang disebutkan Ruby. Benar saja, ucapan istrinya bukanlah sebuah kebohongan. Ryan benar-benar lupa membersihkan bajunya sebelum berkunjung ke kamar Ruby.
"Lupakan, Babe. Ini bukan hal besar!" ucap Ryan. Tidak memberikan alasan.
"Kau tidak mau memberitahuku?!" Ruby menatap serius sang suami. "Kenapa hanya aku satu-satunya orang di sini yang tidak tahu apapun? Jika aku mengetahui sesuatu dengan sendirinya, apalagi bila itu berkaitan denganmu, maka aku tidak akan memaafkanmu!" tegasnya. Rahangnya sedikit mengerat akibat pitam yang mendadak memuncak.
"Ruby... Kenapa hari ini kau sangat sensitif?" Ryan berdiri dan berderap menghampiri Ruby. Sekarang keduanya saling bertukar pandang. Ruby memancarkan binar penuh amarah, sementara Ryan memasang tatapan teduhnya untuk Ruby.
"Maafkan aku, Ruby. Aku mendengar semua pembicaraanmu dengan Mike, Gaby dan Max tadi." Ryan ikut duduk, dia memilih tempat di samping Ruby. Ucapannya tentu menyebabkan kelopak mata Ruby melebar. Dia dibuat kaget, ternyata benar dugaaannya. Ryan menguping semua pembicaraannya.
"Lalu? Apa kau akan memarahiku?!" Ruby mengangkat kedua bahunya sekali.
Ryan terkekeh. Dia menyandarkan punggungnya ke sofa dan berkata, "Aku akan beritahukan segalanya kepadamu. Jadi, kau tidak perlu bersusah payah bicara kepada Ethan." Sekarang Ryan merubah ekspresinya menjadi serius.
"Benarkah?" Tatapan Ruby berubah. Tidak ada lagi binar penuh amarah lagi di sana. Kini hanya ada rasa penasaran yang mengganggu pikirannya.
Ryan mengangguk pelan. "Tetapi, ini adalah cerita yang menyedihkan dan agak tragis. Itulah alasanku berusaha menyembunyikannya darimu sampai sekarang," terangnya melanjutkan. Sekali lagi Ryan menatap teduh istrinya. Jujur saja, dirinya merasa ragu untuk menceritakan segalanya kepada Ruby. Ryan takut, tidak akan lagi melihat keceriaan yang terpancar dari paras gadis tersebut.
__ADS_1
Di sisi lain, Ryan tidak mau Ruby mengetahui semuanya dari mulut orang lain. Dia tidak mau istrinya marah kepadanya, hanya karena masalah kumpulan kalimat kebenaran.
"Cepat ceritakan kepadaku, Ryan. Apapun itu, aku akan menerimanya. Di dunia ini, kebenaran memang selalu menyakitkan," tutur Ruby, penuh harap.
Ryan tersenyum kecut. Dia mulai memberitahukan apa yang dia tahu kepada Ruby. Lelaki tersebut mengawali ceritanya dengan memperkenalkan rekan wanitanya di masa lalu. Namanya adalah Lucy Agatha. Lebih tua sembilan belas tahun dari Ryan. Selain menjadi rekan, Lucy juga merupakan seorang senior bagi Ryan. Lucy-lah yang memperkenalkan dunia mafia kepada Ryan. Baik bagaimana cara kerja organisasi tersebut, serta orang-orang yang bersangkutan.
"Apa hubungannya Lucy denganku?" Ruby terheran sembari meletakkan salah satu tangan ke dada.
"Dia... ibumu," jawab Ryan. Menyebabkan mata Ruby secara alami berkaca-kaca. Air matanya masih tertahan.
"Be-benarkah? Lalu, dimana dia sekarang?" Ruby memberanikan diri bertanya. Dia meragu. Terbukti dari pendar dimatanya yang sedikit bergetar.
Ryan menundukkan kepala. Dia tidak kuasa menyaksikan kesedihan yang mulai ditampakkan oleh Ruby. Sekarang dirinya benar-benar enggan memberitahu Ruby. Ryan yakin, ketika Ruby mendengar jawabannya, gadis itu pasti akan menangis.
"Katakan kepadaku!" Ruby mendesak. Dia bahkan mengguncang-guncang badan Ryan histeris.
"Dia sudah mati," imbuh Ryan. Perlahan dia mendongak dan menyaksikan raut wajah Ruby. Benar dugaannya, beberapa tetes cairan bening sudah lolos dari gadis itu. Tetapi tangan Ruby lekas-lekas menghapus cairan bening tersebut dari pipinya.
"Aku seharusnya tidak menangisi orang yang tidak peduli kepadaku..." ucap Ruby seraya mengusap kasar pipinya yang sudah bersih dari air mata.
"Dia peduli kepadamu. Lucy terpaksa menitipkanmu ke panti asuhan, karena dia tidak mau kau terlibat dalam dunia gelap," jelas Ryan.
Ruby terdiam sesaat. Kemudian kembaki berucap, "Tunggu dulu. Apa Lucy ada memberitahu, kalau dia mengirimkan seseorang untuk menjagaku?" Ruby menyimpulkan kalau sosok Henry adalah orang yang dikirim Lucy untuk menjaganya.
"Apa kau bilang?" Ryan mengernyitkan kening. Dia tidak tahu apapun mengenai nama orang yang disebutkan Ruby. "Tidak, Ruby. Lucy tidak pernah mengirimkan seseorang untukmu. Dia hanya rutin memberikan bantuan kepada pihak panti asuhan, agar segala kebutuhanmu terus mencukupi."
"Lalu siapa Henry?" Ruby bertanya-tanya. Hal yang sama juga dirasakan oleh Ryan. Dia ikut merasa penasaran.
__ADS_1
"Apa dia adalah orang yang penting untukmu? Kau tidak pernah menceritakan tentangnya kepadaku." Ryan agak mencondongkan kepala ke arah Ruby. Dia sengaja memiringkan tubuhnya agar bisa bicara menghadap istrinya.
"Henry yang membawaku masuk ke dunia kejahatan. Dia mengajariku bagaimana cara mencuri dan menipu. Tetapi, saat umur lima belas tahun, dia menghilang seperti ditelan bumi. Itulah alasan utamaku tidak pernah bercerita tentangnya kepadamu. Aku membencinya, karena dia pergi meninggalkanku begitu saja." Ruby duduk bersila di atas sofa. Dia juga memutar badannya menghadap Ryan. Pembicaraan yang terjadi di antara keduanya semakin dalam.