Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 71 - Merebut Ruby [1]


__ADS_3

...༻❀༺...


Ryan bersembunyi di tempat yang aman. Dia memasang earpiece-nya yang sudah tersambung dengan Alex. Ryan segera memerintahkan Alex untuk mencari Ruby melalui rekaman CCTV.


Setelah menunggu beberapa saat, Alex akhirnya memberitahu keberadaan Ruby. Alex bilang, gadis itu memasuki gedung utama. Bangunan terbesar di antara gedung lainnya. Tanpa pikir panjang, Ryan menuju gedung utama. Dia berjalan dengan laju. Jika ada yang menghalangi, Ryan tidak segan-segan untuk melakukan serangan.


Dari kejauhan, terdapat seorang lelaki yang berjaga sendirian. Dia tampak berdiri membelakangi Ryan. Saat itulah Ryan mengambil peluang untuk menyerang. Ryan menghampiri dan langsung mematahkan kepala lawannya tanpa ampun.


Kretak!


Dalam sekejap musuh langsung tumbang, menyebabkan Ryan bisa kembali melanjutkan pencarian dengan aman. Sebelum pergi, Ryan tidak lupa untuk mengambil kunci serbaguna yang berbentuk seperti kartu. Ryan harus menggunakan kunci tersebut ketika hendak memakai lift.


Sekarang Ryan berada di dalam lift. Dia menuju lantai tujuh. Alex mengatakan Ruby ada di lantai itu. Saat pintu lift terbuka, mata Ryan terbelalak tatkala menyaksikan ada banyak orang yang menodongkan pistol ke arahnya. Ryan otomatis tidak bisa berkutik. Dia mengangkat kedua tangannya ke udara.


Beberapa saat kemudian, muncullah Jordan. Membelah bawahannya yang tengah sibuk menodongkan senjata kepada Ryan. Jordan berdiri tegap. Menatap Ryan sambil mengeratkan rahangnya.


"Ternyata benar, kau memang cinta mati kepada anakku. Sampai-sampai nekat pergi sendirian ke sini." Jordan berucap dengan memasang tatapan tajamnya.


"Apa?! Anakmu? Sejak kapan kau menganggap anak kandung sebagai seorang anak? Kau melatih mereka hanya karena untuk perlindunganmu! Dasar pengecut!" balas Ryan. Dia menurunkan kedua tangannya. Membalas pelototan mata dari Jordan.


"Kau memang cari mati. Baiklah, jika itu maumu," ujar Jordan. Dia segera memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Ryan. Sedangkan Jordan sendiri bergegas pergi entah kemana.


Ryan langsung dibawa oleh dua orang. Namun sebelum sempat memasuki ruangan, Ryan dengan sigap menumbangkan dua orang yang sedang memeganginya. Serangan Ryan yang gesit dan kuat, membuat dua tangan bawahan Jordan terpelintir bersamaan. Saat itulah Ryan merebut senjata mereka sekaligus. Senjata api berupa machine gun. Dia langsung menembakkan peluru kepada seluruh lawannya.


Ryan berlari mengejar Jordan. Saat ada bawahan Jordan yang berjalan ke arahnya. Ryan hanya tinggal menekan pelatuk machine gun. Dia menembak puluhan kali kepada semua lawannya.


Dor!

__ADS_1


Dor!


Dor!


Hanya dalam beberapa detik, Ryan menciptakan lautan mayat manusia di koridor lantai tujuh. Selanjutnya, dia bergegas mencari keberadaan Jordan. Ryan memeriksa ruangan satu per satu. Lelaki tersebut cukup lama untuk melakukan pencarian. Hingga pada akhirnya Alex terdengar berbicara melalui earpiece. Alex memberitahukan, kalau Jordan dan Liana telah pergi menggunakan lift di lantai delapan. Alex mengatakan kalau Jordan dan Liana pergi membawa Ruby menuju atap gedung.


"Selain itu, Henry dan yang lain sudah berdatangan. Aku dan Gaby juga akan ikut melakukan penyerangan bersama mereka. Aku pikir itulah alasan kuat kepergian Jordan dan Liana! Sepertinya mereka sedang mencoba untuk kabur menggunakan helikopter!" ucap Alex dari seberang telepon


Mendengar informasi dari Alex, Ryan lekas-lekas berlari memasuki lift. Dia berharap dirinya bisa tepat waktu menyelamatkan Ruby. Namun tanpa diduga, listrik mendadak mati. Menyebabkan lift sontak berhenti. Ryan kini terjebak sendirian.


"Alex! Apa-apaan ini. Siapa yang mematikan listriknya?!" tanya Ryan. Berbicara melalui earpiece-nya.


"Aku tidak tahu. Aku juga tidak bisa melihat melalui kamera CCTV lagi!" balas Alex. "Aku dan yang lain akan segera pergi ke gedung itu!" sambungnya. Kemudian mematikan panggilan.


Kini Ryan sepenuhnya sendirian. Dia tidak punya pilihan selain keluar dengan caranya sendiri. Yaitu melewati jalur pintu darurat yang ada di atas langit-langit. Ryan sangat bersusah payah menggapai benda berbentuk persegi itu. Sekitar dua kali dirinya harus terjatuh. Sampai pada percobaan ketiga, Ryan akhirnya berhasil.



Sementara Jordan, memimpin jalan di depan. Menuntun Ruby dan Liana untuk manaiki helikopter yang ada di atap.


Ruby sempat terpikir untuk melarikan diri, tetapi dia merasa tidak bisa, karena kakinya dalam keadaan tidak mendukung. Ruby hanya sengaja melangkah dengan lambat, agar dapat mengulur waktu. Apalagi setelah telinganya mendengar adanya keributan dari luar gedung. Terdengar suara teriakan dan tembakan saling sahut menyahut. Meskipun tidak tahu apa itu, Ruby yakin, Ryan pasti melakukan sesuatu untuk menyelamatkannya.


Jordan terlihat sudah menghampiri helikopter. Di sana telah ada anak buahnya yang siap mengemudikan alat transportasi udara tersebut.


Liana hampir mendekati posisi ayahnya. Dia mencoba menoleh ke arah Ruby. Raut wajahnya langsung berubah menjadi cemberut, saat menyaksikan Ruby masih jauh darinya.


"Sialan! Bisakah kau berjalan dengan cepat?!" geram Liana. Penampilannya yang terlihat seperti seorang rocker, dengan jaket kulit, tindik di hidung, dan rambut yang diberi warna merah, membuat aura sangarnya menjadi bertambah.

__ADS_1


Ruby tak hirau. Dia malah berhenti melangkah. Memegangi kakinya yang terluka. Dirinya sengaja berpura-pura kesakitan.


"Aargghhh! Ayah! Kenapa kau mau membawa gadis seperti dia untuk ikut! Lebih baik kita bunuh saja dia!" protes Liana kepada Jordan. Dahinya mengerut dalam. Sedangkan wajahnya nampak memerah karena kekesalan yang dia rasakan.


"Jangan begitu! Dia salah satu saudaramu! Aku akan jadikan dia bagian dari kita sekarang. Apalagi ke-empat saudara hebatmu itu sudah tewas semua!" sahut Jordan dengan nada penuh penekanan. Matanya menyalang ke arah sang putri. Menyebabkan Liana seketika menciut dan terpaksa menuruti kemauannya.


Liana berjalan cepat dengan kaki yang menghentak. Dia menghampiri Ruby, lalu berusaha membantu. Akan tetapi, Ruby kembali berulah. Gadis tersebut memberi alasan kalau dirinya tidak mampu lagi untuk berjalan.


Plak!


"Dasar menyebalkan!" ungkap Liana sembari menampar salah satu pipi Ruby dengan keras. Hingga memberikan luka disudut bibir Ruby.


Liana memegang kasar dagu Ruby. Mendongakkan kepala Ruby yang masih terduduk di bawah. Liana sedikit membungkukkan badan, kemudian berkata, "Berjalanlah, atau aku akan menembak kepalamu sekarang!"


Cuh!


Ruby yang merasa kesal, meludahkan salivanya kepada Liana. Air liurnya tersebut sukses mengenai wajah Liana.


Perlahan Liana mengusap saliva yang menempel diwajahnya. Amarahnya otomatis kian meningkat. Dia terlihat sudah menggertakkan giginya. Lalu menendang Ruby dengan salah satu kakinya. Ulahnya berhasil membuat Ruby terjatuh ke lantai dalam posisi miring. Liana memanfaatkannya untuk mengijak pelipis serta telinga Ruby.


"Liana! Apa yang kau lakukan! Cepat bawa dia ke sini!" titah Jordan. Dia segera menyuruh pilot untuk menyalakan mesin helikopter.


"Dia tidak mau bergerak! Aku tidak mau menggendongnya!!" jawab Liana.


"Seret saja dia!" Jordan memberikan solusi yang sama sekali tidak terpikirkan oleh Liana sedari tadi.


"Ah, benar!" Liana menyeringai, kemudian langsung mencengkeram rambut panjang Ruby. Lalu menyeret paksa Ruby untuk ikut bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2