Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 122 - Keputusan Ethan [Season 2]


__ADS_3

...༻❀༺...


Suara hembusan angin menyelimuti pendengaran Ryan. Belum lagi suara teriakan John yang melengking akibat merasa sangat terkejut. Ryan dan John terbang di udara dalam ketinggian tiga puluh ribu kaki lebih.


Awan hitam yang dihiasi kilatan petir, menambah suasana ketegangan. Ryan berupaya keras mempertahankan John berada dalam pegangan. Ia bahkan tidak bisa menoleh ke belakang untuk sekedar melihat keadaan pesawat.


"Kau harus bertanggung jawab jika aku mati!" seru John. Dalam keadaan keringat panas dingin.


"Diamlah!" sahut Ryan, tak peduli. Tekadnya hanya ingin cepat-cepat memijakkan kaki ke tanah. Makanya dia terus memfokuskan diri melihat hamparan perumahan yang kian mendekat.


Gravitasi terus membawa Ryan dan John ke bawah. Lama-kelamaan tarikannya semakin kuat. Menyebabkan Ryan harus mempersiapkan diri untuk membuka parasutnya.


Ketika merasa waktu sudah tepat, Ryan langsung membuka parasut. Dalam sekejap dia dan John mengembang di udara. Bergerak dengan pelan tak tentu arah.


"Pegangi aku dengan erat, John! Terutama jika kau tidak mau mati!" titah Ryan.


"Sial! Aku tidak percaya aku melakukan ini!" John tidak punya pilihan selain memeluk erat Ryan. Raut wajahnya tampak cemberut. Menandakan kalau dirinya tidak suka dengan posisinya sekarang.


Ryan mencoba menoleh ke arah pesawat. Bertepatan dengan itu, dia melihat pesawat meluncur jatuh ke bawah. Suara ledakan yang dahyat terdengar menggema. Menampakkan kepulan asap hitam di antara pepohonan yang menjulang tinggi. Ryan berharap Ethan selamat.


"Ryan!" panggil John. Dia berusaha menyadarkan Ryan yang sempat tidak fokus. Alhasil Ryan kembali menatap lurus ke depan. Mengarahkan parasut agar tidak tersangkut ke tempat berbahaya.


Setelah memakan waktu sekian menit, akhirnya Ryan dan John bisa memijakkan kaki ke tanah. Keduanya kebetulan mendarat di pasar lokal. Mereka jatuh menimpa tumpukan ikan yang ada di sebuah kedai


"Hei! Apa yang kalian lakukan?!" geram lelaki yang sepertinya adalah pemilik kedai. Akan tetapi Ryan dan John diam saja. Keduanya terlihat sibuk melepaskan tali-tali parasut yang tersangkut. Selanjutnya mereka bergegas pergi secepat mungkin.


Si lelaki pemilik kedai hanya bisa melongo dan celingak-celingukan. Pertanda dia begitu kebingungan dengan dua orang asing yang baru dilihatnya.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya John sembari menyamakan langkah dengan Ryan.


"Kita setidaknya harus menemukan sebuah telepon. Jika tidak, maka kita tidak bisa meminta bantuan." Ryan mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Sampai perhatiannya tertuju ke arah dua orang pria yang baru singgah di pom bensin. Ryan lantas mengajak John untuk bersembunyi.

__ADS_1


"Apa menurutmu Ethan sudah mati?" tanya John. Dia dan Ryan telah berlindung di sebuah dinding pembatas toko.


"Kau pikir aku tidak penasaran?! Sebab itulah kita harus segera bergerak. Kita perlu mengganti pakaian, lalu mencari alat komunikasi dan transportasi!" jawab Ryan dengan nada pelan. Dia langsung bergerak, ketika dua orang pria yang ada di dalam truk kecil melaju ke arahnya.


Ryan sengaja bersikap kesakitan sambil berjalan ke tengah jalan. Truk kecil otomatis berhenti. Sopir yang mengemudi perlahan keluar dari mobil. John yang mengerti, langsung melakukan serangan. Melingkarkan siku ke leher, hingga sasarannya tidak sadarkan diri. Sedangkan Ryan, terlihat mengurus pria yang satunya. Dia menyerang dengan cara serupa seperti John.


Kini Ryan dan John sudah mengganti pakaian. Keduanya berada di dalam truk menuju ke posisi pesawat terjatuh. Mereka berharap bisa menemukan Ethan.


"Ada dua ponsel! Kau bisa gunakan untuk menelepon Ruby dan anak buahmu. Aku akan memakai ponsel yang satunya untuk menghubung anakku!" ujar John seraya memberikan sebuah ponsel yang baru ditemukannya di dashboard mobil.


Tanpa pikir panjang, Ryan segera menelepon Ruby. Hanya terlintas nama gadis itu dalam benaknya. Ryan tidak mau sesuatu yang buruk menimpa Ruby.


"Babe, ini aku!" ungkap Ryan.


"Ryan!" Ruby berseru dari seberang telepon. Suara tangisan haru langsung terdengar darinya. "Katakan kepadaku, kalau kau baik-baik saja?" tanya-nya. Di sela-sela isak tangisnya.


Mendengar tangisan Ruby, Ryan malah terkekeh. Dia merasa gemas sekaligus bahagia. "Ya, aku baik-baik saja. Aku dan John hanya perlu mencari Ethan," balasnya sembari fokus menatap ke depan untuk mengemudi. "Dan... berhentilah menangis, Babe. Aku akan secepatnya menemuimu..." sambungnya mencoba menenangkan.


"Baiklah... Ethan baik-baik saja bukan?" desis Ruby yang terdengar meragu.


"Mike dan bawahanmu yang lain, kebetulan berusaha menyusun rencana untuk mencarimu. Mereka sempat tidak bisa bergerak, karena polisi melakukan penjagaan ketat. Tetapi--"


"Apa?! Kau harus beritahu mereka untuk berhenti. Kenapa mereka nekat sekali?!" Ryan merasa tidak percaya. Dia merasa cemas, sampai tidak sengaja memotong perkataan Ruby.


"Dengar dahulu, Ryan. Frans menemukan cara untuk meminta bantuan kepada petinggi negara. Dia bilang, rencananya memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi!" jelas Ruby. Dia mulai berhenti menangis.


"Tidak! Beritahu mereka untuk tidak melakukan apapun sebelum aku kembali, oke?" perintah Ryan.


"Baiklah, Cepatlah pulang! Aku sangat merindukanmu!" imbuh Ruby dengan nada penuh penekanan.


"Aku juga merindukanmu," tanggap Ryan. Ia merasa lega dapat mendengar suara Ruby. Pembicaraan mereka berakhir di situ. Perasaan dan pikiran Ryan tenang dalam sesaat. Namun perasaan tersebut harus terganggu, ketika kepulan asap dari ledakan pesawat mulai terlihat dari kejauhan.

__ADS_1


"Bagaimana cara kita mencari Ethan?" John menatap Ryan dengan sudut matanya. Sebab ada banyak orang-orang berkerumun untuk menyaksikan pesawat jatuh. Kebetulan pesawat jatuh di area perkebunan gandum.


"Aku yakin Ethan ada di sekitar sini!" Ryan merasa yakin. Ia menghentikan mobil ke tepi jalan. Kemudian berpencar dengan John untuk mencari Ethan. Mereka harus melakukannya, sebelum polisi dari luar berdatangan.


Ryan menghampiri seorang pria tua yang tampak memiliki kumis berwarna keperakan. Ryan segera bertanya, "Permisi, Tuan. Apakah kau melihat ada orang yan selamat, sebelum pesawat benar-benar jatuh?"


"Hmm... aku tidak tahu. Aku baru mengetahui jatuhnya pesawat, saat mendengar suara ledakan." Sang pria tua menjawab dengan suara rentanya yang parau.


Ryan lantas mengangguk, dan berusaha mencari saksi lain. Atensinya terpusat kepada lelaki berkulit hitam yang baru selesai bicara kepada dua polisi lokal. Ryan segera menghampiri lelaki berkulit hitam tersebut. Dia berupaya menutupi wajahnya dengan topi yang sekarang dikenakannya.


"Permisi! Bisakah aku menanyakan beberapa pertanyaan kepadamu? Kebetulan, aku adalah seorang wartawan dari media surat kabar." Ryan memasang ekspresi meyakinkan. Dia tidak lupa bersalaman dan memperkenalkan diri. Ryan tentu tidak menyebutkan nama aslinya.


"Ya, kenalkan aku Austin. Aku adalah pemilik kebun gandum ini. Tolong tulis dalam berita yang kau tulis, kalau pemerintah harus membayar kerugian besar yang aku terima. Catat itu!" terang lelaki berkulit hitam. Ryan tidak menyangka Austin akan begitu bersemangat. Kesempatan bagus bagi Ryan untuk mendapatkan informasi lebih lengkap.


"Apa menurutmu ada seseorang yang selamat dari insiden ini?" tanya Ryan. Berharap dirinya segera menemukan petunjuk tentang Ethan.


"Aku pikir tidak!" jawab Austin. Kepalanya menggeleng tegas.


Ryan otomatis merasa khawatir. Dia sekarang memindai penglihatannya ke segala arah. Akan tetapi dia tidak menemukan sosom Ethan dimana pun. Seorang anak perempuan mendadak menarik pakaiannya. Ryan sontak menengok ke arah anak perempuan itu.


Tanpa sepatah kata pun, si anak perempuan menyerahkan secarik kertas kecil. Dahi Ryan sontak berkerut heran.


"Apa ini?" Ryan bertanya. Namun sang anak perempuan justru beranjak. Dia berlari ke dalam pelukan ibunya.


Ryan yang penasaran, langsung membuka kertas kecil pemberian anak perempuan tadi.


..._____...


...'Cepat pulang! Temui Ruby dan calon buah hatimu. Aku baik-baik saja. Aku hanya memberitahukan, kalau aku tidak akan menjadi bagian The Shadow Holo mulai sekarang.'...


...Dari : orang yang katanya sangat kau benci....

__ADS_1


..._____...


Ryan menghela nafas panjang. Dia dapat menduga, kalau orang yang mengirimkan pesan itu adalah Ethan. Entah kenapa Ryan sedikit sedih dengan keputusan Ethan. Meskipun begitu, dia merasa lega Ethan selamat dari insiden jatuhnya pesawat.


__ADS_2