
...༻❀༺...
Ryan memposisikan dirinya duduk di sebelah Ethan. Ia melipat kedua tangannya di depan dada. Nafasnya berhembus keluar melewati mulut.
Ethan perlahan menoleh ke arah Ryan. Kedua alisnya hampir bertautan. Bingung dengan Ryan yang tiba-tiba mendatanginya. 'Ada apa gerangan?' batinnya bertanya-tanya.
"Kau kenapa? Mau memukuliku sampai babak belur?" timpal Ethan sinis. Kemudian menghisap rokok yang sedari tadi tersemat di jari-jemarinya.
Ryan hanya terdiam. Ia justru merebut sebungkus rokok yang kebetulan terlihat di saku mantel Ethan. Mengambil satu batang, lalu menyalakannya dengan alat pemantik.
Lidah Ethan berdecak kesal saat melihat tingkah Ryan. Kepulan asap rokok yang dikeluarkannya tampak berbaur dengan udara.
"Aku dengar kau meniduri penari striptis kemarin," celetuk Ryan. Dia menatap Ethan dengan ekor matanya.
Ethan tergelak sejenak. Kepalanya menggeleng beberapa kali. Sedangkan manik cokelatnya tertuju ke arah pemandangan puluhan pencakar langit kota Chicago.
"Kami hanya minum-minum saja. Tidak lebih," jelas Ethan. Entah berkata jujur atau tidak, dia memasang raut wajah datar.
"Benarkah? Aku tidak mempercayainya. Lelaki mana yang tidak tergoda dengan wanita yang berpakaian setengah bugil begitu," tanggap Ryan. Melipat salah satu tangannya. Lalu menjadikannya sebagai penopang untuk sikunya. Saat itulah Ryan menghisap rokoknya dengan tenang.
"Kau benar. Tapi hanya sebentar. Jessy terlalu berlebihan. Dia membuatku kehilangan gairah." Ethan tidak bisa membantah. Ia akhirnya mengaku.
"Kalau begitu kau harusnya mencari gadis yang tepat untuk disukai," usul Ryan sembari menoleh ke arah Ruby yang tengah duduk di depan markas. Ruby tidak sendirian lagi. Gaby dan Mike terlihat menemaninya. Mereka sedang menikmati burger bersama-sama.
"Ya, satu-satunya gadis itu adalah Ruby." Ethan menjawab tanpa harus berpikir dua kali. Walau dia tahu dirinya tengah bicara dengan Ryan. Ethan tidak takut, meski sosok Ryan bak malaikat maut yang siap menghabisinya jika berani mendekati Ruby.
Ryan langsung menatap tajam Ethan. Beraninya lelaki itu menyebut Ruby sebagai gadis yang paling di inginkannya? Rasanya Ryan ingin menjewer kuping Ethan sampai lepas. Namun Ryan berupaya tenang, karena perkataan Ruby tentang Ethan tadi mendadak terlintas dalam benaknya.
"Dia milikku, Ethan. Carilah gadis lain!" tegas Ryan. Dalam keadaan kening yang menampakkan garis-garis tajam.
__ADS_1
"Kau tahu? Aku sedang berusaha. Untuk sekarang, aku berencana tetap berada di sini sampai Ruby melahirkan. Aku ingin memastikan dia dan anaknya baik-baik saja." Ethan memberikan penjelasan. Dia sudah puas dengan rokoknya. Menjatuhkannya ke tanah, kemudian menginjaknya sampai apinya padam.
"Apa kau menyindirku?" Ryan merasa tersinggung. Entah kenapa dirinya berfirasat kalau Ethan belum mempercayainya. Terutama mengenai penerimaan Ryan yang telah bersedia mempertahankan kandungan Ruby.
"Baguslah, jika kau merasa tersindir." Ethan membalas dengan nada tak acuh. Dia iseng mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sampai akhirnya Ethan mampu menyadari keberadaan Ruby.
Ryan memutar bola mata kesal. Dia mendenguskan nafasnya kasar. "Aku tahu kau sangat mengagumi Ruby. Tapi mulai sekarang, kumohon jangan terlalu dekat dengannya," ungkapnya, yang masih belum selesai dengan sebatang rokok di jemarinya.
"Apa kau tahu? Betapa menyebalkannya sikap posesifmu itu?!" timpal Ethan menatap sinis Ryan dengan perasaan sebal.
Ryan tertawa hambar. Dia memang tidak membantah kalau dirinya terlalu berlebihan dalam melindungi Ruby. Terutama dari lelaki lain.
"Aku hanya tidak ingin melihat sesuatu yang tidak kusuka," ujar Ryan.
"Kau tenang saja. Bila ada kau di sisi Ruby, aku tidak akan berani menyentuhnya. Aku memang penjahat, tetapi aku tidak suka terlalu memaksakan diri." Tatapan Ethan kini tertuju ke arah langit. Dia mendongak hingga jakun di tenggorokannya dapat terlihat jelas.
"Memaksakan diri?" alis Ryan terangkat. Untuk kali ini dia tidak memahami maksud pembicaraan Ethan.
Ethan mengangkat kedua bahunya sekali. "Jadi aku tahu, kalau aku tidak akan punya peluang untuk merebut hati Ruby. Congratulations, Ryan. Kau menang sejak awal, apa kau puas sekarang?" ucapnya lagi. Menyebabkan Ryan tidak kuasa menahan senyuman puasnya.
Ryan tidak bisa membantah, bahwa dirinya akan selalu duduk di tahta kerajaan yang ada di hati Ruby. Jujur saja, pengakuan Ethan membuatnya merasakan kemenangan.
"Aku tahu. Mungkin itulah hukuman untuk seorang pengkhianat sepertimu," balas Ryan.
"Aku pikir, aku sudah cukup banyak menerima hukuman. Tapi lihat saja nanti, aku akan mengalahkanmu. Entah tentang apa itu!" Ethan bertekad.
"Asal tidak berkaitan dengan Ruby, aku akan menunggu apapun itu." Ryan mengulurkan salah satu tangannya kepada Ethan.
"Aku pastikan waktunya akan datang secepatnya." Ethan menyambut tangan Ryan. Keduanya saling bersalaman. Tetapi itu tidak berselang lebih dari dua detik.
__ADS_1
"Apa kau benar-benar akan pergi saat Ruby sudah melahirkan nanti?" Ryan memastikan. Sebab dirinya merasa sedikit penasaran.
"Mungkin iya. Kau sudah tidak sabar melihatku pergi?" Ethan memperhatikan semburat yang terpancar diwajah Ryan.
"Benar. Aku menantikannya!" tanggap Ryan sambil mengukir senyuman yang mengejek. Dia telah membuang rokoknya. Sebelum itu, dia tentu tidak lupa untuk mematikan percikan api yang ada di rokok.
"Sialan!" rutuk Ethan kesal. Pembicaraan mereka berakhir, saat Ryan memanggil Ruby dan yang lain untuk makan ke restoran bintang lima.
Ethan berseringai, karena tiba-tiba ide untuk mengerjai Ryan muncul dalam kepalanya. Dia berniat melakukan pembalasan. Setidaknya sampai Ryan kesal seperti perasaan yang dirasakannya tadi.
"Mike! Panggil semua orang yang ada di dalam untuk ikut!" seru Ethan dengan suara yang cukup lantang.
Ryan sontak terkejut. Dia mengeratkan rahang, lalu berupaya menghentikan Mike. Tetapi sayangnya Ryan terlambat, karena Mike sudah terlanjur memanggil semua orang. Tidak lama kemudian rombongan anggota The Shadow Holo keluar satu per satu dari markas.
"Shi*t!" umpat Ryan. Dia sebenarnya tidak mengkhawatirkan uang. Namun Ryan hanya malas mengurus banyaknya orang yang akan ikut pergi ke restoran. Itu sama saja dirinya melakukan perampokan dan penyerangan secara terang-terangan. Apalagi para bawahan Ryan kebanyakan memiliki penampilan yang sangar.
Ryan lantas berlari untuk menghentikan pergerakan semua orang. "STOP!" cegahnya sambil merentangkan kedua tangan.
"Bagaimana kalau kita culik saja kokinya ke sini? Kita tidak perlu repot-repot pergi ke sana. Oke?" jelas Ryan.
Semua anggota The Shadow Holo berpikir sejenak. Kepala mereka celingak-celingukan untuk saling menatap. Di akhir mereka memutuskan setuju-setuju saja dengan usulan Ryan.
Ethan terkekeh geli menyaksikan kebingungan yang ditunjukkan Ryan. Dia berhenti tertawa, ketika Gaby datang mengajaknya bicara.
Sementara Ruby berjalan menghampiri Ryan. "Kenapa kau membatalkannya?" bisknya.
Ryan perlahan membawa Ruby masuk ke dalam rangkulannya. "Karena sejak awal, aku hanya berniat ingin makan berduaan denganmu," ucapnya pelan. Kemudian tersenyum hingga senyumannya tersebut menular kepada Ruby.
"Bagaimana pembicaraanmu tadi?" tanya Ruby. Dia memeluk suaminya dari samping. Namun pandangannya mengarah kepada Ethan yang tengah asyik bicara dengan Gaby.
__ADS_1
"Aku rasa berjalan cukup lancar," sahut Ryan. Ia segera diam-diam pergi membawa Ruby. Mereka beranjak ke restoran terdekat tanpa sepengetahuan orang lain.