
...༻❀༺...
Ruby baru saja check out dari motel. Dia sekarang berniat mencari hunian untuk dijadikan tempat tinggal. Menemukan tempat tinggal yang murah dan nyaman tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi di kota besar seperti New York.
Nafas dihela Ruby cukup panjang. Tas pemberian Ryan masih berada dalam pegangannya. Tidak terpisahkan darinya. Sebab Ruby memang menyimpan seluruh uangnya di tas itu. Dia sudah dua jam berkeliling, tetapi belum juga menemukan hunian yang cocok.
Ruby singgah sebentar di sebuah bar kecil. Dia memesan segelas bir di sana. Menenggaknya hingga tidak ada yang tersisa dalam gelasnya. Matanya segera mengedar ke sekitar. Dia hanya ingin melihat-lihat orang-orang di sekelilingnya. Namun atensinya langsung tertuju ke arah seorang lelaki bertopi fedora. Dia sesekali menoleh ke arah Ruby. Seakan dirinya sedang mengintai.
'Apa-apaan?' batin Ruby, yang merasa bergidik ngeri. Dia lekas-lekas mengambil tasnya dan beranjak pergi.
Ruby melangkah dengan santai. Berharap lelaki misterius yang dilihatnya tadi tidak mengikuti. Namun ketika gadis itu menoleh ke belakang, ternyata sang lelaki bertopi fedora mengikutinya. Mata Ruby terbelalak. Jantungnya berdegub kencang. Dia takut sosok yang mengejarnya adalah seorang detektif.
'Sepertinya kau harus lari Ruby!' gumam Ruby dalam hati. Dia lantas berlari secepat mungkin. Berusaha kabur dari si lelaki bertopi fedora yang tidak lain adalah John. Orang suruhan Ryan.
Melihat Ruby berlari, John pun ikut melajukan langkahnya. Mengiringi Ruby dari belakang. Aksi kejar-kejaran terjadi. Kebetulan mereka berada di jalanan trotoar yang ramai.
"Permisi... Maaf!" Ruby sesekali tidak sengaja menabrak orang yang ada di depannya. Akan tetapi dia terus melajukan langkahnya. Berlari hingga rambutnya beterbangan ke belakang. Beberapa orang yang berhasil ditabraknya hanya mengaduh dan memasang mimik wajah masam.
Ruby kini berbaur di antara orang yang menyebrang. Dia mencoba menghilangkan jejak dengan masuk ke dalam gang yang ada di seberang jalan. Dengan nafas yang tersengal-sengal, Ruby bersembunyi dibalik tembok. Menenggak salivanya sendiri sekitar dua kali.
John berhenti di depan gang Ruby bersembunyi. Dia memeriksa ponselnya untuk memastikan posisi gadis itu. John tersenyum sambil melirik ke arah tempat persembunyian Ruby. Dia tentu tahu, karena bantuan alat pelacak Ryan yang terpasang ditas Ruby. John segera menelepon rekan-rekannya.
"Kalian sudah lihat bukan posisiku dimana? Ayo kita lakukan sekarang!" ujar John berbicara melalui ponselnya. Dia bergerak pelan mendekati Ruby. John bisa melihat jelas sepatu kets putih Ruby dari kejauhan.
Setelah memastikan tidak ada orang selain dirinya dan Ruby, John mengambil pistol yang disimpan dibalik mantelnya. Dengan gerakan cepat John berhasil menodongkan pistol ke kepala Ruby.
Mata Ruby sontak membulat sempurna. Dia otomatis mengangkat kedua tangan. Menunjukkan kalau dirinya menyerah dan tidak akan melakukan perlawanan.
__ADS_1
"A-apa salahku? A-aku tidak mengenalmu," ungkap Ruby terbata-bata. Dia tidak berani menoleh ke arah John.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Tetapi aku tahu siapa dirimu. Kau istri Ryan Martin bukan? Ketua mafia The Shadow Holo?" respon John. Dia sekarang berdiri di depan Ruby. Memindahkan todongan pistolnya ke dahi Ruby. Menyebabkan gadis itu tambah gemetaran.
"Ry-ryan?... A-aku sudah berpisah dengannya!" jawab Ruby.
"Kamu tidak bisa membohongiku, Ruby!" balas John. Tidak lama kemudian sebuah mobil jeep menerobos masuk ke dalam gang. Berhenti tepat dimana John dan Ruby berada.
Ruby sontak semakin terkejut dengan kedatangan mobil jeep tersebut. Dia tidak bisa melarikan diri, karena ujung pistol yang dipegang John, masih tertempel dijidatnya. Jika John menarik pelatuknya maka pecahlah sudah kepalanya. Setidaknya begitulah yang ada dalam pikiran Ruby.
"Bawa dia masuk!" titah John kepada kawanannya yang baru keluar dari mobil. Mereka segera menyeret Ruby masuk ke dalam mobil. Mengikat tangannya dengan tali tambang.
Ruby duduk di kursi belakang bersama John dan satu orang lelaki berambut merah. Mobil telah berjalan memasuki jalur transportasi. Entah akan membawa Ruby pergi kemana.
"Aku berkata jujur. Aku sudah tidak memiliki hubungan--"
"Jika kau istri seorang boss mafia, harusnya kau tidak berkeliaran kemana-mana, gadis cantik." John memegang kasar dagu Ruby.
Syuut!
Mobil tiba-tiba berhenti. Membuat semua orang termasuk Ruby dan John tersentak kaget. Setelah diperiksa ternyata ada dua buah mobil yang sengaja menghalangi di depan. Keluarlah seorang lelaki berbadan berisi. Dia menyuruh John dan yang lain untuk turun.
"Sial!" umpat John. "Jaga gadis ini baik-baik!" titahnya kepada lelaki yang duduk di sebelah kanan Ruby.
John telah keluar dari mobil. Dia tampak berdiskusi dengan si lelaki berbadan berisi. Tanpa disangka terjadi perkelahian di antara mereka. Membuat lelaki yang harusnya menjaga Ruby ikut keluar dan membantu komplotannya.
Ruby sekarang sendirian di dalam mobil. Sopir dan satu orang lelaki yang duduk di depan, sudah keluar sedari tadi berbarengan dengan John. Ruby memanfaatkan kesempatan untuk kabur. Dia tidak lupa untuk mengambil tas pemberian Ryan. Ruby membuka pintu mobil dan berlari tak tentu arah. Gadis tersebut bahkan sama sekali tidak menoleh ke belakang. Yang terpenting baginya adalah bisa menjauh dari John dan yang lainnya.
__ADS_1
"Apa dia sudah melarikan diri?" tanya John kepada sang lelaki berbadan berisi. Namanya adalah Roy. Keduanya yang tadi sempat berlagak berkelahi, segera menghentikan aksinya. Mereka semua mengamati Ruby yang telah berlari semakin jauh.
"Berhasil, tugas ini sangat mudah!" ujar John sembari melakukan pose berkacak pinggang. Menyaksikan punggung Ruby yang kian menghilang dimakan oleh jarak.
"Dia membawa tasnya lagi bukan?" tanya John kepada rekannya yang berambut merah.
"Dia membawanya!" si lelaki berambut merah memastikan. Dia memeriksa kursi belakang mobil. Tas pemberian Ryan untuk Ruby sudah tidak ada di tempatnya.
Sementara itu, Ruby terus saja berlari. Keringatnya mulai membasahi sebagian pakaiannya. Lelahnya sudah mencapai batas. Gadis itu kini berhenti sambil memegangi kedua lututnya. Kedua tangannya masih terikat dengan tali tambang.
Ruby celingak-celingukan, karena berusaha mencari-cari sesuatu untuk membuka tali yang menjeratnya. Penampakan mini market dari kejauhan menarik perhatiannya. Ruby langsung berderap ke sana.
Gemerincing lonceng berbunyi ketika Ruby masuk ke mini market. Dia segera meminta bantuan kasir yang berjaga untuk melepaskan tali tambang ditangannya.
"Apa yang terjadi kepadamu?" tanya kasir yang leher dan tangannya dipenuhi oleh tato itu. Dia seorang perempuan dengan ekspresi wajah yang terkesan jutek.
"Aku hampir saja diculik," jawab Ruby santai.
"Oh... Itu pasti mengerikan." Sang kasir bertato merespon dengan datar. Tangannya sibuk menggesekkan mata pisau ke tali yang menjerat Ruby.
Hanya memakan waktu beberapa detik saja, tali yang mengikat tangan Ruby akhirnya terlepas. Sekarang Ruby bisa mendengus lega.
Gemerincing lonceng terdengar lagi. Pertanda ada pelanggan lain yang masuk. Terlihat ada tiga orang lelaki bergaya funk. Pandangan ketiganya sama-sama tertuju ke arah Ruby.
"What?!" sinis Ruby ketus. Tentu dia merasa terganggu.
Bukannya merespon, salah satu lelaki bergaya funk memeriksa ponselnya dan berkata, "Benar. Dia adalah gadis yang kita cari!"
__ADS_1
Ruby yang mendengar langsung melarikan diri. Dia tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada kasir yang sudah bersedia membantunya. Pelariannya kembali berlanjut.