
...༻❀༺...
Nafas Ruby bergerak naik turun dalam tempo cepat. Dia masih merasakan amarah yang membara. Matanya terus terpaku ke arah helikopter yang terbang menjauh. Akan tetapi suara decakan lidah Ethan, mengharuskan Ruby memutar tubuh ke belakang. Dia menyaksikan Ethan sudah berdiri menghadapnya. Lelaki itu tidak sendiri, melainkan bersama Liam serta rombongannya.
"Halo Helen, atau haruskah aku memanggilmu Ruby?" sapa Ethan sambil melipat tangan di depan dada. Dia sepertinya telah mengetahui segala jati diri Ruby dari Liam.
Ruby memejamkan mata rapat, seraya menggertakkan gigi. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Sebab dirinya sendirian sekarang.
"Kata Liam kau adalah istri dari ketua mafia The Shadow Holo. Namanya Ryan, benar bukan? Pfffft!" Ethan menjeda kalimatnya akibat berusaha menahan tawa. "Aku dengar kau adalah istri ketiga. Apa kau bercanda? Bukanlah itu posisi yang ekstrem sekali? Hahaha!" lanjutnya. Kini Ethan tertawa lepas. Bahkan menular kepada beberapa anggota The Drugs yang lain.
Ruby masih diam di tempat. Dia hanya bisa memutar bola mata jengah, kala mendengar celotehan Ethan. Menyebabkan kekesalan gadis itu semakin bertambah. Baginya Ethan sangatlah menyebalkan. Sejak awal dirinya tidak pernah tertarik dengan lelaki tersebut.
"Guys, gadis ini mau dijadikan istri ketiga. Bayangkan? Di zaman modern ini, dia mau diperlakukan begitu. Hahaha!" tawa Ethan dan rombongannya kian menjadi-jadi. Mengejek Ruby terus-menerus.
Karena Ethan terlihat tidak mengancam, Ruby memberanikan diri untuk melangkah menjauh. Berupaya melewati Ethan dengan tenang. Namun tentu saja kepergiannya tidak diperbolehkan begitu saja. Tangan Ethan dengan sigap memegangi pundak Ruby.
"Biarkan aku memberimu kesempatan!" ujar Ethan. Membuat Ruby otomatis mengalihkan perhatian ke arahnya.
"Bergabunglah bersama kami, Ruby. Untuk apa kau kembali bersama orang-orang yang tidak peduli kepadamu. Lihat saja mereka, bukankah kau baru saja diterlantarkan?... Ryan bahkan sepertinya juga tidak akan nekat menyelematkanmu ke sini. Aku memiliki kerjasama yang luar biasa dengan banyak organisasi mafia. Termasuk musuh bebuyutan The Shadow Holo. Mereka semua ada di kapal ini." Ethan kembali menambahkan. Memberikan penawaran kepada Ruby.
Dahi Ruby mengernyit. Dia merasa penasaran. "Musuh bebuyutan?" tanya-nya, yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Ethan.
"The Black Cindicate, Ryan sangat membenci mereka. Karena mereka telah banyak mencuri rekan bisnisnya. Termasuk The Drugs. Kemungkinan itulah alasan dia ingin mencuri barang kami yang ada di bunker hijau," terang Ethan panjang lebar.
Belum sempat Ruby menjawab, suara samar-samar helikopter yang mendekat mendadak terdengar. Seluruh atensinya serta Ethan langsung tertuju ke arah helikopter itu.
"Ah, sepertinya dugaanku salah." Ethan menarik tangan Ruby untuk ikut dengannya.
__ADS_1
Sementara anggota-anggota The Drugs yang lain, tampak bersiap menembakkan peluru ke arah helikopter yang datang. Namun tindakan mereka segera dihentikan Ethan.
"Turunkan senjata kalian, biarkan orang itu turun dahulu dari helikopter!" titah Ethan. Semua komplotannya pun menurut. Saat itulah Ruby mengambil kesempatan untuk melepas paksa tangannya dari Ethan, dan usahanya berhasil.
Helikopter telah mendarat di atas kapal dengan lancar. Kedatangannya langsung menarik seluruh perhatian semua orang di kapal pesiar. Sosok Ryan terlihat keluar dari helikopter. Raut wajahnya tampak sedikit babak belur. Hal tersebut merupakan efek misi yang baru saja diselesaikannya.
"Kau benar-benar pengecut. Menyuruh istri-istrimu menyelinap ke sini?... itu adalah kesalahan besar!" pungkas Ethan sembari menggelengkan kepala.
"Aku melakukannya, karena aku yakin, komplotan The Drugs pasti dipimpin oleh orang bodoh sepertimu!" balas Ryan dengan tatapan tajamnya.
Ethan memutar bola mata jengah dan berkata, "Sudahlah tidak usah basa-basi. Karena kau di sini, aku akan menawarkan sesuatu kepadamu."
Ryan sengaja membisu. Memasang telinganya baik-baik untuk mendengar penuturan Ethan.
"The Drugs akan kembali bekerjasama denganmu, tetapi dengan satu syarat. Aku ingin gadis ini menjadi milikku!" Ethan menarik Ruby untuk mendekat.
Ryan terkekeh sejenak. "Kau sepertinya jatuh cinta kepada istriku," komentarnya santai. Kedua tangan Ryan terlihat dimasukkan ke dalam saku celana. "Tentu saja aku menolak. Malah tujuanku ke sini, karena ingin menjemputnya!" tegas Ryan. Dia segera menatap Ruby. "Ayo Ruby, kita pulang sekarang!" satu tangan Ryan terangkat. Berharap mendapat sambutan tangan dari Ruby.
"Ruby, sekarang adalah kesempatanmu untuk kabur dari lelaki bajingan itu. Aku yakin, kau tidak akan mau terus-terusan menjadi istri ketiganya!" ungkap Ethan. Mencoba meyakinkan Ruby. Entah apa yang membuatnya bersikeras untuk mempertahankan gadis tersebut. Kemungkinan Ethan merasa, urusannya belum selesai dengan Ruby.
"Kau sudah menipuku. Dan lihat aku? Diriku bahkan sama sekali tidak memarahimu. Aku--"
"Diamlah, brengsek!" Ryan sengaja menghentikan pengaruh Ethan. Dia hendak lekas-lekas mendengar keputusan Ruby.
Semua pasang mata kini tertuju ke arah Ruby. Gadis itu sesekali menatap Ryan dan Ethan secara bergantian. Ruby berpikir, dimana pun dia berada, keadaan akan tetap sama. Sebab dirinya merasa belumlah memiliki kemampuan apapun. Ruby yakin, meski dia memilih ikut kubu Ethan, hal yang sama pasti terjadi. Semua orang akan meremehkannya. Bahkan Ethan juga melakukan hal tersebut sejak pertama kali bertemu.
'Satu-satunya orang yang tidak pernah meremehkanku hanyalah Ryan. Meskipun dia punya wanita selain aku, Ryan tidak pernah menyakitiku. Lagi pula, urusanku dengan Megan dan Sarah belumlah selesai. Aku berjanji, akan melakukan pembalasan kepada mereka!' batin Ruby seraya mengepalkan tinju disalah satu tangan. Kemudian berjalan melewati Ryan. Dia masuk ke dalam helikopter yang Ryan naiki tadi.
__ADS_1
Ethan terperangah tak percaya. Sementara Ryan mengembangkan senyuman puas. "Carilah gadis yang masih single, bodoh!" ujarnya.
Dor!!!
Sebelum pergi, Ryan menembakkan peluru tepat ke kepala Liam. Sosok pengkhianat yang telah mengacaukan misinya. Liam seketika tewas di tempat. Dalam keadaan kepala yang bersimbah darah. Selanjutnya, Ryan bergegas menyusul Ruby masuk ke dalam helikopter.
Perlahan helikopter mengembang ke udara. Terbang menjauh dengan mulus, dan menjauh dari kapal pesiar.
"Ethan, kenapa kita diam saja? Apa kau tidak berniat menghentikannya?!" Mr. June berusaha menegur Ethan. Namun lelaki yang ditegurnya masih terdiam. Terus terpaku menatap helikopter yang kian menjauh. Dia membiarkan Ryan dan Ruby pergi dalam keadaan selamat. Bahkan mengabaikan keadaan Liam yang telah kehilangan nyawa.
Di dalam helikopter, Ryan terus memandangi Ruby. Dia merasa sangat senang, karena gadis tersebut memilih kembali bersamanya.
"Kenapa kau lebih memilihku? Megan bilang kau sudah berkhianat untuk ikut kubu The Drugs. Ini bukan salah satu strategimu dengan mereka kan?" Ryan menuntut jawaban.
Ruby membulatkan mata, ketika mendengar Megan telah memberitahu Ryan sebuah kebohongan. Amarahnya kini kian bertambah. Ruby berjanji tidak akan membiarkan Megan dan Sarah memperlakukannya semena-mena lagi.
"Tentu tidak! Jangan dengarkan Megan. Kau tahu kan, dia sangat membenciku." Ruby berusaha meyakinkan Ryan. Tangannya menggenggam lembut jari-jemari Ryan. Melayangkan binar ketulusan dari matanya. Menyebabkan Ryan merekahkan senyuman, dan langsung mempercayainya.
"Baiklah, aku mempercayaimu." Ryan membalas genggaman Ruby. Dia mengalihkan pandangannya ke depan. "Sebenarnya alasan aku mengikutkanmu ke dalam misi, agar kau, Megan dan Sarah dapat bekerjasama. Aku pikir kalian akan akur, tetapi ternyata..." tambahnya sembari menggelengkan kepala.
Ruby mendengus kasar. Dia tersenyum tipis. "Aku telah mencoba berbuat baik kepada mereka, dan semuanya tidak berjalan lancar. Tetapi aku akan berusaha," ujarnya meyakinkan Ryan.
Kalimat yang diucapkan dari mulut Ruby adalah kebohongan belaka. Dia hanya sedang mencoba mengambil hati Ryan sepenuhnya. Ruby telah membulatkan tekad, untuk mulai menjalankan rencana pembalasan terhadap Megan dan Sarah. Kepalanya kini menyandar ke pundak Ryan. Dia berniat menjadi yang terbaik. Sampai mampu membuat kedua istri Ryan yang lain kalah telak, dan bertekuk lutut kepadanya.
"Ruby, apa orang yang sudah membuat tanganmu begini adalah lelaki cerewet tadi?" tanya Ryan seraya memperhatikan lengan Ruby yang lebam. Ruby lantas menjawab dengan anggukan pelan.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak beritahu lebih awal? Kalau tahu begini, aku akan memukulinya untukmu," imbuh Ryan. Keningnya mengernyit.
"Tidak apa-apa. Lagi pula ini bukan luka besar. Kau harusnya memperdulikan luka yang ada diwajahmu itu!" sahut Ruby. Dia menyentuh salah satu titik lebam yang ada diwajah Ryan.