
...༻❀༺...
"Aku punya rencana!" celetuk Ryan. Ucapannya sukses membuat Ethan dan John menoleh secara bersamaan.
"Ryan, kau harus pastikan rencanamu kali ini berhasil!" John menunjuk Ryan dengan jari telunjuknya. Dia yang tadinya rebahan, perlahan merubah posisi menjadi duduk.
"Ya, aku jamin kali ini berhasil. Karena kita akan melakukan pelarian saat dalam perjalanan nanti." Ryan berkata sambil menopang dagu dengan satu tangan.
"Pokoknya kita tidak boleh sampai tertangkap lagi. Jika mereka tidak suka cara menyelinap, lebih baik kita lakukan saja dengan terang-terangan. Saat di mobil nanti, kita bisa melakukan serangan bersama-sama. Kalau perlu, kita buat mobilnya kecelakaan." Ryan membulatkan tekad.
Satu malam berlalu. Pagi yang cerah menyapa dari jendela. Beberapa polisi membawa Ryan dan yang lain untuk melakukan perjalanan. Sebastian kebetulan menjadi orang yang ikut mengantar.
"Siapa kau sebenarnya? Sepertinya kau sangat senang melihatku menderita. Apakah aku pernah berbuat salah kepadamu?!" Ryan melirik tajam ke arah Sebastian.
"Ya, aku selalu senang saat melihat orang jahat menderita. Karena orang sepertimu memang pantas mendapatkannya. Tanyakan saja kepada seluruh penduduk dunia, mereka pasti setuju dengan perkataanku," jawab Sebastian sembari menaikkan salah satu alisnya.
Ryan memutar bola mata malas. Dia menganggap pernyataan Sebastian hanyalah omong kosong. Ryan, Ethan, dan John dimasukkan ke dalam mobil. Namun tanpa disangka, Sebastian serta dua polisi lainnya, menyuntikkan obat bius kepada masing-masing tahanan.
Dalam sekejap, Ryan, Ethan dan John langsung tidak sadarkan diri. Mereka dibawa ke pesawat militer. Penjagaan dilakukan sangat ketat. Baik oleh pihak militer maupun kepolisian.
Entah berapa lama waktu berlalu, Ryan yang sempat tidak sadarkan diri, perlahan membuka mata. Dia menemukan dirinya duduk dalam keadaan tangan yang diborgol. Hal serupa juga terjadi kepada Ethan dan John. Keduanya tampak sudah sadar.
Wajah-wajah sangar dari militer angkatan udara menyambut. Mereka masing-masing memegangi senapan ditangannya.
Ryan mendengus kasar. Rencananya harus gagal lagi. Tetapi setidaknya dia masih belum menyerah. Apalagi setelah mengetahui dirinya kebetulan menaiki cargo plane. Ide baru kembali muncul dalam benaknya.
Ethan terlihat berbicara dengan Ryan melalui gerakan bola mata. Pandangannya ditujukan ke arah kunci yang tergantung di tas pinggang Sebastian.
Jika ingin melarikan diri, Ryan merasa inilah saatnya. Dia tidak bisa menunda-nunda lagi. Meskipun ada lumayan banyak prajurit yang berjaga, tetapi setidaknya kaki Ryan tidak dijerat dengan apapun.
"Harap kenakan sabuk pengaman. Cuaca kebetulan sedang buruk. Kemungkinan pesawat akan mengalami turbulensi." Pengumuman dari pilot terdengar melalui pengeras suara.
Ketika semua orang sibuk bergumul dengan sabuk pengaman, saat itulah Ryan beraksi melakukan serangan. Dia menghantam kuat wajah tentara yang duduk di depannya. Dengan cepat tangannya langsung merebut senapan.
Dor!
Dor!
Dor!
Tembakan beruntun dilakukan oleh Ryan. Dia tidak bermaksud menyia-nyiakan satu peluru pun.
__ADS_1
Tanpa diduga pesawat tiba-tiba miring ke kanan. Membuat semua orang yang ada di dalam sontak terjatuh bersamaan.
Suara petir bahkan terdengar menggelegar. Mengakibatkan pesawat harus mengalami turbulensi yang parah. Padahal sebelum berangkat, pilot sudah memastikan prakiraan cuaca akan cerah. Terutama di jalur yang akan dilewati.
Segala barang-barang ikut berjatuhan ke pinggir. Termasuk kunci yang tadinya menggantung di tas pinggang Sebastian. Ethan yang menjadi orang terdekat dengan kunci, bergegas meraihnya secepat mungkin.
Sebastian tentu tidak membiarkan Ethan mengambil kunci borgol lebih dahulu. Sebelum Ethan sempat mengambil, dia memberikan dorongan kuat. Usahanya sukses membuat Ethan terjatuh.
Sementara Ryan dan John. Keduanya perlahan berdiri, lalu melawan polisi dan tentara yang tersisa. Mereka bisa melakukannya dengan baik, walau dalam keadaan tangan yang diborgol.
John hanya mengandalkan siku untuk menyerang lawan. Sesekali dia akan merunduk jika lawannya melakukan serangan tinju.
Sedangkan Ryan yang kebetulan memegang senapan, akan menembakkan peluru ke kepala siapapun yang mencoba menyerangnya. Satu per satu Ryan berhasil membuat lawan berjatuhan.
Menyaksikan semua tahanan menggila, Sebastian bergegas mengambil pistol. Dia berniat menembak mati semua tahanan yang ada.
Pesawat lagi-lagi menukik secara tiba-tiba. Sekarang semua orang kembali harus terjatuh. Sebastian yang sudah memposisikan jari ke pelatuk pistol, akhirnya harus melepaskan peluru ke arah acak. Keadaan semakin genting, kala peluru itu tepat mengenai sebuah tombol manual untuk membuka pintu kargo pesawat.
Wushh!!
Angin super kencang langsung menyambut semua orang yang ada dalam kargo. Barang-barang pun beterbangan di bawa oleh arus angin. Kini Ryan dan yang lain saling berusaha mempertahankan diri.
Lama-kelamaan, banyak orang yang tidak mampu bertahan. Hingga berjatuhan ke bawah tanpa parasut. Orang yang ada di dalam pesawat semakin berkurang. Hanya menyisakan Ryan, Ethan, John, Sebastian, serta dua pilot yang bertugas.
"Ethan! Cobalah menggapai tombol itu. Kau orang yang paling dekat dengan tombol pintu kargonya!" seru Ryan dengan nada tinggi.
Tanpa pikir panjang, Ethan segera bergerak. Dia memaksakan diri untuk berjalan sambil terus berpegangan. Baju yang dikenakannya berkibar kesana kemari akibat dihantam oleh lajunya angin. Meski suasana dingin, keringat tetap bercucuran di kedua pelipis Ethan. Tangannya yang berusaha meraih tombol, terlihat gemetaran.
Belum sempat Ethan memencet tombol, pesawat mendadak terbang dalam kecepatan normal. Angin yang tadinya sangat kencang sudah menghilang dalam sekejap.
Sebastian memanfaatkan peluang untuk bergerak lebih dulu. Dia hendak mengambil kunci borgol yang sedari tadi menarik perhatiannya. Sebab kunci tersebut kebetulan tersangkut di bawah kursi. Jadi tidak menjadi salah satu barang yang terjatuh di bawa angin.
Buk!
Ethan menendang wajah Sebastian dengan kuat. Sehingga kunci borgol beralih ke tangannya. Ethan langsung melepas borgol di tangannya, lalu dilanjutkan oleh Ryan dan John setelahnya.
Kedua tangan Ryan telah lepas dari jerat borgol. Dia mengeratkan rahang, kemudian memukuli Sebastian dengan beringas. Ryan melakukan pembalasan sampai puas.
"Seharusnya kau tidak membuat ulah kepadaku. Kau dengar itu, keparat?!" geram Ryan seraya mencengkeram erat kerah baju Sebastian.
__ADS_1
Buk! Dhuak!
Ryan terus memukuli Sebastian. Dia seperti kerasukan setan.
"Sudahlah, Ryan. Lihatlah dia! Sepertinya dia tidak akan lagi mengganggu kita." John mencoba menenangkan. Sebab Sebastian terlihat tidak berdaya. Hingga pada akhirnya Ryan benar-benar berhenti.
"Sekarang apa? Tidak mungkin kita menyuruh pilot mendaratkan pesawat ini bukan?" tanya Ethan.
"Kau benar!" sahut Ryan. Ia terdiam sejenak. Berusaha berpikir seraya mengedarkan pandangan ke segala penjuru
Jika pesawat didaratkan, maka kemungkinan Ryan dan yang lain akan kembali dikejar-kejar polisi. Jadi pilihan terbaik adalah menghilangkan jejak. Yaitu dengan cara menjatuhkan pesawat.
Atensi Ryan segera tertuju ke arah tas parasut yang tersangkut di dinding pesawat. Dia mendekati tas itu, dan hanya menemukan ada dua parasut yang tersisa.
"Kalian bisa pergi lebih dahulu. Biarkan aku yang mengurus pesawat ini. Aku akan menyerang pilot yang bertugas, lalu menjatuhkan pesawatnya setelah kalian pergi!" ujar Ryan sambil memberikan dua tas parasut kepada Ethan dan John.
"Tidak! Biar aku saja yang melakukannya. Bukankah kau harus menemui Ruby secepatnya?!" Ethan menolak tas parasut pemberian Ryan.
"Aku yang membawa kalian masuk ke masalahku, jadi akulah yang harus bertanggung jawab!" balas Ryan.
"Ruby pasti mengharapkanmu untuk berada di sisinya. Jadi temuilah dia secepat mungkin!" Ethan memaksa Ryan memegang tas parasut. Kini tas tersebut berada dalam genggaman Ryan.
"John, kau tidak ingin mengatakan apapun?" Ethan menoleh ke arah John yang sedari tadi hanya diam.
"Aku hanya ingin pergi dari sini secepatnya. Aku juga punya anak. Dia menungguku di luar sana!" ucap John. Dia tidak mau berkorban karena sudah begitu merindukan putrinya.
"Benar, setidaknya kalian berdua punya seseorang untuk ditemui. Tapi aku tidak. Jadi sepertinya aku yang paling cocok untuk menjatuhkan pesawat ini." Ethan menepuk pelan pundak Ryan.
Ryan terdiam seribu bahasa. Dia tampak memasang tas parasutnya. Anehnya Ryan mendadak merebut tas parasut milik John dan melemparkannya kepada Ethan.
"Ryan, apa-apaan!" protes John.
"Kau harus selamat, Ethan! Aku memang membencimu, tapi aku mempercayaimu sekarang!" kata Ryan. Dia tidak menanggapi ucapan John. Ryan malah bergegas berlari, kemudian membawa John jatuh ke bawah bersamanya.
"Tapi--" Ethan urung bicara ketika Ryan dan John sudah terlanjur menjatuhkan diri ke bawah.
"Briliant!" Ethan menyeringai. Dia tidak terpikirkan, kalau satu parasut bisa dipakai untuk dua orang. Setidaknya, jika Ryan terus mempertahankan John berada dalam genggamannya.
Catatan kaki :
Turbulensi : Terjadi ketika ada gangguan pada aliran udara yang membuat pesawat akan bergoyang atau bergerak naik turun.
__ADS_1
Catatan Author :
Aku pengen tahu perasaan kalian saat baca bab ini? Deg-degan atau tidak? :v