
...༻❀༺...
John memandang serius Ryan. Meskipun merasa miris dengan kehidupan masa kecil rekannya itu, namun tetap saja cara pandang Ryan terasa salah.
"Aku tahu kau mengalami masalah yang berat saat kecil. Tapi apakah kau rela Ruby melahirkan anaknya tanpa dirimu? Bagaimana bila anakmu lahir nanti, sosok yang pertama dipanggilnya ayah adalah Ethan?" kali ini ucapan John berhasil membuat Ryan sedikit terganggu.
"Kau baru menikah dengan Ruby, seharusnya kabar mengenai anak membuatmu bahagia." John kembali berkomentar. Perlahan dia bangkit sambil membawa gelas kopinya. Kemudian beranjak meninggalkan Ryan.
Lidah Ryan berdecak kesal. Memikirkan tentang masalahnya sekarang terasa lebih pusing, dibanding misi pembalasan yang dilakukannya terhadap Jordan. Ryan memang tidak mengharapkan seorang anak, tetapi di sisi lain dirinya juga tidak mau kehilangan Ruby. Sebab gadis itu satu-satunya orang yang selama ini banyak memberinya kebahagiaan.
Ryan memejamkan rapat matanya. Ia akhirnya menghubungi Ruby. Ryan baru saja membeli ponsel baru. Karena ponsel lamanya kebetulan sudah tenggelam ke dasar laut. Hal terebut akibat pengejaran yang di alaminya bersama John sekitar tiga hari lalu.
"Siapa--"
"Aku Ryan!" pengakuan Ryan seketika berhasil membuat Ruby terdiam dari seberang telepon.
"Aku baru saja membeli sebuah bangunan untuk markas baru. Dan... aku ingin kau datang juga ke sini. Gaby dan Mike akan menjemputmu!" ujar Ryan. Dia berbicara seolah tidak ada masalah yang harus diselesaikan.
"Lalu bayi kita? Kau ingin aku membawanya atau tidak?" timpal Ruby.
"Maafkan aku, Babe. Tapi keputusanku sudah bulat, aku ingin kau menggugurkannya," pinta Ryan dengan suara pelan, namun sangat menyakitkan bagi Ruby.
"Kau tidak mau menanyakan keputusanku terlebih dahulu?!" balas Ruby. Dia terdengar mulai kesal.
"Aku yakin kau sepemikiran denganku. Bukankah aku pernah mengatakan kepadamu kalau seorang anak hanya--"
"Aku tidak akan menggugurkan kandunganku, Ryan!" tegas Ruby. Sengaja memotong perkataan Ryan. "Dan satu hal lagi, aku tidak akan mendatangi markas barumu. Silahkan saja mencari istri baru! Carilah gadis yang tidak pernah bisa hamil! Ingat itu bedebah!!!" kemarahan Ruby sudah mencapai ubun-ubun. Menyebabkan Ryan yang tadinya santai, sontak merasa gelisah.
"Ruby! kenapa kau berkata begitu?! Ruby aku--" Ryan tidak bisa berkata-kata lagi, ketika Ruby memutuskan sambungan telepon lebih dulu.
__ADS_1
Ryan mengusap kasar wajahnya. Dia merasa frustasi. Bukannya turun tangan untuk mendatangi Ruby, Ryan justru tetap memerintahkan Gaby dan Mike menjemput istrinya tersebut.
"Lakukan apapun untuk membawanya ke sini! Aku tahu Ruby pasti bisa luluh jika mengobrol denganmu, Gabe!" kata Ryan. Dia baru selesai berbicara dengan Gaby ditelepon. Kini Ryan bangkit dari tempat duduk. Dirinya mencoba mengalihkan masalah pirbadinya dengan sebuah misi. Terutama jika bawahannya telah banyak berdatangan nanti.
Ruby sedang duduk saling berhadapan dengan Ethan. Pembicaraannya ditelepon tadi jelas terdengar oleh Ethan. Ruby sama sekali tidak peduli, lagi pula hanya Ethan satu-satunya orang yang sekarang tetap berada disisinya.
"Kau tahu, semua anggota The Shadow Holo baru saja mendapat pemberitahuan dari Ryan. Mereka disuruh pindah ke markas baru. Ryan memberitahu semua orang, kecuali aku!" Ethan mendengus nafas kecewa. "Ryan pasti sangat membenciku sekarang!" tambahnya.
"Tenang saja. Aku bersamamu! Aku tidak mau pergi ke markas barunya!" sahut Ruby. Kemudian meminum segelas air putih. Dia langsung menghabiskan semuanya akibat merasa saking kesalnya.
"Ya, kau lebih baik menikmati waktumu di sini. Setidaknya tempat ini akan membuatmu tenang," tutur Ethan.
Ruby tiba-tiba memegangi bagian perutnya. Rasa mual kembali terasa. Tanpa pikir panjang, gadis itu berlari ke menghampiri wastafel. Ruby memuntahkan makanan yang baru saja dimakannya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Ethan, cemas. Dia dalam keadaan siaga membantu.
Ethan lantas tersenyum lebar. Ia tampak menggerakkan bola matanya ke arah kanan atas. Mencoba mencari sesuatu hal untuk menghibur Ruby. Hingga terlintas dalam benaknya sebuah ide sederhana.
"Kau mau nonton film malam ini? Aku akan carikan film yang kau suka," tawar Ethan dalam keadaan kedua alis yang terangkat. Tidak sabar dengan jawaban yang akan diberikan Ruby.
"Emmm... ide bagus. Aku ingin film dengan genre action. Entah kenapa gara-gara bermain tembak-tembakan kemarin, aku menjadi sangat tertarik dengan hal berbau action!" ucap Ruby. Ia berjalan melewati Ethan disertai senyuman tipis. Satu tangannya menyempatkan diri untuk menyentuh lembut pundak lelaki tersebut.
Ethan bergegas mencari film yang telah tersedia di rumah. Sayangnya, dia hanya menemukan film-film romantis. Ethan menghembuskan nafas kasar, lalu menggunakan telepon untuk menghubungi seseorang.
"Andrew, apa kau punya film genre action? Aku malas pergi ke pusat kota sekarang." Ethan menghubungi Andrew. Dia mendapatkan nomor Andrew dari kartu nama yang terselip di pot bunga. Kebetulan saat Ruby pergi, Ethan berinisiatif membersihkan rumah. Sehingga dirinya banyak menemukan hal-hal kecil.
"Film? Kenapa tiba-tiba?" bukannya menjawab Andrew malah berbalik tanya.
__ADS_1
"Haruskah aku memberikan alasan? Ayolah!" desak Ethan.
"Aku sekarang sedang di kantor. Hari ini kebetulan aku disibukkan dengan tugas yang banyak. Kalau kau sangat ingin, pergilah ke rumahku. Tapi kau harus mengambil kunci ke wanita paruh baya yang tinggal di sebelah rumahku," jelas Andrew dari seberang telepon.
"Dan ingat! Jika kau ketahuan mencuri sesuatu yang lain, aku tidak akan segan-segan memenjarakanmu!" ancam Andrew. Kemudian mengakhiri panggilan telepon secara sepihak.
Ethan hanya memajukan bibir bawahnya. Pertanda dirinya tidak peduli terhadap ancaman kecil dari Andrew. Ethan langsung pergi keluar rumah. Melangkahkan kaki menuju kediaman Andrew.
Sementara Ruby, dia sedang berdiri di depan cermin kamar mandi. Menghela nafas sambil menatap pantulan dirinya sendiri. Saat itulah bel pintu berbunyi. Bel terus terdengar dibunyikan, membuktikan kalau belum ada seseorang yang membukakan pintu.
"Ethan! Kenapa kau tidak membuka pintunya?!" pekik Ruby. Dia lekas-lekas keluar dari kamar mandi, lalu berlari ke arah pintu depan. Pupil matanya membesar tatkala melihat orang yang datang adalah Mike dan Gaby.
"Gaby! Mike!" Ruby langsung memberikan pelukan hangat kepada dua kakak beradik itu. Entah kenapa dirinya merasa lega.
Ruby menyuruh Gaby dan Mike untuk masuk. Mereka segera duduk berkumpul di ruang tamu. Membicarakan beberapa hal penting. Termasuk tentang kehamilan Ruby.
"Kenapa kau tidak pergi ke markas baru? Padahal kau sedang hamil bukan?" tanya Gaby sambil memasang raut wajah serius.
"Ryan ingin aku menggugurkan kandungannya. Dan aku tidak mau. Makanya aku masih tinggal di sini," jawab Ruby dengan senyuman kecut.
"Apa?!" Mike terkejut mendengar penuturan Ruby. Dia perlahan saling bertukar pandang dengan adiknya.
"Ryan tidak memberitahu kami. Dia hanya memerintahkan untuk membawamu pergi ke markas barunya," terang Gaby.
Ruby tercengang. Salah satu tangannya mengepalkan tinju. Ingin rasanya Ruby menampar wajah Ryan. Padahal yang Ruby inginkan hanyalah perhatian. Dia mau Ryan datang sendiri untuk menjemputnya. Bukannya malah mengirim Gaby dan Mike.
"Apa kalian akan pergi ke markas baru Ryan?" tanya Ruby, memastikan.
"Mungkin, tapi--"
__ADS_1
"Bisakah kalian tinggal di sini bersamaku? Bukankah kalian lebih dekat denganku dibanding Ryan?" potong Ruby seraya menunjukkan ekspresi memohon. Raut wajahnya tampak sempurna dengan kecantikan dan binar mata yang dimilikinya.