Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 36 - Bertemu Ethan Lagi


__ADS_3

...༻❀༺...


Ryan sudah menodongkan pistol ke kepala Ethan. Jari telunjuknya siap menarik pelatuk. Dia yang tidak mengucapkan sepatah kata pun tentu membuat Ethan ketakutan.


"Tunggu, tunggu. Dengarkan aku dulu, Ryan!" ucap Ethan. Dia menenggak salivanya sendiri sebelum bicara lagi. "Kau membutuhkanku. Aku yakin itu! Kau tahu aku ahli meracik obat-obatan terlarang terbaik..." Ethan bicara sembari mengatur nafas. Tangannya dalam keadaan memegangi lengan Ryan. "Aku bisa membantumu. The Black Cindicate benar-benar bodoh. Mereka memang mengambil semua barang-barang kami. Tetapi bukan pembuatnya. Mereka tidak tahu dengan keahlianku. Tetapi kau..." Ethan berusaha sebisa mungkin membujuk Ryan. Matanya menampakkan binar penuh harap.


Ryan terdiam seribu bahasa. Dia sedikit terpengaruh dengan ucapan Ethan. Tetapi ketika dirinya mengingat pengkhianatan Ethan terhadapnya, Ryan tentu tidak mau percaya semudah itu.


"Aku tidak mau jatuh untuk yang kedua kalinya. Selama ini kau bersembunyi, dan menyuruh Mr. June untuk menyamar menjadi pimpinan The Drugs. Kau benar-benar sosok yang tidak dapat dipercaya!" tegas Ryan, semakin mengeratkan cengkeramannya.


"Aku tahu! Tetapi aku sendirian sekarang! Mr. June dan orang-orangku telah tiada. Izinkan aku menjadi bagian--"


Belum sempat Ethan menyelesaikan kalimatnya, Ryan lebih dahulu menghempaskannya ke lantai. Ethan langsung terdiam seketika. Rasa sakit kian menggerogoti tubuhnya.


"Sekarang kau berniat bergabung dengan The Shadow Holo? Karena semua organisasi mafia yang kau kenal membuangmu begitu saja?! Kau pikir aku sampah?! Yang mau menerimamu menjadi bagian dari kami?! Tidak! Aku bahkan malas menyebut namamu!" geram Ryan dengan keadaan mata yang menyalang ke arah Ethan.


"Tetapi, dia ada benarnya, Ryan." John mendadak masuk ke dalam pembicaraan. "Jika dia ahli membuat racikan sabu atau apapun itu, bukankah keberadaannya akan menguntungkan kita? Apalagi kau sedang mengalami krisis kerjasama, karena The Black Cindicate berhasil mendominasi segalanya. Jika dia bergabung dengan kita, mungkin keadaan bisa berubah," lanjutnya panjang lebar. Membuat Ryan mulai kembali berpikir.


"Aku mohon, Ryan. Aku sekarang juga menjadi salah satu orang yang membenci The Black Cindicate... Aku akan lakukan apapun untuk menghancurkan mereka... Kau tahu, mereka membom markas rahasiaku..." Ethan berbicara dengan pelan. Dia masih tampak lemah akibat luka-luka yang ada dibadannya.


Ryan menatap Ethan yang masih tersungkur di bawah kakinya. Dengusan nafas kasar dikeluarkan dari mulutnya. Ryan segera menyerahkan pistol ke salah satu bawahannya. Dia memutuskan akan memberi Ethan kesempatan.


"Aku akan membawamu ke markas. Tetapi jika aku mengetahui kau berkhianat atau membuat ulah, maka aku tidak akan segan-segan menembak kepalamu!" pungkas Ryan dengan segala ancamannya. "Bawa dia! Untuk sementara ikat dan kurung dia didalam ruangan!" perintah Ryan, yang sekarang berbicara kepada para bawahannya.


Ethan lantas dimasukkan ke dalam mobil. Hal serupa juga dilakukan Ryan dan John. Keduanya kembali duduk bersebelahan. Namun kali ini John yang duduk di depan setir.


"Keputusan yang bijak, Ryan. Aku harap kau juga bisa melakukannya kepada ketiga istrimu," celetuk John seraya fokus mengemudi.

__ADS_1


Ryan terdiam cukup lama. Dia terlihat kembali memainkan benda antik ditangannya. Terpaku ke luar jendela.


"Kau tahu, John. Kata tetua suku Elmika yang kutemui, segalanya akan hancur jika salah satu istri memilih pergi. Itulah yang membuatku ragu untuk mengatakan kebenaran kepada Ruby, Megan dan Sarah," ungkap Ryan tanpa menoleh ke arah John.


"What?! Kau masih menimbang keputusan karena suku itu? Ayolah Ryan. Buanglah obsesimu terhadap suku Elmika, dan berpikirlah logis. Coba kau lihat apa yang terjadi, meski ketiga istrimu bersama, bisnismu tetap mengalami kemunduran." John kembali memberikan saran.


"Aku tahu! Tetapi organisasiku tidak benar-benar hancur. Itu hanya bisnis, hal biasa jika mendapati adanya kemunduran!" sahut Ryan. Tetap pada pendiriannya.


"Terserahlah, i'm done!" John mengangkat salah satu tangannya ke udara. Pertanda kalau dirinya telah menyerah menghadapi obsesi Ryan.


Keheningan terjadi cukup lama. Hingga akhirnya Ryan kembali bersuara. "Tetapi setelah dipikir-pikir, aku memang seharusnya memberi kejelasan kepada mereka," ujarnya.


"Ya, apa salahnya mencoba. Aku yakin, Ruby pasti senang mendengar kejelasanmu. Dia belum tahu dengan rencana pengejaran palsu yang kau lakukan terhadapnya kan?" John menatap Ryan selintas.


Ryan menggeleng dan mengatakan tidak. Dia tentu tidak akan mengatakannyanya kepada Ruby. Tidak akan pernah. Sebenarnya ada banyak rahasia yang disimpan Ryan mengenai istri ketiganya tersebut. Dan setiap kali dirinya memikirkannya, maka rasa gelisah langsung menyelimuti. Ryan yang hampir tidak pernah merasakan ketakutan, kini bisa tahu bagaimana rasa itu. Terutama ketika memikirkan Ruby.



Max merasa bersalah kepada Ruby, saat berada di misi kapal pesiar. Jadi dia berupaya memperbaiki hubungan pertemanannya. Meski Ruby tidak semudah itu memaafkannya.


"Pukulan tinjumu kian membaik!" ujar Max. Sedari tadi dia berdiri di belakang untuk menontoni.


"Aku tahu. Mike sangat bekerja keras melatihku," balas Ruby. Menyebabkan Mike otomatis menundukkan kepala. Lelaki keturunan negro tersebut merasa tidak pantas dibandingkan dengan Max. Meskipun badannya lebih besar, semua orang di markas tahu kalau Max adalah yang terbaik jika berkaitan dengan teknik berkelahi. Dia bahkan pernah mengalahkan Sarah dalam sebuah pertarungan.


"Oke, kalau begitu. Panggil aku jika kau butuh bantuanku." Max memilih beranjak pergi. Dia sudah menyerah menghadapi sikap Ruby yang tak acuh.


Buk! Dhuak!

__ADS_1


Ruby terus memukuli samsak dengan tenaga yang tersisa. Peluh sudah membasahi sebagian besar tubuhnya. Sudah lebih dari setengah jam gadis itu berlatih.


"Ruby, sebaiknya kita hentikan latihan hari ini. Nanti kau malah kelelahan," saran Mike seraya mengelap keringat dengan handuk kecil.


"Kau duluan saja, Mike. Aku masih belum selesai!" sahut Ruby. Masih saja bergelut dengan samsak yang ada di hadapannya.


"Oke, Aku serahkan dia kepadamu, Gabe!" Mike berbicara kepada sang adik. Gaby terlihat sibuk berolahraga dengan salah satu alat gym.


Mendengar perintah dari kakaknya, Gaby menghentikan aktifitasnya. Dia berjalan menghampiri Ruby dan berkata, "Mike benar, kau lebih baik beristirahat. Aku tahu latihan ini penting bagimu, tetapi kau tidak akan memiliki tenaga jika kelelahan dan tidak makan."


"I'm not finish!" Ruby tetap terlena meninju samsak yang ada di depannya. Jujur saja, Ruby sejak awal membayangkan samsak yang dipukulnya adalah Sarah. Dia mengingat remehan yang pernah dilakukan Sarah.


"Kau mau pizza dengan macaroni dan saus pedas? Karena aku baru saja memesannya," imbuh Gaby mencoba menggoda dahaga Ruby.


Seperti dugaan Gaby, Ruby tidak akan menolak pizza dengan macaroni. Gadis tersebut langsung melepaskan sarung tinju, lalu menghentikan latihannya. Ruby dan Gaby keluar dari ruang latihan.


Ketika dalam perjalanan menuju lift, Ruby tidak sengaja berpapasan dengan Ryan dan beberapa bawahannya. Raut wajah Ryan terlihat serius. Di belakangnya terdapat seorang lelaki yang di ikat. Ruby merasa tidak asing dengan sosok lelaki itu.


"Siapa dia?" tanya Gaby sambil memicingkan mata. Perlahan Ryan dan rombongannya semakin mendekat.


Ekspresi Ryan yang tadinya serius, langsung berubah menjadi senyuman saat melihat Ruby. Apalagi istrinya itu terlihat segar dengan keringat yang membasahi tubuhnya. Ryan lantas menghentikan langkahnya di depan Ruby, kemudian berbalik badan menghadap para bawahannya yang juga otomatis berhenti.


"Lihat, Ruby. Dia orang yang sudah menyakitimu di kapal pesiar kan? Sekarang dia tahu rasa sakit dari lebam yang kau rasakan tempo hari." Tangan Ryan menunjuk ke arah tawanannya.


Ruby menilik lelaki yang menurutnya tidak asing. Dia kesulitan mengenali, karena wajah lelaki tersebut dipenuhi darah dan lebam. Tetapi setelah mengamati baik-baik, akhirnya Ruby mengenalinya.


"Ethan?" kelopak mata Ruby melebar. Dia merasa agak risih dengan luka yang didapat Ethan. Dirinya merasa kalau itu sangat berlebihan. Dia segera menoleh ke arah Ryan. Dahinya mengerut dalam. "Ryan, kenapa kau membawanya ke sini? Kenapa kau menyiksanya begitu. Aku kan sudah bilang--"

__ADS_1


"Aku akan pastikan dia tidak akan mengganggumu, Babe. Dia akan disekap di dalam ruangan," ucap Ryan sembari mengecup singkat pipi Ruby yang tirus. Lalu beranjak meninggalkan Ruby. Hal yang sama juga dilakukan oleh semua bawahannya. Mereka menyeret Ethan yang tampak tak berdaya.


__ADS_2