Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 91 - Memaafkan? [Season 2]


__ADS_3

...༻❀༺...


Ryan berlari mengejar Ruby. Tanpa sengaja dia terpeleset dan langsung terjatuh ke lantai. Insiden itu membuat pergerakannya lambat. Hingga Ruby terlanjur mengunci pintu kamar.


Para bawahan Ryan reflek mentertawakan pimpinannya. Membuat Ryan segera melemparkan tatapan tajam. Semua bawahannya seketika ciut dan menundukkan kepala.


Ryan melanjutkan langkahnya menaiki tangga. Dia tidak berhasil mengejar Ruby. Kini Ryan hanya bisa berdiri di depan pintu. Mengetuk-ngetuk beberapa kali. Berharap Ruby bersedia membukakan.


"Ayolah Ruby... bisakah kau membuka pintunya?" Ryan memainkan gagang pintu. Namun pintunya sama sekali tidak bergeming.


Ruby memilih bungkam. Dia berdiri agak jauh dari pintu. Membuka lebar telinga untuk mendengarkan segala penuturan dari Ryan.


Ryan menghela nafas panjang. Ia tidak ingin kedatangannya sia-sia. Dirinya lantas bertekad akan melakukan apapun untuk membawa Ruby ikut bersamanya.


"Kumohon... maafkan aku..." lirih Ryan. Perlahan menyandarkan dahinya ke pintu. Dia berfirasat kalau Ruby pasti mendengarkan semua ucapannya.


"Aku salah... tidak seharusnya aku menolak anak dari darah dagingku sendiri. Kumohon Ruby... aku akan lakukan apapun agar kau bisa ikut. Termasuk menjadi ayah yang baik demi anak kita..." Ryan berkata pelan. Nada bicaranya memang terdengar tulus. Menyebabkan kaki Ruby melangkah semakin dekat ke arah pintu.


"Selama pergi darimu. Aku menyadari satu hal. Yaitu, betapa berharganya kau dan anak kita. Aku benar-benar minta maaf atas sikapku tempo hari..." Ryan memegangi pintu dengan kedua tangan. Akan tetapi Ruby tidak kunjung menjawab perkataannya.


Di dalam kamar, Ruby menggigit jari telunjuknya. Dia mulai terpengaruh dengan permohonan Ryan. Ruby merasa percaya, karena biasanya Ryan tidak pernah menuturkan kalimat yang emosional seperti tadi.


"Aku akan tetap menunggu di sini. Tidak akan beranjak kemana-mana, meskipun aku sedang basah kuyup. Aku yakin, kau akan puas saat melihatku jatuh sakit, bukankah begitu?" ujar Ryan. Terdengar begitu putus asa. Dia melangkah ke dinding yang ada di samping pintu. Hendak mendudukkan dirinya ke lantai. Ryan menunggu Ruby keluar dari kamar. Namun belum sempat Ryan duduk, Ruby mendadak bersuara.


"Katakan kepadaku, kalau kau benar-benar serius menerima kehamilanku?" tanya Ruby. Dia masih belum membuka pintu.


Ryan sontak bersemangat. "Tentu saja aku serius!" sahutnya, yang sudah berdiri kembali ke depan pintu.

__ADS_1


"Satu hal lagi, Ryan. Aku tidak ingin melihatmu bertengkar lagi dengan Ethan, baik lewat mulut apalagi fisik! Berjanjilah kepadaku!" pungkas Ruby.


Ryan terperangah dengan permintaan Ruby. Walaupun begitu, dia mencoba bersabar dan mengalah. Sekali lagi, Ryan tidak mau kedatangannya sia-sia. Masalah Ethan, dia akan mengurusnya nanti. Yang jelas dari awal, Ryan memang berniat menyingkirkan Ethan dari The Shadow Holo.


"Aku berjanji..." imbuh Ryan.


Ruby akhirnya membuka pintu. Dia sekarang dapat menyaksikan Ryan berdiri di hadapannya lagi. Suaminya itu masih basah kuyup.


"Jadi, kau memaafkanku?" Ryan menangkup wajah Ruby dengan lembut. Memancarkan binar penuh cinta disorot matanya.


"Sepenuhnya tidak. Aku akan memaafkanmu, jika kau benar-benar bisa membuktikan kalau dirimu sudah menerima kehamilanku!" jawab Ruby dengan raut wajah cemberut.


Ryan hanya tersenyum puas. Dia melangkah semakin masuk ke dalam kamar. Tidak lupa juga untuk menutup pintunya kembali. Ryan menghampiri Ruby. Lalu menyambar bibir istrinya dengan ganas.


Ruby tidak bisa menahan kekuatan Ryan. Dia terpaksa terus bergerak mundur, sampai akhirnya harus terpojok ke dinding. Saat itulah Ryan bergegas membuka kemejanya yang basah. Kemudian kembali meluma*t bibir Ruby dengan penuh gairah.


Tampilan seksi Ruby, menyebabkan tangan Ryan tambah nakal. Sekarang dia bermain dengan bagian tubuh menonjol milik Ruby. Mencengkeramnya hingga sontak membuat Ruby melepaskan desaha*nnya.


"Ryan!" Ruby mencoba menghentikan. Akan tetapi dia terlanjur menikmati sentuhan Ryan. Baginya itu terasa sangat candu. Otak Ruby ingin menolak, namun tidak untuk tubuhnya.


Ruby hanya bisa menggigit kuat bibir bawahnya. Menahan erangan yang terus mencoba keluar dari pita suaranya. Apalagi kini Ryan sibuk menyentuh titik tubuh sensitif.


Ryan segera mengangkat Ruby, lalu menghempaskannya ke kasur. Tanpa pikir panjang Ryan langsung melepas celana yang kebetulan masih terpasang. Organ intimnya sudah mewanti-wanti ingin bermain.



Di sisi lain, Mike sedang berada di mobil bersama Ethan. Dia mengarahkan mobil menuju kota sebelah. Untung Ethan sedang tertidur lelap. Jadi Mike memanfaatkan kesempatannya untuk membawa Ethan pergi lebih jauh.

__ADS_1


Kala mobil hampir pergi keluar dari kota Virginia, barulah Ethan terbangun. Ia menguap lebar sembari mengerjapkan mata.


"Kita belum sampai juga?" tanya Ethan. Perlahan dia menegakkan badannya. Mengamati keluar jendela.


"Maafkan aku, Ethan. Kau harus pergi menjauh dari Ruby mulai sekarang!" Mike memutuskan untuk tidak berbasa-basi. Dia bicara dengan ekspresi serius dan fokus mengemudikan setir.


"Apa maksudmu?! Jadi apa yang kau lakukan ini adalah salah satu rencanamu untuk mengusirku?!" timpal Ethan. Matanya mempelototi Mike.


"Aku tadi sudah meminta maaf, oke?" balas Mike. Terus melajukan mobilnya.


"Hentikan mobilnya, Mike. Aku ingin kembali. Lagi pula, aku hanya berniat membantu Ruby. Dia sendirian. Gadis sepertinya butuh seorang teman!" Ethan memegangi lengan Mike. Berharap Mike mau mengikuti keinginannya.


"Tidak! Kau tidak pernah berniat membantu Ruby! Kau dari awal ingin merebutnya dari Ryan!" sahut Mike dengan nada penuh penekanan.


"Itu memang benar! Semua orang di Shadow Holo mengetahuinya. Tapi, semua orang juga tahu aku tidak akan bisa merebut Ruby dari Ryan." Ethan mulai kesal dengan Mike. Atensinya diarahkan tepat ke alat kemudi. Ethan berniat ingin mengambil alih setir. Dia terpaksa melakukannya, karena Mike tidak kunjung menghentikan mobil.


Aksi saling memperebutkan sontak terjadi. Ethan dan Mike menyebabkan mobil bergerak secara zig-zag di jalanan. Bunyi klakson mobil yang ada di sekitar terdengar sahut-menyahut. Melakukan teguran serta protes kepada Ethan dan Mike.


"Jangan halangi aku, Mike! Kau tidak pernah tahu bagaimana sisi sadisku selama ini!" ancam Ethan. Ia masih saja mengerahkan semua kekuatan demi mengambil alih kemudi. Badan besar yang dimiliki Mike, memang membuatnya agak kewalahan. Namun Ethan tetap tidak menyerah.


"Kau juga belum pernah melihat sisi sadisku!" sahut Mike. Tak ingin kalah. Dia menghantamkan sikunya, lalu melingkarkan tangan ke leher Ethan. Bersamaan dengan hal tersebut, Mike kehilangan kendali terhadap mobil. Sehingga mobil melaju ke pinggiran jalan. Menghantam sebuah toko baju dan tiang berukuran sedang.


Bruk!


Prang!


Kaca yang ada di toko baju seketika pecah. Berbarengan dengan kaca mobil yang dinaiki Mike dan Ethan. Keduanya sekarang hanya bisa membeku. Menahan luka goresan tak terduga di beberapa bagian kulitnya.

__ADS_1


"Lihat apa yang kau lakukan?! Aku sudah menyuruhmu dari tadi untuk berhenti. Tapi kau malah memilih menabrakan mobil ke tiang, dasar bodoh!" geram Ethan seraya mengerutkan dahi sebal. Ia memegangi area kepalanya yang berdarah. Terluka akibat pecahan kaca yang tadi sempat beterbangan dalam sekian detik.


__ADS_2