
...༻❀༺...
Hari demi hari berlalu. Usia kandungan Ruby sudah mencapai satu bulan lebih. Anehnya gadis itu malah semakin sering melakukan rutinitas bela diri. Dia lebih rajin dan bersemangat dibanding saat sedang tidak hamil.
Kini Ruby berada di ruangan latihan menembak. Dia sudah hampir satu jam berada di sana. Sama halnya seperti bela diri, keahliannya dalam hal menembak juga kian membaik.
Dor!
Dor!
Dua tembakan Ruby langsung mengenai sasaran. Tatapan matanya terlihat tajam dan tegas. Ruby benar-benar telah berubah menjadi sosok yang tangguh. Ajaibnya dia dapat melakukannya dalam waktu yang lumayan singkat.
Dari depan pintu, Ryan mengamati Ruby sejak awal. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Dia melangkah mendekat, dan segera menghentikan aktivitas Ruby. Ryan melepas penutup telinga Ruby.
"Kau kenapa ke sini?! Bukankah kau harusnya mengurus misi pembebasan Frans?!" ujar Ruby ketus. Dahinya berkerut dalam.
"Apa kau akan memperlakukanku begini terus?" balas Ryan tak percaya. Namun Ruby memilih bungkam. Lalu kembali menembakkan peluru ke arah sasaran. Seakan tidak peduli dengan keberadaan suaminya.
"Aku dengar setiap hari kau menghabiskan waktu untuk berlatih. Kata Gaby, keahlianmu mulai semakin membaik!" ucap Ryan. Tetapi lagi-lagi Ruby hanya merespon dengan suara tembakan pistol yang ada dalam genggamannya.
Ryan memutar bola mata jengah. Sebenarnya dia sudah cukup sering diabaikan oleh Ruby akhir-akhir ini. Terutama semenjak Ruby tahu mengenai rencana pengguguran kandungan. Meskipun begitu, Ryan percaya kesempatannya masih ada. Terbukti dari menetapnya Ruby untuk tinggal di markas.
Tidak lama kemudian, Mike datang. Dia tidak sendiri, melainkan datang bersama satu orang rekannya. Mereka memperlihatkan sesuatu yang terpampang nyata di atas meja troly. Yaitu sebuah cokelat besar berbentuk hati. Di bawah wadah cokelat itu terdapat bunga mawar merah yang memenuhi meja.
"Apa-apaan itu?!" kening Ruby mengernyit heran.
Ryan tersenyum girang. Ia yakin Ruby pasti senang dengan niat baiknya. "Selamat hari valentine... i love you, Babe!" ungkapnya.
"Ugh! Aku tidak berminat memakan cokelat sebanyak itu!" tukas Ruby sembari menutupi mulut dengan satu tangan. Wajahnya menunjukkan ringisan jijik yang jelas.
Ekspresi Ryan seketika berubah menjadi masam. Dia sadar, secara tidak langsung Ruby menolak pemberiannya. Tanpa pikir panjang, Ryan segera menyuruh Mike untuk pergi membawa cokelatnya sejauh mungkin.
__ADS_1
"Tunggu!" Ruby mencegah kepergian Mike. Ryan sontak menoleh penuh harap.
"Kalian tidak akan membuangnya bukan? Lebih baik dibagikan saja kepada semua orang di sini," saran Ruby. Ucapannya merubah mimik wajah Ryan kembali masam. Pupus sudah harapannya untuk bisa berbaikan.
Mendengar perintah Ruby, Mike menatap ke arah Ryan terlebih dahulu. Sebab persetujuan Ryan adalah yang terpenting baginya.
"Lakukanlah." Ryan setuju saja. Lagi pula dirinya tidak bisa memaksa Ruby menerima hadiah yang sudah disiapkannya.
Ryan menunduk lesu. Ia sekarang sangat tahu kalau kesalahannya memang cukup besar. Yang ada hanyalah penyesalan sekarang.
Tanpa sepengetahuan Ryan, Ruby tersenyum sambil melirik dengan sudut matanya. Entah kenapa Ruby merasa gemas ketika melihat wajah Ryan ditekuk seperti anak kecil yang bersedih. Baru kali ini Ruby melihat Ryan benar-benar mengalah sepenuhnya. Ia tidak menyangka Ryan mampu mengalahkan ego-nya.
Seolah tidak peduli dengan keberadaan Ryan, Ruby kembali sibuk berlatih menembak. Dia memilih tidak mengucapkan satu patah kata pun.
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Besok aku dan Ethan akan melakukan misi pembebasan Frans." Ryan menjeda kalimatnya sejenak, demi menarik nafasnya dalam-dalam. Kemudian mengeluarkannya dengan penuh rasa lega. "Banyak hal yang harus dipersiapkan," sambungnya. Ryan lantas melenggang menuju pintu.
Sebelum membuka pintu, Ryan dikejutkan dengan kemunculan Ethan. Semburat wajah Ryan langsung berubah cemberut. Namun ketika menyaksikan Ethan membawa dua boneka beruang dan beberapa cokelat, Ryan terkekeh geli.
"Kau benar. Tapi ini untukmu, selamat hari valentine!" Ethan memberikan boneka yang rusak kepada Ryan.
"Dasar kurang ajar!" Ryan menggertakkan gigi sambil mengarahkan tinjunya ke arah Ethan. Akan tetapi dia harus berhenti, karena Ruby mendadak mempelototinya. Perlahan Ryan menurunkan tangannya yang membentuk bogem. Dia tunduk bak seekor kucing.
"Harusnya kau dengar dulu alasanku memberikan boneka ini kepadamu!" seru Ethan. Memaksa Ryan memegangi boneka yang diberikannya. Ethan juga tidak lupa memberikan Ryan sebatang cokelat.
Lidah Ryan berdecak kesal. Tetapi anehnya dia menerima semua pemberian Ethan. Lalu bergegas pergi meninggalkan ruangan.
"Alasannya karena aku kehabisan uang, Ryan! Jangan tersinggung, aku memberikan boneka paling jelek kepadamu karena kau merupakan orang paling kaya di markas ini!" kata Ethan dengan nada cukup lantang. Kepalanya menengok ke arah Ryan yang sibuk berjalan maju.
Ryan terlihat menghempaskan boneka Ethan ke tanah, diteruskan dengan menginjak-injaknya beberapa kali. Selanjutnya Ryan segera melemparkan senyuman tidak berdosanya kepada Ethan.
"Setidaknya kau mengambil cokelat..." perkataan Ethan terpotong kala melihat Ryan membuang cokelatnya ke bak sampah. Ryan lantas melanjutkan pergerakan kakinya dengan santai.
__ADS_1
Ethan hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia berusaha mengabaikan, dan segera menghampiri Ruby. Memberikan semua yang ada ditangannya.
"Terima kasih, Ethan. Inilah porsi yang sebenarnya aku inginkan," ujar Ruby. Dia sudah melepaskan pistol dari genggamannya. Kemudian membuka bungkus cokelat pemberian Ethan.
"Apa kau memang sengaja--" ucapan Ethan terhenti saat Ruby meletakkan jari telunjuk ke bibirnya.
Ruby mendekat dan berbisik, "Aku rasa ada seseorang yang menguping di depan pintu. Aku yakin itu Ryan." Mata Ruby tertuju ke celah yang ada di bawah pintu. Dari sana memang terdapat bayangan seseorang yang menutupi cahaya.
Ethan tergelak kecil. Dia menatap Ruby yang masih saja dalam mode waspada. "Kau tahu, aku terus berada di sini karena dirimu. Aku akan pastikan kau dan anakmu baik-baik saja. Aku tidak seperti Ryan yang sangat membenci anak-anak. Tetapi malah sebaliknya," tuturnya seraya menyandarkan punggungnya ke dinding.
"Aku tahu, Ethan. Semuanya bisa tampak jelas sejak pertama kali kita bertemu. Kau memang selalu berbelas kasih. Makanya semakin cepat pula kau tertipu," sahut Ruby. Menyindir organisasi The Drugs milik Ethan yang telah sepenuhnya hilang.
"Ironisnya, malah musuhku yang mau membantuku." Ethan menghela nafas panjang.
Ruby hanya tersenyum sambil menepuk pelan pundak Ethan. Mulutnya tampak asyik mengunyah cokelat manis yang ternyata berisi kacang almond. "Aku yakin suatu hari kau bisa membangun organisasi kembali. Bahkan mungkin lebih besar dari The Drugs!" Ruby memberikan semangat kepada Ethan. Keduanya terdiam dalam selang beberapa detik.
"Sudah lama aku tidak punya boneka. Terakhir kali mungkin adalah boneka pemberian Henry," ujar Ruby. Membolak-balikkan boneka beruang pemberian Ethan.
Sementara dari depan pintu, ada Ryan yang menguping. Dia melotot ke arah pintu. Berharap tatapan laser membunuhnya itu mampu sampai ke jantung Ethan. Ryan tentu merasa iri, karena Ruby bersedia menerima hadiah pemberian Ethan dibanding hadiah darinya. Alhasil Ryan pergi menuju ruang kerjanya. Dia akan memikirkan hal lain agar bisa berbaikan dengan Ruby.
Setelah cukup lama mengobrol, Ethan beranjak pergi. Ruby lekas-lekas mengambil ponselnya. Lalu langsung menghubungi Mike.
"Ada apa, Ruby?" tanya Mike dari seberang telepon.
"Apa kau sudah memberikan cokelat dari Ryan tadi ke semua orang?" Ruby justru berbalik tanya.
"Iya, semua orang menikmatinya sekarang!" jawab Mike tenang.
"Jangan habiskan cokelatnya! Bawa semua bunga mawarnya ke kamarku!" titah Ruby berteriak. Dia menghentakkan salah satu kakinya ke lantai. Takut tidak kebagian cokelat pemberian dari Ryan.
"Ba-baik! Aku segera melakukannya!" Mike tentu dibuat panik.
__ADS_1
"Dan ingat! Rahasiakan semua ini dari Bosmu!" Ruby memperingatkan sebelum benar-benar mematikan sambungan telepon.