
...༻❀༺...
Saat terpaku ke arah jendela mobil, Ruby tiba-tiba merasakan perutnya bergemuruh. Tangannya sontak memegangi bagian perutnya itu. Berusaha menekan, agar suaranya tidak terdengar oleh Andrew. Akan tetapi sayang, ada suara yang berhasil terdengar nyaring. Hingga Andrew tidak sengaja harus mendengarnya.
Mata Ruby membulat. Suara gemuruh perut membuatnya merasakan malu bukan kepalang. Cairan infus memang membuatnya berenergi. Namun bukan berarti bisa mengganjal isi perutnya yang masih kosong.
"Abaikan saja. Lagi pula sebentar lagi kau akan sampai ke rumahku," ujar Ruby.
"Kau yakin? Bukankah kau bilang suamimu pergi? Aku takut--"
"Tidak! Tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Aku akan baik-baik saja!" Ruby bersikeras. Dia tidak mau terlalu lama menghabiskan waktu bersama Andrew. Ryan bisa saja memarahinya.
Andrew terpaksa menganggukkan kepala, karena Ruby terus mendesak ingin kembali ke rumah. Beberapa saat kemudian, tibalah dia dan Andrew ke tempat yang dituju. Andrew menghentikan mobilnya dengan pelan.
"Terima kasih banyak. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu," ungkap Ruby sembari lekas-lekas keluar dari mobil. Andrew hanya mengerutkan dahi. Apalagi ketika menyaksikan Ruby masih memegangi area perutnya.
"Tunggu, Ruby!" Andrew bergegas keluar dari mobil. Lalu berjalan menghampiri Ruby. Dia merogoh saku celana dan mengambil sebuah kartu dari dompetnya. "Ini kartu namaku, jika ada apa-apa hubungilah aku. Lagi pula jarak rumah kita tidak begitu jauh. Aku tinggal beberapa blok dari sini," ucapnya sambil menunjukkan arah dimana rumahnya berada.
Ruby semakin membeku. Terutama saat mengetahui kenyataan Andrew tinggal tidak jauh dari rumahnya.
"Ah... terima kasih." Ruby tersenyum kecut. Dia terpaksa menerima kartu nama pemberian dari Andrew. Dirinya sama sekali tidak berminat mengajak Andrew masuk ke rumahnya.
"Aku akan mengawasimu, Ruby. Ingat, jangan pernah mencuri lagi!" kata Andrew seraya masuk ke dalam mobil. Kemudian berlalu pergi.
Kini Ruby bisa mendengus lega. Gadis tersebut mengedarkan pandangannya ke sekitar. Sampai dia menyadari satu hal, bahwa Ryan belumlah pulang. Tanpa pikir panjang, Ruby mengambil ponsel dan langsung menghubungi Ryan.
Ponsel Ryan menyala. Tetapi tidak mengeluarkan bunyi maupun getaran. Ryan memang sengaja mengaturnya begitu, kala sedang melakukan pembicaraan penting. Dia berbincang dengan John. Di sebuah bar yang bernama The Nighton.
"Bagaimana kabarmu sekarang? Apa mempunyai satu istri terasa lebih baik?" tanya John dalam keadaan memegang gelas whisky-nya.
__ADS_1
"Lebih baik. Aku bahkan tidak memikirkan tentang sesuatu hal seperti suku Elmika," sahut Ryan.
"Hahaha! Ah, suku bodoh itu. Setidaknya ada sesuatu menarik dari mereka. Kau benar-benar hancur setelah memutuskan hubungan dengan kedua istrimu. Markas utamamu hancur, FBI dan polisi masih berusaha menangkapmu," balas John. Menggelakkan tawa yang terdengar dibuat-buat.
"Itu memang benar. Tetapi semua kekayaanku masih belum semuanya musnah." Ryan mengangkat pundaknya sekali. Percaya diri dengan keadaannya sekarang. "Ngomong-ngomong sudah cukup basa-basinya. Bisakah kau bicara langsung ke intinya?" tanya-nya. Lalu menenggak beberapa teguk minuman beralkohol yang ada di dalam gelas seloki.
John mendadak memasang raut wajah gelisah. Dia perlahan mengalihkan pandangannya ke arah dua orang pria. Seolah dirinya sedang waspada terhadap dua pria itu. "Ryan... maafkan aku..." ungkap John.
"Apa maksudmu?" Ryan menatap curiga.
"Aku tidak punya pilihan lain. Mereka kemarin berhasil menemukanku," jelas John. Dia menceritakan sesuatu hal yang genting. Namun John berupaya keras berbicara dengan santai.
"Kau bicara apa?" Ryan bingung dengan arah topik pembicaraan John. Dia perlahan menggerakkan bola matanya untuk menatap dua orang pria, yang sedari tadi sukses membuat John gelisah.
Dalam selintas Ryan dapat menyimpulkan, memang ada yang mencurigakan dari dua pria tersebut. Mereka tampak berpakaian rapi dan memiliki perawakan yang bugar. Jelas keduanya bukan komplotan penjahat. Sebab para penjahat biasanya, tidak pernah mengenakan pakaian rapi dan tertata. Ryan kini dapat menduga kalau dua pria itu adalah FBI atau polisi. Kemungkinan John tengah membicarakan keadaan daruratnya. John sepertinya butuh pertolongan.
"Aku mengerti sekarang..." lirih Ryan. John lantas menganggukkan kepala mengerti.
Ryan meletakkan kedua tangan ke atas meja. Lalu sedikit mencondongkan dirinya ke arah John. Dia berkata dengan nada pelan, "Tapi kenapa kau nekat memanggilku ke sini. Kau membuat posisiku dalam bahaya!"
"Kau gila! Aku baru saja hidup tenang dengan istriku. Sekarang aku tahu alasan dirimu tidak bisa menghadiri acara pernikahanku kemarin." Ryan berdecak kesal.
"Maafkan aku, Ryan. Saat itu aku memang sedang berada dalam tawanan mereka. Aku awalnya tidak bersedia mengatakan apapun. Tapi ketika salah satu polisi mengancam akan menyakiti anakku, aku tidak punya pilihan lain. Kesempatanku sekarang ini, adalah satu-satunya harapanku untuk kabur dari mereka!" ujar John. Dia reflek kembali menoleh ke arah dua pria yang sejak awal mengawasinya.
"Jadi selama ini kau berbohong mengenai markas baru untukku itu?" timpal Ryan. Memutar bola mata kesalnya.
"Untuk bagian itu, aku tidak berbohong. Aku memang menemukan tempat persembunyian yang bagus! Tapi sebelum menemukannya, para polisi sialan itu terlanjur menangkapku!" pungkas John. Salah satu tangannya terlihat membentuk sebuah bogem.
Ryan mendengus kasar. Dia menekan kepalanya. Mencoba mencari jalan keluar untuk melarikan diri. Apalagi dirinya juga sudah terlanjur terlibat ke dalam masalah John.
"Apa orang yang menawasimu hanya mereka berdua?" tanya Ryan, memastikan.
__ADS_1
"Kau tahu bukan? Para polisi tidak sebodoh itu. Tentu saja ada beberapa polisi lainnya yang berjaga. Aku yakin sebagian besar, berjaga di dalam mobilnya." John tampak celingak-celingukan ke segala arah.
Ryan lagi-lagi membisu. Terlintas dalam kepalanya sebuah ide. Dia lantas segera memberitahukannya kepada John.
Ryan perlahan bangkit dari tempat duduk. Ia berpura-pura ingin ke toilet. Saat itulah John memberikan kode kepada dua polisi yang mengawasinya. John memberitahukan kalau dia dan Ryan sebentar lagi akan pergi.
Tak!
Tak!
Tak!
Terdengar suara langkah kaki seseorang yang mengikuti dari belakang. Ryan yakin, dia masih sedang di awasi. Tanpa pikir panjang, Ryan melajukan pergerakan kakinya. Hingga akhirnya dia memasuki ruang bagian belakang. Dimana banyak sekali benda perkakas, serta mesin penting lainnya.
Atensi Ryan langsung tertuju ke arah alat pengatur listrik. Sebelum melakukan perlawanan, Ryan berlari mennghampiri alat tersebut. Kemudian mematikan listrik yang ada di dalam bar.
Dub!
Suasana seketika berubah menjadi gelap. Semua orang sontak merasa panik. Terutama sang pemilik bar. Namun tidak untuk John dan Ryan, keduanya memanfaatkan peluang itu untuk melarikan diri. Lalu masuk ke dalam mobil.
Ryan melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi. Dia tahu, para polisi tidak akan begitu saja melepaskannya dan John. Kebetulan kala itu Ryan merogoh saku celana. Lelaki tersebut mengambil ponselnya, karena berniat menghubungi Ruby.
"Apa-apaan, Ryan! Sekarang bukan waktu yang tepat untuk menelepon istrimu!" tegur John yang merasa tercengang.
"Astaga, ada ratusan panggilan tak terjawab dari Ruby." Ryan sama sekali tidak menghiraukan teguran John. Dia masih dalam keadaan mengemudi sambil mencoba menghubungi Ruby.
"Ryan! Kau kemana saja?! Bisakah kau pulang sekarang?! Ada sesuatu yang--"
"Maafkan aku, Babe. John membawaku masuk ke dalam masalahnya. Aku sedang dalam bahaya sekarang! Kemungkinan aku tidak akan bisa pulang dalam waktu dekat!" ujar Ryan. Dia berbicara tergesak-gesak, hingga tidak sengaja memotong perkataan Ruby.
"Apa?!!! Jangan bercanda! Kau meninggalkanku sendirian!!! Ryan, kau harus tahu kalau aku sedang--"
__ADS_1
"Ryan, Awas!! Ada truk besar di depan kita!!!" pekik John dalam keadaan mata yang membuncah hebat. Membuat ucapan Ruby lagi-lagi harus terpotong.
Ryan yang mendengar, otomatis memutar setir sambil menginjak rem mobil sekuat tenaga. Ponsel yang ada dalam genggamannya seketika terlepas begitu saja.